Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

V 167 : ASMAUL HUSNA ( 74. AL ZOHIR )

AL ZOHIR   ( الظاهر )   ALLAH Yaa Zohir Yang Maha Nyata menegaskan kepada kita DIA nyata, dapat dilihat dan sesungguhnya hadir. Kehadira...

Memaparkan catatan dengan label NABI MUHAMMAD SAW - UMAT NABI. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label NABI MUHAMMAD SAW - UMAT NABI. Papar semua catatan

Sabtu, 12 Disember 2020

V 93 : ISTIMEWANYA UMAT NABI MUHAMMAD SALLALLAHU 'ALAIHI WA SALLAM

 Yok kita ambil iktibar

Menangis saya bila baca, meremang bulu roma. "Yaa Allah, kau ampunilah dosa-dosa walau sekecil dan sebesar mana pun ia.'' 

Mohon baca jangan tak baca.

6 perkara Allah Subhanahu Wata'ala sembunyikan

Allah Subhanahu Wata'ala selesai menciptakan Jibrail as dengan bentuk yang cantik, dan Allah Subhanahu Wata'ala menciptakan pula baginya 600 sayap yang panjang , sayap itu antara 

timur dan barat (ada pendapat lain menyatakan124, 000 sayap). Setelah itu 

Jibrail as memandang dirinya sendiri dan berkata: 

'Wahai Tuhanku, adakah engkau menciptakan makhluk yang lebih baik daripada aku?'

Lalu Allah Subhanahu Wata'ala berfirman yang bermaksud: 'Tidak' 

Kemudian Jibrail as berdiri serta solat dua rakaat kerana syukur kepada Allah Subhanahu Wata'ala dan tiap-tiap rakaat itu lamanya 20,000 tahun. 

sallallahu 'alaihi wa sallam

Setelah selesai Jibrail as solat, maka Allah Subhanahu Wata'ala berfirman yang bermaksud: 'Wahai Jibrail, kamu telah menyembah aku dengan ibadah yang bersungguh-sungguh, dan tidak ada seorangpun yang menyembah kepadaku seperti ibadat kamu, akan tetapi di akhir 

zaman nanti akan datang seorang nabi yang mulia yang paling aku cintai, namanya Muhammad.' Dia mempunyai umat yang lemah dan sentiasa berdosa, sekiranya mereka itu mengerjakan solat dua rakaat yang hanya sebentar sahaja, dan mereka dalam keadaan lupa serta serba kurang, fikiran mereka melayang bermacam-macam dan dosa mereka pun besar juga. Maka demi kemuliaannKu dan ketinggianKu, sesungguhnya solat mereka itu aku lebih sukai dari solatmu itu kerana mereka mengerjakan solat atas perintahKu, sedangkan kamu mengerjakan solat bukan atas perintahKu.'


Kemudian Jibrail as berkata: 'Yaa Tuhanku, apakah yang Engkau hadiahkan kepada mereka sebagai imbalan ibadat mereka?' 

Lalu Allah Subhanahu Wata'ala berfirman yang bermaksud: 'Ya Jibrail, akan Aku berikan syurga Ma'waa sebagai tempat tinggal...' 

Kemudian Jibrail as meminta izin kepada Allah Subhanahu Wata'ala untuk melihat syurga Ma'waa. Setelah Jibrail as mendapat izin daripada Allah Subhanahu Wata'ala maka pergilah Jibrail as dengan mengembangkan sayapnya dan terbang, setiap dia mengembangkan dua sayapnya dia boleh menempuh jarak perjalanan 3000 tahun, terbanglah malaikat jibrail as selama 300 tahun sehingga ia merasa letih dan lemah dan akhirnya dia turun singgah berteduh di bawah bayangan sebuah pohon dan dia sujud kepada Allah Subhanahu Wata'ala lalu ia berkata dalam sujud: 

'Ya Tuhanku apakah sudah aku menempuh jarak perjalanan setengahnya, atau sepertiganya, atau seperempatnya?' 

Kemudian Allah Subhanahu Wata'ala berfirman yang bermaksud. 'Wahai Jibrail, kalau kamu dapat terbang selama 3000 tahun dan meskipun aku memberikan kekuatan kepadamu seperti kekuatan yang engkau miliki, lalu kamu terbang seperti yang telah kamu lakukan, nescaya kamu tidak akan sampai kepada sepersepuluh dari beberapa perpuluhan yang telah kuberikan kepada umat Muhammad terhadap imbalan solat dua rakaat yang mereka kerjakan.'

Marilah sama-sama kita fikirkan dan berusaha lakukan. Sesungguhnya Allah Subhanahu Wata'ala telah menyembunyikan enam perkara iaitu: 

Allah Subhanahu Wata'ala telah menyembunyikan redhaNya dalam taat.

Allah Subhanahu Wata'ala telah menyembunyikan murkaNya di dalam maksiat.

Allah Subhanahu Wata'ala telah menyembunyikan namaNya yang Maha Agung di dalam Al Quran. 

Allah Subhanahu Wata'ala telah menyembunyikan Lailatul Qadar di dalam bulan Ramadhan. 

Allah Subhanahu Wata'ala telah menyembunyikan solat yang paling utama di dalam solat (yang lima waktu). 

Allah Subhanahu Wata'ala telah menyembunyikan (tarikh terjadinya) hari kiamat di dalam semua hari. 

Wahai keluargaku, kaum kerabatku, saudara maraku, sahabat-sahabatku,  rakan-rakanku yang dikasihi sekalian, sebarlah ilmu ini, agar semua kita kembali ke pangkal jalan, ikut Islam sebenar benarnya, sesiapa yang mengajak kebaikan, pahala seseorang yang diajak kebaikan itu dapat padanya tanpa dikurangkan sedikitpun. In Shaa Allah. 

Allah Subhanahu Wata'ala always with us. Aamiin...

C&P.



Khamis, 26 Disember 2019

U 10 : SIAPAKAH SALAF?

Salaf menurut para ulama adalah sahabat, tabi’in (orang-orang yang mengikuti sahabat) dan tabi’ut tabi’in (orang-orang yang mengikuti tabi’in). Tiga generasi awal inilah yang disebut dengan salafush soleh (orang-orang terdahulu yang soleh). Merekalah 3 generasi utama dan terbaik dari umat ini, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam,

“Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian generasi sesudahnya kemudian generasi sesudahnya lagi.”
(HR. Ahmad, Ibnu Abi ’Ashim, Bukhari dan Tirmidzi)

Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam telah mempersaksikan ’kebaikan’ 3 generasi awal umat ini yang menunjukkan akan keutamaan dan kemuliaan mereka, semangat mereka dalam melakukan kebaikan, luasnya ilmu mereka tentang syari’at ALLAH SUBHANAHU WA TAALA, semangat mereka berpegang teguh pada sunnah beliau shallallahu ’alaihi wa sallam.
(Lihat Al Wajiz fii Aqidah Salafish Sholih dan Mu’taqod Ahlis Sunnah wal Jama’ah, Dr. Muhammad Kholifah At Tamimi)

Wajib Bagi Kita Mengikuti Jalan Salafush Soleh

Setelah kita mengetahui bahawa salaf adalah generasi terbaik umat ini, maka apakah kita wajib mengikuti jalan hidup salaf?
ALLAH SUBHANAHU WA TAALA telah meredai secara mutlak para salaf dari kaum muhajirin dan anshar serta kepada orang yang mengikuti mereka dengan baik.
ALLAH SUBHANAHU WA TAALA berfirman yang ertinya,

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah reda kepada mereka dan merekapun reda kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka syurga-syurga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar.”
(At-Taubah: 100)

Untuk mendapatkan keredaan yang mutlak ini, tidak ada jalan lain kecuali dengan mengikuti salafush sholih.
Sumber: https://rumaysho.com/3105-mengenal-salaf-dan-salafi.html


Selasa, 24 Disember 2019

T 197 : APA SIKAP KITA BILA NABI SAW DIHINA

Apa sikap kita sebagai Muslim ketika banyak yang NABI MUHAMMAD SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASSALLAM, seperti kartun NABI MUHAMMAD SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASSALLAM dan sebagainya?

Marah dan tersinggung? Sebagai seorang muslim yang cinta kepada NABI MUHAMMAD 
SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASSALLAM, sosok yang paling dihormati di dalam Islam, saya pun akan marah dan tersinggung, yang mungkin kebanyakan Muslim lainnya merasakan hal yang sama.

Wajar sih menurut saya, marah adalah hal naluriah, sebagaimana kita ke orangtua yang marah ketika orang tua kita dihina, atau orang-orang yang kita cintai.

Tetapi kalau ditanya, setujukah kita dengan tindakan muslim yang menjadi pelaku penembakan terhadap kantor Charlie Hebdo di Perancis baru-baru lalu, sebagai tindakan balasan dari Kartun yang menghina dan melecehkan NABI MUHAMMAD 
SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASSALLAM?

Tidak setuju. Itu jawapan saya. Marah adalah hal yang naluriah, sebagaimana orang bebas untuk menghina kita juga bebas dong untuk tersinggung dan beraksi. Tetapi reaksi yang salah tentu tidak boleh dibenarkan.

Terlebih manajemen marah itu sudah di jelaskan oleh Allah SWT di dalam Al Quran dan  dicontohkan sendiri oleh NABI MUHAMMAD 
SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASSALLAM, manakala beliau menghadapi penghinaan oleh para musuh Islam.

Al Quran dan Hadits Nabi Sebagai Standard

Jadi dalam hal ini standard acuan sikap kita adalah Al-Quran dan contoh daripada NABI MUHAMMAD 
SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASSALLAM. Apakah penghinaan dan pelecehan kepada NABI MUHAMMAD SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASSALLAM harus dibalas dengan penghinaan serupa, ataukah penghinaan itu dibalas dengan kekerasan dan pembunuhan?

Saya rasa tidak, Al-Quran dalam Surah 6: 108 berbunyi:

“Dan janganlah kamu memaki (menghujat) sembahan-sembahan yang mereka sembah selain Allah.”

Penyembahan berhala adalah bentuk penghinaan paling besar terhadap Allah SWT, dosa yang paling besar. tetapi Allah SWT sendiri yang memerintahkan bahawa meskipun kemusyrikan harus dijauhi tetapi umat Islam diperintahkan supaya jangan mencaci maki atau menghujat sembahan-sembahan yang hina tersebut. Nah jika terhadap penghinaan terhadap Allah SWT diperintahkan untuk menanggapinya dengan tidak membalas dengan cacian, maka tentu kepada NABI MUHAMMAD 
SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASSALLAM pun sama.

NABI MUHAMMAD 
SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASSALLAM sendiri telah mencontohkan ketika dalam suatu gerakan pasukan ‘Abdullah bin Ubayy – pemimpin kaum munafik Madinah, yang harapan besarnya menjadi pemimpin kaum Madinah telah hancur berantakan dengan kedatangan NABI MUHAMMAD SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASSALLAM. Pada peristiwa itu – diriwayatkan pernah mengatakan bahawa sekembali ke Madinah ia “yang paling mulia dari antara penduduknya” – maksudnya ia sendiri – “akan mengusir dia yang paling hina dari antara mereka,” maksudnya, NABI MUHAMMAD SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASSALLAM.

Sahabat-sahabat NABI MUHAMMAD 
SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASSALLAM yang mukhlis marah, tak terkecuali putera Abdullah sendiri yang adalah seorang muslim yang mukhlis. Dengan pedang terhunus, dia memohon kepada NABI MUHAMMAD SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASSALLAM untuk memberinya izin membunuh bapanya sendiri! Banyak orang muslim lainnya juga datang kepada beliau SAW tetapi beliau selalu menolak dan secara tegas menyatakan bahawa tak ada tindakan balasan  terhadap Abdullah atas penghinaannya.

Jadi rasanya aneh saja jika kita melihat contoh dari NABI MUHAMMAD 
SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASSALLAM di atas. Kalau NABI MUHAMMAD SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASSALLAM saja bersikap demikian, kenapa kita bersikap sebaliknya?

Penghinaan Jangan Dibalas Penghinaan atau Kekerasan

Jadi contoh NABI MUHAMMAD SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASSALLAM itulah yang harus kita tiru dan teladani, bukan kekerasan dan emosi. Kerana tindakan di atas sejalan dengan Al-Quran, bahawa Allah SWT memerintahkan supaya "tidak menghiraukan ganguan mereka." (Al-Ahzab-48) dan "bersabarlah atas apa yang mereka katakana." (Al-Muzammil:10).

Lagi, Al-Quran menjelaskan:

"Dan, sesungguhnya Dia telah menurunkan kepadamu di dalam Kitab ini bahawa apabila kamu mendengar Ayat-ayat Allah diingkarnya dan dicemuhkannya, maka janganlah kamu duduk bersama mereka sebelum mereka beralih ke dalam percakapan lainnya. Jika demikian, sesungguhnya kamu nescaya semisal mereka. Sesungguhnya Allah akan menghimpun orang-orang munafik dan orang-orang kafir semua di dalam Jahanam.”
(Annisa: 141)

Jadi yang kita lakukan adalah cuekin saja, dan bersabar. Biarkan mereka berkoar-koar. Api ga usah dibalas dengan api. Api dibalas dengan air, nanti juga padam.

Jadi penghinaan tidak usah dibalas penghinaan, apalagi kekerasan. Jika demikian, sama saja kita melibatkan diri pada lingkaran kejahatan yang dilakukan oleh mereka.

Sebaliknya Allah SWT mengajarkan bahawa kita balas dengan lemah lembut, kebaikan dan kasih sayang. Lebih elegan.

“Panggillah kepada jalan Tuhan engkau dengan bijaksana dan nasihat yang baik, dan bertukar-fikiranlah dengan mereka, dengan cara yang sebaik-baiknya. Sesungguhnya Tuhan engkau Dia lebih mengetahui siapa yang telah sesat dari jalanNya ; dan Dia Maha Mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.”
(An-Nahl: 126)

Lihat juga tulisan tentang Cara Menghentikan Terorisme dengan cara Mencontoh NABI MUHAMMAD SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASSALLAM

Rabu, 2 Januari 2019

T 138 : YANG RASULULLAH SAW PALING TAKUT


Rasulullah SAW bersabda : 

“Jikalau kalian tak pernah berbuat dosa, nescaya yang paling saya takutkan pada kalian adalah yang lebih dahsyat lagi iaitu ujub, kagum pada diri sendiri.”
(H.r.Imam Ahmad)

Jumaat, 28 Disember 2018

T 36 : UMAT RASULULLAH SAW


Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi Wasallam bersabda :

"Ketika hari kiamat tiba kelak, akan ditumbuhkan oleh ALLAH sayap-sayap pada sekelompok umatku. Mereka akan terbang menuju Syurga dengan bantuan sayap-sayap itu. Mereka bercengkerama di sana dan bernikmat-nikmat sepuasnya.
Para Malaikat bertanya kepada mereka, "Apakah kalian telah menyaksikan hasil perhitungan (hisab) kalian?
Mereka menjawab, "Kami tidak melihat perhitungan tersebut.”
Para Malaikat kembali bertanya, "Apakah kalian melewati titian Shirathal Mustaqim?”
Mereka menjawab, "Kami tidak melewati titian Shirathal Mustaqim.”
Para Malaikat bertanya lagi, "Apakah kalian melihat Neraka Jahanam?”
Mereka menjawab, "Kami sama sekali tidak melihat Neraka itu.”
Para Malaikat kembali bertanya kepada mereka, "Umat siapakah kalian ini?”
Mereka menjawab, "Kami umat Nabi Muhammad Shallallaahu 'Alaihi Wasallam.”
Para Malaikat bertanya lagi, "Kami bersumpah, jelaskan kepada kami dengan sebenar-benarnya, apakah amalan kalian di dunia dahulu?”
Mereka pun menjawab, "Kami mencapai darjat seperti ini kerana Dua Amalan.”
Para Malaikat bertanya lagi, "Apakah yang dua itu?"
Mereka menjawab, "Ketika berada di tempat yang sunyi, kami malu berbuat maksiat kepada ALLAH dan kami redha dengan yang sedikit dari kurnia ALLAH kepada kami."
Kemudian Para Malaikat pun berkata, "Kalau begitu, memang kalian betul-betul berhak dengan ini semua.”
Al-lmam Al-Ghazali, Kitab Ihya' Ulumuddin
اللهم صل على سيدنا محمد وعلى ال سيدنا محمد


Isnin, 21 April 2014

Q 69 : KITA ADALAH UMAT YANG PALING BERTUAH DI SISI ALLAH SWT

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda

“Sesungguhnya ada di antara hamba Allah (manusia) yang mereka itu bukanlah para Nabi dan bukan pula para Syuhada.’ Mereka dirindukan oleh para Nabi dan Syuhada’ pada hari kiamat kerana kedudukan (pangkat) mereka di sisi Allah Subhanahu wa Taala.” Seorang dari sahabatnya berkata, “Siapa gerangan mereka itu wahai Rasulullah? Semoga kita dapat mencintai mereka.” Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab dengan sabdanya: “Mereka adalah suatu kaum yang saling berkasih sayang dengan anugerah Allah bukan kerana ada hubungan kekeluargaan dan bukan kerana harta benda, wajah-wajah mereka memancarkan cahaya dan mereka berdiri di atas mimbar-mimbar dari cahaya. Tiada mereka merasa takut seperti manusia merasakannya dan tiada mereka berduka cita apabila para manusia berduka cita.”
(HR. an Nasai dan Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya)

Hadits senada, dari ‘Umar bin Khathab ra bahawa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

“Sesungguhnya di antara hamba-hambaku itu ada manusia manusia yang bukan termasuk golongan para Nabi, bukan pula syuhada tetapi pada hari kiamat Allah ‘Azza wa Jalla menempatkan maqam mereka itu adalah maqam para Nabi dan syuhada.” Seorang leaki bertanya : “Siapa mereka itu dan apa amalan mereka?” Mudah-mudahan kami menyukainya.” Nabi bersabda: “Iaitu kaum yang saling menyayangi kerana Allah ‘Azza wa Jalla walaupun mereka tidak bertalian darah, dan mereka itu saling menyayangi bukan kerana hartanya, dan demi Allah sungguh wajah mereka itu bercahaya, dan sungguh tempat mereka itu dari cahaya, dan mereka itu tidak takut seperti yang ditakuti manusia, dan tidak susah seperti yang disusahkan manusia,” kemudian beliau membaca ayat : “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekuatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.”
(QS Yunus [10]:62)

Firman Allah Taala yang ertinya :

“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekuatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Mereka itu adalah) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira (busyra) di dalam kehidupan di dunia dan (dalam kehidupan) di akhirat. Tidak ada perubahan bagi kalimat-kalimat (janji-janji) Allah. Yang demikian itu adalah kemenangan yang besar.”
(QS Yunus [10]:62-64)

Dalam ayat tersebut Allah Subhanahu wa Taala menyatakan bahawa para wali-wali Allah itu mendapat berita gembira (busyra), baik di dunia dan di akhirat.
Apakah yang dimaksudkan dengan berita gembira (busyra) itu?
Para ulama tafsir mengomentari ayat ini sesuai dengan pengalaman sahabat Nabi Muhammad, Abu Darda’, yang menanyakan apa maksud ayat ini. Rasulullah menjelaskan, “Yang dimaksud ayat ini ialah mimpi baik yang dilihat atau diperlihatkan Allah Subhanahu wa Taala kepadanya.”
Abu Abdullah al-Mahlabi dan Muhammad bin Ya’qub bin Yusuf menceritakan kepada kami daripada al-‘Abbas ibnul-Walid bin Mazid, daripada ‘Uqbah bin ‘Alqamah al-Mu’arifi, daripada al-Auza’i, daripada Yahya bin Abi Katsir, daripada Abi Salamah bin Abdurrahman, daripada ‘Ubadah ibnush-Shamit bahawa ia bertanya kepada Rasulullah tentang ayat 63-64 surah Yunus, “Iaitu orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa. Bagi mereka berita gembira di dalam kehidupan di dunia dan dalam kehidupan di akhirat.” Maka, Rasulullah menjawab, “Sungguh kamu telah menanyakan sesuatu kepadaku yang belum pernah ditanyakan oleh seorang pun selainmu. Al-busyra ialah mimpi yang baik yang dialami oleh seseorang atau dianugerahkan Allah kepadanya.”
“Al busyraa adalah mimpi yang baik yang dilihat oleh seorang mukmin atau yang diperlihatkan baginya.” 
(Hadis riwayat Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al Hakim, menurut Al Hakim hadis ini shahih)

Telah menceritakan kepada kami Khalid bin Makhlad telah menceritakan kepada kami Sulaiman daripada Yahya bin Sa’id dia berkata; “Saya mendengar Abu Salamah berkata; saya mendengar Abu Qatadah berkata; saya mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: Mimpi baik dari Allah sedangkan ihtilam (mimpi buruk) datangnya dari syaitan, maka apabila salah seorang dari kalian mimpi sesuatu yang dibencinya, hendaknya ia meniupkan tiga kali tiupan ketika bangun, lalu meminta perlindungan dari kejahatannya, sebab kejahatan tersebut tidak akan membahayakan dirinya.”
(HR Bukhari 5306)

Telah menceritakan kepada kami Abdullah bin Maslamah daripada Malik dari Ishaq bin Abdullah bin Abi Thalhah daripada Anas bin Malik, Rasulullah Shallallahu alaihiwasallam bersabda:

“Mimpi baik yang berasal dari seorang yang soleh adalah satu bahagian dari empat puluh enam bahagian kenabian.”
(HR Bukhari 6468)

Mimpi yang baik yang dialami oleh para Wali Allah adalah petunjuk dan bimbingan dari Allah Taala untuk para kekasihNya.
Mimpi yang baik yang dialami oleh para Wali Allah adalah bahagian dari kenabian yang tidak berhenti pada Nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam saja, tetapi akan terus berlanjut pada masa-masa sesudahnya.
Bumi ini tidak akan kosong dari para Wali Allah. Setiap mereka wafat maka Allah Azza wa Jalla akan menggantikan mereka dengan yang lain sehingga agama Islam beserta al Quran tetap terjaga sampai akhir zaman
Imam Sayyidina Ali Bin Abi Thalib berkata kepada Kumail An Nakha’i: “Bumi ini tidak akan kosong dari hamba-hamba Allah yang menegakkan agama Allah dengan penuh keberanian dan keikhlasan, sehingga agama Allah tidak akan punah dari peredarannya. Akan tetapi, berapakah jumlah mereka dan di manakah mereka berada? Kiranya hanya Allah yang mengetahui tentang mereka. Demi Allah, jumlah mereka tidak banyak, tetapi nilai mereka di sisi Allah sangat mulia. Dengan mereka, Allah menjaga agamaNya dan syariatNya, sampai dapat diterima oleh orang-orang seperti mereka. Mereka menyebarkan ilmu dan ruh keyakinan. Mereka tidak suka kemewahan, mereka senang dengan kesederhanaan. Meskipun tubuh mereka berada di dunia, tetapi rohaninya membumbung ke alam malakut. Mereka adalah khalifah-khalifah Allah di muka bumi dan para da’i kepada agamaNya yang lurus. Sungguh, betapa rindunya aku kepada mereka”
Dalam hadits qudsi, “Allah berfirman yang ertinya: “Para WaliKu itu ada di bawah naunganKu, tiada yang mengenal mereka dan mendekat kepada seorang wali, kecuali jika Allah memberikan Taufiq HidayahNya.
Abu Yazid al Busthami mengatakan: “Para wali Allah merupakan pengantin-pengantin di bumiNya dan takkan dapat melihat para pengantin itu melainkan ahlinya.”
Sahl Ibn ‘Abd Allah at-Tustari ketika ditanya oleh muridnya tentang bagaimana (cara) mengenal Waliyullah, ia menjawab: “Allah tidak akan memperkenalkan mereka kecuali kepada orang-orang yang serupa dengan mereka, atau kepada orang yang bakal mendapat manfaat dari mereka – untuk mengenal dan mendekat kepadaNya.
As Sarraj at-Tusi mengatakan : “Jika ada yang menanyakan kepadamu perihal siapa sebenarnya wali itu dan bagaimana sifat mereka, maka jawablah : Mereka adalah orang yang tahu tentang Allah dan hukum-hukum Allah, dan mengamalkan apa yang diajarkan Allah kepada mereka. Mereka adalah hamba-hamba Allah yang tulus dan wali-waliNya yang bertakwa“.

Daripada Abu Umamah ra, Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda: “Berfirman Allah Yang Maha Besar dan Agung: “Di antara para waliKu di hadratKu, yang paling menerbitkan iri-hati ialah si mukmin yang kurang hartanya, yang menemukan nasib hidupnya dalam solat, yang paling baik ibadat kepada Tuhannya, dan taat kepadaNya dalam keadaan tersembunyi mahupun terang. Ia tak terlihat di antara khalayak, tak tertuding dengan telunjuk. Rezekinya secukupnya, tetapi iapun sabar dengan hal itu.  Kemudian Beliau shallallahu alaihi wasallam menjentikkan jarinya, lalu bersabda: ”Kematiannya dipercepat, tangisnya hanya sedikit dan peninggalannya amat kurangnya.
(HR. At Tirmidzi, Ibn Majah, Ibn Hanbal)”.

Imam Al-Bazzaar meriwayatkan dari Ibnu Abbas ra, ia mengatakan, seseorang bertanya, ya Rasulullah saw, siapa para wali Allah itu? Beliau menjawab, “Orang-orang yang jika mereka dilihat, mengingatkan kepada Allah.”
(Tafsir Ibnu KatsirIII/83).

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam telah menyampaikan wasiat bahawa setelah wafatnya Beliau maka pengganti Beliau sebagai Imamnya para Wali Allah adalah Sayyidina Ali ra dan kedudukan dan tugas Imam Wali Allah seperti Nabi, penerus pemimpin perjuangan agama, namun kita ketahui, faham dan yakini bahawa tiada Nabi setelah Rasulullah.
Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada Ali, -ketika beliau mengangkatnya sebagai pengganti (di Madinah) dalam beberapa peperangan beliau. Ali bertanya; Apakah anda meninggalkanku bersama para wanita dan anak-anak! Beliau menjawab: Wahai Ali, tidakkah kamu rela bahawa kedudukanmu denganku seperti kedudukan Harun dengan Musa? Hanya saja tidak ada Nabi setelahku. Dan saya juga mendengar beliau bersabda pada Perang Khaibar; Sungguh, saya akan memberikan bendera ini kepada seorang lelaki yang mencintai Allah dan RasulNya dan Allah dan RasulNya juga mencintainya. Maka kami semuanya saling mengharap agar mendapatkan bendera itu. Beliau bersabda: Panggilllah Ali!”
(HR Muslim 4420)
Imam Sayyidina Ali ra adalah bertindak sebagai Nabi namun bukan Nabi kerana tidak ada Nabi setelah Rasulullah shallallahu alaihi wasallam. Beliau adalah Imam para Wali Allah.
Mimpi yang baik yang dialami oleh para Wali Allah adalah sebagai salah satu sarana bertemu atau berkomunikasi dengan penghuni langit yakni para malaikat dan orang-orang soleh yang telah wafat dan tentunya dapat pula bertemu dengan manusia yang paling mulia, Nabi Muhammad Rasulullah shallallahu alaihi wasallam.
Telah menceritakan kepada kami Mu’allaa bin Asad telah menceritakan kepada kami ‘Abdul ‘Aziz bin Mukhtar telah menceritakan kepada kami Tsabit Al Bunani daripada Anasradliallahu ‘anhu mengatakan, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Siapa melihatku dalam mimpi, bererti ia telah melihatku, sebab syaitan tidak boleh menjelma sepertiku, dan mimpi seorang mukmin adalah sebahagian dari empat puluh enam bahagian kenabian.”
(HR Bukhari 6479)

Abdullah Ibnu Abbas r.a. pernah berkata, “Roh orang tidur dan roh orang mati boleh bertemu di waktu tidur dan saling berkenalan sesuai kehendak Allah Subhanahu wa Taala kepadanya, kerana Allah Subhanahu wa Taala yang menggenggam ruh manusia pada dua keadaan, pada keadaan tidur dan pada keadaan matinya.”

Firman Allah Taala yang ertinya: Allah memegang jiwa (orang) ketika matinya dan (memegang) jiwa (orang) yang belum mati di waktu tidurnya.” 
(QS. Az-Zumar [39]:42).

Al-Qurtubi dalam at-Tadzkirah mengenai hadis kematian dari syeikhnya mengatakan: “Kematian bukanlah ketiadaan yang murni, namun kematian merupakan perpindahan dari satu keadaan (alam) kepada keadaan (alam) lain.”
Ibnu Zaid berkata, “Mati adalah wafat dan tidur juga adalah wafat.”

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

حياتي خير لكم ومماتي خير لكم تحدثون ويحدث لكم , تعرض أعمالكم عليّ فإن وجدت خيرا حمدت الله و إن وجدت شرا استغفرت الله لكم.

“Hidupku lebih baik buat kalian dan matiku lebih baik buat kalian. Kalian bercakap-cakap dan mendengarkan percakapan. Amal perbuatan kalian disampaikan kepadaku. Jika aku menemukan kebaikan maka aku memuji Allah. Namun jika menemukan keburukan aku memohonkan ampunan kepada Allah buat kalian.”
(Hadits ini diriwayatkan oelh Al Hafidh Isma’il al Qaadli pada Juz’u al Shalaati ‘ala al Nabiyi Shallalahu alaihi wasallam. Al Haitsami menyebutkannya dalam Majma’u al Zawaaid dan mengkategorikannya sebagai hadits shahih

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

إن أعمالكم تعرض على أقاربكم وعشائركم من الأموات فإن كان خيرا استبشروا، وإن كان غير ذلك قالوا: اللهم لا تمتهم حتى تهديهم كما هديتنا)

“Sesungguhnya perbuatan kalian diperlihatkan kepada karib-kerabat dan keluarga kalian yang telah meninggal dunia. Jika perbuatan kalian baik, maka mereka mendapatkan kabar gembira, namun jika selain daripada itu, maka mereka berkata: “Ya Allah,  janganlah engkau matikan mereka sampai Engkau memberikan hidayah kepada mereka seperti engkau memberikan hidayah kepada kami.”
(HR. Ahmad dalam musnadnya).

Para Wali Allah atas kehendak Allah Taala, mereka dapat berkumpul dengan penduduk langit lainnya serta berkesempatan pula thawaf mahupun solat berjamaah dengan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam di Baitul Makmur yang berada tegak lurus di atas Baitul Kaabah.
Rasulullah bersabda: “Maka Allah pun mengangkatnya untukku agar aku dapat melihatnya. Dan tidaklah mereka menanyakan kepadaku melainkan aku pasti akan menjawabnya. Aku telah melihat diriku bersama sekumpulan para Nabi. Dan tiba-tiba aku diperlihatkan Nabi Musa yang sedang berdiri melaksanakan solat, ternyata dia adalah seorang lelaki yang kekar dan berambut keriting, seakan-akan orang bani Syanuah. Aku juga diperlihatkan Isa bin Maryam yang juga sedang berdiri melaksanakan shalat. Urwah bin Mas’ud Ats Tsaqafi adalah manusia yang paling mirip dengannya. Telah diperlihatkan pula kepadaku Nabi Ibrahim yang juga sedang berdiri melaksanakan solat, orang yang paling mirip denganya adalah sahabat kalian ini; yakni diri beliau sendiri. Ketika waktu solat telah masuk, akupun mengimami mereka semua. Dan selesai melaksanakan solat, ada seseorang berkata, ‘Wahai Muhammad, ini adalah malaikat penjaga api neraka, berilah salam kepadanya! ‘ Maka akupun menoleh kepadanya, namun ia segera mendahuluiku memberi salam.”
(HR Muslim 251)
Diriwayatkan dalam hadits saat Mi’rajnya Rasulullah shallallahu alaihi wasallam, bahawa Baitul Makmur adalah sebuah baitullah di langit ke tujuh yang arahnya lurus dengan Kaabah di bumi, seandainya Baitul Makmur jatuh nescaya menimpa pada Baitul Haram Kaabah, kehormatannya di langit sebagaimana kehormatan Kaabah di bumi, setiap hari ada tujuh puluh ribu malaikat masuk untuk berthawaf di dalamnya, setelah keluar mereka tidak kembali lagi ke Baitul Makmur.
Malaikat Jibril berkata pada nabi Muhammad shallallahu alaihi wasallam, Ini adalah Baitul Makmur, setiap hari ada tujuh puluh ribu malaikat yang masuk ke dalamnya, ketika mereka keluar, yang akhir dari mereka tidak kembali lagi ke Baitul Makmur.”
(HR. Muslim fii Kitaabil Imaan)

Daripada Qotadah dia berkata, diceritakan pada kami bahawa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:

“Baitul Makmur adalah sebuah masjid yang ada di langit yang lurus dengan Kaabah, seandainya Baitul Makmur itu jatuh nescaya menimpa pada Ka’bah. Setiap hari ada tujuh puluh ribu malaikat yang masuk ke dalamnya, ketika mereka telah keluar, mereka tidak pernah kembali ke Baitul Makmur.” 
(HR. Ibnu Jarir, fii Fatkh Al Baari Juz 9 Hal. 493)

Firman Allah Azza wa Jalla yang ertinya,

Semua yang berada di langit dan yang berada di bumi bertasbih kepada Allah. Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.
(QS Al Hadid [57] : 1 )

Para Sahabat ketika duduk dalam solat (tahiyat), bertawasul dengan menyebut nama-nama orang-orang soleh (para wali Allah) yang telah wafat mahupun dengan para malaikat namun Rasulullah shallallahu alaihi wasallam mengajarkan untuk menyingkatnya menjadi “Assalaamu’alaina wa’alaa ‘ibaadillaahish shoolihiin.” maka hal itu sudah mencakup seluruh hamba-hamba Allah yang soleh baik di langit mahupun di bumi.“
Telah menceritakan kepada kami Umar bin Hafsh telah menceritakan kepada kami Ayahku telah menceritakan kepada kami Al A’masy dia berkata; telah menceritakan kepadaku Syaqiq dari Abdullah dia berkata; Ketika kami membaca selawat di belakang Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, maka kami mengucapkan: ASSALAAMU ‘ALALLAHI QABLA ‘IBAADIHI, ASSALAAMU ‘ALAA JIBRIIL, ASSSALAAMU ‘ALAA MIKAA`IIL, ASSALAAMU ‘ALAA FULAAN WA FULAAN (Semoga keselamatan terlimpahkan kepada Allah, semoga keselamatan terlimpah kepada Jibril, Mika’il, kepada fulan dan fulan). Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam selesai melaksanakan solat, beliau menghadapkan wajahnya kepada kami dan bersabda: Sesungguhnya Allah adalah As salam, apabila salah seorang dari kalian duduk dalam solat (tahiyat), hendaknya mengucapkan; AT-TAHIYYATUT LILLAHI WASH-SHALAWAATU WATH-THAYYIBAATU, ASSALAAMU ‘ALAIKA AYYUHAN-NABIYYU WA RAHMATULLAHI WA BARAKAATUH, ASSALAAMU ‘ALAINAA WA ‘ALA ‘IBAADILLAAHISH SHAALIHIIN, (penghormatan, rahmat dan kebaikan hanya milik Allah. Semoga keselamatan, rahmat, dan keberkahan tetap ada pada engkau wahai Nabi. Keselamatan juga semoga ada pada hamba-hamba Allah yang soleh). Sesungguhnya jika ia mengucapkannya, maka hal itu sudah mencakup seluruh hamba-hamba yang soleh baik di langit mahupun di bumi, lalu melanjutkan; ASYHADU ALLAA ILAAHA ILLALLAH WA ASYHADU ANNA MUHAMMADAN ‘ABDUHU WA RASUULUH (Aku bersaksi bahawa tiada Zat yang berhak disembah selain Allah, dan Muhammad adalah hamba dan utusanNya). Setelah itu ia boleh memilih doa yang ia kehendaki.
(HR Bukhari 5762)
Rujukan:
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2013/01/17/berita-gembira/




Selasa, 8 April 2014

P 117 : SEMBILAN WASIAT RASUL

Abu Darda' berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewasiatkan sembilan perkara kepadaku iaitu:

1- Janganlah engkau mempersekutukan Allah meskipun lehermu akan dipenggal atau dirimu akan dibakar. 

2- Jangan sekali-kali meninggalkan solat wajib dengan sengaja, (kerana) barangsiapa yang melakukannya dengan sengaja, nescaya jaminan Allah akan terlepas darinya. 

3- Jangan meminum minuman keras, kerana itu adalah kunci segala keburukan. 

4- Dan taatilah kedua orang tuamu, apabila mereka menyuruhmu untuk menyerahkan seluruh harta yang engkau miliki maka serahkanlah hartamu kepada keduanya. 

5- Janganlah menentang pemimpin walaupun engkau tahu bahawa engkaulah yang benar. 

6- Jangan lari dari medan pertempuran, meskipun engkau akan terbunuh dan teman-temanmu melarikan diri. 

7- Infakkanlah sebahagian harta yang engkau miliki kepada keluargamu. 

8- Jangan lalai mengawasi keluargamu (dalam mendidik mereka).
 
9- Dan ajarkanlah kepada mereka untuk bertakwa kepada Allah.”
(HR. Bukhari dalam Adabul Mufrod no. 18. Syaikh Al Albani mengatakan bahawa hadits ini hasan. Lihat Al Irwa’ 2026, disebutkan dalam Ibnu Majah no. 4034)





Selasa, 4 Mac 2014

P 58 : SEMBILAN WASIAT RASUL

Abu Darda' berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mewasiatkan sembilan perkara kepadaku iaitu:

1- Janganlah engkau mempersekutukan Allah meskipun lehermu akan dipenggal atau dirimu akan dibakar. 
2- Jangan sekali-kali meninggalkan solat wajib dengan sengaja, (kerana) barangsiapa yang melakukannya dengan sengaja, nescaya jaminan Allah akan terlepas darinya. 
3- Jangan meminum minuman keras, kerana itu adalah kunci segala keburukan. 
4- Dan taatilah kedua orang tuamu, apabila mereka menyuruhmu untuk menyerahkan seluruh harta yang engkau miliki maka serahkanlah hartamu kepada keduanya. 
5- Janganlah menentang pemimpin walaupun engkau tahu bahawa engkaulah yang benar. 
6- Jangan lari dari medan pertempuran, meskipun engkau akan terbunuh dan teman-temanmu melarikan diri. 
7- Infakkanlah sebahagian harta yang engkau miliki kepada keluargamu. 
8- Jangan lalai mengawasi keluargamu (dalam mendidik mereka) 
9- Dan ajarkanlah kepada mereka untuk bertakwa kepada Allah.”
(HR. Bukhari dalam Adabul Mufrod no. 18. Syaikh Al Albani mengatakan bahawa hadits ini hasan. Lihat Al Irwa’ 2026, disebutkan dalam Ibnu Majah no. 4034)





Ahad, 26 Januari 2014

O 61 : RASULULLAH MERINDUKAN ORANG-ORANG YANG MERINDUKANNYA

Dalam kisah orang-orang soleh, disebutkan sebuah riwayat tentang seseorang yang sangat rindu kepada RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASSALLAM.
Lelaki itu tak pernah tidur kecuali setelah air matanya mengalir kerana rindunya yang ingin berjumpa dengan RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASSALLAM.
Kerinduan yang menggelora itu, akhirnya membuat dia sering melihat RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASSALLAM dalam mimpi.
Suatu malam, ia kembali bermimpi melihat RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASSALLAM. Dalam mimpi itu, ia merasa seolah berada di padang mahsyar.
Di sana ia melihat kumpulan manusia memenuhi padang mahsyar, mereka saling berdesakan, saling tindih satu sama lain. Masing-masing dengan wajah yang telah berubah, sesuai dengan amal perbuatan mereka di dunia.
Semuanya terlihat dalam keadaan sangat bingung. Ketika itulah tiba-tiba barisan para malaikat melintas, lalu lewat pula rombongan RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASSALLAM bersama para nabi, syuhada, para wali dan orang-orang soleh.
Lelaki soleh tadi hanya boleh melihat dari kejauhan dan tidak boleh mendekat kepada RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASSALLAM kerana desakan para malaikat yang menghalangi orang-orang untuk  mendekat.
Ketika barisan para malaikat itu melintas maka lewatlah RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASSALLAM. Lelaki soleh itu juga tidak boleh mendekat, apalagi berbicara dengan beliau. Maka ia, dalam mimpi itu, berkata kepada orang yang berada di sebelahnya,
“Jika kelak kamu bertemu dengan RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASSALLAM maka sampaikan salamku bahawa aku rindu kepadanya. Dulu di masa hidupku di dunia, aku selalu merindukan RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASSALLAM. Dan jika aku masuk neraka, sampaikan pula kepada beliau, bahawa aku telah berada di tempat yang layak untukku (neraka), sebagai orang yang banyak dosa.”
Setelah berkata demikian, barisan yang melintas tadi tiba-tiba berhenti kerana RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASSALLAM berhenti, kemudian beliau berbalik dan berkata,
“Wahai Fulan, aku tidak melupakan orang-orang yang merindukanku.”
Beliau lalu membuka kedua tangannya, kemudian orang itu berlari dan memeluk NABI MUHAMMAD  SHALLALLAHU ’ALAIHI WASSALLAM dan menciuminya.
SubhanALLAH!!
Mimpi bertemu dengan Rasul adalah mimpi yang benar.
Dan mimpi orang-orang soleh mengandung pelajaran yang kita boleh petik manfaatnya. Terlebih dari orang-orang yang teramat cinta dan rindu kepada RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASSALLAM, ALLAH SUBHANAHU WA TAALA pasti berikan hikmah dan keberkahan dalam hidupnya, yang boleh menjadi pelajaran bagi hidup kita.
Dikutip dari Majalah Tarbawi, Edisi 302 Th. 15, Syawal 1434, 5 September 2013
Allahumma shalli wasallim wabarik 'alaa sayyidina Muhammad wa 'alaa alihii wabarik wasallim ajma'iin

Antara petikan dari buku "Mata Akal Mata Hati," Prof Dr Muhaya
:

"Apabila kita memberi ilmu kepada anak, kebanyakkan ibubapa hanya menyuruh tanpa sama-sama melaksanakannya dan menunjukkan contoh. Seperti, jika kita mahu anak-anak kita tidak merokok, ibu bapa juga mestilah bukan perokok. Contoh yang lain, kalau kita mahukan anak-anak menjadi anak-anak yang soleh, ibubapa semestinya terlebih dahulu menjaga kewajipan dengan ALLAH SUBHANAHU WA TAALA sebagai hamba yang soleh."