Allah berfirman dalam surat Al Baqarah
ayat yang ke 7
"Allah Telah
mengunci-mati hati dan pendengaran mereka dan penglihatan mereka ditutup. dan
bagi mereka siksaan yang besar."
(Surah 2, Al-Baqarah : ayat 7)
Allah memberikan sifat hati orang kafir dengan sepuluh sifat :
1. Inshirof (dipalingkan),
sebagaimana firman Allah:
"Dan apabila
diturunkan satu surat, sebagian mereka memandang kepada yang lain (sambil
berkata): “Adakah seorang dari (orang-orang muslimin) yang melihat kamu?”
sesudah itu merekapun pergi. Allah Telah memalingkan hati mereka disebabkan
mereka adalah kaum yang tidak mengerti."
Ayat di atas berkenaan dengan
orang-orang munafik, ketika dibacakan ayat-ayat Allah swt
yang mengungkap kebusukan hati mereka, mereka terkejut dan hairan, tapi anehnya
mereka justeru berpaling dan pergi. Padahal seharusnya mereka beriman kepada
ayat-ayat Allah swt yang menunjukan kebenaran apa yang dibawa Rasulullah
saw tersebut, oleh kerananya Allah swt memalingkan hati mereka dari kebenaran.
Dari ayat di atas, sebahagian ulama melarang seseorang mengucapkan “Inshorifu”
(pergilah) kepada saudaranya, ketika menyuruhnya pergi tetapi disunahkan
baginya mengucapkakn “Ingqolibuu” (kembalilah), ini berdasarkan firman Allah swt:
"Maka mereka
kembali dengan nikmat dan kurnia (yang besar) dari Allah, mereka tidak mendapat
bencana apa-apa, mereka mengikuti keredhaan Allah. dan Allah mempunyai kurnia
yang besar."
2. Dhoyiq dan Haroj (sesak
lagi sempit), sebagaimana firman Allah
swt:
Barangsiapa
yang Allah menghendaki akan memberikan kepadanya petunjuk, nescaya dia
melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) Islam. dan barangsiapa yang
dikehendaki Allah kesesatannya nescaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi
sempit, seolah-olah ia sedang mendaki langit. begitulah Allah menimpakan siksa
kepada orang-orang yang tidak beriman.
Pada suatu ketika Abdullah bin Mas’ud bertanya kepada Rasulullah saw tentang
tanda hati yang lapang, lalu Rasululllah saw bersabda:
“berhati-hati
terhadap dunia yang menipu ini, mendekatkan diri kepada hari yang kekal, serta
mempersiapkan diri sebelum datangnya kematian.”
Sedangkan hati orang kafir terasa
sempit dan sesak ketika menerima ajaran-ajaran Islam, oleh kerana mereka juga
merasakan sempit sesak di dalam menghadapi kehidupan di dunia ini. Sebagaimana
firman Allah swt:
Dan
barangsiapa berpaling dari peringatanKu, Maka Sesungguhnya baginya penghidupan
yang sempit, dan kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan
buta.”
Al-Haraj ertinya tempat yang di kelilingi
pohon-pohon yang membelit dan melingkar. Hati orang kafir sangat sempit,
sehingga hidayah dan petunjuk tidak boleh masuk ke dalamnya, sebagaimana para
penggembala yang tidak boleh memasuki tempat yang di penuhi dengan pepohonan
yang membelit dan melingkar.
Sesaknya hati orang kafir juga Allah swt misalkan dengan seseorang yang sedang
mendaki langit atau tempat yang tinggi. Semakin tinggi ia mendaki, maka akan
semakin sesak kerana oksigen mulai berkurang, ayat ini termasuk salah satu
mukjizat al Quran yang menerangkan perubahan oksigen di udara, yang insya Allah
akan diterangkan lebih luas ketika sampai pada tafsir QS. Al-An’am
Ada satu hadits yang maknanya serupa dengan ayat di atas, iaitu Rasulullah saw bersabda:
“Barangsiapa
yang dikehendaki Allah kebaikan maka Allah akan memahaminya dalam urusan agama”
(HR. Muslim)
Hadits di atas menjelaskan kepada kita bahawa salah satu tanda kebaikan yang
ada dalam diri seseorang adalah Allah swt melapangkan dadanya, memberikannya
semangat serta memudahkannya dalam mencari ilmu dan memudahkannya dalam
memahaminya. Makna ilmu dalam hadits di atas adalah ilmu yang dapat mendekatkan
diri kepada Allah swt. Sebaliknya orang yang tidak dikehendaki kebaikan olah
Allah swt maka akan disempitkan dadanya dan dipalingkan dari menuntut ilmu.
3.Mayat : “Mati“
sebagaimana firman Allah
Dan apakah
orang yang sudah mati Kemudian dia kami hidupkan dan kami berikan
kepadanya cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di
tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang keadaannya berada
dalam gelap gulita yang sekali-kali tidak dapat keluar dari padanya?
Demikianlah kami jadikan orang yang kafir itu memandang baik apa yang Telah
mereka kerjakan.
(Surah Al-An’am : ayat 122)
Maksud orang yang mati dalam ayat itu adalah orang yang hatinya mati. Hati yang
mati adalah hati yang tidak boleh memahami ayat-ayat Allah swt kerana
bodoh dan tidak punya ilmu. Maka Allah swt menghidupkannya dengan memberikan
ilmu dan keimanan kepadanya, dan keduanya merupakan yang terang dengannya
dia boleh berjalan ditengah-tengah manusia.
Ayat di atas menunjukan keutamaan
ilmu, kerana dengan ilmu manusia boleh hidup, tanpanya manusia ibarat seorang
yang mati. Sebagaimana yang dikatakan oleh seorang penyair:
وفي الجهل قبل
الموت موت لأهل ميت فأجسامهم قبل القبور
قبور
وإن امرأ لم يحي
بالعلم ميت فليس له حتى النشور نشور
Seseorang yang
berada di dalam kebodohan, sebelum datangnya kematian sudah dianggap mati. Badan
mereka bagaikan kuburan sebelum dimasukan ke liang kubur, Sesungguhnya
seseorang yang hidup tanpa ilmu, telah mati. Dia tidak mempunyai kebangkitan
sedikitpun, sampai datangnya hari kebangkitan”
Menurut ayat di atas, orang yang
tidak mempunyai ilmu, dia akan tenggelam dalam kegelapan, baik yang berbentuk
kekafiran, maupun yang berbentuk bidaah, dan dia tidak akan boleh keluar
darinya selama-lamanya. Di dalam kekafiran dan kebidaahan tersebut mereka akan
menganggap baik apa yang mereka kerjakan. Sebagaimana firman Allah swt:
Katakanlah:
“Apakah akan kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi
perbuatannya?” iaitu orang-orang yang Telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan
dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahawa mereka berbuat sebaik-baiknya.
(Surah Al-Kahfi : ayat 103-104)
Dengan ilmu manusia akan hidup dan akan mampu menghidupkan serta memakmurkan
dunia ini, tanpanya manusia tak akan mampu berbuat apa-apa, kecuali ia akan
terombang ambing dalam kegelapan dan kebodohan. Lihatlah bangsa-bangsa besar
dan maju, mereka mampu membangunnya dengan ilmu dan pendidikan. Tiada suatu
bangsa yang memperhatikan pendidikan dan ilmu melainkan bangsa tersebut akan
maju dan kuat, sebaliknya bangsa yang meremehkan pendidikan dan ilmu pasti akan
lemah dan hancur.
4. Thob’u (terkunci mati) sebagaimana firman Allah:
Maka
(Kami lakukan terhadap mereka beberapa tindakan)[377], disebabkan mereka
melanggar perjanjian itu, dan Karena kekafiran mereka terhadap
keterangan-keterangan Allah dan mereka membunuh nabi-nabi tanpa (alasan) yang
benar dan mengatakan: “Hati kami tertutup.” Bahkan, Sebenarnya Allah Telah
mengunci mati hati mereka Kerana kekafirannya, Kerana itu mereka tidak beriman
kecuali sebahagian kecil dari mereka.
(Surah An-Nisa : ayat 155)
Ayat di atas turun berkenaan dengan orang-orang Yahudi yang melakukan kejahatan
di dunia ini, seperti melanggar perjanjian, mengingkari ayat-ayat Allah swt,
dan membunuh para nabi. Dengan perbuatan mereka itu, akhirnya Allah swt
mengunci mati hati mereka.
Dari sini kita dapat mengetahui bahawa Allah swt tidaklah menzalimi mereka akan
tetapi mereka menzalimi diri mereka sendiri dengan kejahatan-kejahatan
tersebut.
5. Ingkar,
sebagaimana firman Allah:
Tuhan
kamu adalah Tuhan yang Maha Esa. Maka orang-orang yang tidak beriman kepada
akhirat, hati mereka mengingkari (keesaaan Allah), sedangkan mereka sendiri
adalah orang-orang yang sombong.
(Surah An-Nahl ayat :22)
Dalam surat An-Nahl di atas dijelaskan bagaimana Allah swt telah memberikan
berbagai kemudahan dan kenikmatan yang begitu luas kepada manusia ini, agar
kenikmatan tersebut disyukuri dan digunakan untuk beribadah kepada Allah swt
saja. Akan tetapi hati orang-orang kafir mengingkari kenikmatan tersebut dan
tidak mau beribadah kepada Allah swt. Masalah ini mempunyai kaitan yang sangat
erat dengan kufur nikmat, sebagaimana yang telah diterangkan di atas, sehingga
dikatakan bahawa orang yang mengingkari kebaikan yang diberikan kepadanya
dikategorikan kufur nikmat. Kalau dalam ayat ini disebut munkirot, iaitu
mengaingkari kenikmatan yang membawanya kepada ingkar kepada Allah swt.
Boleh juga diertikan mengingkari keesaan Allah swt dan tidak mau
menerima kebenaran dan nasihat. Sebaliknya hati mereka menerima kekafiran dan
kemaksiatan.
Ertinya bahawa ciri-ciri hati orang kafir itu senang dengan kemaksiatan dan
kesesatan, cenderung kepada orang yang jahat, gembira dengan kerosakan.
Sebaliknya hati mereka benci dengan kebaikan dan keimanan, menjauhi orang-orang
yang baik, serta benci jika kebaikan dan kemaslahatan terwujud.
Berapa banyak dari umat Islam sekarang yang hatinya seperti hati
orang-orang kafir tersebut, mereka mengangkat pemimpin-pemimpin jahat,
menjadikan para pengkhianat sebagai teman dekat, gembira jika umat Islam
terkena musibah, senang jika orang-orang kafir menang. Senang dengan
tersebarnya kejahatan dan kemaksiatan di kalangan orang-orang beriman.
Allah berfirman:
Sesungguhnya
orang-orang yang ingin agar (berita) perbuatan yang amat keji itu tersiar di
kalangan orang-orang yang beriman, bagi mereka azab yang pedih di dunia dan di
akhirat. dan Allah mengetahui, sedang, kamu tidak Mengetahui.
(Surah An-Nur : ayat 19)
Ayat di atas menunjukkan bahawa “Al-Hubb” (merasa senang) dengan tersebarnya
kerosakan atau musibah yang menimpa kaum muslimin, merupakan sifat hati yang
mendapat ancaman azab yang pedih dari Allah swt. Amalan hati inilah yang akan
diminta dipertanggungjawab oleh Allah swt, walaupun belum diaplikasikan di
dalam anggota badan.
Oleh kerananya, Allah swt tidak akan
mengazab orang yang berbuat kejahatan dengan anggota badan tetapi hatinya
mengingkarinya, seperti orang yang dipaksa, atau berbuat tanpa kesedarannya,
atau kerana ketidak disengajakan. Ini semua menunjukan pentingnya gerakkan dan
amalan hati.
Contoh lain dari hati yang Ingkar adalah apa yang tersebut di dalam firman
Allah:
“Apakah kamu
tidak memperhatikan orang-orang yang diberi bahagian dari Al kitab? mereka
percaya kepada jibt dan thaghut , dan mengatakan kepada orang-orang kafir
(musyrik Mekah), bahawa mereka itu lebih benar jalannya dari orang-orang yang
beriman.”
(Surah An-Nisa : ayat 51)
Hati yang ingkar selalu cenderung kepada orang-orang kafir dan mengutamakan
mereka atas orang-orang beriman. Mereka menganggap bahawa orang orang kafir
jauh lebih baik agama dan ibadahnya daripada orang yang beriman.
6. Hamiyyah (Fanatik).
Sebagaimana firman Allah swt:
Ketika
orang-orang kafir menanamkan dalam hati mereka kesombongan (iaitu) kesombongan
Jahiliyah lalu Allah swt menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya, dan kepada
orang-orang mukmin dan Allah swt mewajibkan kepada mereka kalimat-takwa
dan adalah mereka berhak dengan kalimat takwa itu dan patut memilikinya. dan
adalah Allah Maha mengetahui segala sesuatu.
(Surah Al-Fath : ayat 26)
Orang-orang kafir, ketika mereka
diajak untuk mengikuti kebenaran timbul dalam hatinya sifat hamiyah jahiliyah, iaitu
fanatikan jahiliyah dan kefanatikan kepada berhala mereka, sehingga mereka
menolak kebenaran tersebut.
Sebagian umat Islam, kadang
terjangkit penyakit hamiyah ini, mereka fanatik dengan otak dan nalar yang
mereka miliki, sehingga menutupi mereka dari mengikuti kebenaran. Fanatik
dengan otak dan nalar termasuk dalam kategori hamiyah jahiliyah.
Termasuk di dalam kategori penyakit hamiyah jahiliyah adalah fanatik golongan,
fanatik suku dan fanatik kenegaraan atau disebut faham nasionalisme. Untuk
mengetahui lebih lanjut tentang fanatik kebangsaan ini, boleh ditelaah buku
“Nasionalisme Dan Kerugian Yang Diderita Umat Islam” sebaliknya orang-orang
beriman ketika dihadapkan pada masalah yang pelik dan rumit serat sensitif,
mereka tetap tenang dan berfikir jernih. Menggunakan nalar dan akar sihat serta
tetap konsisten dengan ajaran-ajaran Islam, tidak emosional dan tidak mudah
terprovokasi pihak-pihak lain. Kerana Allah swt lah yang menurunkan ketenangan
ke dalam hati mereka dan mengajarkan kepada mereka kalimat tauhid.
Sejarah telah mencatat sikap arif dan bijak yang diambil kaum muslimin ketika
dihadapkan pada masalah yang pelik. Ketika kaum muslimin di Mina pada musim haji,
sebagian kaum Anshor yang sudah berbai’at kepada Rasulullah dan sudah masuk
Islam, ingin segera berperang, akan tetapi Rasulullah melarang mereka berbuat
gelabah, kerana umat Islam masih lemah, belum saatnya untuk mengadakan
konfrontasi senjata dengan musuh. Begitu juga, pada peristiwa Hudaibiyah, kaum
muslimin merasa dizalimi kerana dilarang masuk Mekah ditambah dengan isi
perjanjian yang tidak adil dan sangat memojokkan mereka saat itu, sebahagian
sahabat ingin segera menyerukan jihad melawan kaum musyrikin Mekah namun Allah
swt menurunkan sakinah ke dalam hati mereka, sehingga mereka mau mendengar dan
taat serta kembali bersama Rasulullah ke Madinah.
Umat Islam hari ini hendaknya menjadikan ayat di atas sebagai barometer dalam
bergerak. Hendaklah tetap tenang dan berfikir jernih, tidak terprovokasi oleh
pihak-pihak luar yang ingin menghancurkan Islam. Konsisten dengan ajaran islam
adalah satu-satunya jalan keluar dari berbagai masalah, tidak main kasar dan gelabah
tetapi tetap memegang teguh kalimat tauhid serta tetap terus beramal sesuai
dengan ajaran-ajaran Islam.
7. Qosiyah (membatu) sebabgaimana firman Allah:
Maka
apakah orang-orang yang dibukakan Allah hatinya untuk (menerima) agama Islam
lalu ia mendapat cahaya dari Tuhannya (sama dengan orang yang membatu hatinya)?
Maka Kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang Telah membatu hatinya untuk
mengingat Allah. mereka itu dalam kesesatan yang nyata.
(Surah Az-Zumar : ayat 22)
Orang-orang kafir jika dibacakan ayat-ayat
Allah swt, hati mereka membatu dan keras, tidak boleh lunak dan khusyuk serata
tidak boleh memahaminya. Sedang hati orang-orang beriman jika dibacakan
ayat-ayat Allah swt hati mereka akan menjadi lunak dan luluh, kadang mereka
menangis kerana tersentuh dengan ayat-ayat Allah swt. Disebabkan mereka faham dengan ayat-ayat Allah swt.
Sehingga mereka tunduk.
Ayat di atas memberikan pesan kepada
orang-orang beriman agar selalu memperbaharui keimanan mereka, untuk selalu
membiasakan diri mereka dengan hal-hal yang boleh menyentuh hati dari
kelengahan. Di antaranya dengan banyak mengingati kematian, mengingat azab
kubur dan hari kebangkitan, mengingati panasnya api neraka.
Hati yang keras ini boleh luluh dan
lunak, supaya bergetar ketika mendengar nama Allah swt disebut. mata yang
kering ini supaya boleh menangis ketika mendengar ayat-ayat Allah swt
dibacakan, menangis ketika mendengar nasihat-nasihat. Dalam hal ini para ulama
khususnya para ahli Hadits telah menyusun hadits-hadits dan mengklasifikasikan
hadits-hadits yang mengingatkan kepada remehnya kehidupan dunia ini serta
pentingnya mengingat kematian dan akhirat dengan judul ”Bab Raqiq” ertinya
bab yang boleh melunakan dan melembutkan hati serta menghindari dari Qoswatul
Qolbu (membatunya hati).
8. Ar-Rain (tertutup)
Sekali-kali
tidak (demikian), Sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati
mereka.
(Surah Al-Muthofifin : ayat 14)
Ayat di atas menjelaskan bahawa hati yang
tertutup atau ditutup Allah swt sehingga tidak boleh menerima kebenaran adalah
akibat atau dampak dari perbuatan yang dikerjakan oleh manusia, dan sekali-kali Allah swt tidak akan menzalimi seseorang,
akan tetapi orang itu sendiri yang menzalimi dirinya sendiri, dengan
mengerjakan hal-hal yang membawa mudharat bagi dirinya dan bagi umat manusia.
Ayat di atas juga menjelaskan bahawa
perbuatan anggota tubuh akan mempengaruhi keadaan hati seseorang, dalam suatu
hadits disebutkan:
Daripada Abu Hurairah bahawasanya Rasulullah bersabda:
“sesungguhnya
seorang mukmin jika mengerjakan dosa, maka akan membekaskan titik hitam di
hatinya, jika ia bertaubat dan berhenti dari berbuat dosa maka akan kembali
bening dan bersih, sebaliknya jika ia terus mengerjakan dosa tersebut maka akan
bertambah titik hitamnya hingga memenuhi seluruh hatinya, itulah Al-Raan yang
dimaksud dalam firman Allah QS. Al-Muthofifin:14.
(HR. Ibnu Majah no:
4244)
Sebahagian ulamak mengatakan bahawa Ar-Raan lebih ringan dari At-Thob’ dan
At-Thob’ lebih ringan dari Al-Aqfal.
9. Maridh (sakit), sebagaimana firman Allah
Atau
apakah orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya mengira bahawa Allah tidak
akan menampakkan kedengkian mereka ?
(QS. Muhammad:29)
Hati yang sakit, sebagaimana anggota
badan yang sakit, salah satu tandanya adalah perutnya yang malas menerima
makanan yang merupakan gizi dan kekuatan badannya, dia juga tidak semangat
untuk beramal. Begitu juga hati yang sakit juga malas untuk menerima nasihat
dan peringatan serta ilmu, yang semuanya merupakan gizi untuk roh dan
jiwa.
Sebagaimana badan memerlukan gizi
yang berupa makanan maka roh dan jiwa juga memerlukan gizi yang berupa ilmu, nasihat
dn peringatan. Kalau hati ini tidak pernah disuntik dengan gizi-gizi itu maka
lambat laun hati ini akan lemas, sakit dan kemudian mati. Hati orang-orang
kafir adalah hati yang sakit. Dan tidak ada obat yang dapat menyembuhkan
kecuali ilmu dan Iman.
10. Khotm
(terkunci mati). Sebagaimana firman Allah:
Allah
Telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup
. dan bagi mereka siksaan yang besar.
(Surah 2, Al-Baqarah : ayat 7)
Referensi
1. Al-Quran al Karim
2. Tafsir As-Sa’dy
3. Lihat Al-Mustadhrok ‘Ala Shohihaini lil Hakim juz. 18 hal.
233
4. Lihat Shohih Muslim Juz 1 hal. 39
Rujukan blog:
http://www.elthifa.co.cc/2010/05/sepuluh-sifat-hati-orang-kafir.html