Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

V 167 : ASMAUL HUSNA ( 74. AL ZOHIR )

AL ZOHIR   ( الظاهر )   ALLAH Yaa Zohir Yang Maha Nyata menegaskan kepada kita DIA nyata, dapat dilihat dan sesungguhnya hadir. Kehadira...

Memaparkan catatan dengan label AGAMA ISLAM - AKHLAK. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label AGAMA ISLAM - AKHLAK. Papar semua catatan

Ahad, 2 Februari 2020

U 125 : BUKAN AKHLAK MUKMIN


Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

لَيْسَ الْمُؤْمِنُ بِالطَّعَّانِ وَلاَ اللَّعَّانِ وَلاَ الْفَاحِشِ وَلاَ الْبَذِيءِ

“Seorang mukmin itu bukanlah orang yang suka mencela, suka melaknat, suka berkata keji dan suka berkata kasar.”
(Diriwayatkan oleh Ahmad, Al-Bukhary dalam Al-Adab Al-Mufrad, At-Tirmidzy dan Al-Hakim)

Sabtu, 29 Disember 2018

T 102 : KESOMBONGAN

Sifat kesombongan yang ada pada diri seseorang, hanya akan menambah kehinaan bagi penyandangnya.
Al imam Ja'far As-Shodiq ra


Sabtu, 25 Februari 2017

S 1 PENTINGNYA BELAJAR AKHLAK / TASAUF

Selain Iman dan Fiqih, ada Akhlak / Adab yang biasa disebut Tasauf yang juga penting dipelajari. Sebab Nabi Muhammad tidaklah diutus ALLAH SUBHANAHU WA TAALA ke dunia melainkan untuk menyempurnakan Akhlak.
Dengan mulianya akhlak ini, selain hati kita bersih, ucapan dan perbuatan kita juga bersih.
Di antara Kitab Tasauf yang penting adalah Ihya' 'Uluumuddiin susunan Imam Al Ghazali. Banyak dalil al Quran dan Hadits di situ. Mungkin ada yang bilang, ah kitab itu ada salahnya. Semua kitab buatan manusia pasti ada salahnya sebab manusia itu sifatnya adalah salah dan lupa. Cuma Nabi yang maksum. Jika 50% haditsnya dhoif pun tak masalah selama tidak ingkar atau berlawanan dengan Al Quran dan Hadis-hadis Shahih lainnya. Para ulama berpendapat sekadar menyatakan keutamaan amal tidak mengapa. Dibilang Bid'ah juga kitab Al Quran yang kita pegang sekarang dengan tanda bacaannya itu sebagaimana pendapat Khalifah Abu Bakar ra dan Umar ra itu adalah bid'ah yang baik. Tauhid Uluhiyyah itu bid'ah juga bukan?

Sebab jika belajar agama, tapi mulutnya kotor dan banyak mengeluarkan caci maki atau fitnah, tentu ada yang kurang beres.

Akhlak Nabi Muhammad SAW

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu…”
(Al Ahzab 21)


“Maka disebabkan rahmat daripada ALLAHlah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Kerana itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu…”
[Ali 'Imran 159]

Sesungguhnya tidaklah aku diutus kecuali untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”
(HR. Al-Bukhari, Ahmad, dan Al-Hakim)

Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.
(HR. Al Bazzaar)

Ketika Aisyah ra ditanya tentang akhlak RASULULLAH SAW, maka dia menjawab, "Akhlaknya adalah Al Quran."
(HR. Abu Daud dan Muslim)

Kepada RASULULLAH SAW disarankan agar mengutuk orang-orang musyrik. Tetapi beliau menjawab: "Aku tidak diutus untuk (melontarkan) kutukan, tetapi sesungguhnya aku diutus sebagai (pembawa) rahmat."
(HR. Bukhari dan Muslim)

“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.

Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.”
[Fushshilat 34-35]

Paling dekat dengan aku kedudukannya pada hari kiamat adalah orang yang paling baik akhlaknya dan sebaik-baik kamu ialah yang paling baik terhadap keluarganya.
(HR. Ar-Ridha)

Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash meriwayatkan bahawa Nabi pernah bersabda:

إِنَّ مِنْ أَخْيَرِكُمْ أَحْسَنَكُمْ خُلُقًا

“Sesungguhnya yang terbaik di antara kalian adalah yang paling baik akhlaknya.”
(HR. al-Bukhari, 10/378 dan Muslim no. 2321)

“Tidak akan masuk jannah orang yang kasar dan kaku.”
(HR. at-Tirmidzi)

Nabi senang mendamaikan sesama Muslim. Bukan justeru mengadu-domba mereka kerana tidak akan masuk syurga orang yang gemar mengadu-domba.

“Rasulullah saw bersabda :
“Tidak dapat masuk syurga seorang yang gemar mengadu domba.”
(Muttafaq ‘alaih)

ALLAH SUBHANAHU WA TAALA berfirman:

“Jangan pula engkau mematuhi orang yang suka mencela, berjalan membuat adu domba.”
(al-Qalam: 11)

http://mediaislamraya.blogspot.com/2012/09/akhlaq-nabi-muhammad-saw.htm

Jumaat, 20 Januari 2017

R 144 AKHLAK ISLAM CERMINAN AKIDAH ISLAM

Sering kita melihat Muslim yang kelihatannya ibadahnya sangat rajin, namun kadang akhlaknya kurang. Padahal dalam Islam hubungan baik bukan cuma terhadap ALLAH SUBHANAHU WA TAALA (Hablum minallahu), namun juga terhadap manusia (Hablum minannas).

Tak jarang ada juga ustaz yang tidak/belum pernah tersenyum sehingga terkesan menyeramkan. Banyak juga Muslim yang "Soleh" namun perkataannya menyakitkan orang lain. Padahal NABI MUHAMMAD  SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASSALLAM menyatakan bahawa tujuan beliau diutus adalah untuk menyempurnakan akhlak manusia. Ertinya jika akhlak seseorang buruk, maka dia bukanlah orang yang soleh meski terlihat rajin solat, puasa, zakat, haji, dan sebagainya.

Mudah-mudahan kita semua boleh mendapat manfaat dari tulisan di bawah.

Firman ALLAH SUBHANAHU WA TAALA yang bermaksud : 

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) RASULULLAH itu suri teladan yang baik bagimu…”
(Surah 33  AL AHZAB : 21)

Firman ALLAH SUBHANAHU WA TAALA yang bermaksud : 

“Maka disebabkan rahmat daripada ALLAH-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Kerana itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermesyuaratlah dengan mereka dalam urusan itu…”
(Surah 3  ALI  IMRAN : 159)


NABI MUHAMMAD  SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASSALLAM bersabda yang bermaksud:

“Sesungguhnya tidaklah aku diutus kecuali untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”
(HR. Al-Bukhari, Ahmad, dan Al-Hakim)

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.”
(HR. Al Bazzaar)

NABI MUHAMMAD  SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASSALLAM bersabda yang bermaksud:

Ketika Aisyah ra ditanya tentang akhlak RASULULLAH SAW, maka dia menjawab, “Akhlaknya adalah al Quran.”
(HR. Abu Daud dan Muslim)

Kepada RASULULLAH SAW disarankan agar mengutuk orang-orang musyrik. Tetapi beliau menjawab:

“Aku tidak diutus untuk (melontarkan) kutukan, tetapi sesungguhnya aku diutus sebagai (pembawa) rahmat.”
(HR. Bukhari dan Muslim)


“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.
Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar.”
(Surah 41  FUSHSHILAT : 34-35)

Anas ra, pembantu rumahtangga NABI MUHAMMAD  SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASSALLAM berkata, “Aku membantu rumah tangga NABI SAW sepuluh tahun lamanya, dan belum pernah beliau mengeluh “Ah” terhadapku dan belum pernah beliau menegur, “Kenapa kamu lakukan ini atau kenapa tidak kau lakukan ini.”
(HR. Ahmad)

Anas ra berkata, “RASULULLAH SAW adalah orang yang paling baik, paling dermawan (murah tangan), dan paling berani.”
(HR. Ahmad)

“MUHAMMAD itu adalah utusan ALLAH dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka rukuk dan sujud mencari kurnia ALLAH dan keredhaanNya, tanda-tanda mereka nampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, iaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya kerana ALLAH hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). ALLAH menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang soleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.”
(urah 48  AL FATH : 29)

“Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka kelak ALLAH akan mendatangkan suatu kaum yang ALLAH mencintai mereka dan merekapun mencintaiNya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang yang mukmin, yang bersikap keras terhadap orang-orang kafir, yang berjihad dijalan ALLAH, dan yang tidak takut kepada celaan orang yang suka mencela. Itulah kurnia ALLAH, diberikanNya kepada siapa yang dikehendakiNya, dan ALLAH Maha Luas (pemberianNya), lagi Maha Mengetahui.”
(Surah 5  AL MAA'IDAH : 54)

RASULULLAH SAW menyebut-nyebut ALLAH setiap waktu (saat).
(HR. Muslim)

Sebaik-baik urusan adalah yang pertengahannya (yang adil atau tidak berlebih-lebihan).
(HR. Al-Baihaqi)

Ada orang yang saat berzikir suaranya lembut sekali, tapi saat berceramah/menghardik orang keras sekali. Padahal yang begitu juga salah :

ALLAH SUBHANAHU WA TAALA tidak menyukai lelaki yang bersuara keras (tinggi), tetapi ALLAH SUBHANAHU WA TAALA suka kepada yang bersuara lembut.
(HR. Al-Baihaqi)

Sesungguhnya ALLAH indah dan suka kepada keindahan. ALLAH suka melihat tanda-tanda kenikmatannya pada diri hambaNya, membenci kemelaratan dan yang berlagak melarat.
(HR. Muslim)

Dalam beragama tidak boleh terlalu kaku. Perlu juga sedikit hiburan. Oleh kerana itu Nabi membiarkan saja saat orang Habsyi bermain tombak di masjid dan penyair Hasan bin Tsabit melantunkan syair di masjid :

Bersenda-guraulah dan bermain-mainlah. Sesungguhnya aku tidak suka kalau terjadi kekerasan dalam agamamu.
(HR. Al-Baihaqi)

Penjelasan:
Yang dimaksud, agar dalam beragama kita bersikap luwes dan tidak kaku.

“Hiburlah hatimu pada saat-saat tertentu.” (maksudnya, adalah hiburan yang tidak melanggar norma agama dan akhlak).
(HR. Ath-Thabrani dan Al-Baihaqi)

RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASSALLAM bila menerima berita yang menggembirakan, beliau sujud syukur kepada ALLAH ‘AZZA WAJALLA.
(HR. Al Hakim)

Demi ALLAH, aku ini orang yang paling takut kepada ALLAH dan paling bertakwa kepadaNya. Tetapi aku berpuasa dan berbuka, aku solat dan tidur, dan aku mengawini wanita- wanita. Barangsiapa mengabaikan sunnahku maka dia bukan dari golonganku.
(Mutafaq’alaih)

Sesungguhnya Assalaam nama dari nama-nama ALLAH diletakkan di bumi, maka sebarkanlan ucapan “Assalaam” di antara kamu.
(HR. Bukhari)

RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASSALLAM apabila bersin, beliau menutup wajahnya dengan tangan atau dengan bajunya dan mengecilkan (merendahkan) suaranya.
(HR. Abu Daud dan Tirmidzi)

Sesungguhnya ALLAH pemalu dan suka merahsiakan. jika kamu akan mandi hendaklah menutupinya (bertabir) dengan sesuatu.
(Abu Daud)

RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASSALLAM menyukai mendahulukan yang kanan dalam segala hal, meskipun waktu berjalan dan ketika memakai sandal.
(HR. Ibnu Hibban)

Perlahan-lahan dalam segala hal adalah baik, kecuali dalam amalan untuk akhirat.
(HR. Abu Daud dan Al Hakim)

“Paling dekat dengan aku kedudukannya pada hari kiamat adalah orang yang paling baik akhlaknya dan sebaik-baik kamu ialah yang paling baik terhadap keluarganya.”
(HR. Ar-Ridha)

Abdullah bin ‘Amr bin ‘Ash  meriwayatkan bahawa RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASSALLAM pernah bersabda:

إِنَّ مِنْ أَخْيَرِكُمْ أَحْسَنَكُمْ خُلُقًا


“Sesungguhnya yang terbaik di antara kalian adalah yang paling baik akhlaknya.”
(HR. al-Bukhari, 10/378 dan Muslim no. 2321)

RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASSALLAM bersabda:

إِنَّ الْمُؤْمِنَ لَيُدْرِكُ بِحُسْنِ خُلُقِهِ دَرَجَةَ الصَّائِمِ الْقَائِمِ


“Sesungguhnya seorang mukmin dengan akhlaknya yang baik akan mencapai darjat orang yang selalu solat dan berpuasa.”
(HR. Abu Daud no. 4798)

Ummu ad-Darda’ meriwayatkan dari suaminya, Abu ad-Darda’, RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASSALLAM pernah bersabda:

مَا مِنْ شَيْءٍ أَثْقَلُ فِي الْمِيْزَانِ مِنْ حُسْنِ الْخُلُقِ


“Tidak ada sesuatu yang lebih berat dalam al-mizan (timbangan) daripada akhlak yang baik.”
(HR. Abu Daud no. 4799)

Daripada Abu Umamah, dia berkata, RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASSALLAM bersabda:

أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبْضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا، وَبِبَيْتٍ فِي وَسْطِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحاً، وَبِبَيْتٍ فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ لَمَنْ حَسَّنَ خُلُقَهُ

“Aku memberikan jaminan dengan sebuah rumah di tepi syurga bagi orang yang meninggalkan perdebatan meskipun ia berhak. Aku juga memberikan jaminan dengan sebuah rumah di tengah syurga bagi yang meninggalkan kedustaan walaupun dalam senda gurau. Aku juga menjanjikan sebuah rumah di syurga tertinggi bagi yang membaguskan akhlaknya.”
(HR. Abu Daud)

Daripada al-Haritsah bin Wahb, ia berkata, RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASSALLAM bersabda:

لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةْ الَجوَّاظُ، وَلَا الْجَعْظَرِيُّ


“Tidak akan masuk jannah orang yang kasar dan kaku.”
(HR. at-Tirmidzi)

Nabi senang mendamaikan sesama Muslim. Bukan justeru mengadu-domba mereka kerana tidak akan masuk syurga orang yang gemar mengadu-domba.

RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASSALLAM bersabda:

“Tidak dapat masuk syurga seorang yang gemar mengadu domba.”
(Muttafaq ‘alaih)

ALLAH SUBHANAHU WA TAALA berfirman yang bermaksud : 

“Jangan pula engkau mematuhi orang yang suka mencela, berjalan membuat adu domba.”
(Surah 68  AL QALAM : 11)

Nabi Muhammad sanggup mendamaikan orang-orang yang berselisih/akan berperang meski beberapa saat sebelumnya mereka merupakan musuh bebuyutan atau ada fitnah yang begitu keji. Ini beda dengan sebahagian “ulama” saat ini yang mengungkit-ungkit peristiwa lebih dari 1000 tahun lalu guna menimbulkan permusuhan yang abadi. Padahal saat itu semua yang bertikai belum ada yang lahir!

Meski mampu hidup mewah seperti Kaisar Romawi dan Kisra Persia, namun Nabi memilih hidup sederhana. Nabi menyedekahkan sebahagian hartanya. Sehingga saat pagi dapat rezeki, petang hari nyaris tidak tersisa kerana sudah disedekahkan:

Kisah Umar ra: Aku (Umar) lalu segera masuk menemui RASULULLAH SAW yang sedang berbaring di atas sebuah tikar. Aku duduk di dekatnya lalu beliau menurunkan kain sarungnya dan tidak ada sesuatu lain yang menutupi beliau selain kain itu. Terlihatlah tikar telah meninggalkan bekas di tubuh beliau. Kemudian aku melayangkan pandangan ke sekitar kamar beliau. Tiba-tiba aku melihat segenggam gandum kira-kira seberat satu sha‘ dan daun penyamak kulit di salah satu sudut kamar serta sehelai kulit binatang yang belum sempurna disamak. Seketika kedua mataku meneteskan air mata tanpa dapatku tahan.

RASULULLAH bertanya: Apakah yang membuatmu menangis, wahai putera Khathab? Aku menjawab: Wahai RASULULLAH, bagaimana aku tidak menangis, tikar itu telah membekas di pinggangmu dan tempat ini aku tidak melihat yang lain dari apa yang telah aku lihat. Sementara kaisar (raja Romawi) dan kisra (raja Persia) bergelimang buah-buahan dan sungai-sungai sedangkan engkau adalah utusan ALLAH dan hamba pilihanNya hanya berada dalam sebuah kamar pengasingan seperti ini.

RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASSALLAM lalu bersabda : Wahai putera Khathab, apakah kamu tidak rela, jika akhirat menjadi bahagian kita dan dunia menjadi bahagian mereka?
(Muslim)

Keluarga Nabi tidak pernah 3 hari berturut-turut makan dengan kenyang. Selalu ada saat kelaparan setiap 3 hari.

‘Aisyah melaporkan: Tidak pernah keluarga MUHAMMAD SAW makan sampai kenyang dengan roti gandum untuk tiga malam berturut-turut sejak kedatangan mereka di Madinah hingga wafatnya.”
(Muslim)

Doa agar akhlak kita bagus:

RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASSALLAM berdoa :

اللَّهُمَّ  كَمَ حَسَّنْتَ خَلْقِي فَحَسِّنْ خُلُقِي


“Yaa ALLAH, sebagaimana Engkau baguskan badanku, perbaikilah akhlakku.”
(HR. Ahmad, 1/403, Ibnu Hibban no. 959)

RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASSALLAM selalu membaca doa:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ مُنْكَرَاتِ الْأَخْلَاقِ وَالْأَعْمَالِ وَالْأَهْوَاءِ


“Yaa ALLAH, aku berlindung kepadaMu dari akhlak-akhlak yang mungkar, dari amalan-amalan yang mungkar, dan dari hawa nafsu yang menyimpang.”
(HR. at-Tirmidzi no. 3591)

Sumber: 1100 Hadits Terpilih (Sinar Ajaran Muhammad) – Dr. Muhammad Faiz Almath – Gema Insani Press

Ahad, 18 Mei 2014

Q 120 : CARA MENEGUR TERBAIK

Tersebutlah sebuah kisah di antara dua cucu Rasulullah saw, Saidina Hassan dan Hussin…
Alkisahnya begini, di suatu ketika, dua orang cucu Rasulullah yang amat tersohor lagi terbilang itu mengambil wuduk bersama-sama di suatu tempat. Ketika itu mereka masih kecil. Tiba-tiba, datang seseorang yang sudah berumur mengambil wuduk di kawasan yang sama. Nak dijadikan cerita, wuduk orang tua tersebut agak kurang sempurna. Hassan dan Hussin kebingungan memikirkan bagaimana harus ditegurnya perbuatan tersebut. Lalu mereka mengambil keputusan untuk bertanding wuduk siapakah yang paling sempurna, dengan menjadikan orang tua tersebut sebagai hakim. Akhirnya, orang tua tersebut perasan yang sebenarnya wuduk dialah yang tidak sempurna.
Sangat berhikmahkan Hassan dan Hussin menegur?



Selasa, 4 Mac 2014

P 52 : ORANG YANG KUAT RASA MALUNYA

“Sesungguhnya seseorang apabila bertambah kuat rasa malunya maka ia akan melindungi kehormatannya, mengubur dalam-dalam keburukannya, dan menyebarkan kebaikan-kebaikannya. Siapa yang hilang rasa malunya, pasti hilang pula kebahagiaannya; siapa yang hilang kebahagiaannya, pasti akan hina dan dibenci oleh manusia; siapa yang dibenci manusia pasti ia akan disakiti; siapa yang disakiti pasti akan bersedih; siapa yang bersedih pasti memikirkannya; siapa yang fikirannya tertimpa ujian, maka sebahagian besar ucapannya menjadi dosa baginya dan tidak mendatangkan pahala. Tidak ada ubat bagi orang yang tidak memiliki rasa malu; tidak ada rasa malu bagi orang yang tidak memiliki sifat setia; dan tidak ada kesetiaan bagi orang yang tidak memiliki kawan. Siapa yang sedikit rasa malunya, ia akan berbuat sekehendaknya dan berucap apa saja yang disukainya.”
[Imam Ibnu Hibban al-Busti rahimahullaah dalam kitab: Raudhatul ‘Uqala wa Nuzhatul Fudhala']

Semoga bermanfaat.

Rabu, 26 Februari 2014

P 45 : TANDA KEBAHAGIAAN DAN KEBAIKAN

Ibnu Qayyum R.A berkata:-

"Di antara tanda kebahagiaan dan kebaikan, tatkala ilmu seorang hamba bertambah, bertambah pulalah sikap tawaduk (rendah hati) dan kasih sayang yang dimilikinya.
Setiap kali bertambah amalnya, bertambah pula rasa takut dan waspada di dalam dirinya.
Tatkala bertambah umurnya, berkuranglah ketamakkannya terhadap dunia.
Tiap kali hartanya bertambah, sedekahnya pun bertambah.

Setiap kali kedudukan dan martabatnya bertambah tinggi, semakin bertambah rapatnya dengan manusia, dirinya akan semakin memperhatikan keinginan mereka dan sentiasa merendahkan diri di hadapan orang lain."



Khamis, 6 Februari 2014

O 102 : AKHLAK BURUK MERUNTUHKAN PERADABAN BANGSA

Ditulis oleh Super User. Posted in Utusan Malaysia

Kemajuan dan tamadun yang tinggi merupakan sesuatu yang dicita-citakan oleh semua bangsa. Pembinaan tamadun atau peradaban bangsa tidak boleh berlaku secara sekelip mata dan ia  merupakan suatu proses yang memakan masa. Mengekalkannya juga bukan tugas yang mudah. Kekuatan dari aspek pertahanan negara, ekonomi dan politik merupakan asas  dan elemen utama untuk membina dan mengisi peradaban itu sendiri. Bangsa yang terjajah walaupun menikmati kemajuan secara fizikal masih tidak boleh dianggap sebagai bangsa yang berperadaban kerana kedaulatan serta maruah bangsa dan negara adalah prasyarat dalam pembentukan sesebuah negara.
Peradaban dan tamadun merupakan nikmat sekaligus amanah yang perlu dipelihara, dipertahankan dan dikekalkan tanpa noktah masa. Di sinilah letaknya peranan akhlak yang sewajarnya menjadi teras kepada pembinaan tamadun, yang juga menjadi kubu pertahanan kepada pembangunan fizikal walaupun ia hanya dapat dilihat dan disentuh oleh mata hati.
Gaya hidup moden sebahagian daripada tanda bertamadunnya sesebuah bangsa atau negara. Namun, jika akhlak tidak dijadikan sebagai amalan dan darah daging, maka kemajuan fizikal boleh rosak dan mereput dari dalam. Ibarat sebuah rumah kediaman yang didiami oleh sebuah keluarga, jika semua ahli keluarga tidak mempunyai akhlak yang baik, perasaan saling kasih-mengasihi sesama mereka dan masing-masing dengan hal sendiri, maka semua penghuni tidak akan dapat menikmati kehidupan berkeluarga yang aman dan harmoni. Sekalipun rumah yang didiami besar, mewah dan indah, ia hanya mampu menjadi tempat berlindung tetapi tidak dapat memberi rasa bahagia kepada para penghuninya. Malah, mungkin akan ada ahli keluarga yang keluar dari rumah berkenaan untuk mendapatkan suasana hidup yang lebih bermakna.
Rasuah, pecah amanah,  penipuan adalah contoh-contoh perilaku yang berupaya merosakkan isi kepada tamadun. Kita perlu belajar daripada pengalaman lepas, bagaimana empayar Melaka yang sangat maju dan terbilang itu boleh jatuh tanpa mengambil masa yang lama. Sedangkan kubu pertahanan dan tembok yang melindungi kota Melaka amat kukuh dan ampuh. Malah dikhabarkan juga tahap persenjataan dan kekuatan tentera kesultanan Melayu Melaka juga bukan calang-calang hebatnya.
Kekuatan dari aspek fizikal sebenarnya masih tidak boleh dibandingkan dengan kesetiaan rakyat dengan sepenuh hati terhadap pemimpin dan juga negaranya. Dan itulah yang berlaku pada empayar Melaka lebih lima abad yang lalu. Bukan disebabkan rapuhnya tembok dan kubu pertahanan kota Melaka, tetapi adalah disebabkan wujudnya petualang dan pengkhianat bangsa seperti Si Kitul, Raja Mendaliar dan Laksamana Khoja Hassan yang sanggup bersekongkol dalam menabur fitnah dan mengadu-domba. Walaupun tragedi malang ini terbalas dengan hukuman bunuh terhadap mereka, tetapi ia belum cukup untuk membayar kerugian yang terpaksa diterima oleh bangsa dan kesultanan Melayu secara keseluruhannya. Pengkhianatan ini menyebabkan harga diri bangsa Melayu menjadi murah, kedudukan mereka direndahkan dengan penjajahan yang berlaku sehingga beratus-ratus tahun lamanya.
Faktor yang sama juga adalah antara penyebab kepada keruntuhan kerajaan Turki Uthmaniyah walaupun tidak dinafikan terdapat faktor-faktor lain yang menyebabkan keruntuhan tersebut berlaku. Pemimpin yang sangat leka pada hal-hal keduniaan dan pemabuk, pegawai dan pembesar yang gilakan kuasa dan sanggup melakukan apa sahaja untuk menjaga kepentingan peribadi termasuk menyelewengkan kuasa dan rasuah, merupakan contoh-contoh anasir atau agen yang menyebabkan kebobrokan negara berlaku dari dalam.
Yang lebih malang lagi mereka tidak menjaga sistem ketenteraan dan pertahanan mereka dengan serius. Pemilihan dalam barisan pimpinan ketenteraan tidak disaring mengikut tradisi yang mengutamakan potensi dan kualiti, tetapi lebih kepada pertimbangan dan budi bicara. Kronisme yang berlaku di peringkat yang lebih rendah juga lebih merapuhkan kubu pertahanan. Antaranya memberi kenaikan pangkat kepada anak-anak pegawai atasan yang secara langsung menafikan individu lain yang lebih layak dan memiliki disiplin dan kemahiran ketenteraan yang tinggi.
Bukan itu sahaja, hiburan dan arak lebih mendapat tempat dan sebaliknya, masjid-masjid menjadi lengang tanpa majlis-majlis ilmu, dakwah dan kerohanian. Malah, mereka lebih memberi tempat kepada perkara-perkara yang khurafat dan orang-orang agama bersikap tidak komited terhadap ajaran al Quran dan Sunah.
Akhlak adalah salah satu komponen yang terkandung dalam agama Islam selain akidah dan syariah. Peranan akhlak amat penting sehinggakan antara tujuan undang-undang digubal adalah untuk menjaga akhlak manusia. Tetapi, undang-undang hanya akan menjadi sia-sia dan tidak boleh bergerak dan berfungsi sekiranya ia terbelenggu oleh salah laku dan korupsi manusia yang diamanahkan.
Sebagai agama yang sempurna dan melihat akhlak sebagai sebahagian daripada nyawa bagi kelangsungan kehidupan manusia secara teratur dan harmoni, maka agama Islam telah meletakkan adab dan juga akhlak dalam setiap dimensi kehidupan manusia.
Bermula dengan akhlak hamba dengan Penciptanya, kemudian akhlak manusia dengan diri sendiri, ibu bapa dan ahli keluarga,  sehinggalah kepada akhlak terhadap negara dan persekitaran individu, agama Islam telah mengajar manusia bagaimana untuk hidup secara berakhlak. Malah, agama Islam turut mengajar umatnya untuk menunaikan hak selain manusia seperti binatang, pokok dan bahagian-bahagian bumi ini sebagai sebahagian daripada akhlak dan adab Islamiah.
Jika setiap individu memahami fungsi akhlak dalam kehidupan dan mengamalkannya, nescaya setiap orang akan dapat hidup dengan aman dan setiap pekerjaan dapat dilaksanakan dengan lancar. Seterusnya, pembangunan kebendaan dapat dibina dengan penuh integriti.
Individu yang berakhlak juga bukan sahaja tidak akan menjadi punca kegelisahan orang lain tetapi dengan akhlak yang baik juga turut menggambarkan jati diri yang kukuh. Inilah pengajaran yang diperlihatkan oleh Sultan Abdul Hamid II yang tegas menolak tawaran pihak Yahudi  yang berjanji untuk memberikan wang sebanyak 150 juta pound sterling emas sekiranya baginda bersetuju dengan permohonan pihak Yahudi untuk membentuk negara mereka di Palestin.

Rumusannya, akhlak baik yang diamalkan oleh tiap individu dan rakyat akan membantu kelangsungan pembangunan negara membina peradaban. Selanjutnya akan memastikan peradaban bangsa terus kekal kelangsungannya.





Isnin, 23 Disember 2013

O 6 : ORANG YANG PALING BERANI, KUAT DAN BAHAGIA

ORANG yang paling CEPAT dalam MINTA MAAF adalah 'ORANG YANG PALING BERANI..'

ORANG yang paling CEPAT meMAAFkan adalah 'ORANG YANG PALING KUAT...' dan

ORANG yang paling CEPAT meLUPAkan KESALAHAN orang lain adalah 'ORANG YANG PALING BAHAGIA...'