Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

V 167 : ASMAUL HUSNA ( 74. AL ZOHIR )

AL ZOHIR   ( الظاهر )   ALLAH Yaa Zohir Yang Maha Nyata menegaskan kepada kita DIA nyata, dapat dilihat dan sesungguhnya hadir. Kehadira...

Memaparkan catatan dengan label ALLAH SWT - KASIH SAYANG. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label ALLAH SWT - KASIH SAYANG. Papar semua catatan

Sabtu, 29 Disember 2018

T 78 : JIKA ALLAH SWT MENCINTAI SESEORANG HAMBANYA


Apakah benar bahawa jika Allah SWT mencintai seorang hamba maka ia akan diuji, kerana kami sering mendengar pernyataan ini?

Abdullah surabaya
Jawapan:

Benar, terdapat dalam sebuah hadits:

إذا أحَبَّ اللهُ قومًا ابْتلاهُمْ

“Jika Allah mencintai suatu kaum maka mereka akan diuji.”
(HR. Ath-Thabrani dalam Mu’jamul Ausath, 3/302. Dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 285).

Dan Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

أشد الناس بلاء الأنبياء, ثم الصالحون, ثم الأمثل فالأمثل

Manusia yang paling berat cubaannya adalah para Nabi, kemudian orang-orang soleh, kemudian yang semisal mereka dan yang semisalnya.”
(HR. Ahmad, 3/78, dishahihkan Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’ no. 995).

Mereka adalah orang-orang yang dicintai oleh Allah SWT. Ujian yang menimpa orang-orang yang Allah SWT cintai, itu dalam rangka mensucikannya, dan mengangkat darjatnya, sehingga mereka menjadi teladan bagi yang lainnya dan boleh bersabar.
Oleh kerana itu Nabi shallallahu’alaihi wa sallam bersabda,

“Manusia yang paling berat cubaannya adalah para Nabi, kemudian orang-orang soleh, kemudian yang semisal mereka dan yang semisalnya.”

Dalam riwayat lain,

الصالحون, ثم الأمثل فالأمثل يبتلى المرء على قدر دينِهم

“…kemudian orang-orang solehh, kemudian yang semisal mereka dan yang semisalnya, mereka diuji sesuai dengan kualiti agama mereka.”
Jika ia orang yang sangat tegar dalam beragama, semakin berat ujiannya. Oleh kerana itu ALLAH SUBHANAHU WA TAALA memberikan ujian kepada para Nabi dengan ujian yang berat-berat. Di antara mereka ada yang dibunuh, ada yang disakiti masyarakatnya, ada yang sakit dengan penyakit yang parah dan lama seperti Nabi Ayub as, dan Nabi kita shallallahu’alai wa sallam sering disakiti di Mekah dan di Madinah, namun beliau tetap sabar menghadapi hal itu. Intinya, gangguan semacam ini terjadi terhadap orang yang beriman dan bertakwa sesuai dengan kadar iman dan takwanya.



Isnin, 1 Januari 2018

S 94 : YANG LALU BIARLAH BERLALU - KASIH SAYANG ALLAH SWT

Terkadang banyak sekali orang yang ingin memperbaiki kualiti dirinya dengan lebih mendekatkan diri kepada ALLAH SUBHANAHU WA TAALA namun ketika ia mengingat dosa-dosa di masa lalunya yang begitu kelam dan gelap, dia menganggap dirinya paling kotor dan ALLAH SUBHANAHU WA TAALA tidak akan menerima dirinya.

Sikap putus asa terhadap rahmat dariNya merupakan tipu daya syaitan agar manusia berpaling daripada ALLAH SUBHANAHU WA TAALA, padahal rahmat ALLAH SUBHANAHU WA TAALA sangatlah luas dan agung. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wasallam bersabda,

اللَّهُ أَرْحَمُ بِعِبَادِهِ مِنْ هَذِهِ بِوَلَدِهَا

“Sungguh Allah lebih penyayang terhadap hamba-hambaNya daripada seorang ibu terhadap anak bayinya.”[1]

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لَمَّا قَضَى الْخَلْقَ كَتَبَ عِنْدَهُ فَوْقَ عَرْشِهِ إِنَّ رَحْمَتِى سَبَقَتْ غَضَبِى

“Ketika Allah SWT menciptakan makhluk, Dia menuliskan di sisinya di atas arsyNya: sesungguhnya kasih sayangKu mendahului/mengalahkan kemurkaanKu.”[2]

Maa syaa Allah, begitu luar biasanya ALLAH SUBHANAHU WA TAALA sayang kepada hambanya. Masih pantaskah kita berputus asa dari rahmatNya? Masihkah kita meragukan keagungan dan kasih sayangNya?
ALLAH SUBHANAHU WA TAALA juga telah memberikan nasihat sekaligus kabar gembira kepada kita dalam kitabNya. ALLAH SUBHANAHU WA TAALA berfirman:

قُلْ يَا عِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

“Katakanlah: “Hai hamba-hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu terputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(QS az-Zumar: 53)

ALLAH SUBHANAHU WA TAALA juga berfirman:

إِنَّ رَبَّكَ وَاسِعُ الْمَغْفِرَةِ

“Sesungguhnya Rabbmu maha luas pengampunanNya.”
(QS an-Najm: 32).

Subhanallah. Lagi dan lagi ALLAH SUBHANAHU WA TAALA telah menunjukkan kepada kita betapa pemurah dan sayang kepada setiap hambanya. Setiap hamba yang ingin menghambakan, memperbaiki diri dan istiqomah di jalan yang telah ALLAH SUBHANAHU WA TAALA tunjukkan. Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

“Taubat (yang benar) akan menghapuskan (semua dosa yang dilakukan) di masa lalu.”

Dalam hadits lain yang semakna, beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

التائب من الذنب كمن لاذنب له

“Orang yang telah bertaubat dari dosa-dosanya (dengan sungguh-sungguh) adalah seperti orang yang tidak punya dosa.”
(HR Ibnu Majah no. 4250, dihasankan oleh Syaikh Al Albani dalam Shahih Ibnu Majah)


Janganlah bersedih dan terpuruk atas banyaknya dosa-dosa kita di masa lalu, ketika kita tidak boleh mengubah masa lalu yang kelam tapi kita masih boleh untuk mengupayakan dan merubah masa depan menjadi lebih baik dan penuh rahmat. Allahu a’lam.

Jumaat, 20 Januari 2017

R 142 BAGAIMANA DENGAN CIRI-CIRI HAMBA YANG MENCINTAI ALLAH?

Ustaz Muhammad Arifin Ilham menjelaskan dengan baik di sini :

http://halaqah.net/v10/index.php?topic=3726.0


Saudara-saudariku yangku cintai kerana ALLAH SUBHANAHU WA TAALA. Kali ini kita membahas tentang ciri hamba-hamba ALLAH yang mencintai ALLAH SUBHANAHU WA TAALA.

Yang pertama, ALLAH SUBHANAHU WA TAALA tujuan hidupnya, ALLAH ghayatuna.

Yang kedua, sangat taat kepada ALLAH SUBHANAHU WA TAALA, istiqomah, berpegang teguh pada syariat ALLAH SUBHANAHU WA TAALA.

Yang ketiga, mencintai mereka yang dicintai oleh ALLAH SUBHANAHU WA TAALA, (iaitu) para Rasul, para Anbiyya, para aulia, hamba-hamba ALLAH yang jujur, para syuhada, hamba-hamba ALLAH yang soleh.

Yang keempat, dengan sangat senang hati melakukan apa yang ALLAH SUBHANAHU WA TAALA perintahkan untuk dirinya, dan apa yang ALLAH SUBHANAHU WA TAALA larang untuk dirinya. Kerana ia tahu perintah-larangan ALLAH SUBHANAHU WA TAALA untuk kemaslahatan dirinya.

Yang kelima, selalu ingat kepada ALLAH SUBHANAHU WA TAALA, selalu berzikir kepada ALLAH SUBHANAHU WA TAALA. Selama berzikir bererti selama itu ia bersama ALLAH SUBHANAHU WA TAALA.

Yang keenam, mengunjungi rumah ALLAH, Ka'bah Baitullah, Haji bagi mereka yang mampu. Umrah demi umrah, mengunjungi rumah ALLAH, masjid, musholla, ia jaga solat berjamaah.

Kemudian mengunjungi NABI MUHAMMAD  SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASSALLAM ke Madinah, ziarah, berselawat kepada beliau, dan menjadikan beliau sebagai teladan dalam hidupnya. Mencintai ALLAH SUBHANAHU WA TAALA bererti mencintai nabi ALLAH.

Kemudian sangat senang membaca kalamullah, Al Quranul karim.
Yang kesembilan, sangat senang menyampaikan ajaran ALLAH SUBHANAHU WA TAALA, mendakwahkan ajaran ALLAH SUBHANAHU WA TAALA, pada diri sendiri, keluarga, handai taulan, kepada siapapun.

Kemudian percaya yakin, benar-benar beriman kepada semua janji-janji ALLAH SUBHANAHU WA TAALA. Janji ALLAH SUBHANAHU WA TAALA di dunia, janji ALLAH SUBHANAHU WA TAALA di akhirat. Keyakinan kepada janji ALLAH SUBHANAHU WA TAALA melahirkan akhlak yang mulia.

Kemudian percaya yakin beriman ditolong oleh ALLAH SUBHANAHU WA TAALA. Inilah ALLAH SUBHANAHU WA TAALA janjikan dalam Surah 10  YUNUS, ayat 62.

"Ingatlah, sesungguhnya wali-wali ALLAH itu, tidak ada kekuatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (iaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan) di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) ALLAH. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar." 
(Surah 10  YUNUS : 62-64)

Sesungguhnya kekasih-kekasih ALLAH SUBHANAHU WA TAALA tidak takut apa yang akan terjadi, tidak bersedih apa yang sudah terjadi. Kerana mereka benar-benar cinta, beriman kepada ALLAH SUBHANAHU WA TAALA, dan mereka hidup dalam ketakwaan kepada ALLAH SUBHANAHU WA TAALA. Bagi mereka kebahagiaan di dunia dan kebahagiaan di akhirat, dan itu pasti bagi mereka. Itulah kemenangan besar untuk mereka.

Kemudian, selalu melakukan yang terbaik untuk ALLAH SUBHANAHU WA TAALA, jihad fii sabilillah. Kemudian merindukan perjumpaan denganNya. Subhanallah. Dan sangat senang menikmati ibadah, khusyuk dalam beribadah, merupakan bukti cinta kepada ALLAH SUBHANAHU WA TAALA, kekasih menghadap kekasih. Bukankah kekasih senang bermesraan dengan kekasihnya. Waktu bermesraan dengan kekasih adalah waktu-waktu beribadah kepadaNya.

Subhanakallahumma wabihamdika asyhaduallaailaahailla anta astaghfiruka wa atubuilaik.

Referensi:


http://www.eramuslim.com/ustadz-menjawab/mencintai-allah.htm

http://dzikirkasihbertasbih.wordpress.com/tag/cinta


http://media-islam.or.id/2011/03/29/bersyukur-kepada-allah

Khamis, 19 Disember 2013

N 127 : EMPAT CARA BAGAIMANA MENDAPAT CINTA ALLAH CINTA YANG HAKIKI

1) Berterusan/Istiqamah

2) Pelihara Solat

3) Perbanyakan Solat Sunat 

4) Berzikir/Qasidah


- Ustaz Dr.Mohd Izhar Ariff -

Rabu, 18 Disember 2013

N 117 : SEPULUH CARA AGAR BOLEH MENCINTAI ALLAH

Ibnu Qayyim menyebutkan 10 cara agar boleh mencintai ALLAH:

1. Membaca al Quran, mentadabburi dan memahami makna-maknanya.

2. Bertaqarrub kepada ALLAH dengan mengamalkan amal-amal yang sunnah.

3. Selalu berzikir kepada ALLAH di setiap keadaan dengan lisan, hati dan amal.

4. Lebih mementingkan apa yang dicintai oleh ALLAH di atas yang dicintai oleh hamba ketika bertabrakan.

5. Menyelami nama-nama ALLAH dan sifat-Nya serta pengaruh dan kesempurnaan yang ditunjukkan olehnya.

6. Memikirkan nikmat-nikmat ALLAH yang bersifat lahiriyah dan batiniyah, serta menyaksikan kebaikan-kebaikanNya kepada hambaNya.

7. Menundukkan hati di hadapan ALLAH dan selalu merasa faqir kepadaNya.

8. Bermunajat kepada ALLAH di saat sepertiga malam terakhir dengan solat, membaca al Quran dan istighfar.

9. Bersahabat dengan orang-orang soleh dan mengambil faedah dari mereka.

10. Menjauhi semua yang menghalangi hati dari ALLAH.

(Madarijussalikin 3/17, diambil dari kitab Al Irsyad ilaa shahihil I'tiqad hal 79-80 karya
Syaikh Shalih Fauzan).

(Cantumkan jika ada doa khusus untuk ibu dan juga doa yang lainnya, agar kami para jamaah boleh mengaminkannya)

Silahkan Klik Like dan Bagikan di halamanmu agar kamu dan teman-temanmu sentiasa istiqomah dan boleh meningkatkan ketakwaannya kepada ALLAH SWT.

Selasa, 26 November 2013

M 96 : BERSYUKURLAH ALLAH SWT SAYANG KITA

Kadang-kadang kita hairan.. Orang lain selalu buat jahat, tak pernah pulak kantoi. Tapi bila kita baru buat sekali, dah kantoi.
Kenapa??


Itu sebab.. ALLAH sayangkan kita. ALLAH tak nak kita ulangi perbuatan tak elok tu lagi. ALLAH nak kita ada perasaan takut untuk ulang dosa-dosa kita tu lagi. Bersyukurlah, ALLAH sayang kita.




Isnin, 25 November 2013

M 94 : CINTA APA YANG KITA KEJAR

Aku kejar, kejar dan kejar CINTA MANUSIA..
Sehingga aku LETIH..
Akhirnya, aku sedari..
Aku DITEMANI satu cinta yang TIDAK PERNAH meninggalkanku..
CINTA ALLAH..
Cinta yang TIDAK PERNAH melukakan,
Cinta yang TIDAK PERNAH meninggalkan..
Cinta ILAHI....


Khamis, 14 November 2013

M 40 : Tanda-Tanda Allah Cinta Pada Kita

Sesungguhnya apabila ALLAH SWT  mencintai hambaNya, ia dapat dilihat dengan jelas dan dirasa melalui hati yang bersih. Ketika ALLAH SWT  mencintai seorang hamba, maka jatuhlah ke dalam hati hamba itu ilham suci yang membuat dia mengenali tanda kecintaanNya. Ada beberapa tanda yang boleh dirasa oleh hati manusia, antaranya :

Tanda ALLAH SWT Mencintai Seseorang Ialah Apabila Dia Menjadi Begitu Berminat Dengan Ibadah. Adakalanya sesetengah orang yang berusaha sekuat-kuatnya untuk beribadah, hatta melebihi kapasiti diri sebagai insan lemah. Tujuannya hanya satu iaitu mencintai ALLAH SWT . Tapi ibadahnya seolah-olah kosong tanpa rasa, tawar tiada kemanisannya, semangat imannya maju & mundur, turun dan naik akhirnya tenggelam dipukul arus dunia.
Ketika beribadah semestinya seseorang mampu menghadirkan keyakinan bahawa saat itu ALLAH SWT  mencintai dirinya. Pernahkah kita menikmati sujud yang panjang sambil menghadirkan dalam hati bahawa saat itulah ALLAH SWT  mengisytiharkan nama kita sebagai orang yang dicintaiNya?

NABI MUHAMMAD SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM bersabda yang bermaksud :

“Jika ALLAH mencintai seorang hamba maka ia berfirman : Wahai Jibril sesungguhnya Aku mencintai si polan maka cintailah dia.”
(Riwayat Imam Ahmad)

Maka orang yang yakin bahawa ALLAH SWT  mencintai dirinya tidak pernah rasa was-was adakah ibadahnya diterima atau tidak? Jauh sekali rasa takbur kerana dia yakin yang menolongnya untuk melakukan ketaatan adalah ALLAH SWT  juga.
Bukan kerana kehebatan atau kewarakan, melainkan ALLAH SWT  yang menunjuknya ke jalan takwa. Kemudian dia sampai kepada satu makrifah mendalam mengenai ALLAH SWT  iaitu cinta ALLAH SWT  kepada hambaNya jauh lebih agung daripada cinta sesama insan. Manusia boleh mengkhianati ibubapanya atau anak & isterinya, kawan atau kekasih atas alasan tidak mendapat keuntungan daripada perhubungan itu. Tetapi cinta ALLAH SWT  kekal tidak pernah luntur walaupun dicabar oleh sepak terajang hamba derhaka.
Tanda ALLAH SWT  Mencintai Seseorang Ialah Apabila Maksiat Membuat Dia Bangkit Mendekati ALLAH SWT .
Adakalanya dosa boleh mendatangkan manfaat iaitu apabila dosa itu akhirnya membawa kepada keinsafan, taubat & istighfar. Kemudian seseorang bangkit mengejar ALLAH SWT, berusaha mendapatkan hatinya yang hilang di belantara maksiat. Ia sama sekali tidak berputus asa dari rahmat ALLAH SWT. Ia sentiasa mengingati janji ALLAH Yang Maha Pengampun.

Firman ALLAH SWT yang bermaksud :

“Katakanlah : Wahai hambaKu yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, jangan kamu berputus asa daripada rahmat ALLAH. Sesungguhnya ALLAH mengampuni semuanya. Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dan kembalilah kepada Tuhanmu dan berserah dirilah kepadaNya sebelum datang azab kepadamu kemudian kamu tidak dapat ditolong lagi.”
(Surah Al-Zumar : Ayat 53-54)

Janganlah kerana dosa semalam seseorang menyangka ALLAH SWT  tidak sudi mendengar rintihannya, terputus tali langit dihatinya, tertolak segala doanya dan terusir dia daripada pandangan ALLAH SWT .

NABI MUHAMMAD SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM bersabda bermakud :

“Demi Tuhan yang diriku berada dalam genggamanNya. Seandainya kamu tidak berdosa nescaya ALLAH akan mematikan kamu. Kemudia ALLAH akan mendatangkan satu kaum yang melakukan dosa dan mereka memohon keampunan kepada ALLAH lantas ALLAH mengampuni mereka.”
(Hadis Riwayat Imam Muslim)

Hamba yang taat apabila perangainya berubah menjadi iblis pun Tuhan tetap menunggu, di setiap malam rintihan hamba itu diintip hingga ia pulang kembali ke sisiNya. Saat ALLAH SWT  mencintai seseorang, tempat pertama menerima sentuhan cinta itu ialah hati mereka.
Di situlah ALLAH SWT  melenyapkan segala rasa putus asa dan kesedihan akibat dosa mereka kemudian diganti dengan harapan dan keinginan untuk berubah menjadi insan bersih. Hati kita seeloknya selalu berbisik : “Aku tahu bila ALLAH mencintaiku, iaitu saat aku membenci segala kejahatanku.

ALLAH SWT telah berfirman di dalam al Quran yang mafhumnya :

“Dan Dialah yang telah menciptakan malam dan siang, matahari dan bulan masing-masing dan keduanya itu beredar di dalam garis edarnya.”
(Surah Al-Anbiya’ : ayat 33)

Tanda ALLAH SWT Mencintai Seseorang Hamba Ialah Apabila DiLapangkan Dadanya Menerima Ilmu Menjadi Petunjuk Ke Jalan Yang Benar.
ALLAH SWT tidak sesekali membiarkan seseorang insan terkapai-kapai dalam lautan dosa. Bahkan di kirim ke atas hati manusia petunjuk hidayahNya supaya manusia terselamat daripada gelombang keganasan dirinya sendiri.

NABI MUHAMMAD SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM bersabda bermaksud :

“Apabila Allah mencintai seseorang maka ia membuatnya faham mengenai agamanya.”
(Hadis Riwayat al-Bukhari dan Muslim)

Wallahu’alam…………..

Rujukan : Harian Islam.com



Sabtu, 15 Disember 2012

K 73 Mengharap Cinta ALLAH SUBHANAHU WA TAALA



Rabi’ah binti Ismail al-Adawiyah tergolong wanita sufi yang terkenal dalam sejarah Islam. Dia dilahirkan sekitar awal kurun kedua Hijrah berhampiran kota Basrah di Iraq. Dia lahir dalam sebuah keluarga yang miskin dari segi kebendaan namun kaya dengan peribadatan kepada Allah swt. Ayahnya pula hanya bekerja mengangkut penumpang menyeberangi Sungai Dijlah dengan menggunakan sampan.

Pada akhir kurun pertama Hijrah, keadaan hidup masyarakat Islam dalam pemerintahan Bani Umaiyah yang sebelumnya terkenal dengan ketakwaan telah mulai berubah. Pergaulan semakin bebas dan orang ramai berlumba-lumba mencari kekayaan. Justeru itu kejahatan dan maksiat tersebar luas. Pekerjaan menyanyi, menari dan berhibur semakin diagung-agungkan. Maka ketajaman iman mulai tumpul dan zaman hidup wara’ serta zuhud hampir lenyap sama sekali.

Namun begitu, Allah swt telah memelihara sebilangan kaum Muslimin agar tidak terjerumus ke dalam fitnah tersebut. Pada masa itulah muncul satu gerakan baru yang dinamakan Tasauf Islami yang dipimpin oleh Hasan al-Bashri. Pengikutnya terdiri daripada lelaki dan wanita. Mereka menghabiskan masa dan tenaga untuk mendidik jiwa dan rohani mengatasi segala tuntutan hawa nafsu demi mendekatkan diri kepada Allah swt sebagai hamba yang benar-benar taat.

Bapa Rabi’ah merupakan hamba yang sangat bertakwa, tersingkir daripada kemewahan dunia dan tidak pernah letih bersyukur kepada Allah swt. Dia mendidik anak perempuannya menjadi Muslimah yang berjiwa bersih. Pendidikan yang diberikannya bersumberkan Al-Quran semata-mata. Natijahnya Rabi’ah sendiri begitu gemar membaca dan menghayati isi Al-Quran sehingga berjaya menghafal kandungan Al-Quran. Sejak kecil lagi Rabi’ah sememangnya berjiwa halus, mempunyai keyakinan yang tinggi serta keimanan yang mendalam.

Menjelang kedewasaannya, kehidupannya menjadi serba sempit. Keadaan itu semakin buruk setelah beliau ditinggalkan ayah dan ibunya. Rabi’ah juga tidak terkecuali daripada ujian yang bertujuan membuktikan keteguhan iman. Ada riwayat yang mengatakan beliau telah terjebak dalam kancah maksiat. Namun dengan limpah hidayah Allah swt, dengan asas keimanan yang belum padam di hatinya, dia dipermudahkan oleh Allah swt untuk kembali bertaubat. Babak-babak taubat inilah yang mungkin dapat menyedar serta mendorong hati kita merasai cara yang sepatutnya seorang hamba bergantung harap kepada belas ihsan Tuhannya.

Marilah kita teliti ucapan Rabi’ah sewaktu kesunyian di ketenangan malam ketika bermunajat kepada Allah:

“Ya Allah, ya Tuhanku. Aku berlindung diri kepada Engkau daripada segala yang ada yang boleh memesongkan diri daripada-Mu, daripada segala pendinding yang boleh mendinding antara aku dengan Engkau!
“Tuhanku! bintang-bintang telah menjelma indah, mata telah tidur nyenyak, semua pemilik telah menutup pintunya dan inilah dudukku di hadapan-Mu.

“Tuhanku! Tiada kudengar suara binatang yang mengaum, tiada desiran pohon yang bergeser, tiada desiran air yang mengalir, tiada siulan burung yang menyanyi, tiada nikmatnya teduhan yang melindungi, tiada tiupan angin yang nyaman, tiada dentuman guruh yang menakutkan melainkan aku dapati semua itu menjadi bukti keEsaan-Mu dan menunjukkan tiada sesuatu yang menyamai-Mu.

“Sekelian manusia telah tidur dan semua orang telah lalai dengan asyik maksyuknya. Yang tinggal hanya Rabi’ah yang banyak kesalahan di hadapan-Mu. Maka moga-moga Engkau berikan suatu pandangan kepadanya yang akan menahannya daripada tidur supaya dia dapat berkhidmat kepada-Mu”.

Rabi’ah juga pernah meraung memohon belas ihsan Allah SWT:

“Tuhanku! Engkau akan mendekatkan orang yang dekat di dalam kesunyian kepada keagungan-Mu. Semua ikan di laut bertasbih di dalam lautan yang mendalam dan kerana kebesaran kesucian-Mu, ombak di laut bertepukan. Engkaulah Tuhan yang sujud kepada-Nya malam yang gelap, siang yang terang, falak yang bulat, bulan yang menerangi, bintang yang berkerdipan dan setiap sesuatu di sisi-Mu dengan takdir sebab Engkaulah Tuhan Yang Maha Tinggi lagi Maha Perkasa.”

Setiap malam begitulah keadaan Rabi’ah. Apabila fajar menyingsing, Rabi’ah terus juga bermunajat dengan ungkapan seperti:

“Wahai Tuhanku! Malam yang akan pergi dan siang pula akan mengganti. Wahai malangnya diri! Apakah Engkau akan menerima malamku ini supaya aku berasa bahagia ataupun Engkau akan menolaknya maka aku diberikan takziah? Demi kemuliaan-Mu, jadikanlah caraku ini kekal selama Engkau menghidupkan aku dan bantulah aku di atasnya. Demi kemuliaan-Mu, jika Engkau menghalauku daripada pintu-Mu itu, nescaya aku akan tetap tidak bergerak juga dari situ disebabkan hatiku sangat cinta kepada-Mu.”

Seperkara menarik tentang diri Rabi’ah ialah dia menolak lamaran untuk berkahwin dengan alasan:

“Perkahwinan itu memang perlu bagi sesiapa yang mempunyai pilihan. Adapun aku tiada mempunyai pilihan untuk diriku. Aku adalah milik Tuhanku dan di bawah perintah-Nya. Aku tidak mempunyai apa-apapun.”

Rabi’ah seolah-olah tidak mengenali yang lain daripada Allah swt. Oleh itu dia terus-menerus mencintai Allah swt semata-mata. Dia tidak mempunyai tujuan lain kecuali untuk mencapai keredaan Allah swt. Rabi’ah telah mempertalikan akalnya, pemikirannya dan perasaannya hanya kepada akhirat semata-mata. Dia sentiasa meletakkan kain kapannya di hadapannya dan sentiasa membelek-beleknya setiap hari.

Selama 30 tahun dia terus-menerus mengulangi kata-kata ini dalam solatnya:

“Ya Tuhanku! Tenggelamkanlah aku di dalam kecintaan-Mu supaya tiada suatupun yang dapat memalingkan aku daripada-Mu.”

Antara syairnya yang masyhur berbunyi:

“Kekasihku tiada menyamai kekasih lain biar bagaimanapun, Tiada selain Dia di dalam hatiku mempunyai tempat manapun, Kekasihku ghaib daripada penglihatanku dan peribadiku sekalipun, Akan tetapi Dia tidak pernah ghaib di dalam hatiku walau sedetikpun.”

Rabi’ah telah membentuk satu cara yang luar biasa di dalam mencintai Allah swt. Dia menjadikan kecintaan pada Ilahi itu sebagai satu cara untuk membersihkan hati dan jiwa. Dia memulakan fahaman sufinya dengan menanamkan rasa takut kepada kemurkaan Allah swt seperti yang pernah diluahkannya:

“Wahai Tuhanku! Apakah Engkau akan membakar dengan api hati yang mencintai-Mu dan lisan yang menyebut-Mu dan hamba yang takut kepada-Mu?”

Kecintaan Rabi’ah kepada Allah swt berjaya melewati pengharapan untuk beroleh syurga Allah swt semata-mata.

“Jika aku menyembah-Mu kerana takut daripada api neraka-Mu maka bakarlah aku di dalamnya! Dan jika aku menyembah-Mu kerana tamak kepada syurga-Mu maka haramkanlah aku daripadanya! Tetapi jika aku menyembah-Mu kerana kecintaanku kepada-Mu maka berikanlah aku balasan yang besar, berilah aku melihat wajah-Mu yang Maha Besar dan Maha Mulia itu.”

Begitulah keadaan kehidupan Rabi’ah yang ditakdirkan Allah swt untuk diuji dengan keimanan serta kecintaan kepada-Nya. Rabi’ah meninggal dunia pada 135 Hijrah iaitu ketika usianya menjangkau 80 tahun. Moga-moga Allah swt meredainya, amin!

Sekarang mari kita tinjau diri sendiri pula. Adakah kita menyedari satu hakikat yang disebut oleh Allah swt di dalam Surah Ali Imran, ayat 142 yang bermaksud:

“Apakah kamu mengira bahawa kamu akan masuk syurga padahal belum nyata bagi Allah orang yang berjihad di antaramu dan belum nyata orang yang sabar.”

Bagaimana perasaan kita apabila insan yang kita kasihi menyinggung perasaan kita? Adakah kita terus berkecil hati dan meletakkan kesalahan kepada insan berkenaan? Tidak terlintaskah untuk merasakan di dalam hati seumpama ini:

“Ya Allah! Ampunilah aku. Sesungguhnya hanya Engkau yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Hanya kasih-Mu yang abadi dan hanya hidup di sisi-Mu sahaja yang berkekalan. Selamatkanlah aku daripada tipu daya yang mengasyikkan.”

Sesungguhnya apa juga lintasan hati dan luahan rasa yang tercetus daripada kita bergantung kepada cara hati kita berhubung dengan Allah swt. Semakin kita kenali keluhuran cinta kepada Allah swt, maka bertambah erat pergantungan hati kita kepada Allah swt serta melahirkan keyakinan cinta dan kasih yang sentiasa subur.

Lanjutan itu jiwa kita tidak mudah berasa kecewa dengan gelagat sesama insan yang pelbagai ragam. Keadaan begini sebenarnya terlebih dahulu perlu dipupuk dengan melihat serta merenungi alam yang terbentang luas ini sebagai anugerah besar daripada Allah swt untuk maslahat kehidupan manusia. Kemudian cubalah hitung betapa banyaknya nikmat Allah swt kepada kita.

Dengan itu kita akan sedar bahawa kita sebenarnya hanya bergantung kepada Allah swt. Bermula dari sini kita akan mampu membina perasaan cinta terhadap Allah swt yang kemudian mesti diperkukuhkan dengan mencintai titah perintah Allah. Mudah-mudahan nanti kita juga akan menjadi perindu cinta Allah swt yang kekal abadi.

http://drmindailmu.blogspot.com/







Rabu, 12 Disember 2012

K 59 EMPAT Perkara mengubah takdir Allah SWT.



EMPAT Perkara mengubah takdir ALLAH SUBHANAHU WA TAALA :

1- Berdoa kepada
ALLAH SUBHANAHU WA TAALA.

2- Bersedekah.

3- Bertasbih kepada ALLAH SUBHANAHU WA TAALA.

4- Berselawat kepada RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASSALLAM

Untuk mendapat dalil seperti ayat al Quran dan al-Hadis sila layari web di bawah.

Rujukan:
http://www.motivasi-islami.com/rahasia-mengubah-takdir/

Isnin, 3 Disember 2012

K 35 TUJUH Tanda Allah SWT mencintai hambaNya



1- ALLAH SUBHANAHU WA TAALA memberi terbaik kepada anda.

2- ALLAH SUBHANAHU WA TAALA menganugerahkan perasaan kasih sayang dan bersifat lemah-lembut.

3- Penduduk dunia menerima anda dan menyayangi anda.

4- ALLAH SUBHANAHU WA TAALA menguji anda dengan mushibah  dan anda sabar menghadapinya serta sentiasa menjadikan ujian ALLAH SUBHANAHU WA TAALA kepada anda sebagai pengajaran.

5- Mati dalam keadaan taat kepada ALLAH SUBHANAHU WA TAALA serta sentiasa ghairah menyahut seruan jihad.

6- Melakukan ketaatan kepada ALLAH SUBHANAHU WA TAALA dan meninggalkan perkara maksiat.

Jumaat, 30 November 2012

K 25 LIMA Perkara membuktikan Allah SWT terlalu sayang kepada kita

Al-Wahhab adalah di antara nama ALLAH SUBHANAHU WA TAALA yang membawa maksud ALLAH SUBHANAHU WA TAALA Maha Pemberi dan Maha Pengasih serta Maha Pemurah.

LIMA Perkara membuktikan ALLAH SUBHANAHU WA TAALA terlalu sayang kepada kita adalah :

1-  ALLAH SUBHANAHU WA TAALA memberi tanpa meminta dibalas.

2- ALLAH SUBHANAHU WA TAALA memberi sebelum diminta.

3- ALLAH SUBHANAHU WA TAALA sentiasa memberi/ berulang-ulang/berterusan.

4- ALLAH SUBHANAHU WA TAALA segala sesuatu yang amat berharga.

5- ALLAH SUBHANAHU WA TAALA memberi sesuatu yang baik untuk menghasilkan kebaikan.

Rujukan :

Mukmin Profesional. M/S : 29-33.