Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

V 167 : ASMAUL HUSNA ( 74. AL ZOHIR )

AL ZOHIR   ( الظاهر )   ALLAH Yaa Zohir Yang Maha Nyata menegaskan kepada kita DIA nyata, dapat dilihat dan sesungguhnya hadir. Kehadira...

Memaparkan catatan dengan label KAFIR - AMALAN. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label KAFIR - AMALAN. Papar semua catatan

Ahad, 31 Disember 2017

S 74 : SEJARAH TAHUN BARU 1 JANUARI

Tahukah anda sejarah Tahun Baru 1 Januari?
Semenjak abad ke 46 SM Raja Romawi Julius Caesar mene-tapkan 1 Januari sebagai hari permulaan tahun.
Orang Romawi mempersembahkan hari 1 Januari kepada janus, dewa segala dewa gerbang, pintu-pintu dan permulaan (waktu).
Bulan Januari diambil dari nama Janus sendiri iaitu dewa yang memiliki dua wajah, Satu wajah menghadap ke masa depan dan satu wajah lagi menghadap ke masa lalu.
Yang merayakan Malam Tahun Baru dengan cara apapun adalah mereka yang secara tak sedar sudah mngikuti Kaum Penyembah berhala yang merayakan hari janus,
dengan mengitari api unggun, meniup terompet berpesta dan bernyanyi bersama.
Celakalah atas para Peniru Kaum Paganis Romawi yang telah merayakan Malam Tahun Baru atau Hari Janus."
Bagi yang tidak ikut-ikutan selamatlah anda, kerana anda tetap terus berkomitmen dengan Qs. 6:161-163:

"Katakanlah (Muhammad), 'Sesungguhnya Rabbku telah memberiku petunjuk ke jalan yang lurus, agama yang benar, agama Ibrahim yang lurus. Dia Ibrahim tidak termasuk orang-orang musyrik.'
"Katakanlah(Muhammad), 'Sesungguhnya solatku, ibadahku dan matiku hanyalah untuk ALLAH, Rabb semesta alam. Tidak ada sekutu bagiNya dan demikianlah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama berserah diri (muslim)."
Qs.6:79,


"Sesungguhnya aku hadapkan wajahku kepada ALLAH, yang menciptakan langit dan bumi dengan penuh kepasrahan (mengikuti) agama yang benar. Dan aku bukanlah termasuk orang orang musyrik."

S 73 : DALAM SEMALAM MENJADI PENGANUT 3 AGAMA SEKALIGUS

Nasrani menggunakan loceng untuk memanggil jamaahnya ketika beribadah.
Yahudi menggunakan terompet untuk memanggil jamaahnya ketika beribadah.
Majusi menggunakan api untuk memanggil jamaahnya ketika beribadah.
Dan pada jam 00.00 WIB malam tahun baru, sebahagian umat Islam menggunakan ketiganya dalam satu waktu.
Loceng berbunyi,
Terompet berbunyi,
Kembang api dinyalakan.
Maka malam itu menjadi penganut tiga agama, Nasrani, Yahudi & Majusi.
Malam itu terompet-terompet ditiup oleh bibir-bibir muslimin sebagai tanda kemenangan bagi kaum kufar. Na'udzubillah.
Maka benarlah apa yang telah disabdakan Rasulullah 14 abad yg lalu.
Daripada Abu Sa‘id Al Khudri, ia berkata: Rasululah bersabda:

"Sungguh kalian akan mengikuti jejak umat-umat sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta, sehingga kalau mereka masuk ke dalam lubang biawak, nescaya kalianpun akan masuk (mengikuti) ke dalamnya.
Mereka (para sahabat) bertanya:
Wahai Rasulullah, apakah mereka kaum Yahudi dan Nasrani?
Lalu beliau berkata, Siapa lagi kalau bukan mereka."
(HR. Bukhari dan Muslim)

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah menjelaskan,

"Tidak diragukan lagi bahawa umat Islam ada yang kelak akan mengikuti jejak Yahudi dan Nasrani dalam sebahagian perkara."
(Majmu’ Al Fatawa, 27:286)

Daripada Ibnu ‘Umar, Nabi saw bersabda,

"Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bahagian dari mereka."
(HR.Ahmad 2:50 dan Abu Daud no.4031)

Rasulullah saw bersabda,

"Bukan termasuk golongan kami siapa saja yang menyerupai selain kami."

(HR.Tirmidzi no.2695)


"GERAKAN JUTAAN UMAT MUSLIM" tidak keluar rumah saat menyambut Tahun Baru Masehi.

Khamis, 28 Disember 2017

S 27 : ULANGTAHUN ITU BUKAN DARI ISLAM, BAHASA ARABNYA ULTAH ITU MAULID

Maaf Kawan .Saya Tidak mahu mengucapkan ULTAHmu.
Ternyata ulangtahun ada Dalam Injil Matius 14 : 6 dan Injil Markus 6 :21
Mungkin kurangnya pengetahuan mengenai keaqidahan,” masih banyak umat Islam yang mengikuti ritual paganisme ini.
Bahkan tidak menutup kemungkinan para ustaz dan ustazahpun ikut merayakannya dan terjebak di dalamnya.
Apalagi penyebarannya di media tv dan media massa lainnya mempublikasikan seremonialnya yang terkadang dilakukan oleh beberapa da’i muda atau yang bergelar ustaz [setengah artis, katanya sih!].

Ditambah lagi kebiasaan ini sudah jamak dan menjadi hal yang seakan-akan wajib apabila ada anggota keluarga, rakan atau sahabat yang memperingati hari lahirnya.
Dan tak kurang kelirunya sejak di taman asuhan kanak-kanak dan sekolah sudah diajarkan secara praktikal langsung bahkan ada termaktub dalam buku-buku kurikulum mereka. Wallahu a’lam.

Semoga ALLAH SUBHANAHU WA TAALA memberikan hidayah kepada mereka. Pada masa-masa awal Nasrani generasi pertama (Ahlul Kitab / kaum khawariyyun / pengikut nabi Isa) mereka tidak merayakan Upacara Ulang Tahun, kerana mereka menganggap bahawa pesta ulang tahun itu adalah pesta yang mungkar dan hanya pekerjaan orang kafir Paganisme.

Pada masa Herodeslah acara ulangtahun dimeriahkan sebagaimana tertulis dalam Injil Matius 14:6; Tetapi pada Hari Ulangtahun Herodes, menarilah anak Herodes yang perempuan, Herodiaz, di tengah-tengah meraka akan menyukakan hati Herodes. (Matius14 : 6) Dalam Injil Markus 6:21

Akhirnya tiba juga kesempatan yang baik bagi Herodias, ketika Herodes pada hari ulangtahunnya mengadakan perjamuan untuk pembesar-pembesarnya, perwira-perwiranya dan orang-orang terkemuka di Galilea.
(Markus 6:21) Look at the Bible, Matthew 14 : 6 and Mark 6:21; celebrating of birthday is Paganism, and Jesus (Isa, peace be upon him) doesn’t to do it, but Herod. Matthew 14:6 : “But when Herod’s birthday was kept, the daughter of Herodias danced before them, and pleased Herod”. Mark 6:21 : And when a convenient day was come, that Herod on his birthday made a supper to his lords, and the high captains, and the chief men of Galilee.

Orang Nasrani yang pertama kali mengadakan pesta ulangtahun adalah orang Nasrani Romawi. Beberapa batang lilin dinyalakan sesuai dengan usia orang yang berulang tahun. Sebuah kek ulangtahun dibuatnya dan dalam pesta itu, kek besar dipotong dan lilinpun ditiup. (Baca buku :Parasit Aqidah. A.D. El. Marzdedeq, Penerbit Syaamil, hal. 298)

Sudah menjadi kebiasaan kita mengucapkan selamat ulangtahun kepada keluarga mahupun teman, sahabat pada hari Ultahnya. Bahkan tidak sedikit yang aktif dakwah (ustaz dan ustazah) pun turut serta dalam tradisi jahiliyah ini.

Sedangkan kita sama-sama tahu bahawa tradisi ini tidak pernah diajarkan oleh Nabi kita yang mulia MUHAMMAD SHALALLAH ALAIHI WASALLAM, dan kita ketahui Rasulullah SAW adalah orang yang paling tahu cara bermasyarakat, bersosialisasi, paling tahu bagaimana cara menggembirakan para sahabat-sahabatnya.
Rasulullah SAW paling tahu bagaimana cara mensyukuri hidup dan kenikmatannya. Rasulullah SAW paling tahu bagaimana cara menghibur orang yang sedang bersedih.
Rasulullah SAW adalah orang yang paling tahu cara bersyukur dalam setiap hal yang di dalamnya ada rasa kegembiraan.
Adapun tradisi Ulangtahun ini merupakan tradisi orang-orang Yahudi, Nasrani dan kaum paganisme, maka Rasulullah SAW memerintahkan untuk menyelisihinya.
Apakah Rasulullah SAW pernah melakukannya?
Apakah para sahabat Rasululah SAW pernah melakukannya?
Apakah para Tabi’in dan Tabiut tabi’in pernah melakukannya?
Padahal Herodes sudah hidup pada zaman Nabi Isa.
Apakah Rasulullah SAW mengikuti tradisi ini?
Apakah 3 generasi terbaik dalam Islam melakukan ritual paganisme ini?

RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM bersabda,

“Sebaik-baik umat manusia adalah generasiku (sahabat), kemudian orang-orang yang mengikuti mereka (tabi’in) dan kemudian orang-orang yang mengikuti mereka lagi (tabi’ut tabi’in).”
(Muttafaq ‘alaih)

RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM bersabda,

“Janganlah kalian mencela seorang pun di antara para sahabatku kerana sesungguhnya apabila seandainya ada salah satu di antara kalian yang boleh berinfak emas sebesar Gunung Uhud maka itu tidak akan boleh menyaingi infak salah seorang di antara mereka; yang hanya sebesar genggaman tangan atau bahkan setengahnya saja.”
(Muttafaq ‘alaih)

RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM pernah bersabda:

“Kamu akan mengikuti cara hidup orang-orang sebelum kamu, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Sehingga jika mereka masuk ke dalam loubang biawak kamu pasti akan memasukinya juga.”
Para sahabat bertanya, “Apakah yang engkau maksud adalah kaum Yahudi dan Nasrani wahai Rasulullah?”
RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM menjawab: “Siapa lagi jika bukan mereka?”

RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM bersabda:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ “

Man tasabbaha biqaumin fahua minhum” (Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka.”
(HR. Ahmad dan Abu Daud dari Ibnu Umar)

Allah SWT berfirman;

وَلَنْ تَرْضَى عَنْكَ الْيَهُودُ وَلا النَّصَارَى حَتَّى تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka.”
(QS. Al Baqarah : 120)

وَلا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولا

“Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabkannya.”
(QS. Al-Isra’:36) “

“… dan kamu mengatakan dengan mulutmu apa yang tidak kamu ketahui sedikitpun juga, dan kamu menganggapnya suatu yang ringan saja. Padahal dia pada sisi Allah adalah besar.”
(QS. an-Nuur: 15)

Janganlah kita ikut-ikutan, kerana tidak mengerti tentang sesuatu perkara. Ikut-ikutan memperingati Ulang Tahun, tanpa mengerti dari mana asal perayaan tersebut. Ini penjelasan Nabi SAW tentang sebahagian umatnya yang akan meninggalkan tuntunan beliau dan lebih memilih tuntunan dan cara hidup di luar Islam. Termasuk juga di antaranya adalah peringatan perayaan ultah, meskipun ditutupi dengan label syukuran atau ucapan selamat milad atau Met milad seakan-akan kelihatan lebih Islami.

Ingatlah!

Sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Rasul.

مَنْ عَمِلَ عَمَلاً لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

 “Barangsiapa beramal dengan suatu amalan yang “tidak ada perintah dari kami padanya” maka amalan tersebut tertolak (iaitu tidak diterima oleh Allah).”
[HR. Muslim]

Rasulullah, para sahabat, tabi’in dan tabiut tabi’in adalah orang yang PALING MENGERTI AGAMA ISLAM.
Mereka tidak mengucapkan dan tidak memperingati Ulang Tahun, walaupun mungkin sebagian manusia menganggapnya baik.

Fahamilah “Kaedah” yang agung ini;

لو كان خيرا لسبقون اليه

“Lau Kaana Khairan Lasabaquuna ilaihi” seandainya perbuatan itu baik, maka Rasulullah SAW, para sahabat, tabi’in dan tabiut tabi’in pasti mereka lebih dahulu mengmalkannya daripada kita.*
Kerana mereka paling tahu tentang nilai sebuah kebaikan daripada kita yang hidup di zaman sekarang ini. Jika kita mahu merenung apa yang harus dirayakan atau disyukuri berkurangnya usia kita?
Semakin dekatnya kita dengan kubur?
Sudah siapkah kita untuk itu?
Akankah kita boleh merayakannya tahun depan?

ALLAH SUBHANAHU WA TAALA berfirman :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَلْتَنْظُرْ نَفْسٌ مَا قَدَّمَتْ لِغَدٍ وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada ALLAH dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada ALLAH, sesungguhnya ALLAH Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
(QS. Al-Hasyr: 18)

Seorang muslim dia dituntut untuk Muhasabah setiap hari, kerana setiap detik yang dilaluinya tidak akan pernah kembali lagi sampai nanti dipertemukan oleh ALLAH SUBHANAHU WA TAALA pada hari penghisapan, yang tidak ada yang bermanfaat pada hari itu baik anak mahupun harta kecuali orang yang menghadap ALLAH SUBHANAHU WA TAALA dengan membawa hati yang ikhlas dan amal yang soleh. Jadi, alangkah baiknya jika tradisi jahiliyah ini kita buang jauh-jauh dari diri kita, keluarga dan anak-anak kita dan menggantinya dengan tuntunan yg mulia yang diajarkan oleh Rasulullah SAW.

Sahabatmu Anwar Baru Belajar Silakan dibaca juga link ini :
Siapa bilang kalau UlangTahun Tidak ada Kaitannya Dengan Perkara Ibadah? Silakan baca : Sejarah Dan Asal Usul Kue Ulang Tahun
Hukum perayaan hari ulang tahun http://www.facebook.com/profile.php…
Kitabullah (Al Qur’anul Karim) Adalah Kitab Terakhir Yang Diturunkan Oleh Allah, Rabb Semesta Alam. Al Quran Adalah Penghapus Kitab Taurat, Zabur, Injil dan Seluruh Kitab Yang Diturunkan Sebelumnya. http://rumaysho.com/…/2880-kesesatan-dakwah-penyatuan-agama…
Hukum perayaan ulang tahun & mengucapkan selamat ulang tahun.
Dijawab oleh al-Ustadz Abu Abdillah Muhammad al-Makassari
Berkaitan dengan masalah ini ada dua pembahasan:

Pertama, hukum perayaan ulang tahun itu sendiri.

Kedua, hukum mengucapkan selamat ulang tahun.

Permasalahan pertama telah dibahas oleh asy-Syaikh Muhammad bin Shalih al-‘Utsaimin rahimahullah dalam kitab al-Qaulul Mufid (1/382). Beliau mengatakan, *“Setiap perkara yang dijadikan ‘ied atau perayaan berulang setiap pekan atau setiap tahun, dan tidak disyariatkan, maka itu termasuk perkara bidaah. Dalil yang menunjukkan bidaahnya perayaan hari ulang tahun (kelahiran) adalah bahawa pembuat syariat ini, iaitu Allah ‘azza wa jalla, yang mewahyukannya kepada NabiNya Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menetapkan acara aqiqah untuk kelahiran seorang anak dan tidak menetapkan selain dari itu.

Sedangkan kegiatan mereka merayakan hari-hari tersebut yang berulang setiap pekan atau setiap tahun bererti menyamakannya dengan hari raya Islam. Padahal tidak ada dalam Islam kecuali tiga hari raya atau ‘ied iaitu ‘Aidil Adha dan ‘Aidil Fitri, dan ‘Aidil Usbu’ (hari raya tiap pekan), iaitu hari Jumaat. Ini bukanlah perkara adat kebiasaan belaka, kerana dilakukan berulang-ulang.

Oleh kerana itu, tatkala Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di kota Madinah dan mendapati kaum Anshar merayakan dua ‘ied, beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah telah menggantikan bagi kalian dua hari raya yang lebih baik dari keduanya, iaitu ‘Aidil Adha dan ‘Aidil Fitri.”[1] Padahal kedua hari yang mereka rayakan itu merupakan perkara yang biasa bagi mereka.”

Begitu pula asy-Syaikh Abdul ‘Aziz bin Baz rahimahullah telah berfatwa yang sama, kata beliau, “Tidak boleh mengadakan perayaan maulid, baik hari kelahiran Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mahupun (hari kelahiran) selain beliau shallallahu ‘alaihi wa sallam, kerana sesungguhnya itu merupakan bidaah yang diada-adakan dalam agama ini. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para al-Khulafa ar-Rasyidin serta yang lainnya dari kalangan sahabat radhiallahu ‘anhum, tidak pernah mengadakannya. Tidak pula para tabi’in dan tabi’ut tabi’in yang mengikuti mereka dengan baik dari generasi-generasi yang mufadhdhalah (dipersaksikan keutamaannya oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dari generasi-generasi yang lainnya).

Padahal mereka rahimahumullah adalah orang-orang yang paling mengetahui tentang sunnah dan paling sempurna kecintaan dan mutaba’ahnya (pengikutannya) terhadap Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Sedangkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda:

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa mengada-adakan suatu perkara dalam urusan kami (agama ini) yang bukan darinya maka tertolak.”[2]

Kemudian asy-Syaikh Ibnu Baz rahimahullah menyebutkan hadits-hadits lainnya dan ayat-ayat Al Quran yang memerintahkan kita untuk meneladani Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam dan para sahabatnya radhiallahu ‘anhum dalam menjalani kehidupan ini. (Majmu’ al-Fatawa, 1/178—182)

Adapun hukum mengucapkan selamat ulang tahun, pembahasannya sama dengan permasalahan pertama kerana merupakan bahagian dari perayaan. Tidak dibenarkan seseorang untuk turut andil dalam menyukseskan acara tersebut, seperti membantu menata ruang tempat acara atau yang lainnya, berdasarkan firman Allah ‘azza wa jalla:

وَلَا تَعَاوَنُواْ عَلَى ٱلۡإِثۡمِ وَٱلۡعُدۡوَٰنِۚ

“Dan janganlah kalian tolong-menolong dalam perbuatan dosa dan permusuhan.”
(al-Maidah: 2)

Bahkan sekadar hadir pun tidak diperbolehkan, berdasarkan firman ALLAH ‘AZZA WA JALLA:

وَٱلَّذِينَ لَا يَشۡهَدُونَ ٱلزُّورَ

“Dan mereka hamba-hamba ALLAH yang beriman tidak menyaksikan/menghadiri perkara yang mungkar.”
(al-Furqan: 72)

Semoga ALLAH ‘AZZA WA JALLA memberikan hidayah dan taufikNya kepada kita semua sehingga kita terjaga dari amalan yang tidak diredai olehNya.

Wallahu a’lam bish-shawab.

[1] HR. Ahmad, Abu Daud, an-Nasa’i, dan yang lainnya, disahihkan Ibnu Hajar dalam Fathul Bari (2/442) dan al-Albani dalam Shahih Sunan Abu Daud no. 1134.
[2] Hadits riwayat al-Bukhari dan Muslim dari ‘Aisyah.



S 26 : HUKUM PERAYAAN DAN MENGUCAPKAN SELAMAT ULANGTAHUN

Alhamdullillah…

Wahai Kaum Muslimin, Ketahuilah bahawa tradisi Ulang Tahun ini tidak pernah diajarkan oleh Nabi kita yang mulia MUHAMMAD SHALALLAHU ALAIHI WASALLAM, begitu juga para Sahabat, Tabi’in dan Tabiut tabi’in.

RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM bersabda,

“Sebaik-baik umat manusia adalah generasiku (sahabat), kemudian orang-orang yang mengikuti mereka (tabi’in) dan kemudian orang-orang yang mengikuti mereka lagi (tabi’ut tabi’in).”
(Muttafaq ‘alaih)

Tidak boleh mengadakan perayaan maulid, baik hari kelahiran RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM mahupun (hari kelahiran) selain BELIAU SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM, kerana sesungguhnya itu merupakan bidaah yang diada-adakan dalam agama ini.

RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM dan para al-Khulafa ar-Rasyidin serta yang lainnya dari kalangan sahabat radhiallahu ‘anhum, tidak pernah mengadakannya. Tidak pula para tabi’in dan tabi’ut tabi’in yang mengikuti mereka dengan baik dari generasi-generasi yang mufadhdhalah (dipersaksikan keutamaannya oleh RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM dari generasi-generasi yang lainnya).

Padahal mereka rahimahumullah adalah orang-orang yang paling mengetahui tentang sunnah dan paling sempurna kecintaan dan mutaba’ahnya (pengikutannya) terhadap RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM.

Sedangkan RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM telah bersabda:

مَنْ أَحْدَثَ فِي أَمْرِنَا هَذَا مَا لَيْسَ مِنْهُ فَهُوَ رَدٌّ

“Barangsiapa mengada-adakan suatu perkara dalam urusan kami (agama ini) yang bukan darinya maka tertolak.”[2]

Janganlah kita ikut-ikutan, kerana tidak mengerti tentang sesuatu perkara.

RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM pernah bersabda: “Kamu akan mengikuti cara hidup orang-orang sebelum kamu, sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta. Sehingga jika mereka masuk ke dalam lubang biawak kamu pasti akan memasukinya juga.”
Para sahabat bertanya, “Apakah yang engkau maksud adalah kaum Yahudi dan Nasrani wahai Rasulullah?”
RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM menjawab: “Siapa lagi jika bukan mereka?”

RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WA SALLAM bersabda:

مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ “

“Man tasabbaha biqaumin fahua minhum” (Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka).”

(HR. Ahmad dan Abu Daud dari Ibnu Umar)

Jumaat, 21 September 2012

I 15 APRIL FOOL KITA DIPERBODOHKAN


SATU April setiap tahun, disambut oleh sebahagian masyarakat dunia sambil menipu orang lain dengan alasan untuk berseronok-seronok. Kebiasaan membohongi rakan dan anggota keluarga ini, dikatakan bermula di Perancis,kemudian tersebar ke England dan Scotland, lalu ke Amerika ketika berlaku perpindahan orang Eropah ke sana. 

Di Perancis, ia dikenali sebagai Poisson d’avril atau ikan April. Mereka percaya ikan kecil ini mudah ditangkap atau tertipu.Di Scotland pula dikenali dengan April Gowk, bererti berkelakuan bodoh seperti burung tekukur yang meletakkan telurnya di sarang burung lain. Di sana, April Fools disambut selama dua hari yang mana hari kedua dikhususkan untuk mempersendakan orang dengan melekatkan sesuatu yang melucukan seperti "tumbuklah saya" dan disebut Taily Day. Di England, jika seseorang sering dipermain-mainkan ia disebut April Noddie. Di Indonesia pula dikenali dengan April Mop, bermaksud April yang kelakar menurut Bahasa Belanda. Di negara kita terdapat juga golongan yang mengambil kesempatan mengenakan rakan-rakan dan orang yang dikenali, apabila tiba hari ini.

Menurut satu teori April Fool disambut bagi meraikan kejatuhan kerajaan Islam di Sepanyol. Ini berlaku apabila Kerajaan Islam Spanyol runtuh akibat serangan tentera Kristian setelah lama bertapak di Eropah. Ketika serangan berlaku penduduk Islam Moors telah menjadikan rumah sebagai tempat perlindungan. Tak lama kemudian mereka dibenarkan belayar keluar bersama barangan keperluan dengan menggunakan kapal-kapal yang berlabuh di pelabuhan. Orang Islam yang memandang serong dengan tawaran tersebut, telah pergi ke pelabuhan untuk melihat kapal-kapal yang dimaksudkan. Setelah berpuas hati, pada keesokan hari iaitu 1 April merekapun bersiap untuk berangkat. 

Kesempatan ini diambil oleh tentera Kristian untuk menggeledah dan membakar rumah penduduk, begitu pula kapal-kapal di pelabuhan. Kaum muslimin yang terdiri daripada lelaki, perempuan, dan kanak-kanak dibunuh. Peristiwa berdarah yang menyedihkan ini telah diraikan oleh tentera Kristian di Spanyol dan juga diserata dunia. Malangnya umat Islam yang diperbodohkan turut meraikan hari ini kerana terikut-ikut dengan budaya luar yang jauh menyimpang daripada ajaran syariat. 

Ada pendapat lain menyebutkan hari April Fools mula diperingati pada abad ke 16 di Perancis. Ketika itu tahun baru disambut pada 1 April setiap tahun dengan pesta tari-menari. Bermula tahun 1562, Pope Gregory memperkenalkan kalender baru Masihi yang bermula dengan bulan Januari. Lalu ada daripada kalangan mereka yang tidak percaya dengan perubahan ini lalu terus memperingati tahun baru pada tarikh 1 April. Orang-orang inilah yang disebut April Fools atau secara epistimologi bererti orang yang tertipu di bulan April kerana masih menyangka ia awal tahun baru. 

Terdapat pula teori lain yang dinyatakan dalam The Washington Post, tradisi ini dimulakan pada zaman Rom purba, ketika orang merayakan festival Ceres di awal bulan April. Ceres adalah dewi tuaian yang puterinya diculik Pluto, dewa dunia ghaib. Ceres diceritakan mengesan dengan mengikuti gema suara teriakan anaknya, walaupun ia merupakan suatu perkara yang mustahil, kerana gema sukar dikesan. Sehingga Ceres dikatakan melaksanakan “a fools errand” atau tugas orang bodoh. 

Walau dari manapun asal-usul budaya ini ia tidak begitu penting. Cukuplah selama ini kita diperbodohkan dengan pelbagai dakyah dan penipuan yang ditujukan khususnya kepada golongan muda-mudi Islam, bakal pendokong kecemerlangan ummah pada masa hadapan. Pelbagai propaganda dan penipuan yang diimport daripada luar, impak negatif era globalisasi, telah berjaya mengheret ramai remaja dan golongan muda Islam mempraktikkan amalan-amalan yang tidak sihat bahkan terkadang bercanggah dengan akidah dan pemikiran yang sihat.

Ketika penganut agama Kristian merayakan Hari Natal mereka juga sibuk bergaya mengenakan pakaian ala Santa Klaus. Tanggal 14 Februari, semasa pasangan kekasih meraikan Hari Valentine, muda-mudi Islam juga tidak ketinggalan. Kini menjelang 1 April, masing-masing sibuk berfikir tentang lawak bodoh terbaik untuk mempersendakan orang lain. Malangnya Sambutan hari kebesaran Islam seperti Hari Keputeraan Junjungan Besar Nabi Muhammmad SAW, sepi daripada penglibatan golongan muda yang sepatutnya menghayati sirah perjuangan Baginda SAW sebagai panduan hidup sepanjang zaman. Malah ada yang terpaksa hadir kerana takut dikenakan tindakan. 

Budaya ikut-ikutan ini, yang telah menular dalam masyarakat menjadikan seseorang, tidak punya nilai dan jatidiri sendiri sehingga berjaya mengalih perhatian mereka untuk berseronok-seronok tanpa memperdulikan tanggungjawab sebagai hamba Allah SWT., tanggungjawab sebagai pelajar dan tanggungjawab terhadap keluarga, masyarakat dan negara. Sikap yang sebegini bukan sahaja merosakkan individu terbabit, malah mencalarkan imej Islam di mata masyarakat lain.

Menurut perspektif Islam, setiap bulan dalam Islam adalah bulan yang mulia, malah Allah SWT melebihkan bulan-bulan tertentu kerana keutamaannya. Sebagai contoh Bulan Muharram adalah bulan pertama dalam kalendar Hijrah. Bulan Ramadan dimuliakan dengan malam Lailatulqadar yang menyamai pahala beribadah seribu bulan. Bulan Rabiulawwal, bulan Junjungan Besar Nabi Muhammad SAW dilahirkan sebagai pembawa rahmat kepada sekelian alam. Bulan Zulhijjah, bulan para tetamu Allah beramai-ramai mengunjungi Baitul al-Haram menyahut seruan ilahi untuk menunaikan ibadah haji. Oleh itu tidak terdapat satu bulanpun yang dikhususkan hanya untuk berbohong mahupun berkasih-sayang.

Nabi SAW diriwayatkan pernah bersabda yag ertinya “Kamu akan mengikuti perlakuan umat sebelum kamu sejengkal demi sejengkal, sehasta demi sehasta sehinggakan jika mereka memasuki lubang biawakpun nescaya kamu akan mengikuti mereka. Sahabat bertanya: Adakah mereka itu kaum Yahudi dan Nasrani, wahai Rasulullah? Sabda Baginda SAW: Ya, siapa lagi kalau bukan mereka?”


Pernahkah ada yang terfikir bahawa merekalah yang jahil apabila tidak mengerti adat budaya sendiri sehingga terikut-ikut dengan budaya asing tanpa mengetahui hujung pangkalnya. Malahan ramai yang terpedaya lalu terlibat dalam aktiviti pembohongan yang ditegah oleh syariat. Sedangkan amalan berbohong adalah amalan buruk yang ditegah oleh syariat. 

Dalam sebuah hadith Nabi SAW pernah bersabda yang ertinya barangsiapa yang berbohong kepada kami bererti dia bukan daripada kalangan kami. Islam dengan tegas, tidak pernah membenarkan pembohongan dilakukan oleh sesiapapun dengan apa jua alasan.Lebih daripada itu perbuatan berbohong merupakan perkhabaran yang dibawa oleh orang fasik yang mesti diperhalusi sebelum diterimapakai. Allah SWT menegaskan perkara ini dalam firmanNya yang bermaksud

"Wahai orang-orang yang beriman! Jika datang kepada kamu seorang fasik membawa sesuatu berita, maka selidikilah (untuk menentukan) kebenarannya, supaya kamu tidak menimpakan sesuatu kaum dengan perkara yang tidak diingini dengan sebab kejahilan kamu (mengenainya) sehingga menjadikan kamu menyesali apa yang kamu telah lakukan."
(al-Hujurat ayat 6)


Nabi SAW juga diriwayatkan pernah bersabda "Kejujuran membawa kepada kebaikan dan kebaikan membawa ke syurga. Sesungguhnya sesorang sentiasa bersifat jujur sehingga ditulis disisi Allah SWT. sebagai orang yang jujur. Manakala pembohongan membawa kepada kemaksiatan, perbuatan maksiat pula membawa ke neraka. Sesungguhnya seseorang sentiasa berbohong lalu ditulis disisi Allah SWT sebagai pembohong.

Oleh itu tidak wajar sesiapapun dari kalangan orang Islam terikut-ikut menyambut hari ini. Dibimbangi akan mengundang berlaku gejala lain yang lebih buruk dan tidak bermoral. Pepatah ada menyebutkan "Siakap senohong, gelama ikan duri bercakap bohong lama-lama mencuri".

Adalah lebih baik jika hari tersebut diganti dengan amalan mulia seperti menziarahi orang alim, menghadiri majlis-majlis ilmu, berzikir dan memperbanyak ibadah kepada Allah SWT. Sedarlah bahawa hari yang berlalu dengan perbuatan sia-sia dan tidak bermanfaat tidak akan datang lagi untuk diperbaiki semula. Hari yang pergi itu juga bererti hilang satu hari lagi daripada umur manusia di dunia yang juga tak akan dikembalikan lagi. 

Cukuplah selama ini kita sering diperbodoh-bodohkan sehingga ada yang menganggap perbuatan buruk seolah-olah baik, lantaran telah menjadi amalan biasa. Kita patut bangkit daripada terus dibuai mimpi menuju alam nyata bagi mengharungi pelbagai cabaran semasa yang lebih kompleks dan memerlukan penyelesaian secara bijaksana. Sudah tentu tidak ada jalan terbaik melainkan kembali mengamalkan ajaran al-Quran dan sunnah RasulNya dalam pelbagai lapangan kehidupan.




Ahad, 5 Ogos 2012

F 42 BLACK METAL MENGANCAM AKIDAH UMAT ISLAM

Black Metal adalah satu gejala yang sedang merebak dalam masyarakat Malaysia, khususnya di kalangan remaja di beberapa buah negeri di sebelah Utara Semenanjung Malaysia. Gejala ini ada kaitan dengan pengaruh internet, filem, muzik dan sebagainya merupakan anasir-anasir yang memberi makanan jiwa dan menusuk masuk ke dalam hati nurani mereka sehingga dapat dihayati dengan sepenuhnya.

Hal ini menjadi lebih hebat lagi dengan gejala lain yang menyertai muzik dan tarian tersebut iaitu pemujaan syaitan, penolakan agama, memenuhi segala pemikiran dan fantasi dengan segala unsur negatif dan pasif, mati kubur, mayat dan sebagainya yang menjadi amalan iblis dan syaitan.  Hal ini lebih berjaya mengisi kekosongan jiwa dan idealisme anak-anak muda dan memberi mereka kepuasan dan hiburan lebih daripada pengaruh nilai murni dan agama serta moral yang dalam konteks para remaja, juga golongan pelajar tidak dapat memenuhi keperluan mereka.

Boleh jadi kita bertanya dengan kehairanan, kenapa pengajaran agama dan moral sepatutnya dapat mengisi mental dan hati nurani para pelajar, juga remaja tiba-tiba mengalami kegagalan dan kelesuan.  Perkara ini mestilah memerlukan perhatian serius, di mana para pengkaji dan juga para guru, ibubapa, masyarakat dan juga semua pemimpin di semua peringkat mungkin dapat menoleh ke belakang melihat di manakah silapnya sehingga nilai murni dan didikan Islam yang yang dibawa melalui kurikulum al-Quran tidak dapat dihayati serta dihadamkan oleh jiwa anak-anak remaja Islam yang berbangsa Melayu yang dikenali sebagai keturun Islam sejak turun-temurun.  Hal mestilah setiap dari kita mesti merasa terpanggil dalam menangani gejala Black Metal yang sememangnya boleh mengancam akidah umat Islam khususnya di kalangan anak-anak muda Islam di negara kita Malaysia.

Menurut satu risalah yang disebarkan, kumpulan Black Metal ini mewajibkan setiap dari pengikutnya melupakan rukun Islam yang lima perkara, iaitu mengucap Dua Kalimah Syahadah, mengerjakan solat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, membayar zakat dan menunaikan haji bagi sesiapa yang mempunyai kemampuan. Sebaliknya mereka mestilah berpegang kepada lima rukun baru yang mengatakan menyembah Allah itu adalah karut marut. Empat lagi rukun kumpulan itu yang menggelarkan diri mereka “We Are Satan” (Kamilah Setan) ialah jangan sembahyang, kitab al-Quran itu karut, membakar naskhah-naskhah al-Quran dan membakar atau memijak kain atau pakaian sembahyang.

Selain mengandungi lima rukun yang menghina Islam itu, risalah berkenaan turut mengandungi peraturan mengangkat sumpah untuk menganggotai kumpulan tersebut.  Antara peraturan yang dinyatakan ialah sebelum menjadi pengikut, seseorang itu harus melafazkan “Kami menyeru dengan nama Iblis bahawa kami sudah pun murtad’.  Mereka kemudian harus menyebut lima rukun kumpulan itu (sebagaimana di atas). Bahagian hadapan risalah itu pula memaparkan lukisan seorang lelaki berambut panjang dalam keadaan bogel dan di atasnya tertera tulisan “Black Metal”. Pada muka surat kedua pula terdapat bintang berbucu lima dengan di dalamnya dilukiskan lambang salib.  Di setiap bucu bintang itu terdapat tulisan dipercayai lambang tertentu dalam masyarakat Yahudi.

Pada muka surat ketiga pula terdapat lima rukun kumpulan itu manakala mukasurat keempat ayat sebelum upacara dan senarai nama ahli kumpulan itu.  Pada muka surat terakhir pula terdapat tulisan dalam bentuk mengerikan tertera ‘ As the sky turns black’ (apa bila langit berubah menjadi hitam) dengan lukisan berbucu lima.

Cabang Lain Dalam Aliran Metal

Black Metal juga adalah cabang muzik Metal yang paling tinggi, keras dan ganas dalam muzik underground (liar).  Rentak muzik keras, sebutan sukar difahami dan lirik berbagai pemujaan pelbagai nama syaitan, anti ketuhanan dan keagamaan, bunuh diri seks bebas, dianjurkan dalam lagu Black Metal yang disebarkan ke seluruh dunia termasuk Malaysia.  Tidak cukup dengan muzik, pemuzik dan pengikutnya dikehendaki mengisytiharkan diri murtad, melakukan ritual memuja syaitan, membakar kitab suci al-Quran dan memberontak terhadap sistem kemanusiaan dan perundangan.

Cabang lain dalam aliran Metal adalah Death Metal iaitu rentak muzik yang tidak jauh bezanya daripada Black Metal, tetapi memfokuskan tema kehidupan seperti kecewa, putus asa, pemberontakan, kematian dan alam kubur. Biasanya lirik Death Metal menceritakan sesuatu topik dengan penuh perasaan, dalam bentuk penceritaan yang mendalam.  Doom Metal pula menampilkan lirik berbentuk melankolik untuk melafazkan kekecewaan dalam hidup seperti putus cinta dan pilih kasih.  Dark Metal pula banyak mengisahkan alam ghaib (mirip Death Metal) seperti ilmu sihir, mitos, kepercayaan tertentu dan mistik.

Grindcore Metal adalah lagu metal untuk menyuarakan rasa tidak puas hati dan menentang sistem pentadbiran dan dasar setempat atau keadaan alam dan persekitaran. Liriknya terus terang menyuarakan tentangan terhadap penyelewengan politik, dan kerosakan alam persekitaran.  Tema bagi Industrial Metal mirip kepada Grindcire Metal, tetapi menggunakan kesan bunyi khas kepada lagu seperti latar belakang bunyi kilang atau mesin tertentu.

Cabang lain dalam aliran Metal ialah Thrash, Speed dan Heavy Metal yang mengungkap pelbagai tema lebih meluas. Heavy Metal di Malaysia dikatakan bermula sejak tahun 80-an dan sudah diterima dan sudah diterima masyarakat setempat atau diistilahkan pengikut underground sebagai sudah memasuki ‘main stream’ (aliran utama). Manakala Thrash Speed dan Metal yang berbentuk laju dan kuat dengan penggunaan dram dan kesan bunyi gitar, masih dikelaskan sebagai muzik underground.

Perspektif Islam Berkenaan Isu Ini

Isu Black Metal menjadi suatu perbincangan hangat masyarakat dewasa ini.  Ia sebenarnya bukanlah perkara baru sekiranya kita memahami teras budaya hedonisme yang lama berkembang subur dalam masyarakat Barat.  Hedonisme adalah budaya yang lahir daripada asas sekularisme yang menolak dominasi fahaman agama dalam kehidupan manusia.  Hedonisme  yang berasal dari istilah Greek, Hedone, bermaksud pleasure ( keseronokan / kelazatan ) atau happiness (kegembiraan ) ialah kebaikan.

Menurut Dr. Yusof al-Qardawi, walaupun golongan Hippies yang pada awalnya muncul sebagai kumpulan anti-sosial kerana bosan dengan kebuntuan peribadi, akibat gangguan pemodenan dan pembangunan, mereka telah sesat dalam gejala-gejala tidak bermoral seperti arak, seks bebas, dadah dan lain-lain sehingga ke peringkat menolak agama. Dalam mencari erti dan hakikat individu, mereka menganggap agama adalah penghalang kepada kepuasan hidup yang seharusnya berlandaskan hawa nafsu semata-mata. Kawalan norma dan undang-undang agama ditentang dengan berbagai-bagai cara oleh mereka yang menganggap hawa nafsu sebagai tuhan sembahan mereka.

Tradisi gila yang diamalkan oleh golongan ini akhirnya menemukan khayalan-khayalan yang menjurus kepada pemujaan syaitan. Inilah perkara yang cuba diulangi oleh sebahagian remaja Muslim yang sudah kehilangan arah dalam masyarakat kini.

Al-Quran secara umumnya mengaitkan hedonisme dengan kehidupan yang mementingkan keduniaan dan hawa nafsu sehingga lupa kepada perintah Allah. Mereka lazimnya keras hati, sombong, melakukan maksiat, zalim dan kuat berangan-angan.  Perilaku seperti ini mencapai kemuncaknya apabila mereka berdepan dengan persoalan akidah dan kepercayaan.  Allah telah mengingatkan bahawa terdapat kecenderungan manusia menjadikan hawa nafsu dan keseronokan sebagai sembahan, di mana Al-Quran bertanya, yang bermaksud: “Tidakkah kamu melihat mereka yang mengambil nyawa hawa nafsu sebagai Tuhan mereka?”

Sindiran ini sekaligus memperingatkan umat manusia bahawa hawa nafsu yang diperkudakan oleh syaitan beroperasi besar dalam menggantikan peranan Tuhan dalam kehidupan mereka.  Islam tidak menafikan secara mutlak kewujudan hawa nafsu sebagai sifat semulajadi manusia bahkan ia memperakui sebagai unsur kejadian manusia yang unik.  Kejadian hawa nafsu yang dipertimbangkan oleh wahyu dan akal menjadikan manusia mempunyai kedudukan dan peranan yang berbeza dengan sifat syaitan dan malaikat yang hanya mempunyai dua pola yng bertentangan iaitu buruk dan baik.

Justeru bagi menjamin kemenangan kebaikan ke atas kejahatan, Islam menganjurkan pengawalan dan alternatif terhadap aktiviti hawa nafsu. Pengawalan Islam terhadap gejala negatif ini amat dititikberatkan sehingga Nabi sejak remaja lagi telah dikawal oleh Allah daripada menghampiri pesta kaum Quraisy yang diadakan di Kota Mekah. Baginda diriwayatkan tertidur dengan nyenyak sebelum berupaya pergi ke pesta tersebut.

Islam tidak hanya mengharamkan sesuatu maksiat tertentu sahaja bahkan turut menutup arah dan punca ke arah berlakunya kemungkaran berkenaan. Sebagai contoh, Al-Quran secara jelas menegah daripada menghampiri zina kerana menyedari perkara itu pasti berlaku sekiranya ruang-ruang ke arahnya dibuka dengan luas.

Sesuai dengan Islam yang bersifat meraikan fitrah manusia, agama ini memberikan kelonggaran ke atas beberapa hiburan yang dapat memberikan manfaaat kepada manusia dalam menjalankan kehidupannya dengan sempurna.  Sebagai contoh, lagu-lagu memuja Ilahi, keindahan alam dan meniupkan semangat untuk maju dan berjaya dalam kehidupan dan perjuangan amat digalakkan.  Promosi terhadap unsur-unsur hiburan yang murni inilah yang seharusnya menjadi arus perdana dalam masyarakat; bukannya hiburan yang menyelewengkan pemujaan hawa nafsu dan keuntungan material semata-mata.

Persoalannya, memadaikah pengawalan daripada satu pihak sahaja sedangkan pihak-pihak lain mnyepikan diri malah ada yang menyokong ruang-ruang ke arah kepesatan budaya hedonisme ini?

Hanya peribadi besar dan dokongan secara kolektif sahaja yang mampu menunjukkan keunggulan pendakwah dalam melaksanakan tugas amal makruf dan nahi mungkar yang menjadi prasyarat kepada kejayaan sebuah umat yang terbaik.  Masyarakat amat berharap supaya sesuatu dapat dilakukan dalam membenteras fahaman hedonisme yang kini kembali semula ke puncaknya.

Rumusan, walau apa pun keadaan gejala yang dihadapi oleh ummat Islam ini, maka mereka semua mestilah merasa terpanggil dalam memberi sumbangan untuk mengembalikan semula golongan individu yang terlibat, terjerumus ke lembah yang membawa kepada tekeluar dari akidah Islam ini khususnya dari kalangan golongan remaja Islam yang berbangsa Melayu, kerana persoalan ini adalah persoalan agama Islam dan bangsa Melayu.

Di antara langkah-langkah yang perlu diambil dalam membendung gejala ini ialah:

i- Para ibu bapa mestilah mengambil berat tentang aktiviti harian juga pergaulan anak-anaka mereka.  Di samping itu para ibu bapa juga mestilah menunjukkan suri tauladan yang terbaik untuk anak-anak mereka dengan mempamerkan iltizam yang tinggi terhadap nilai hidup Islam, seperti melakukan ibadah, juga amal soleh seperti istiqamah dalam melaksanakan solat lima waktu, berpuasa bulan Ramadhan serta melakukan amalan-amalan murni lain.  Perkara ini penting kerana ibu bapa merupakan pendidik pertama kepada anak-anak. Dalam satu hadis Rasulullah s. a. w. bersabda:

مَا مِنْ مَوْلُوْدٍ اِﻻَّ يُوْ لَدُ عَليٰ الْفِطْرَةِ فَاَبَوَا هُ يُهَوِّدَانِهِ اَوْ يُنَصِّرَانِهِ اَوْ يُمَجِّسَانِهِ
Ertinya: 

Bagi setiap individu pula, mereka mestilah amanah terhadap diri sendiri, iaitu dengan menunaikan segala amanah dan tanggungjawab terhadap diri seperti melengkapkan diri dengan ilmu pengetahuan yang berbentuk keduniaan dan juga ilmu-ilmu keagamaan yang dapat menjadi benteng dari terjerumus kelembah yang tidak sihat yang dibenci Allah Ta’ala.  Amanah terhadap diri sendiri juga termasuklah memilih kawan-kawan yang baik yang boleh membantu seseorang itu mencapai kebaikan dan kejayaan. Kerana kawan merupakan orang yang akan mempengaruhi temannya sama ada ke arah perkara baik atau tidak baik. 

ii- Seterusnya semua lapisan masyarakat Islam juga mestilah memainkan peranan masing-masing dalam menangani gejala yang boleh mengancam akidah umat Islam.Bermula dari keluarga, masyarakat kempung penguasa daerah dan negeri, lebih-lebih lagi penguasa agama juga kerajaan mestilah menangani masalah ini dengan serius termasuklah dengan menguatkuasakan peruntukan undang-undang yang telah sedia ada atau menggubal undang-undang baru demi menjamin anak-anak muda dan remaja Islam di negara ini dari terus hanyut dengan dakyah-dakyah Yahudi dan Kristian yang membawa kepada terkeluarnya dari agama Islam ( murtad). Mudah-mudahan di antara kita umat Islam ini salang memperingati antara satu sama lain, Insya Allah syiar Islam terus maju berkembang di muka bumi Allah ini, juga akidah Islam pula sentiasa bertapak kukuh dihati setiap penganutnya. Firman Allah s. w. t. di dalam al-Quran:

“Tidak dilahirkan seseorang anak itu kecuali dalam keadaan putih bersih ( tidak berdosa). Maka kedua ibu bapanyalah yang akan mencorak anak itu sama ada dengan agama Yahudi, Nasara (Kristian) atau Majusi”.

.وَالْعَصْرِ اِنَّ اْلاِِنْسَانَ لَفِيْ خُسْرٍ. اِلا َّالَّذِيْنَ اۤمَنُوْا وَعَمِلوالصَّالِحَاتِ
.وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ

Maksudnya:


“Demi masa sesungguhnya manusia itu berada dalam keadaan kerugian, kecuali hanya orang-orang yang beriman dan beramal soleh, dan orang-orang yang sentiasa berpesan-pesan dengan perkara kebenaran dan kesabaran.”