Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

V 167 : ASMAUL HUSNA ( 74. AL ZOHIR )

AL ZOHIR   ( الظاهر )   ALLAH Yaa Zohir Yang Maha Nyata menegaskan kepada kita DIA nyata, dapat dilihat dan sesungguhnya hadir. Kehadira...

Memaparkan catatan dengan label SUAMI ISTERI. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label SUAMI ISTERI. Papar semua catatan

Jumaat, 8 Mei 2020

V 70 : SUAMI ISTERI DI USIA SENJA

Yang membaca jangan menangis ya? Saya suka postingan ini, meski sudah berulang kali membacanya.
Di sebuah rumah sederhana yang asri, tinggal sepasang suami isteri yang sudah memasuki usia senja.
Pasangan ini dikurniakan, dua orang anak yang telah dewasa dan memiliki kehidupan sendiri yang mantap.
Sang suami merupakan seorang pesara, sedangkan isterinya seorang ibu rumah tangga.
Suami isteri ini lebih memilih untuk tetap tinggal di rumah, mereka menolak ketika putera-puteri mereka, menawarkan untuk ikut pindah bersama mereka.
Jadilah mereka, sepasang suami isteri yang hampir memasuki alam senja itu, menghabiskan waktu mereka yang tersisa, di rumah yang telah menjadi saksi berjuta peristiwa, dalam keluarga mereka.
Suatu senja sebelum memasuki waktu Isyak, di sebuah masjid tak jauh dari rumah mereka, sang isteri tidak menemukan selipar yang dikenakannya ke masjid tadi.
Saat sibuk mencari, suaminya datang menghampiri seraya bertanya mesra:
“Kenapa Bu?”
Isterinya menoleh sambil menjawab: “Selipar Ibu entah ke mana, Pak.”
“Ya sudah pakai ini saja.” kata suaminya, sambil menyodorkan selipar yang dipakainya.
Walau agak ragu, sang isteri tetap memakai selipar itu, dengan berat hati.
Menuruti perkataan suaminya adalah kebiasaannya.
Jarang sekali ia membantah, apa yang dikatakan oleh sang suami.
Mengerti kegundahan isterinya, sang suami mengeratkan genggaman pada tangan isterinya.
“Bagaimanapun usahaku untuk berterima kasih pada kaki isteriku, yang telah menupang hidupku selama puluhan tahun itu, takkan pernah setimpal terhadap apa yang telah dilakukannya."
Kaki yang selalu berlari kecil membukakan pintu untukku, saat aku pulang kerja.
Kaki yang telah menghantar anak-anakku ke sekolah tanpa kenal lelah, serta kaki yang menyusuri berbagai tempat mencari berbagai keperluanku dan anak-anakku.”
Sang isteri memandang suaminya sambil tersenyum dengan tulus, dan merekapun mengarahkan langkah menuju rumah, tempat bahagia bersama.
Usia yang telah lanjut dan penyakit diabetes yang dideritanya, sang isteri mulai mengalami gangguan penglihatan.
Saat ia kesulitan merapikan kukunya, sang suami dengan lembut, mengambil gunting kuku dari tangan isterinya.
Jari-jari yang mulai keriput itu, dalam genggamannya mulai dirapikan, dan setelah selesai sang suami mencium jari-jari itu dengan lembut, dan bergumam:
“Terima kasih ya Bu.”
“Tidak, Ibu yang seharusnya berterima kasih sama Bapak, telah membantu memotong kuku Ibu.” balas sang isteri tersipu malu. 
“Terima kasih untuk semua pekerjaan luar biasa, yang belum tentu sanggup aku lakukan.
Aku takjub, betapa luar biasanya Ibu. Aku tahu semua takkan terbalas sampai bila-bilapun.” kata suaminya tulus.
Dua titik bening menggantung di sudut mata sang isteri.
“Kenapa Bapak berkata begitu?
Ibu senang atas semuanya Pak, apa yang telah kita lalui bersama, adalah sesuatu yang luar biasa.
Ibu selalu bersyukur, atas semua yang dilimpahkan pada keluarga kita, baik ataupun buruk.
Semuanya dapat kita hadapi bersama.”
Hari Jumaat yang cerah, setelah beberapa hari hujan.
Siang itu, sang suami bersiap hendak menunaikan ibadah Solat Jumaat, Setelah bersalam dengan isteri, ia menoleh sekali lagi pada isteri, menatap tepat pada matanya, sebelum akhirnya melangkah pergi.
Tak ada tanda yang tak biasa di mata dan perasaan sang isteri, hingga saat beberapa orang mengetuk pintu, membawa kabar yang tak pernah diduganya.
Ternyata siang itu sang suami tercinta telah menyelesaikan perjalanannya di dunia.
Ia telah pulang menghadap Sang Penciptanya, ketika sedang menjalankan ibadah Solat Jumaat, tepatnya saat duduk membaca Tasyahud Akhir.
Masih dalam posisi duduk sempurna, dengan telunjuk ke arah Kiblat, ia menghadap Yang Maha Kuasa.
"Innaa Lillaahi Wainnaa ilaihi Rooji'uun."
“Subhanallah… Sungguh akhir perjalanan hidup yang indah.” Demikian gumam para jama’ah, setelah menyedari ternyata dia telah tiada, di akhir solat Jumaat.
Sang isteri terbayang, tatapan terakhir suaminya, saat mahu berangkat ke masjid.
Terselip tanya dalam hatinya, mungkinkah itu sebagai tanda perpisahan, pengganti ucapan "Selamat Tinggal."
Ataukah suaminya khuatir, meninggalkannya sendiri, di dunia ini. Ada gundah menggelayut di hati isteri, Walau masih ada anak-anak yang akan mengurusnya, tetapi kehilangan suami yang telah didampinginya selama puluhan tahun, cukup membuatnya terguncang. Namun ia tidak mengurangi sedikitpun, keikhlasan di hatinya, yang boleh menghambat perjalanan sang suami, menghadap Sang Khalik.
Dalam doa, dia selalu memohon kekuatan, agar dapat bertahan dan juga memohon agar suaminya ditempatkan, pada tempat yang layak.
Tak lama setelah kepergian suaminya, sang isteri bermimpi bertemu dengan suaminya.
Dengan wajah yang cerah, sang suami menghampiri isterinya dan menyisir rambut sang isteri, dengan lembut.
“Apa yang Bapak lakukan?" tanya isterinya senang bercampur bingung.
“Ibu harus kelihatan cantik, kita akan melakukan perjalanan panjang.
Bapak tidak boleh tanpa Ibu, bahkan setelah kehidupan di dunia ini berakhir sekalipun.
Bapak selalu perlukan ibu. Saat disuruh memilih pendamping, Bapa bingung, kemudian bilang, "Pendampingnya tertinggal, Bapakpun mohon izin untuk menjemput Ibu.”
Isterinya menangis, sebelum akhirnya berkata:
“Ibu ikhlas Bapa pergi, tapi Ibu juga tidak boleh berbohong, kalau Ibu takut sekali tinggal sendirian.
Kalau ada kesempatan mendampingi Bapak sekali lagi, dan untuk selamanya, tentu saja tidak akan Ibu sia-siakan."
Sang isteri mengakhiri tangisannya, dan menggantinya dengan senyuman.
Senyuman indah dalam tidur panjang selamanya.

هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَأَنتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ 

"Isterimu itu adalah 'Bajumu' dan Suamimu itu adalah 'Bajumu' pula."
(QS Al-Baqarah: 187)

Semoga boleh mempererat cinta kasih yang sejati pasangan suami isteri kerana Allah SWT.
Yaa Rabb... jadikan keluarga kami Sakinah Mawaddah wa Rahmah, matikanlah kami dalam keadaan Husnul Khatimah...Aamiin…..



Rabu, 18 Mac 2020

V 43 : JANGAN TERUS MENCARI TAPI MENJADILAH

Sebahagian lelaki berkata, "Betapa sulitnya menemukan wanita solehah di zaman sekarang,” dan sebahagian wanita juga berkata, "Betapa susahnya mencari lelaki soleh saat ini."
Mungkin pernyataan di atas ada benarnya juga walaupun tidak mutlak, akan tetapi yang lebih penting, alangkah baiknya kalau pernyataan tersebut kita tujukan untuk diri sendiri terlebih dahulu sebelum diucapkan kepada orang lain.
"Sudah menjadi lelaki solehkah diriku? Sudah menjadi wanita solehahkah diriku?"
Kadang kita terlalu sibuk untuk menilai orang lain sehingga kita lupa menilai diri sendiri. Kita terlalu sibuk mencari seseorang yang menurut kita soleh atau solehah. Kita terlalu sibuk mencari yang baik. Sementara kita sendiri lupa untuk berusaha menjadi yang soleh atau solehah.
Seharusnya, muncul satu pertanyaan, "Sudah pantaskah kita berharap untuk boleh mendapatkan yang soleh atau solehah?" Jawapannya berpulang pada diri kita masing-masing. Jangan bermimpi mendapatkan wanita solehah kalau masih belum mampu menjadi lelaki soleh. Jangan bermimpi mendapatkan lelaki soleh kalau belum mampu menjadi wanita solehah.
Sebuah solusi yang tepat, In Shaa ALLAH. Tak perlu bersusah payah untuk mencari yang soleh atau solehah. Tapi menjadilah soleh atau solehah terlebih dahulu. Kerana apa?
Kerana ALLAH AZZA WA JALLA telah menyiapkan pasangan yang sesuai dengan jati diri kita. Yang sesuai dengan keperibadian kita. Yang sesuai dengan kadar keimanan dan ketakwaan kita.
“Janganlah kamu mencintai seseorang dengan cara yang berlebihan, kerana boleh jadi suatu ketika nanti kau akan malah balik membencinya. Begitu pula dengan benci, janganlah kamu membenci seseorang dengan mendalam, kerana boleh jadi pada suatu hari nanti kamu malah balik mencintainya.”
(Ali bin Abi Thalib ra).

Dok: Pernikahan Alhabib Munzir Musawwa - di Tarim.




Jumaat, 27 Disember 2019

U 33 : SUAMI TIDAK SOLAT, AUTOMATIK ISTERINYA TERCERAIKAN?

Suami yang Tak Pernah Solat Sama Saja dengan Mencerai Isterinya.
Pernyataan ini muncul ketika ada dalil yang menjelaskan mengenai hal tersebut.
Persoalan ini harus diketahui oleh umat Islam agar tidak salah melangkah ketika sudah menikah. Banyak orang yang belum tahu jika suami yang tidak solat atau jarang solat maka secara otomatis isteri tertalak, hal ini bukan hanya berkaitan dengan pernikahan tapi juga ketentuan dalam beribadah solat.
Banyak umat Islam yang masih melaksanakan solat hanya 1 kali dalam sehari dan itu pun jika ingat bahkan tidak sedikit yang sudah benar benar meninggalkan solat dan hanya melakukannya saat solat Idul Fitri dan Idul Adha saja.
Para Ulama Sepakat Bahawa Meninggalkan Solat Termasuk Dosa Besar yang Lebih Besar dari Dosa Besar Lainnya.

Ibnu Qayyim Al Jauziyah –rahimahullah- mengatakan, “Kaum muslimin bersepakat bahawa meninggalkan solat lima waktu dengan sengaja adalah dosa besar yang paling besar dan dosanya lebih besar dari dosa membunuh, merampas harta orang lain, berzina, mencuri, dan minum minuman keras. Orang yang meninggalkannya akan mendapat hukuman dan kemurkaan Allah serta mendapatkan kehinaan di dunia dan akhirat.”
(Ash Sholah, hal. 7)

Dinukil oleh Adz Dzahabi dalam Al Kaba’ir, Ibnu Hazm –rahimahullah- berkata, “Tidak ada dosa setelah keburukan yang paling besar daripada dosa meninggalkan solat hingga keluar waktunya dan membunuh seorang mukmin tanpa alasan yang boleh dibenarkan.”
(Al Kaba’ir, hal. 25)

Adz Dzahabi –rahimahullah- juga mengatakan, “Orang yang mengakhirkan solat hingga keluar waktunya termasuk pelaku dosa besar. Dan yang meninggalkan solat secara keseluruhan -iaitu satu solat saja- dianggap seperti orang yang berzina dan mencuri. Kerana meninggalkan solat atau luput darinya termasuk dosa besar. Oleh kerana itu, orang yang meninggalkannya sampai berkali-kali termasuk pelaku dosa besar sampai dia bertaubat. Sesungguhnya orang yang meninggalkan solat termasuk orang yang merugi, celaka dan termasuk orang mujrim (yang berbuat dosa).”
(Al Kaba’ir, hal. 26-27)

Apakah Orang yang Meninggalkan Solat Boleh Kafir atau Bukan Muslim?

Dalam point sebelumnya telah dijelaskan, para ulama bersepakat bahawa meninggalkan solat termasuk dosa besar bahkan lebih besar dari dosa berzina dan mencuri.
Mereka tidak berselisih pendapat dalam masalah ini. Namun, yang menjadi masalah selanjutnya, apakah orang yang meninggalkan solat masih muslim ataukah telah kafir?
Asy Syaukani -rahimahullah- mengatakan bahawa tidak ada beza pendapat di antara kaum muslimin tentang kafirnya orang yang meninggalkan solat kerana mengingkari kewajipannya.
Namun apabila meninggalkan solat kerana malas dan tetap meyakini solat lima waktu itu wajib -sebagaimana kondisi sebahagian besar kaum muslimin saat ini-, maka dalam hal ini ada perbezaan pendapat (Lihat Nailul Author, 1/369).
Mengenai meninggalkan solat kerana malas-malasan dan tetap meyakini solat itu wajib, ada tiga pendapat di antara para ulama mengenai hal ini.

Pendapat pertama mengatakan bahawa orang yang meninggalkan solat harus dibunuh kerana dianggap telah murtad (keluar dari Islam). Pendapat ini adalah pendapat Imam Ahmad, Sa’id bin Jubair, ‘Amir Asy Sya’bi, Ibrohim An Nakho’i, Abu ‘Amr, Al Auza’i, Ayyub As Sakhtiyani, ‘Abdullah bin Al Mubarrok, Ishaq bin Rohuwyah, ‘Abdul Malik bin Habib (ulama Malikiyyah), pendapat sebahagian ulama Syafi’iyah, pendapat Imam Syafi’i (sebagaimana dikatakan oleh Ath Thohawiy), pendapat Umar bin Al Khothob (sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Hazm), Mu’adz bin Jabal, ‘Abdurrahman bin ‘Auf, Abu Hurairah, dan sahabat lainnya.
Pendapat kedua mengatakan bahawa orang yang meninggalkan solat dibunuh dengan hukuman had, namun tidak dihukumi kafir. Inilah pendapat Malik, Syafi’i, dan salah salah satu pendapat Imam Ahmad.
Pendapat ketiga mengatakan bahawa orang yang meninggalkan solat kerana malas-malasan adalah fasiq (telah berbuat dosa besar) dan dia harus dipenjara sampai dia mahu menunaikan solat. Inilah pendapat Hanafiyyah. (Al Mawsu’ah Al Fiqhiyah Al Kuwaitiyah, 22/186-187)
Jadi, intinya ada perbezaan pendapat dalam masalah ini di antara para ulama termasuk pula ulama madzhab.
Lalu bagaimana dengan suami yang tidak solat setelah mengetahui hukumnya jika seseorang muslim yang meninggalkan solat?

Apa benar berpengaruh dengan rumah tangga, meski rumah tangga baik-baik saja tapi status hubungan bercerai?

Banyak orang yang belum tahu jika suami yang tidak solat maka secara otomatik isteri akan tertalak. Hal ini tidak hanya berkaitan dengan pernikahan tetapi juga ketentuan dalam beribadah solat.

Oleh kerana itu, kita perlu mengkaji ulang mengenai hal ini agar tidak salah melangkah dalam pernikahan. Akan lebih baik jika kita membahas mengenai ketentuan solat terlebih dahulu.
Apabila seseorang meninggalkan solat di mana merupakan ibadah wajib maka ia menjadi seorang murtad. semoga bermanfaat... 


U 17 : SUAMI YANG BAIK

Suami yang baik adalah suami yang takut apabila anak dan isterinya tersentuh api neraka.


U 16 : ISTERI SOLEHAH

Isteri yang solehah adalah isteri yang sentiasa membantu suaminya dalam urusan akhiratnya.



Sabtu, 5 Januari 2019

T 171 : 20 DOSA ISTERI TERHADAP SUAMI YANG AKAN MEMBUATKAN ISTERI DIBAKAR DI NERAKA

5 DOSA YANG WANITA DI MALAYSIA SELALU LAKUKAN

Agama Islam sudah mengatur semuanya tentang kewajipan seorang isteri terhadap suaminya.
Firman-firman ALLAH SUBHANAHU WA TAALA dan hadits Rasulullah SAW menjadi rujukan bagi umat Islam. Jangan melanggar apa yang sudah diatur dan sesuai syariat apalagi sampai membuat peraturan-peraturan sendiri.

Sekarang sudah ramai ditemui seorang isteri yang membangkang suaminya, berkelakuan tidak baik terhadap suaminya, bahkan ada sampai memaki suaminya. Padahal suaminya merupakan seseorang lelaki yang soleh, baik akhlaknya, beriman dan bertakwa kepada ALLAH SUBHANAHU WA TAALA.

Tidak salah perempuan lebih banyak menjadi penghuni neraka. Sabda Rasulullah SAW:

“Aku diperlihatkan neraka, ternyata kebanyakan penghuninya adalah wanita, disebabkan mereka kufur.”

Ditanyakan: “Apakah mereka kufur kepada Allah?” Beliau bersabda: “Mereka kufur kepada suami, kufur terhadap kebaikan. Seandainya kamu berbuat baik terhadap seseorang dari mereka sepanjang masa, lalu dia melihat satu saja keburukan darimu maka dia akan berkata: ‘Aku belum pernah melihat kebaikan sedikitpun darimu.”
(HR : Bukhari dan Muslim)

Berikut ini ulasan dosa isteri terhadap suami yang menjerumuskan isteri ke neraka:

1. Mengabaikan kedudukan suami sebagai pemimpin rumahtangga

Rumah tangga dipimpin oleh suami dengan segala peraturan yang sesuai dengan ajaran Islam dan Rasulullah SAW. Sudah seharusnya isteri menuruti semua bentuk peraturan atau perintah suami.

Rasulullah SAW menggambarkan seandainya seorang suami memerintahkan suatu pekerjaan berupa memindahkan bukit merah ke bukit putih atau sebaliknya, maka tiada pilihan bagi isterinya selain melaksanakan perintah suaminya.

2. Menentang perintah suami

Di dalam rumah tangga sudah menjadi kewajipan seorang isteri untuk mematuhi suami dan taat kepada suami. Isteri juga harus menuruti perkataan suami baik larangan atau suruhan asal masih dalam hal kebaikan.

Sabda Rasulullah SAW:

“Tidaklah seorang perempuan menunaikan hak Tuhannya sehingga ia menunaikan hak suaminya.”
(HR. Ahmad dan Ibnu Majah)

Dari hadith dapat disimpulkan isteri harus taat kepada suaminya dengan mengharap reda ALLAH SUBHANAHU WA TAALA. Namun, kewajipan kepada ALLAH SUBHANAHU WA TAALA tetap paling utama.

3. Menolak untuk bergaul dengan suami (hubungan suami isteri)

ALLAH SUBHANAHU WA TAALA sudah mengatur manusia berpasangan dan untuk memperoleh keturunan, pasangan pria dan perempuan diikat dalam sebuah pernikahan yang sah sesuai dengan syariat Islam. Dengan demikian pasangan tersebut sudah halal dan saling melengkapi untuk mempunyai keturunan.

Di dalam Islam seorang isteri yang menolak ajakan suami untuk bergaul, bermaksud ia (isteri) membuka pintu laknat daripada ALLAH SUBHANAHU WA TAALA terhadap dirinya.

4. Tidak menemani suami tidur

Daripada Abu Hurairah ra, Rasulullah bersabda:

“Bila seorang isteri semalaman tidur terpisah dari ranjang suaminya, maka malaikat melaknatnya sampai Subuh.”

Jika seorang isteri ingin tidur sendirian atau ingin menemani anak-anaknya yang masih kecil. Ia harus meminta izin suami terlebih dahulu.

5. Memaksa dan memberatkan beban suami dalam mencari nafkah

Kewajipan suami adalah mencari nafkah (rezeki) yang halal untuk memenuhi kecukupan rumah tangganya. Tugas suami hanyalah mencari dan ALLAH SUBHANAHU WA TAALA sudah mengatur semuanya baik sedikit mahupun lebih.

Sebagai isteri jangan pernah sama sekali memaksa lebih dari suami. Terimalah pemberian suami selagi cukup untuk menghidupi. Itulah rezeki yang halal yang dibawa pulang ke rumah oleh suami. Dan rezeki tersebut sungguh besar keberkahan dibandingkan rezeki tidak halal.

6. Tidak mahu (tidak pernah) berdandan di depan suami

Dalam Islam isteri hanya diperbolehkan hanya berdandan, mempercantik diri atau berhias hanya kepada suaminya saja. Sehingga suami semakin cinta dan sayang kepada isteri dengan mengharap reda ALLAH SUBHANAHU WA TAALA.

7. Menjerumuskan suami ke dalam hal-hal dilarang ALLAH SWT

Seorang isteri yang menjerumuskan suami ke hal-hal yang tidak benar dan tidak sesuai syariat Islam, ini akan mengantarkan mereka berdua ke neraka.

isteri yang solehah tentunya selalu menjadi pendamping bagi suami yang baik. Bersama-sama beribadah dan mendekatkan diri kepada ALLAH SUBHANAHU WA TAALA.

8. Mengesampingkan kepentingan suami kerana kepentingan lain

Daripada Aisyah ra, ujarnya:

“Saya bertanya kepada Rasulullah SAW: “Siapakah orang yang mempunyai hak paling besar terhadap seorang wanita?” Sabdanya : “Suaminya.” Saya bertanya: “Siapakah orang yang paling besar haknya terhadap seorang lelaki.” Jawabnya: “Ibunya.”
(HR.Bazaar dan Hakim; Hadith hasan)

Daripada hadith di atas dapat diambil kesimpulan seorang isteri terlebih dahulu mementingkan suaminya dibandingkan Ibunya atau ayahnya. Isteri harus meminta izin suaminya jika ingin memenuhi kepentingan orang tuanya. Reda ALLAH SUBHANAHU WA TAALA, reda suami, Syurga isteri mengalir dari suami.

9. Keluar dari rumah tanpa keizinan (sepengetahuan) suami

Dalam Islam seorang isteri menjadi pendamping suami, di mana sudah tugasnya mengurus rumah tangga. Jika isteri ingin pergi keluar rumah untuk keperluan apapun itu harus dengan izin dari suaminya.

Bagaimana jika pergi tanpa izin?
Jika pergi tanpa izin bermaksud isteri sudah melanggar apa yang diajarkan oleh Islam. Dengan demikian dia durhaka kepada suami. Dan ia berdosa.

10. Lari dari rumah suami tanpa suami tahu ke mana

Rasulullah SAW bersabda:

“Dua golongan yang solatnya tidak bermanfaat bagi dirinya iaitu hamba yang melarikan diri dari rumah tuannya sampai ia pulang; dan isteri yang melarikan diri dari rumah suaminya sampai ia kembali.”
(HR. Hakim, dari Ibnu ‘Umar)

11. Menerima tamu lelaki yang dibenci oleh suami

Dalam sebuah hadith, Rasulullah SAW telah menegaskan bahawa seorang isteri diwajibkan memenuhi hak-hak suaminya. Di antaranya iaitu:

a. Tidak mempersilakan siapapun yang tidak disenangi suaminya untuk menjamah tempat tidurnya.

b. Tidak mengizinkan tamu masuk bila yang bersangkutan tidak disukai oleh suaminya.
(HR. Ibnu Majah dan Tirmidzi, hadith hasan shahih)

12. Tidak menolak jamahan (disentuh) oleh lelaki Lain.

“…. maka wanita-wanita yang soleh itu ialah yang taat lagi memelihara (dirinya dan harta suaminya) di kala suaminya tidak ada sebagaimana ALLAH SUBHANAHU WA TAALA telah memeliharanya…”
(QS. An-Nisaa’ (4) ayat 34)

Rasulullah SAW menjelaskan bahawa seorang isteri yang membiarkan dirinya dijamah lelaki lain boleh diceraikan.

Hal tersebut sangat besar dosanya dan sudah durhaka kepada suami. ALLAH SUBHANAHU WA TAALA akan menurunkan azab jika berbuat demikian.

13. Tidak mahu merawat ketika suami jatuh Sakit

Seperti penjelasan di atas, kepentingan seorang suami harus didahulukan. Jika isteri menolak merawat suami ketika sakit dengan alasan apapun bahkan sekalipun orang tuanya sedang sakit juga, maka sudah kewajipan bagi isteri merawat suaminya.

14. Puasa sunnah tanpa izin saat suami berada di rumah

Daripada Abu Harairah, bahawa Rasulullah SAW bersabda:

“Seorang isteri tidak halal berpuasa ketika suami ada di rumah tanpa izinnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadith tersebut sangat jelas, berpuasa sunnahpun harus dengan keizinan suaminya ketika suami berada di rumah.

15. Menceritakan tentang fizikal wanita lain kepada suami

Daripada Ibnu Mas’ud, ujarnya : Rasulullah SAW bersabda:

“Seorang wanita tidak boleh bergaul dengan wanita lain, kemudian menceritakan kepada suaminya keadaan wanita itu, sehingga suaminya seolah-olah melihat keadaan wanita tersebut.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Jangan pernah mengumbar sesuatu yang dilarang dan dibenci oleh ALLAH SUBHANAHU WA TAALA. Sudah seharusnya menjaga rahsia yang tidak boleh diketahui siapapun.

16. Menolak kedatangan suami bergilir kepadanya (suami yang memiliki lebih satu isteri).

Seorang isteri yang dimadu, tetap mempunyai kewajiban untuk mentaati perintahnya, menyenangkan hatinya, berbakti dan selalu berperilaku baik kepada suaminya ketika ia datang.
Seorang suami yang memperisteri lebih dari satu harus memenuhi persyaratan sesuai syariat Islam. Salah satunya harus bersikap adil kepada satu sama lain.

17. Mentaati perintah orang lain di rumah suaminya.

Seorang isteri jangan pernah sama sekali mentaati perintah dari siapapun dirumah suaminya. Satu-satunya orang yang dituruti isteri hanyalah suaminya semata.

18. Menyuruh suami menceraikan madunya.

Tidak pantas bagi seorang isteri yang sudah dimadu untuk menceraikan isteri suami yang lainnya.

19. Meminta cerai tanpa alasan yang sah.

Jangan menjadi isteri yang mencari-cari alasan yang tidak jelas. Perceraian suatu hal yang sangat dibenci oleh ALLAH SUBHANAHU WA TAALA.

20. Mengambil harta suami tanpa izinnya.

Jangan pernah sama sekali mengambil harta benda suami tanpa izin darinya walaupun hanya sedikit saja.

Sahabat renungan Islam di manapun sahabat berada, khususnya kepada perempuan (yang sudah memiliki suami). Taat dan patuhi perintah suamimu jika masih dalam batas-batas syariat Islam. Jangan pernah sampai suamimu menangis kerana kelakuanmu, itu akan mendatangkan azab daripada ALLAH SUBHANAHU WA TAALA. Minta maaflah kepada suamimu dan mohon ampunan kepada ALLAH SUBHANAHU WA TAALA jika dirimu (isteri) pernah bersalah walaupun hanya sedikit saja.

Jika ada sesuatu hal yang berkaitan dengan rumah tangga (permasalahan dengan suami) jangan jadikan media sosial untuk mengadu, jangan cerita kepada orang lain. Minta petunjuk kepada ALLAH SUBHANAHU WA TAALA.


Rabu, 2 Januari 2019

T 159 : WANITA SOLEHAH


Isteri : “Abang, saya nak kerja!”
Suami : “Tak payahlah. Awak dok rumah jer. Isteri tu di rumah tempatnya.”
Isteri : “..tu, jiran kita, dia kerja!”
Suami : “Hehe …, dia itu guru, sayang. Dia diperlukan ramai orang. Yang perlukan awak tak ramai. Hanya Abang dan anak kita. Di rumah jer, ya.”
Isteri : “..tu…, jiran kita yang sorang lagi, yang sekarang dah pindah kampung sebelah, saya tengok dia kerja. Bukan guru. Tidak diperlukan ramai orang pun.”
Suami : “Nanti, tunggu Abang meninggal dunia.”
Isteri : "Ada-ada ajer abang ni?”
Suami :“Dia tu janda, sayang. Suaminya meninggal satu setengah bulan yang lalu. Makanya dia kerja.”
Isteri : “Tapi komitmen kita makin banyak, Bang.”
Suami : “Kan Abang masih kerja, Abang masih sihat, abang masih kuat. Akan Abang usahakan, In shaa Allah.”
Isteri : “Iya, saya tahu. Tapi pendapatan Abang untuk saat ini tak cukup.”
Suami : “Bukannya tak cukup, tapi belum lebih. Mengapa Abang cakap gitu? Kerana Allah pasti mencukupi. Lagi pula, kalau kamu kerja siapa yang jaga anak kita?”
Isteri : “Kan ada Ibu! Pasti ibu tak keberatan. Malah rasa sangat senang hati.”
Suami : “Isteri Abang yang Abang cintai, dari perut sampai lahir, sampai sebelum Abang boleh mengerjakan pekerjaan Abang sendiri, segalanya menggunakan tenaga Ibu. Abang belum ada pemberian yang sebanding dengan itu semua. Sedikit pun belum terbalas jasanya. Dan Abang yakin itu tak akan boleh. Setelah itu semua, apakah sekarang Abang akan meminta Ibu untuk mengurus anak Abang juga?”
Isteri :“Bukan Ibumu, tapi Ibuku, Bang?”
Suami : “Apa bezanya? Mereka berdua sama, Ibu kita. Mereka memang tidak akan keberatan. Tapi kita, kita ini akan jadi anak yang tegaan. Seolah-olah, kita ini tidak punya perasaan.”
Isteri : “Jadi, kita ni bagaimana?”
Suami : “Isteriku, takut tidak tercukupi akan rezeki adalah penghinaan kepada Allah. Jangan khuatir! Mintalah padaNya. Atau begini saja, Abang ada idea! Tapi Abang mahu tanya dulu.”
Isteri :“Apa, Bang?”
Suami : “Apa alasan paling besar, yang membuat kamu ingin bekerja?”
Isteri : “Ya untuk memperbaiki ekonomi kita, Bang. Saya nak membantumu dalam mencari rezeki. Untuk kita, keluarga kita.”
Suami : “Kalau memang begitu, kita buat niaga kecil saja di rumah. Misalan sarapan pagi. Bubur ayam misalnya? Atau, bisnes online saja. Kamu yang jalankan. Bagaimana? Anak terurus, rumah terurus, Abang terlayani, wang masuk terus, In sya Allah. Ok, kan?”
Isteri : “Suamiku sayang, saya tak pandai bisnes, lagi-lagi menjual. Saya ni orang seni. Saya harus keluar kalau ingin menambah pendapatan.”
Suami : “Tidak harus keluar. Tenang, masih ada penyelesaian!”
Isteri :“Apa?”
Suami : “Bukankah ada yang lima waktu? Bukankah ada Tahajud? Bukankah ada Dhuha? Bukankah ada sedekah? Bukankah ada puasa? Bukankah ada amalan-amalan lainnya? Allah itu Maha Kaya. Minta saja padaNya.”
Isteri :“Iya, Bang, saya tahu. Tapi itu semua harus ada ikhtiar.”
Suami : “Kita ini partner, sayang. Abanglah pelaksana ikhtiarnya. Tugas kamu cukup itu. In sya Allah jika menurut Allah baik, menurutNya kita ikut, kehidupan kita pasti akan berubah.”
Isteri : “Tapi, Bang?!”
Suami : “Abang tanya lagi…, kamu ingin kita hidup kaya, apa berkah?”
Isteri :“ Saya ingin kita hidup kaya dan berkah.”
Suami : “Kalau begitu lakukan amalan-amalan tadi. In sya Allah kaya dan berkah.”
Isteri : “Kalau tidak kaya?”
Suami : “Kan masih berkah? Dan…, tahu apa yang terjadi padamu jika tetap istiqomah dengan itu?”
Isteri : “Apa, Bang?
Suami : “Pilihlah pintu syurga yang mana saja yang kamu suka. Dan kamu, menjadi sebenar-benarnya perhiasan dunia.”

Rasulullah SAW bersabda yang bermaksud,

“Apabila seorang wanita (isteri) itu telah melakukan solat lima waktu, puasa bulan Ramadan, menjaga harga dirinya dan mentaati perintah suaminya, maka ia diundang di akhirat supaya masuk syurga berdasarkan pintunya mana yang ia suka (sesuai pilihannya).”
(HR. Ahmad, Ibnu Hibban dan Thabrani).

“Dunia adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita solehah.”
[H.R. Muslim]


Jumaat, 5 Januari 2018

S 143 : SYURGA SEORANG ISTERI

Dugaan paling besar adalah bersabar. Jadi seorang isteri, hal yang amat kritikal bagi kita ialah suami. Kita - makhluk Allah SWT yang sarat dengan emosi dan kadang terlalu menuruti kata hati, lalu memang satu hal yang menakutkan kalau ada kata-kata dan tindak tanduk kita yang melukai hati suami - sengaja atau tidak sengaja.

Rasulullah SAW sebut dengan jelas tentang perangai orang perempuan - saat berdepan dengan satu saja pun keburukan suami, si isteri boleh lupa dengan kebaikan suaminya yang lain. Perangai inilah yang paling banyak menjerumuskan perempuan ke neraka. Allah. Betapa ngerinya!
Jadi seorang isteri, banyak-banyakkanlah minta maaf dari suami. Mungkin ada terkurang layanan kita, terkasar bahasa kita, terlajak berprasangka, tercerita tentang aibnya pada sesiapa.
Allah yaa Allah, rendahkan hati kita untuk merayu kemaafan darinya. Jangan kita hanya nampak kelemahan dia tapi kita lupa kelemahan kita. Jangan kita sibuk besar-besarkan kesilapannya tapi kita pandang kecil kesilapan kita.
Pandang muka suami kita, siapa pun dia, itulah yang Allah dah pilihkan sebagai jodoh kita. Itulah lorong nikmat, itulah juga lorong ujian Allah buat kita.
Semua buruk baik dia boleh jadi asbab kebaikan untuk kita. Mungkin untuk tundukkan ego kita. Mungkin untuk Allah beri pahala melalui sabar kita. Mungkin untuk latih kita berdikari dan keluarkan potensi diri. Ada sebabnya. Pasti ada sebabnya!
Minta Allah jaga rumahtangga kita. Kalau ada hal tentangnya yang kita tidak suka, banyakkan berdoa pada Allah. Kita tidak boleh ubah suami kita, tapi Allah boleh. Minta dari Allah. Jaga hubungan kita dengan Allah agar mudah kita minta Allah jaga rumahtangga kita.
Masya Allah, indahnya kesudahan hidup seorang isteri andai dia mati dalam keadaan mendapat reda seorang suami. Indahnya janji Allah bahawa isteri yang diredai suaminya boleh masuk syurga dari mana-mana pintu yang disukainya. Indah sangat, kawan-kawan! Tidak teringin ke kita untuk mendapatkannya?
Hari ini, ayuh simpan niat untuk jadi isteri yang lebih baik daripada semalam. Simpan hasrat untuk cuba dan kemudian cuba. Allah pandang usaha kita. Allah pasti beri ganjaran walau pun pada sekecil-kecil usaha kita. In shaa-Allah.

Ayuh tutup aurat kita serapat mungkin agar kita bakal menjadi ketua bidadari untuk suami kita di syurga kelak. Lindungi walau sehelai rambut. Litupi walau hanya tapak kaki yang kita rasa hanya berada di bawah tapi ia yang bakal menentukan ke syurga kah kita.
Yaa Allah,
Jadikanlah isteri yang membaca ingatan ini sebagai isteri menyejukkan hati suami mereka yaa Allah...Aamiin.
Share kan dengan sahabat-sahabat wanita yang lain yea...Jika dengan coretan ini mereka menjadi isteri yang lebih baik dari semalam, pahala berpanjangan buat kita semua in shaa Allah..

👤 Ustaz Nasiruddin Abdul aziz