Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

V 167 : ASMAUL HUSNA ( 74. AL ZOHIR )

AL ZOHIR   ( الظاهر )   ALLAH Yaa Zohir Yang Maha Nyata menegaskan kepada kita DIA nyata, dapat dilihat dan sesungguhnya hadir. Kehadira...

Memaparkan catatan dengan label ILMU TAUHID. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label ILMU TAUHID. Papar semua catatan

Khamis, 28 November 2013

M 114 : PENGARUH TAUHID DALAM KEHIDUPAN PERIBADI DAN MASYARAKAT

Penulis: Al Ustaz Dzul – Akmal.Lc

Mereka menjadikan para wali tersebut sebagai wasilah (perantara) antara mereka dengan Allah Tabaaraka wa Taala. Ini merupakan salah satu bentuk kesyirikan yang telah dilakukan oleh kafir Quraisy dahulu. Misalnya kuburan di Hadhramaut (Yaman) yang paling banyak dikunjungi oleh masyarakat, pada umumnya banyak kalangan menduga itu adalah kuburan Nabi Hud, akan tetapi sanadnya zhulumat (penuh dengan kegelapan) (***), dari Indonesia ribuan yang berangkat ke sana untuk mengambil berkah, menyampaikan hajat-hajat mereka kepadanya, inaa lillah wa ina ilaihi roji’uun ini adalah kesyirikan yang sangat besar! Pelakunya akan kekal di neraka kalau dia tidak bertaubat sebelum meninggal.
Sesungguhnya Allah menciptakan segenap alam agar mereka beribadah kepadaNya, mengutus para rasul `Alaihimussalaam untuk menyeru semua manusia agar mentauhidkanNya, al Quraanul Karim dibanyak surat menekankan tentang erti pentingnya tauhid menjelaskan bahaya syirik atas peribadi dan masyarakat, al Quran dan as Sunnah menerangkan kepada kita pengaruh yang baik sekali atas tauhid tersebut, di mana tauhid itu jika diamalkan oleh seseorang baik peribadi mahupun masyarakat di dalam kehidupan serta diwujudkan secara hakiki (murni), nescaya akan menghasilkan buah yang sangat manis di antaranya adalah: “Membentuk keperibadian yang kukuh, ia membuat hidup dan pengalaman seorang ahli tauhid begitu istimewa, tujuan hidupnya jelas, tidak beribadah kecuali hanya satu (ilaah)* saja. KepadaNya ia menghadap, baik dalam bersendirian atau di tengah keramaian orang, ia berdoa dalam keadaan sempit mahupun lapang.”

Berbeza dengan seorang musrik yang hatinya terbagi untuk Ilaah selain Allah dan ma`buudaat (yang diibadati selain Allah `Azza wa Jalla) yang banyak suatu saat ia menghadap kepada orang hidup, pada saat lain ia menghadap kepada orang yang mati. Ertinya terkadang ia meminta kepada yang hidup sebagai perantara (wasilah) antara ia dengan Allah Jalla wa `Alaa untuk menyampaikan hajat hajat mereka, seperti tuan guru, kyai, jin, syaitan dan lain sebagainya. Adapun pada yang mati, seperti berziarah kekuburan para wali yang dikeramatkan, sunan sunan, tempat tempat keramat, dan sejenisnya. Ini adalah ciri hati orang yang sudah terpecah pecah akibat kesyirikan demikian pula orang-orang yang aqidahnya tidak lurus, tauhidnya tersesat lagi tidak tepat kepada Allah Subhaana wa Taala, kehidupannya bahkan demikian dan disangsikan, dari sinilah perkataan Nabi Yusuf `Alaihi wa Sallaam kepada orang yang di dalam penjara tersebut, di mana Allah Tabaaraka wa Taala telah mengabadikan di dalam al Quran, Allah berfirman:

ياصابى السجن ءأرباب متفرقون خير أم الله الواحد القهار)). سورة يوسف : 39.))

Ertinya
: “Hai kedua penghuni penjara, manakah yang lebih baik Ilaah-ilaah yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa?”
(Yusuf : 39)

Beribadah kepada ilaah yang bermacam-macam merupakan karateristik Yahudi dan Nashara, sebagaimana Allah Tabaaraka wa Taala berfirman:

((اتخذوا أحبارهم ورهبانهم أربابا من دون الله والمسيح ابن مريم وما أمروا إلا ليعبدوا إلها واحدا لا إله إلا هو سبحانه عما يشركون)) سورة التوبة:31))

Ertinya : “Mereka telah menjadikan orang orang alim mereka dan rahib rahib mereka sebagai ilah selain Allah, dan (juga mereka mengilahkan) al Masih putera Maryam, padahal mereka hanya disuruh beribadah hanya kepada Allah saja, tidak ada Ilaah yang berhak untuk diibadati selain Dia, Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.”
surat at-Taubah :31

Ketika Rasulullahi Shollallahu `Alaihi wa Sallam membaca ayat ini datanglah `Adiy bin Haatim kepada beliau, saat itu di dadanya masih ada salib, berkata `Adiy bin Haatim : “sesungguhnya kami tidak pernah mengibadati mereka,” Rasulullah menanggapi; “Bukankah mereka itu megharamkan apa yang telah dihalalkan oleh Allah Subhaana wa Taala lalu kalianpun ikut mengharamkannya? dan bukankah mereka itu menghalalkan apa yang telah diharamkan oleh Allah `Azza wa Jalla lalu kalianpun ikut menghalalkannya juga?” `Adiy menjawab : “Benar!” maka beliau bersabda : “Itulah `ibadah mereka kepada orang orang yang `alim dan rahib mereka!” Hadist ini diriwayatkan oleh : At-Tirmidzi dan dinyatakan hasan oleh beliau (**). Demikian pula orang orang nashara telah menjadikan Isa bin Maryam sebagai Ilah (di`ibadati oleh mereka selain Allah Tabaaraka wa Taala), di kalangan mereka berpecah belah di dalam memahami tentang Isa bin Maryam, sebahagian mereka mengatakan, `Isa adalah Ilah, sebahagian lain mengatakan, anak Allah, serta trinitas ini merupakan perpecahan yang terjadi didalam tubuh nashara tersebut.

Sedangkan orang mukmin dia hanya beribadah kepada Allah saja, ia mengetahui apa yang diredhai oleh Allah dan yang dimurkaiNya, sehingga ia hanya akan melakukan apa yang membuatNya redha dan hatinya tenteram. Sementara orang-orang musrikin (orang-orang musrik) mengibadahi ilah ilah yang sangat banyak, ibadah mereka ditujukan kadang kadang kepada jin, syaitan, kuburan kuburan para wali atau orang sholeh, kyai, dukun dukun dan lain sebagainya. Demikianlah tujuan mereka dalam beribadah, maka akibat dari yang demikian tauhid mereka tidak benar. Terkadang ma`buud selain Allah Jalla wa `Alaa tersebut menginginkannya kekanan, sedangkan lainnya kekiri, seseorang itu akan menjadi terombang ambing di antara peribadatan selain Allah Taala itu, dia tidak memiliki prinsip dan ketetapan sedikitpun. Dan keadaan ini sesuai dengan apa yang digambarkan oleh Allah di dalam surat Toha ayat: 124-126. Allah berfirman :

((ومن أعرض عن ذكرى فإن له معيشة ضنك ونحشره يوم القيامة أعمى. قال رب لما حشرتني أعمى وقد كنت بصيرا. قال كذلك أتتك آياتنا فنسيتها وكذلك اليوم تنسى)). سورة طه : 124-126.

Ertinya “Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatanKu, maka sesungguhnya baginya kehidupan yang sangat sempit, dan Kami akan membangkitkannya pada hari kiamat nanti dalam keadaan buta.” Berkata dia : “Ya Rabku, kenapa Engkau menghimpunkan saya dalam keadaan buta, padahal aku dahulunya di dunia adalah seorang yang melihat?” Allah berkata : “Demikianlah, telah datang kepadamu ayat-ayat Kami, maka kamu melupakannya, dan begitu juga pada hari ini kamu dilupakan.”
Surat Toohaa : 124-126.

Maka dari itu, sebahagian besar kaum muslimin yang tidak memiliki prinsip dan ketetapan tauhid mereka berbondong-bondong berziarah kekuburan kuburan para wali yang dikeramatkan, meminta (berdoa) kepada mereka supaya hajat mereka dikabulkan oleh Allah Taala. Mereka menjadikan para wali tersebut sebagai wasilah (perantara) antara mereka dengan Allah Tabaaraka wa Taala. Ini merupakan salah satu bentuk kesyirikan yang telah dilakukan oleh kafir Quraisy dahulu. Misalnya kuburan di Hadhramaut (Yaman) yang paling banyak dikunjungi oleh masyaraka, pada umumnya banyak kalangan menduga itu adalah kuburan Nabi Hud, akan tetapi sanadnya zhulumat (penuh dengan kegelapan) (***), ribuan yang berangkat ke sana untuk mengambil berkah, menyampaikan hajat-hajat mereka kepadanya, inaa lillah wa ina ilaihi roji’uun ini adalah kesyirikan yang sangat besar! Pelakunya akan kekal di neraka kalau dia tidak bertaubat sebelum meninggal.
Tauhid sumber keamanan manusia, sebab tauhid memenuhi hati para ahlinya dengan keamanan dan ketenangan, tidak ada rasa takut kecuali kepada Allah Subhaana wa Taala saja, semua rasa takut yang diarahkan kepada selain Allah Taala dikategorikan kesyirikan, kecuali takut fitrah (tabiat/instink)nya manusia, seperti takut kepada api, tenggelam, gelap, binatang buas, akan tetapi kalau takut tabiat/instink itu membawa kepada meninggalkan wajib (perintahNya) serta terjerumus kepada yang haram maka hukumnya juga haram.(****).
Tauhid menutup rapat celah celah kekhuatiran terhadap rezeki, jiwa dan keluarga, sehingga seorang yang bertauhid tadi jalurnya lurus, tidak ada rasa takut, sebab ketaatan tidak boleh mengurangi rezeki seseorang. Al Imam as Sa’ady telah menjelaskan bahawa ketaatan itu tidak menahan rezeki atau mengurangi rezeki seseorang, jadi belajar ilmu al Quran dan as Sunnah, dakwah kepada jalan Allah, tidak akan menyebabkan berkurang rezekinya, bahkan Allah SWT, akan menundukkan hati orang lain untuk membantu kehidupannya begitu janji Allah dan RasulNya kepada umat, yang mempelajari Kalamullahi, al Quran dan as Sunnah.
Sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Abbas radhiallahu `anhuma :

تكفل الله لمن قرأ القرآن وعمل بما فيه أن لا يضل في الدنيا، ولا يشقى في الآخرة”

Ertinya : “Allah Tabaaraka wa Taala akan menjamin bagi siapapun yang membaca al Quran dan mengamalkannya, dia tidak akan sesat di dunia dan tidak akan celaka di akhirat.”
Kemudian beliau membaca perkataan Allah `Azza wa Jalla:

((فإما يأتينكم مني هدى فمن اتبع هداى فلا يضل ولا يشقى)). طه:123.

Ertinya : “Maka jika datang kepadamu petunjuk daripadaKu, lalu barangsiapa yang mengikuti petunjukKu, nescaya dia tidak akan sesat dan tidak akan celaka.”
Thoohaa:123. Lihat kitab : “Syarhul `Aqiidatut Thohaawiyyah”, hal. 67.

Dan ini semakna dengan apa yang telah disebutkan dalam satu hadist dari jalan `Utsman bin Affan :

وعن عثمان بن رضي الله قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ((خيركم من تعلم القرآن وعلمه)) رواه البخاري (5027).

Ertinya : Berkata Rasulullahi Shollallahu `alaihi wa Sallam : “Sebaik baik kalian adalah yang mempelajari al Quran dan mengajarkannya.”
Diriwayatkan oleh al Imam al Bukhaariy (5027).

Syaikh Salim Al-Hilali dalam kitab “Bahjatun Nazhiriin” (1/163 no. hadist 84), mengatakan dari fiqh hadist ini adalah : “Barangsiapa yang menghabiskan `umurnya untuk menuntut `ilmu dan mendalami hukum hukum Din, guna memelihara syariat Allah, maka Allah Jalla wa `Alaa akan menundukkan hati hati orang lain untuk membantu kehidupannya guna mencukupi hajatnya.” Akan tetapi jika bukan Ahlut Tauhid kehidupannya dipenuhi dengan rasa takut, gelisah, oleh kerana itu Ahlut Tauhid terbentengi dirinya dari rasa takut kepada jin, manusia, kematian dan selainnya dari rasa takut yang tertanam didalam peribadinya dan jiwa manusia tersebut, seseorang mukmin yang meng Esakan Allah Taala hanya takut kepada Allah saja kerana ahlut Tauhid ia merasa aman, tenteram dan tidak tertimpa kegelisahan yang ketika itu manusia takut.

Di mana hal itu telah dijelaskan oleh Allah dalam al Quran :

((الذين آمنوا ولم يلبسوا إيمانهم بظلم أولئك لهم الأمن وهم مهتدون)). الأنعام:82.

Ertinya : “Orang-orang beriman itu tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik) mereka itulah orang orang yang mendapat petunjuk.”
Al-Ana’am : 82

Keamanan ini terpancar dari jiwa raganya, bukan kerana sebab penjaga penjaga keamanan polisi atau pihak keamanan lain, dan keamanan dimaksud keamanan dunia, adapun keamanan akhirat maka lebih besar dan lebih abadi mereka rasakan. Yang demikian itu mereka peroleh, sebab mereka mengEsakan Allah Taala, mengikhlaskan ibadah hanya kepada Allah Azza wa Jalla, dan tidak mencampurkan adukkan tauhid (`ibadah) mereka dengan kesyirikan, kerana mereka tahu syirik adalah kezaliman yang besar.
Tauhid sumber kekuatan jiwa, kerana tauhid memberikan kekuatan jiwa kepada pemiliknya, sebab jiwanya penuh harap kepada Allah saja, percaya dan tawakal kepada Nya, redha atas (ketentuan)Nya, sabar atas musibahnya serta sama sekali tidak mengarap sesuatu kepada makhluk, ia hanya menghadap dan meminta kepadaNya, jiwanya kukuh seperti gunung, bila datang musibah ia segera mengharap kepada Allah Azza wa Jalla agar dibebaskan darinya, dia tidak meminta kepada orang orang mati, syiar dan semboyan adalah sabda Rasulullah Shollallahu `alaihi wa Sallam:

(…….. إذا سألت فاسأل الله, وإذا استعنت فاستعن بالله)). رواه الترمذي (2516).

Ertinya : “Apabila kamu meminta mintalah kepada Allah, dan apabila kamu minta tolong minta tolonglah kepadaNya.”
Dirawayatkan oleh at Tirmidziy (2516). Dan firman Allah :

((وإن يمسسك الله بضر فلا كاشف له إلا هو وإن يمسسك بخير فهو على كل شىء قدير)). الأنعام :17.

Ertinya : “Jika Allah menimpakan satu kemudaratan kepadamu, maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan Dia sendiri. Dan jika Dia mendatangkan kebaikan kepadamu, maka Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
Al An’aam : 17

Tauhid dasar persaudaraan dan persamaan, ahlut Tauhiid tidak dibolehkan menjadikan ilaah ilaah (ma`buud) selain Allah di antara sesama mereka, sifat Ilaahiyah (peng`ubudiahan) hanya milik Allah Azza wa Jalla satu satunya dan semua manusia diwajibkan beribadah kepadaNya saja. Segenap manusia adalah hamba Allah Jalla wa `Alaa, dan yang paling mulia di antara mereka adalah Nabi kita Muhammad Shollallahu ‘alaihi wa Sallam.

TAFSIR
KEUTAMAAN BAGI AHLUL-TAUHID

Allah swt berfirman :

((الذين آمنوا ولم يلبسوا إيمانهم بظلم أولئك لهم الأمن وهم مهتدون)). الأنعام:82.

“Orang-orang beriman itu  tidak mencampur adukan iman mereka dengan kezaliman (Syirik), mereka itulah yang  mendapat keamanan dan mereka mereka itu yang mendapat petunjuk.”
(An-Ana’am : 82).
Makna ayat : ahlut Tauhid mendapatkan keamanan dari segala rasa takut, `azab dari Allah, serta kebinasaan. Petunjuk kepada jalan yang  lurus, maka apabila orang orang beriman itu tidak mencampur adukan iman mereka dengan kezaliman (kesyirikan) secara mutlak, tidak  dan tidak pula dengan kemaksiatan, maka mereka  memperoleh keamanan dan hidayah yang sempurna dari Allah Jalla wa `Alaa, dan jika mereka tidak mencampurkan keimanan mereka dengan kesyirikan, namun mereka masih melakukan kemaksiatan, maka mereka tidak memperoleh keamanan dan hidayah yang sempurna.
Difahami dari ayat yang mulia ini; bahawa mereka yang tidak mentauhidkan (mengikhlashkan peribadatan) kepada Allah Subhaana wa Taala, tidak akan pernah sama sekali mendapatkan keamanan dan hidayah, bahkan kesesatan serta kebinasaan yang mereka peroleh.(diterjemahkan dari kitab tafsir As-Sa’ady hlm. 263 oleh abu zubair aceh).

M 113 : TAUHID, HAK ALLAH TAALA ATAS SEGENAP MANUSIA

Penulis: Al Ustaz Abdul Mu’thi al Maidani

Sesungguhnya tauhid adalah hak ALLAH SWT yang paling wajib untuk ditunaikan oleh manusia. ALLAH SWT tidaklah menciptakan manusia kecuali untuk bertauhid. ALLAH SWT berfirman :

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembahKu.”
(Surah Ad-Dzaariyaat : ayat 56)

Sebahagian ulama menafsirkan kalimat: “supaya menyembahKu” dengan makna: “supaya mentauhidkanKu”
(Lihat Al-Qoulul Mufiid karya Syaikh Ibnu `Utsaimin jilid 1 hal. 20)

Jika peribadahan kepada ALLAH SWT tidak disertai dengan bertauhid maka tidak akan bermanfaat. Amalan manapun akan tertolak dan batal bila dicampuri oleh syirik. Bahkan boleh menggugurkan seluruh amalan yang lain bila perbuatan syirik yang dilakukan dalam kategori syirik besar. ALLAH SWT berfirman:

الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الأمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ

“Seandainya mereka mempersekutukan ALLAH, nescaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.”
(Al-An`aam:88)

وَلَقَدْ أُوحِيَ إِلَيْكَ وَإِلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكَ لَئِنْ أَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Jika kamu mempersekutukan (ALLAH), nescaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.”
(Az-Zumar: 65)

Dua ayat ini merupakan peringatan ALLAH SWT kepada para nabiNya. Lalu bagaimana dengan yang selain mereka? Tentu setiap amalan yang mereka lakukan adalah sia-sia bila tanpa tauhid dan bersih dari syirik.

Tauhid adalah hak ALLAH SWT sebagai Pencipta, Pemilik dan Pengatur alam semesta ini. Langit dan bumi serta segala sesuatu yang ada di dalam keduanya terwujud kerana penciptaan ALLAH SWT.
ALLAH SWT menciptakan seluruhnya dengan hikmah yang sangat besar dan keadilan. Maka layak bagi ALLAH SWT untuk mendapatkan hak peribadahan dari para makhlukNya tanpa disekutukan dengan sesuatu apapun.
ALLAH SWT telah menciptakan manusia setelah sebelumnya mereka bukan sesuatu yang dapat disebut. Keberadaan mereka di alam ini merupakan kekuasaan ALLAH SWT yang disertai dengan berbagai curahan nikmat dan kurniaNya.
ALLAH SWT telah melimpahkan sekian kenikmatan sejak manusia masih berada di dalam perut ibunya, melewati proses kehidupan di dalam tiga kegelapan.

Pada fasa ini tidak ada seorangpun yang boleh menyampaikan makanan serta menjaga kehidupannya melainkan ALLAH SWT. Ibunya sebagai penghubung untuk mendapatkan rezeki dari ALLAH SWT.
Tatkala lahir ke dunia, ALLAH SWT telah mentakdirkan baginya kedua orang tua yang mengasuhnya sampai dewasa dengan penuh kasih sayang dan tanggungjawab.
Itu semua adalah rahmat dan keutamaan ALLAH SWT terhadap segenap makhluk yang dikenal dengan nama manusia. Jika seorang anak manusia lepas dari rahmat dan keutamaan ALLAH SWT walaupun sekejap maka dia akan binasa. Demikian pula jika ALLAH SWT mencegah rahmat dan keutamaanNya dari manusia walaupun sedetik, nescaya mereka tidak akan boleh hidup di dunia ini.
Rahmat dan keutamaan ALLAH SWT yang sedemikian rupa menuntut kita untuk mewujudkan hak ALLAH SWT yang paling besar iaitu beribadah kepadaNya. ALLAH SWT tidak pernah meminta dari kita balasan apapun kecuali hanya beribadah kepadaNya semata.
Peribadahan kepada ALLAH SWT bukanlah sebagai balasan setimpal atas segala limpahan rahmat dan keutamaan ALLAH SWT bagi kita. Sebab perbandingannya tidak seimbang. Dalam setiap hitungan nafas yang kita hembuskan maka di sana ada sekian rahmat dan keutamaan ALLAH SWT yang tak terhingga dan ternilai.
Oleh kerananya nilai ibadah yang kita lakukan kepada ALLAH SWT tenggelam tanpa meninggalkan bilangan di dalam lautan rahmat dan keutamaanNya yang tak terkejar oleh hitungan angka. ALLAH SWT berfirman:


وَأْمُرْ أَهْلَكَ بِالصَّلاةِ وَاصْطَبِرْ عَلَيْهَا لا نَسْأَلُكَ رِزْقًا نَحْنُ نَرْزُقُكَ وَالْعَاقِبَةُ لِلتَّقْوَى

“Kami tidak meminta rezeki kepadamu, Kamilah yang memberi rezeki kepadamu. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang yang bertakwa.”
(Thoha: 132)

Ketika manusia beribadah kepada ALLAH SWT tanpa berbuat syirik maka kemaslahatannya kembali kepada dirinya sendiri. ALLAH SWT akan membalas seluruh amal kebaikan manusia dengan kebaikan yang berlipat ganda dan seluruh amal keburukan mereka dengan yang setimpal.
Peribadahan manusia tidaklah akan menguntungkan ALLAH SWT dan bila mereka tidak beribadah tidak pula akan merugikanNya.
Manusia yang sedar tentang kemaslahatan dirinya akan beribadah kepada ALLAH SWT tanpa menyekutukanNya dengan sesuatu apapun. Itulah tauhid yang harus dibersihkan dari berbagai noda syirik. Kesyirikan hanya menjanjikan kesengsaraan hidup di alam akhirat.
ALLAH SWT berfirman:

لَقَدْ كَفَرَ الَّذِينَ قَالُوا إِنَّ اللَّهَ هُوَ الْمَسِيحُ ابْنُ مَرْيَمَ وَقَالَ الْمَسِيحُ يَا بَنِي إِسْرَائِيلَ اعْبُدُوا اللَّهَ رَبِّي وَرَبَّكُمْ إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ وَمَا لِلظَّالِمِينَ مِنْ أَنْصَارٍ


“Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya syurga, dan tempat kembalinya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.”
(Al-Maaidah: 72)

Sementara mentauhidkan ALLAH SWT dalam beribadah menghantarkan kepada keutamaan yang besar di dunia dan akhirat. ALLAH SWT berfirman:

الَّذِينَ آمَنُوا وَلَمْ يَلْبِسُوا إِيمَانَهُمْ بِظُلْمٍ أُولَئِكَ لَهُمُ الأمْنُ وَهُمْ مُهْتَدُونَ

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuri keimanan mereka dengan kezaliman, bagi mereka keamanan dan mereka mendapatkan petunjuk.”
(Al-An`aam: 82)

Kezaliman yang dimaksud dalam ayat ini ialah kesyirikan sebagaimana yang ditafsirkan oleh Rasulullah shollallahu `alaihi wa sallam dalam hadits Ibnu Mas`ud.
(HR. Bukhori)
Sebagai penutup kami mengajak kepada segenap kaum muslimin untuk beramai-ramai menyambut keberuntungan ini. Jangan kita lalai sehingga jatuh ke dalam lubang kebinasaan yang mendatangkan penyesalan di kemudian hari. ALLAH SWT berfirman:


فَاعْبُدُوا مَا شِئْتُمْ مِنْ دُونِهِ قُلْ إِنَّ الْخَاسِرِينَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ وَأَهْلِيهِمْ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَلا ذَلِكَ هُوَ الْخُسْرَانُ الْمُبِينُ

“Katakanlah: “Sesungguhnya orang-orang yang rugi ialah orang-orang yang merugikan diri mereka sendiri dan keluarganya pada hari kiamat.” Ingatlah yang demikian itu adalah kerugian yang nyata.”
(Az-Zumar: 15)



Rabu, 27 November 2013

M 111 : TAUHID ULUHIYAH

Tauhid Uluhiyah adalah tauhid ibadah, tauhid Al Iradah dan Al Qasdu (keinginan dan tujuan). Jenis tauhid ini merupakan tujuan Perjalanan dan tempat persengkataan antara para rasul dan umat mereka. Setiap rasul datang dan berkata kepada kaumnya: “Wahai kaumku! Sembahlah ALLAH! kerana tidak ada Tuhan selainNya untuk kalian.”
Mereka tidak berkata kepada kaumnya: “Wahai kaumku! Ikrarkanlah sesungguhnya ALLAH SWT adalah Rabb (Pencipta, Pemilik, dan Pengatur) kalian,” sebab mereka telah mengikrarkannya.
Tetapi, para rasul menuntut mereka agar beribadah kepada Tuhan yang telah mereka ikrarkan rububiyahNya, yakni sesungguhnya hanya Dia saja sebagai pencipta, pemberi rezeki, serta mengatur segala sesuatu. Demikianlah, para rasul menuntut mereka mengesakan peribadatan kepadaNya saja, sebagaimana mereka telah mengesakanNya sebagai pencipta dan pengatur. Jadi, para rasul itu (menuntut) hujjah pada mereka atas apa yang telah mereka ikrarkan.

Al Quran yang mulai menyebutkan tauhid rububiyah dalam rangka membantah orang-orang kafir dan menuntut mereka dengan sesuatu yang mengharuskan mereka.
Wahai orang-orang kafir! Selama kalian mengakui bahawa hanya ALLAH SWT-lah yang mencipta, yang memberi rezeki, dan yang menyelamatkan dari kebinasaan, serta yang menyelamatkan dari berbagai macam kesulitan, lalu mengapa kalian berpaling kepada selainNya yang tidak boleh mencipta, memberi rezeki, dan sedikitpun tidak memiliki kemampuan mengurusi perkara, serta tidak memiliki kemampuan mengurusi ciptaan.

“Maka apakah (ALLAH) yang menciptakan itu sama dengan yang tidak dapat menciptakan (apa-apa)? Maka mengapa kamu tidak mengambil Pelajaran?”
(Surah An Nahl : ayat 17)

Oleh kerananya, tauhid uluhiyah adalah tauhid yang telah diserukan oleh para rasul dan mereka menuntut kaumnya untuk menegakkan tauhid itu. Sentiasa terjadi permusuhan antara ahli tauhid dengan kaum yang menyimpang dari dulu hingga sekarang disebabkan jenis tauhid ini. Orang-orang yang berAqidah yang selamat menuntut kepada orang-orang yang menyimpang dari tauhid uluhiyah yang kembali kepada agama musyrikin dengan melakukan peribadatan kepada kubur-kubur dan mensucikan orang-orang, serta Memberikan kekhususan rubbubiyah kepada mereka agar kembali kepada Aqidah yang selamat dan mengesakan ALLAH ‘Azza wa Jalla dalam melakukan ibadah, serta meninggalkan perkara yang membahayakan yang ada pada diri mereka. Ini adalah agama jahiliyah, bahkan penyimpangan mereka lebih dari agama jahiliyah itu kerana kaum jahiliyah memurnikan doa untuk ALLAH SWT dalam kesempatan dan menyekutukan ALLAH ‘Azza wa Jalla dalam keadaan lapang.
Adapun kaum yang menyimpang, mereka selalu dalam kesyirikan baik ketika lapang mahupun sempit, bahkan kesyirikan mereka dalam keadaan sempit lebih parah lagi tatkala merasakan kesempatan kamu akan mendengar mereka meminta bantuan kepada para wali, orang-orang yang dikubur, dan orang-orang yang mati. Sedangkan kaum musyrikin (dahulu) tatkala ditimpa suatu bahaya, mereka memurnikan doa kepada ALLAH SWT.
Inilah macam tauhid kedua, iaitu tauhid yang diserukan oleh para rasul kepada semua umat agar mereka mengikhlaskan agama bagi ALLAH SWT dan itulah yang menjadi tempat perselisihan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam dalam memerangi kaum musyrikin sehingga mereka meninggalkan (kesyirikannya)nya.
Demikianlah makna “La ilaha illallahu.” Kerana “Al Ilah” maknanya “yang disembah,” jadi “La ilaha illallahu” maknanya adalah “tidak ada sesembahan yang benar kecuali Allah Yang Maha Suci dan Maha Tinggi.”

Al llah tidak memiliki makna sebagaimana dikatakan oleh sebahagian orang-orang yang sesat tatkala mereka berkata: “Sesungguhnya makna Al llah adalah yang mampu membuat dan mencipta.” Ini tidak benar, sebaliknya Al llah bermakna “yang disembah” (Al Ma’bud) kerana ia dari kalimat “Alaha yaklahu” yang bererti dicintai dan disembah.

Syarah Qowa’idul Arba’ – Syaikh Shalih bin Fauzan Al Fauzan



M 110 : MACAM-MACAM TAUHID

Tauhid terbagi menjadi tiga macam iaitu:
1.Tauhid Rububiyah
2.Tauhid Uluhiyyah
3.Tauhid Asma’ wa Sifat

Dalil bagi ketiga macam ini ada dalam firmanNya:

“Rabb (yang menguasai) langit dan bumi dan apa-apa yang ada di antara keduanya, maka sembahlah Dia dan berteguh hatilah dalam beribadat kepadaNya. Apakah kamu mengetahui ada zat yang sama denganNya (yang patut disembah).”
(Surah  Maryam : ayat 65)

1. Tauhid Rububiyyah

Iaitu mengesakan ALLAH SWT dalam penciptaan, kepemilikan dan pengaturan.
Yang dimaksud mengesakan ALLAH SWT dalam penciptaan adalah seseorang meyakini bahawasannya tidak ada pencipta kecuali ALLAH SWTALLAH SWT berfirman:

“Ingatlah menciptakan dan memerintahkan hanyalah hak Allah.” 
(Surah  Al A’ raaf : ayat 54)

Adapun yang dimaksud dengan mengesakan kekuasaan dan kepemilikan adalah meyakini bahawa tidak ada yang menguasai dan memiliki seluruh makhluk yang terdapat di langit mahupun di bumi kecuali ALLAH SWT. Hal ini ALLAH SWT nyatakan dalam firmannya:

“Kepunyaan ALLAH-lah kerajaan langit dan bumi.”
(Surah Ali ‘Imran : ayat 189)

Dan juga dalam firmanNya:

“Katakanlah: Siapakah yang ditanganNya berada kekuasaan atas segala sesuatu.”
(Surah  Al Mu’minun : ayat 88)

Sedangkan yang dimaksud mengesakan ALLAH SWT dalam pengaturan adalah seseorang meyakini bahawasannya tidak ada yang mengatur kecuali ALLAH SWT semata. Sebagaimana ALLAH SWT berfirman:

“Dan siapakah yang mengatur segala urusan? Maka nescaya mereka menjawab: ALLAH. Maka katakanlah: Mengapa kalian tidak bertakwa? Maka itulah ALLAH Rabb kalian yang sebenarnya, maka tidak ada sesudah kebenaran melainkan kesesatan. Maka bagaimanakah kalian berpaling?”
(Surah Yunus : ayat 31)

Tidak ada yang mengingkari tauhid Rububiyyah kecuali Firaun, Namrud dan kaum komunis. Orang yang mengingkari tauhid Rububiyyah terhitung sebagai kafir mulhid (atheis).

2. Tauhid Uluhiyyah

Tauhid Uluhiyyah adalah mengesakan ALLAH SWT dalam peribadatan kepadaNya. Tidak ada yang berhak diibadahi selain ALLAH SWTALLAH SWT berfirman:

“Demikianlah, kerana sesungguhnya ALLAH, Dialah yang hak dan sesungguhnya apa saja  yang mereka seru selain dari ALLAH itulah yang batil.”
(Surah Luqman : ayat 30)

Kebanyakan manusia pada umumnya mengingkari dan menentang tauhid ini. Maka demi mengembalikan tauhid inilah ALLAH SWT mengutus para Rasul dan menurunkan kitab-kitabNya kepada mereka. Allah berfirman:

“Dan tidaklah Kami mengutus seorang rasulpun sebelum kamu, melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahawa tidak ada yang berhak diibadahi kecuali Aku, maka beribadahlah kalian kepadaKu.” 
(Surah Al-Anbiya : ayat 25)

Orang-orang yang mengingkari tauhid jenis ini adalah kaum musyrikin di masa lalu dan para penyembah kubur di masa sekarang.

3. Tauhid Asma’ was Sifat

Tauhid Asma’ was Sifat adalah memurnikan nama-nama dan sifat-sifatNya bagi ALLAH SWT. Dan tauhid ini mengandung dua hal:

1.    Itsbat: iaitu kita menetapkan bagi ALLAH SWT seluruh nama dan sifat-sifatNya    yang Dia tetapkan bagi diriNya didalam kitabNya dan sunnah nabiNya.
2.    Nafi: iaitu menafikan penyerupaan dengan tidak menjadikan bagi ALLAH SWT tandingan-tandingan pada nama-nama dan sifat-sifatNya, sebagaimana firmanNya:

“Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia.”
(Suran Asy Syura : ayat 11)

Ayat ini menunjukan bahawa seluruh sifat ALLAH SWT tidak diserupai oleh satupun dari Makhluk-makhlukNya. Maka barangsiapa tidak menetapkan atau menolak apa yang ALLAH SWT tetapkan bagi diriNya, maka dia seorang mu’aththil (orang yang menolak nama-nama dan sifat-sifat ALLAH SWT). Dan tindakannya ini serupa dengan Firaun. Dan barangsiapa menetapkannya namun disertai dengan penyerupaan, maka dia menyerupai kaum musyrikin yang menyekutukan ALLAH SWT. Dan seorang muwahhid (orang yang bertauhid) adalah yang menetapkan nama-nama dan sifat-sifat ALLAH SWT tanpa menyerupakanNya dengan makhlukNya.




M 109 : MAKNA TAUHID

Istilah tauhid memang telah menjadi istilah yang sangat popular di tengah masyarakat muslim. Namun tak sedikit yang memahaminya dengan pemahaman yang salah atau bahkan tidak tahu makna tauhid. Makna tauhid yang sebenarnya adalah mengesakan ALLAH SWT pada sesuatu yang menjadi kekhususanNya baik Rububiyah, Uluhiyah atau Asma serta Sifat-sifatNya.
Rububiyah ertinya penciptaan alam, kepemilikan serta pengaturannya. Uluhiyah ertinya ibadah, sementara Asma dan Sifat ertinya nama-nama ALLAH SWT serta sifat-sifatNya yang sangat baik dan agung sebagaimana yang ALLAH SWT tetapkan dalam kitabNya atau yang RasulNya tetapkan dalam haditsnya.
(lihat Al Qaulul Mufid 1/hal 9,14,16 oleh Syaikh Ibnu Utsaimin).

Ketahuilah bahawasanya seseorang tidak akan menjadi penganut tauhid yang murni kecuali jika ia mengesakan ALLAH SWT dalam seluruh jenis ibadah.
Inilah tauhid hakiki yang dibawa oleh para Rasul-rasul ALLAH. Namun banyak orang yang menyelewengkan dari makna yang hakiki ini sebagai contoh :

1. Orang-orang ahli filsafat menamakan ilmu kalam atau filsafat dan mantiq Yunani yang dipakai untuk mempelajari permasalahan-permasalahan aqidah sebagai tauhid (lihat Al Haqiqatus Syariyyah, oleh Bazmuul hal :73).

2. Orang-orang Mu’tazilah mendefinisikan kata tauhid dengan pembahasan seputar sifat-sifat ALLAH SWT, apa yang wajib untukNya, dan apa yang tidak. Walaupun pada akhirnya mereka mengingkari semua sifat ALLAH SWT yang kemudian hal ini menjadi salah satu dari 5 prinsip mereka (lihat Firaq Mu’asirah 2/1032).

3. Orang-orang penganut tarekat Tasawuf khususnya ekstrem mereka, justeru meyakini tauhid sebagai “wihdatul wujud,“  yakni bersatunya ALLAH SWT dengan makhlukNya. Menurut mereka tauhid ada 3 tingkatan:

a. Tauhid orang awam iaitu hanya beribadah kepada ALLAH SWT tidak mempersekutukanNya.

b. Tauhidnya orang-orang khusus, hakikatnya adalah tenggelam dalam tauhid Rububiyyah yakni meyakini Rububiyah ALLAH SWT dan meniadakan sebab atau hikmah (penciptaan mahkluk) sebagaimana keyakinan orang-orang Jabriyah. (Minhaju Sunnah Nabawiyah 5/3588 355).

c. Tauhidnya Khashatul Khasshah (orang khususnya orang-orang khusus) iaitu wihdatul wujud. (lihat Madhahil Inhirafat Aqadiyah 1/ 228-230)

Sumber: http://www.asysyariah.com (dengan sedikit perubahan)