Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

V 167 : ASMAUL HUSNA ( 74. AL ZOHIR )

AL ZOHIR   ( الظاهر )   ALLAH Yaa Zohir Yang Maha Nyata menegaskan kepada kita DIA nyata, dapat dilihat dan sesungguhnya hadir. Kehadira...

Memaparkan catatan dengan label AQIDAH. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label AQIDAH. Papar semua catatan

Sabtu, 29 Disember 2018

T 120 : BENARKAH KITA SUDAH BERHIJRAH?


RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASSALLAM bersabda yang bermaksud :


“Orang Yang Berhijrah adalah orang yang meninggalkan larangan Allah.”
(HR.Bukhari)






T 77 : PERNYATAAN IMAM SYAFI’I DALAM MASALAH AQIDAH


Mengenal aqidah seorang imam besar Ahlu Sunnah merupakan perkara penting. Khususnya, bila sang imam tersebut memiliki pengikut dan madzhab yang mendunia. Disebabkannya, mengenal pernyataan Imam Syafi’i yang madzhabnya menjadi madzhab banyak kaum muslimin di negeri ini, menjadi lebih penting dan mendesak, agar kita semua dapat melihat secara nyata aqidah Imam asy-Syafi’i, dan dapat dijadikan pelajaran bagi kaum muslimin di Indonesia.

Untuk itu, kami sampaikan di sini beberapa pernyataan beliau seputar permasalahan aqidah, yang diambil dari kitab Manhaj Imam asy-Syafi’i fi Itsbat al-Aqidah, karya Dr. Muhammad bin Abdil-Wahab al-‘Aqîl.

Pernyataan Imam Syafi’i Dalam Masalah Kubur

1. Hukum Meratakan Kuburan.

وَ أُحِبُّ أَنْ لاَ يُزَادُ فِيْ القَبْرِ مِنْ غَيْرِهِ وَلَيْسَ بأَنْ يَكُوْنَ فِيْهِ تُرَابٌ مِنْ غَيْرِهِ بَأْسٌ إِذَا زِيْدَ فِيْهِ تُرَابٌ مِنْ غَيْرِهِ ارْتَفَعَ جِدًّا وَ إِنَّمَا أُحِبُّ أَنْ يُشَخِّصَ عَلَى وَجْهِ الأَرْضِ شِبْرًا أَوْ نَحْوِهِ

“Saya suka kalau tanah kuburan itu tidak ditinggikan dari selainnya dan tidak mengambil padanya dari tanah yang lain. Tidak boleh, apabila ditambah tanah dari lainnya menjadi tinggi sekali, dan tidak mengapa jika ditambah sedikit saja sekitar.
Saya hanya menyukai ditinggikan (kuburan) di atas tanah satu jengkal atau sekitar itu.” [1]. (1/257)

2. Hukum Membangun Kuburan Dan Menemboknya.

وَ أُحِبُّ أَنْ لاَ يُبْنَى وَلاَ يُجَصَّصُ فَإِنَّ ذَلِكَ يُشْبِهُ الزِّيْنَةَ وَ الْخُيَلاَءَ وَ لِيْسَ الْمَوْتُ مَوْضِعَ وَاحِدٍ مِنْهَا زَلَمْ أَرَ قُبُوْرَ الْمُهَاجِرِيْنَ وَ الأَنْصَارِ مُجَصَّصةً قَالَ الرَّاوِيُ عَنْ طَاوُسٍ إِنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ نَهَى أَنْ تُبْنَى أَوْ تُجَصَّصُ وَقَدْ رَأَيْتُ مِنَ الْوُلاَةِ مَنْ يَهْدِمُ بِمَكَّةَ مَا يُبْنَى فِيْهَا فَلَمْ أَرَ الْفُقَهَاءَ يُعِيْبُوْنَ ذَلِكَ

“Saya suka bila (kuburan) tidak dibangun dan ditembok, kerana itu menyerupai penghiasan dan kesombongan, dan kematian bukan tempat bagi salah satu dari keduanya. Dan saya tidak melihat kuburan para sahabat Muhajirin dan Anshar ditembok.”
“Seorang perawi menyatakan dari Thawus, bahawa Rasulullah SAW telah melarang kuburan dibangun atau ditembok.”
Saya sendiri melihat sebahagian penguasa di Mekah menghancurkan semua bangunan di atasnya (kuburan), dan saya tidak melihat para ahli fikih mencela hal tersebut. [2]. (1/258)

3. Hukum Membangun Masjid Di Atas Kuburan.

وَ أَكْرَهُ أَنْ يُبْنَى عَلَى الْقَبْرِ مَسْجِدٌ وَ أَنْ يُسَوَى أَوْ يُصَلَّى عَلَيْهِ وَ هُوَ غَيْرُ مُسَوَى أَوْ يُصَلََّى إِلَيْهِ وَ إِنْ صَلَّى إِلَيْهِ أَجْزَأَهُ وَ قَدْ أَسَاءَ

“Saya melarang dibangunkan masjid di atas kuburan dan disejajarkan atau dipergunakan untuk solat di atasnya dalam keadaan tidak rata atau solat menghadap kuburan. Apabila ia solat menghadap kuburan, maka masih sah namun telah berbuat dosa.”[3]. (1/261).

Pernyataan Imam Syafi’i Dalam Masalah Fitnah Kubur Dan Kenikmatannya

وَ أَنَّ عَذَابَ القّبْرِ حَقٌّ وَ مُسَاءَلَةَ أَهْلِ ال} قُبُوْرِ حَقٌّ

Sesungguhnya Adzab kubur itu benar dan pertanyaan malaikat terhadap ahli kubur adalah benar [4]. (2/420)

Pernyataan Imam Syafi’i Dalam Masalah Kebangkitan, Hisab, Syurga dan Neraka

وَ البَعْثُ حَقٌّ وَ الْحِسَابُ حَقٌّ وَ الْجَنَّةُ وَ النَّارُ وَغَيْرُ ذَلِكَ مَا جَاءَتْ بِهِ السُّنَنُ فَظَهَرَتْ عَلَى أَلْسِنَىِ الْعُلَمَاءِ وَ أَتْبَاعِهِمْ مِنْ بِلاَدِ الْمُسلِمِيْنَ حَقٌّ

“Hari kebangkitan adalah benar, hisab adalah benar, syurga dan neraka serta selainnya yang sudah dijelaskan dalam sunnah-sunnah (hadits-hadits), lalu ada pada lisan-lisan para ulama dan pengikut mereka di negara-negara muslimin adalah benar.” [5]. (2/426)

Pernyataan Imam Syafi’i Dalam Masalah Bersumpah Dengan Nama Selain Allah SWT

فَكُلُّ مَنْ حَلَفَ بِغَيْرِ اللهِ كَرِهْتُ لَهُ وَ خَشِيْتُ عَلَيْهِ أََنْ تَكُوْنَ يَمِيْنُهُ مَعْصِيَّةً وَ أَكْرَهُ الأَيْمَانَ بِاللهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ إِلاَّ فِيْمَا كَانَ طَاعَةً للهِ مِثْلُ الْبَيْعَةِ فِيْ الْجِهَادِ وَ مَا أَشْبَهَ ذَلِكَ

“Semua orang yang bersumpah dengan selain Allah, maka saya melarangnya dan mengkuatirkan pelakunya, sehingga sumpahnya itu adalah kemaksiatan. Saya juga membenci bersumpah dengan nama Allah dalam semua keadaan, kecuali hal itu adalah ketaatan kepada Allah, seperti berbai’at untuk berjihad dan yang serupa dengannya.” [6]. (1/271)

Pernyataan Imam Syafi’i Tentang Syafa’at

فَكَانَ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَيْرَتَهُ الْمُصْطَفَى لِوَحْيِهِ الْمُنْتَخَبَ لِرِسَالَتِهِ الْمُفَضَّلَ عَلَى جَمِيْعِ خَلْقِهِ بِفَتْحِ رَحْمَتِهِ وَ خَتْمِ نُبُوَّتِهِ وَ أَعَمَّ مَا أَرْسَلَ بِهِ مُرْسَلٌ قَبْلَهُ

“Beliau (Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam ) adalah manusia terbaik yang dipilih Allah untuk wahyunya lagi terpilih sebagai RasulNya dan yang diutamakan atas seluruh makhluk dengan membuka rahmatNya, penutup kenabian, dan lebih menyeluruh dari ajaran para rasul sebelumnya. Beliau ditinggikan namanya di dunia dan menjadi pemberi syafa’at, yang syafa’atnya dikabulkan di akhirat.” [7]. (1/291).

Beliau juga menyatakan tentang syarat diterimanya syafa’at:

وَاسْتَنْبَطْتُ الْبَارِحَةَ آيَتَيْنِ فَمَا أَشْتَهِيْ بِاسْتِنْبِاطِهَا الدُّنْيَا وَ مَا قَبْلَهَا (وَهِيَ قِوْلُهُ تَعَالَى) : يُدَبِّرُ الْأَمْرَ ۖ مَا مِنْ شَفِيعٍ إِلَّا مِنْ بَعْدِ إِذْنِهِ وَفِيْ كِتَابِ اللهِ هَذَا كَثِيْرٌ. (قَالَ تَعَالَى) : مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ فَعَطَّلَ الشُّفَعَاءَ إِلاَّ بِإِذْنِ اللهِ

“Semalam saya mengambil faidah (istimbâth) dari dua ayat yang membuat saya tidak tertarik kepada dunia dan yang sebelumnya. Firman Allah: … Dia bersemayam di atas ‘Arsy (singgasana) untuk mengatur segala urusan. Tiada seorangpun yang akan memberi syafa’at kecuali sesudah ada keizinanNya….” -Yunus/10 ayat 3.

Dan dalam kitabullah, hal ini banyak: … “Siapakah yang dapat memberi syafaat di sisi ALLAH tanpa izinNya?
al-Baqarah/2 ayat 256)

Syafa’at tertolak kecuali dengan izin Alllah [8]. (1/291).

Pernyataan Imam Syafi’i Tentang Sifat Istiwa’ Bagi Allah SWT

الْقَوْلُ فِيْ السُّنَّةِ الَّتِيْ أَنَا عَلَيْهَا وَ رَأَيْتُ عَلَيْهَا الَّذِيْنَ رَأَيْتُهُمْ مِثْلَ سُفْيَانَ وَ مَالِكٍ وَ غَيْرِهِمَا الإقْرَارُ بِشَهَادَةِ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَ أَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ وَ أَنَّ اللهَ عَلَى عَرْشِهِ فِيْ سَمَائِهِ يَقْرُبُ مِنْ خَلْقِهِ كَيْفَ شَاءَ وَ يَنْزِلُ إِلَى السَّمَاء الدُّنْيَا كَيْفَ شَاءَ…

Pendapatku tentang sunnah (aqidah) yang saya berada di atasnya, dan saya lihat dimiliki oleh orang-orang yang saya lihat, seperti Sufyaan, Maalik dan selainnya, ialah berikrar dengan syahadatain (Lâ Ilâha illallah wa Anna Muhammadar-Rasulullah), (beriman) bahwa Allah berada di atas ‘ArsyNya di atas langit, mendekat dari makhlukNya bagaimana Dia suka, dan turun ke langit dunia bagaimana Dia suka…” (2/354-355)

Pernyataan Imam Syafi’i Tentang Sifat Nuzul (Turun) Bagi Allah SWT

وَ أَنَّهُ يَهْبِطُ كُلَّ لِيْلَةٍ إِلَى سَمَاء الدُّنْيَا بِخَبَرِ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Allah SWT turun setiap malam ke langit dunia dengan dasar berita Rasulullah SAW. (2/358).

وَ أَنَّ اللهَ عَلَى عَرْشِهِ فِيْ سَمَائِهِ يَقْرُبُ مِنْ خَلْقِهِ كَيْفَ شَاءَ وَ يَنْزِلُ إِلَى السَّمَاء الدُّنْيَا كَيْفَ شَاءَ

Sesungguhnya Allah berada di atas ‘ArsyNya di atas langitNya, mendekat dari makhlukNya bagaimana Dia suka, dan Allah SWT turun ke langit dunia bagaimana Dia suka. (2/358).

Pernyataan Imam Syafi’i Tentang Sifat Tangan Bagi Allah SWT

Sesungguhnya Allah memiliki dua tangan dengan dasar firman Allah SWT, (yang ertinya):

“Orang-orang Yahudi berkata: “Tangan Allah terbelenggu,” sebenarnya tangan merekalah yang dibelenggu dan merekalah yang dilaknat disebabkan apa yang telah mereka katakan itu. (Tidak demikian), tetapi kedua-dua tangan Allah terbuka; Dia menafkahkan sebagaimana Dia kehendaki. Dan Al Quran yang diturunkan kepadamu dari Rabbmu sungguh-sungguh akan menambah kedurhakaan dan kekafiran bagi kebanyakan di antara mereka. Dan Kami telah timbulkan permusuhan dan kebencian di antara mereka sampai hari kiamat. Setiap mereka menyalakan api peperangan, Allah memadamkannya dan mereka berbuat kerosakan di muka bumi dan Allah tidak menyukai orang-orang yang membuat kerosakan.”
(Surah al-Maidah/5 ayat 64)

“Dan sungguh Dia juga memiliki tangan kanan dengan dasar firman Allah, (yang ertinya): Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya, pada hal bumi seluruhnya dalam genggamanNya pada hari kiamat, dan langit digulung dengan tangan kananNya. Maha Suci Dia dan Maha Tinggi Dia dari apa yang mereka persekutukan.”
(Surah az-Zumar/39 ayat 67)

Pernyataan Imam Syafi’i Tentang Melihat Allah SWT di Akhirat

عَنِ الرَبِيْعِ بْنِ سُلَيْمَانَ قَالَ كُنْتُ ذَاتَ يَوْمٍ عِنْدَ الشَّافِعِيِ رحمه الله زَ جَاءَهُ كِتَابٌ مِنَ الصَّعِيْدِ يَسْأَلُوْنَهُ عَنْ قَوْلِ اللهِ تَعَالَى : كَلَّا إِنَّهُمْ عَنْ رَبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَمَحْجُوبُونَ فَكَتَبَ فِيْهِ لَمَّا حَجَبَ اللهُ قَوْمًا بِالسَّخَطِ دَلَّ عَلَى أَنَّ قَوْمًا يَرَوْنَهُ بِالرِّضَا قَالَ الرَّبِيعُ : أَوَتَدِيْنُ بِهَذَا يَا سَيِدِيْ قَألَ : وَ اللهِ لَوْ لَمْ يُقِنَّ مُحَمَّدُ بْنُ إِدْرِيْسِ أَنَّهُ يَرَى رَبَّهُ فِيْ الْمَعَادِ لَمَّا عَبَدَهُ فِيْ الدُّنْيَا

Daripada ar-Rabi’ bin Sulaiman, beliau berkata: “Suatu hari saya berada di dekat asy-Syafi’i dan datang surat dari daerah ash-Sha’id. Mereka menanyakan kepada beliau tentang firman Allah, (yang ertinya): Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Rabb mereka. (Surah Muthaffifin/83 ayat 15) lalu beliau menulis (jawapan) berisi (pernyataan), ketika Allah menghalangi satu kaum dengan sebab kemurkaan, maka menunjukkan bahawa orang-orang melihatNya dengan sebab keredaan.”
Ar-Rubayyi’ bertanya: “Apakah engkau beragama dengan hal ini, wahai tuanku?”
Lalu beliau menjawab: “Demi Allah! Seandainya Muhammad bin Idris tidak meyakini bahawa ia melihat RabbNya di akhirat, tentu ia tidak menyembahNya di dunia.” (2/286).

عَنِ ابْنِ هَرَمٍ الْقَرَشٍيْ يَقُوْلُ سَمِعْتُ الشَّافِعِيَ فِيْ قَوْلِهِ تَعَالَى : كَلَّا إِنَّهُمْ عَنْ رَبِّهِمْ يَوْمَئِذٍ لَمَحْجُوبُونَ قَالَ فَلَمَّا حَجَبَهُمُ فِيْ السَخَطِ كَانَ دَلِيْلاً عَلَى أَنَّهُمْ يَرَوْنَهُ فِيْ الرِّضَا

Daripada Ibnu Haram al-Qurasyi, beliau berkata: “Saya mendengar asy-Syafi’i mengatakan pada firman Allah SWT:  “Sekali-kali tidak, sesungguhnya mereka pada hari itu benar-benar terhalang dari (melihat) Rabb mereka.”
(Muthaffifin/83 ayat 15)
ini adalah dalil bahawa para waliNya melihatNya pada hari Kiamat.[9] (2/387).

Sikap Imam Syafi’i Terhadap Syi’ah

عَنْ يُوْنُسِ بْنِ عَبْد الأَعْلِى يَقُوْلُ : سَمِعْتُ الشَّافِعِي إِذَا ذُكِرَ الرَّافِضَةُ عَابَهُمْ أَشَّدَّ الْعَيْبِ فَيَقُوْلُ شَرَّ عِصَابَةِ

Daripada Yunus bin Abdila’la, beliau berkata: Saya telah mendengar asy-Syafi’i, apabila disebut nama Syi’ah Rafidhah, maka ia mencelanya dengan sangat keras, dan berkata: “Kelompok terjelek.” [10]. (2/486).

لَمْ أَرَ أَحَدًا أَشْهَد بِالزُّوْرِ مِنَ الرَّافِضَةِ

“Saya belum melihat seorangpun yang paling banyak bersaksi palsu daripada Syi’ah Rafidhah.” [11]. (2/486).

قَالَ الشَّافَعِيُّ فِيْ الرَّافِضَةِ يَحْضُرُ الْوَقِعَةِ : لاَ يُعْطَى مِنَ الْفَيْءِ شَيْئًا لأَنَّ اللهَ تَعَالَى ذَكَرَ آيَةَ الْفَيْءِ ثُمَّ قَالَ : جَاءُوا مِنْ بَعْدِهِمْ يَقُولُونَ رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ فَمَنْ لَمْ يَقُلْ بِهَا لَمْ يَسْتَحِقَّ

Asy-Syafi’i berkata tentang seorang Syi’ah Rafidhah yang ikut berperang: “Tidak diberi sedikit pun dari harta rampasan perang, kerana Allah SWT menyampaikan ayat fa’i (harta rampasan perang), kemudian menyatakan: Dan orang-orang yang datang sesudah mereka (Muhajirin dan Anshar), mereka berdoa: “Ya Rabb kami, beri ampunlah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami.”
(Surah al-Hasyr/59 ayat 10)

Maka barangsiapa yang tidak menyatakan demikian, tentunya tidak berhak (mendapatkan bahagian fa’i) [12]. (2/487).

Sikap Imam Syafi’i Terhadap Shufiyah (Tashawwuf)

لَوْ أَنَّ رَجُلاً تَصَوَّفَ مِنْ أَوَّلِ النَّهَارِ لَمْ يَأْتِ عَلَيْهِ الظُّهْرُ إِلاَّ وَجَدْتُه أَحْمَقُ

“Seandainya seorang menjadi sufi (bertasawwuf) di pagi hari, nescaya sebelum datang waktu Zuhur, engkau dapati ia, kecuali menjadi orang bodoh.” [13]. (2/503).

مَا رَأَيْتُ صُوْفِيًّا عَاقِلاً قَطْ إِلاَّ مُسْلِم الْخَوَاص

Saya, sama sekali tidak mendapatkan seorang sufi berakal, kecuali Muslim al-Khawash. [14]. (2/503).

أُسَسُ التَّصَوُّفِ الْكَسَلُ

Asas tasawwuf adalah kemalasan. [15]. (2/504).

لاَ يَكُوْنُ الصُّوْفِيْ صُوْفِيًّا حَتَّى يَكُوْنَ فِيْهِ أَرْبَعُ خِصَالٍ : كَسُوْلٌ , أَكُوْلٌ, شُؤُوْمٌ , كَثِيْرُ الفُضُوْلِ

Tidaklah seorang sufi menjadi sufi, hingga memiliki empat sifat: malas, suka makan, sering merasa sial, dan banyak berbuat sia-sia. [16]. (2/504).

Demikian, sebagian pernyataan dan sikap beliau, agar diketahui bagaimana seharusnya mengikuti beliau dengan benar. Semoga bermanfaat.
[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 01/Tahun XII/1429/2008M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Km.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]

Footnote
[1]. Syarah Muslim 2/666
[2]. al Umm 1/277 dengan sedikit perubahan
[3]. al Umm 1/278
[4]. al I’tiqad karya Imam al Baihaqiy
[5]. Manaqibus Syafi’i, karya Imam al Baihaqiy 1/415
[6]. al Umm 7/61
[7]. ar Risalah 12-13
[8]. Ahkamul Qur’an 2/180-181
[9]. al Manaqib dan I’tiqad 1/420
[10]. al Manaqib, karya al Baihaqiy 1/468
[11]. Adabus Syafi’i, hlm. 187, al Manaqib karya al Baihaqiy 1/468 dan Sunan al Kubra 10/208
[12]. at Thabaqat 2/117
[13]. al Manaqib lil Baihaqiy 2/207
[14]. al Manaqib lil Baihaqiy 2/207
[15]. al Hilyah 9/136-137
[16]. Manaqib lil Baihaqiy 2/207
Sumber: https://almanhaj.or.id/3342-pernyataan-imam-syafii-dalam-ma…

Jumaat, 25 Mac 2016

R 100 : KISAH SEBIJI TEMBIKAI


Pada suatu hari, seorang ahli Sufi yang masyhur bernama Syaqiq Al-Balkhi telah membeli sebiji tembikai. Kemudian dia membawa tembikai itu pulang dan diberikan kepada isterinya.
Apabila isterinya membelah tembikai itu untuk dimakan, ternyata buah ternbikai itu tidak elok, maka marah-marahlah isteri Syaqiq dengan keadaan tersebut.
Maka bertanyalah Syaqiq kepada isterinya: “Kepada siapakah engkau tujukan marahmu itu?
Adakah kepada penjual, pembeli, penanam, atau Pencipta buah tembikai itu?” Terdiam isterinya mendengar pertanyaan tersebut.
Kemudian Syaqiq teruskan lagi kata-katanya: “Adapun si penjual, sudah tentu mahu jualannya terdiri daripada barangan yang terbaik. Adapun si pembeli juga sudah tentu mahu beli barang yang terbaik juga. Bahkan si penanam juga sudah tentu berharap hasil tanamannya yang terbaik juga.
Maka ternyatalah marahmu ini engkau tujukan kepada Pencipta buah tembikai ini. Maka bertaqwalah engkau kepada ALLAH SUBHANAHU WA TAALA dan redhalah dengan segala ketentuanNya.”

Maka menangislah isteri Syaqiq. Lalu bertaubat dan iapun redhalah dengan apa yang telah ditentukan oleh ALLAH SUBHANAHU WA TAALA.

Sabtu, 10 Januari 2015

R 99 : KELAZATAN IMAN


Daripada Saidina Al-Abbas ibn Abdul Muttalib ra, beliau berkata, bahawasanya: “Saya mendengar RASULULLAH SAW bersabda (yang bermaksud) :

“Seseorang akan merasai kelazatan iman, jika dia meredhai bahawa ALLAH sebagai Rabbnya, dan jika meredhai bahawa Islam ialah agamanya, dan meredhai bahawa MUHAMMAD  ialah seorang Nabi (ALLAH).”

Hadith riyawat Imam Ahmad bin Hanbal ra dalam musnadnya, Imam Muslim ra, dan Imam Ar-Rifa’ie ra dalam buku “Halah Ahl Haqiqah Ma’a Allah.
Telah berkata Imam Ahmad Ar-Rifa’ie dalam buku beliau “Halah Ahl Haqiqah Ma’a ALLAH”: Zauq (perasaan dan kelazatan) tersebut tumbuh dari sifat redha, (adapun redha tersebut) ialah suatu makrifat (ilmu dan pengenalan) tentang ALLAH SUBHANAHU WA TAALA. Makrifat (mengenal ALLAH SUBHANAHU WA TAALA) ialah cahaya yang diletakan oleh ALLAH SUBHANAHU WA TAALA di dalam hati seseorang yang dikasihiNya dari kalangan para hambaNya. Tiada satupun perkara yang lebih mulia dan agung dari cahaya tersebut (jika dibandingkan dengan nikmat-nikmat ALLAH SUBHANAHU WA TAALA yang lain kepada para hambaNya). Hakikat Makrifat (mengenal ALLAH SUBHANAHU WA TAALA) ialah kehidupan hati dengan Tuhan yang Maha Menghidupkan seperti firman ALLAH SUBHANAHU WA TAALA yang bermaksud :

“Tidakkah jika seseorang itu mati, maka kami hidupkannya…”
(Surah 6  AL AN'AAM : ayat 122)

Imam Ar-Rifa’ie seterusnya berkata lagi :

“Sesiapa yang telah mati nafsunya, maka dunianya akan menjauhinya, dan sesiapa yang mati hatinya, maka ALLAH SUBHANAHU WA TAALA akan jauh darinya.”

Sheikh Ar-Rifa’ie berkata juga:

“Sesiapa yang melihat kepada ALLAH SUBHANAHU WA TAALA (menghalakan pandangan mata hatinya menghadap ALLAH SUBHANAHU WA TAALA), tidak akan melihat kepada dunia, dan tidak pula melihat kepada akhirat. Mentari hati seseorang Arif (orang yang telahpun mengenal ALLAH SUBHANAHU WA TAALA), lebih bercahaya dari mentari di siang hari…”

Alfaqir yang hina, menambah dengan bantuanNya :
Maksud dari perkataan As-Sheikh, bahawa,

“Sesiapa yang melihat kepada ALLAH SUBHANAHU WA TAALA. ialah seseorang itu mula menghalakan seluruh tujuan hidupnya, seluruh tujuan amal perbuatannya, kepada ALLAH SUBHANAHU WA TAALA. Setiap perkara yang dilakukannya, setiap masa yang digunakannya dari usianya, dan seluruh gerak diamnya, hanya kerana ALLAH SUBHANAHU WA TAALA, di bawah payungan rahmat ALLAH SWT, di dalam konsep kehambaan yang mutlak kepada ALLAH SUBHANAHU WA TAALA.”

Ini difahami oleh kaum sufi dengan istilah “At-Tawajjuh”. Hal ini merupakan intipati dari makna firman ALLAH SUBHANAHU WA TAALA yang bermaksud :

“Katakanlah bahawasanya: solatku, ibadahku, kehidupanku dan kematianku hanyalah kerana ALLAH.”

Antara hadith yang turut menjelaskan tentang perkara ini ialah hadith Jibril as, dalam perbahasan ihsan, di mana RASULULLAH SAW menjelaskan bahawa: “Ihsan ialah, kamu menyembah ALLAH SUBHANAHU WA TAALA sepertimana kamu melihatNya. Kalaulah kamu tidak melihatNya sekalipun, sesungguhnya Dia melihat kamu.”

Ramai di kalangan para ulama sufi yang membincangkan hadith ini dari sudut batinnya, di dalam buku-buku mereka dengan perbahasan-perbahasan zauqiyah, namun cukuplah di sini, kita kutip salah satu kefahaman ringkas dan mudah dari hadith ini iaitu, berkenaan dengan musyahadah dan muroqobah.

Musyahadah (penyaksian) ialah suatu keadaan hudur Al-Qalb fi Hadratillah atau kehadiran hati yang sentiasa melihat bahawasanya ALLAH SUBHANAHU WA TAALA melihatnya. Kehadiran hati tersebut merupakan lawan bagi kelalaian.

Muroqobah (pengawasan) merupakan peringkat di bawah peringkat musyahadah, dan ianya merupakan peringkat asas sebelum sampai kepada peringkat musyahadah. Muroqobah bererti, pengawasan diri dan sentiasa menanamkan dan mengingatkan diri kita, bahawa ALLAH SUBHANAHU WA TAALA sentiasa melihat dan memerhatikan setiap gerak geri kita.

Demikianlah sedikit sebanyak tentang hadith tersebut.
Seterusnya, apabila kita sudah mengakui bahawasanya, seluruh amalan dan kehidupan kita serta kematian kita adalah kerana ALLAH SUBHANAHU WA TAALA, bererti kita juga telah mengakui bahawa, apa yang sebenarnya dicari oleh kita di dalam kehidupan kita ialah redha daripada ALLAH SUBHANAHU WA TAALA yang mana, kepadaNyalah kita mempersembahkan dan memperbentangkan amalan kita kepadaNya.

Apabila kita dapati bahawa, makna dan tujuan kita hidup di dunia ini tidak lebih daripada untuk “hidup dan mati kerana ALLAH SUBHANAHU WA TAALA”, maka tergamakkah kita mempersembahkan dan memperbentangkan amalan-amalan kita kepada selain daripadaNya?

Sudah pasti, apabila makna “hidup dan matiku kerana ALLAH SUBHANAHU WA TAALA”, sudah terealisasi dan tersemat erat di dalam jiwa seseorang, sudah tentu dia tidak lagi mengadapkan tujuan kehidupannya untuk mencapai selain dari redha dan rahmat daripada ALLAH SUBHANAHU WA TAALA.
Makna “kehidupan dan kematianku kerana ALLAH SUBHANAHU WA TAALA.” juga membawa pelbagai maksud tauhid yang lain seperti “kehidupan dan kematianku untuk ALLAH SUBHANAHU WA TAALA.”

“Kehidupan dan kematianku dengan kehendak ALLAH SUBHANAHU WA TAALA.” dan “kehidupan dan kematianku daripada ALLAH SUBHANAHU WA TAALA”.
Pernyataan “kehidupan dan kematianku daripada ALLAH SUBHANAHU WA TAALA.” merupakan pintu untuk mencapai kefahaman-kefahaman yang lain.

Apabila seseorang melihat dalam dirinya sendiri, dia pasti merenung, dari manakah datangnya diriku ini? Kalau dari ibu dan bapa, bererti mereka berkuasa dalam menjadikanku. Tetapi, mereka juga akhirnya mati seperti ibubapa mereka (datuk nenekku), menunjukkan bahawa, mereka juga tidak berkuasa terhadap diri mereka sendiri, bagaimana mungkin pula berkuasa terhadap diriku ini? Akhirnya, pemikirannya yang waras akan serta-merta menunjukkan kepada natijah iaitu, di sana, adanya satu Tuhan yang berkuasa ke atas segala sesuatu, dan dari Dialah kita wujud.

Apabila sudah memahami bahawasanya: “kehidupan dan kematianku dari Dia yang Maha Berkuasa” tersebut, kita juga seterusnya bermuhasabah diri di hadapan ajaran-ajaran agama Islam untuk meningkatkan kefahaman kita tentang diri kita ini.

Apabila kita selami makna dari roh ajaran Islam itu sendiri, kita fahami bahawa, tujuan hidup dan mati kita adalah untuk mengabdikan diri kepadaNya berdasarkan firman ALLAH SUBHANAHU WA TAALA yang bermaksud :

“Tidak aku jadikan jin dan manusia melainkan untuk beribadah (kepadaKu).”

Dari kefahaman ini, kita seolah-olah dilintasi oleh hembusan syaitan yang mempersoalkan bahawa: “Mengapa kita perlu beribadah kepadaNya, sedangkan kita diberi kebebasan untuk memilih apa yang kita suka?” Jadi, nafsu turut meronta-ronta untuk tidak tunduk kepada perintah Samawi tersebut, seraya berkata: “Kalau anda ikut agama, untuk beribadah kepadaNya, tentu anda akan keletihan. Pilihlah hala tuju yang menyenangkan anda, dengan tidak patuh kepadaNya.”

Dalam menangkis pelbagai hasutan syaitan dan tipu daya nafsu, anda sudah tentu terfikir tentang suatu hakikat yang lebih besar dari pelbagai tipu daya tersebut. Ia turut tersemat di dalam kata-kata Sheikhuna (guru kami) Sheikh Yusuf Al-Hasani:

“Sesiapa yang keluar ke dunia (lahir ke dunia) bukan kerana pilihan dirinya sendiri, pasti akan keluar dari dunia bukan kerana pilihannya sendiri juga. Oleh yang demikian, di mana pula letaknya kebebasan kehendak kita di antara kedua-duanya (antara kamu hidup bukan kerana pilihanmu dan kamu mati bukan kerana pilihanmu).”

Pernyataan Sidi Yusuf Al-Hasani cuba menjelaskan bahawa :
Kita lahir ke dunia bukan kerana kita yang memilih untuk hidup di dunia ini.
Kita juga akan mati bukan kerana kita yang memilih untuk meninggalkan dunia ini.
Ajal dan usia sememangnya di tangan ALLAH SUBHANAHU WA TAALA. Berapa ramai orang yang berkahwin (sebab untuk mendapatkan anak), tetapi tidak mempunyai anak. Berapa ramai yang cuba membunuh diri (sebab untuk menghilangkan nyawa), tetapi tidak berjaya untuk mati.

Ini menunjukkan bahawa, kita sebenarnya (bahkan seluruh kewujudan), sebenarnya bergerak di bawah kehendak, izin dan kekuasaan ALLAH SUBHANAHU WA TAALA. Oleh yang demikian, walaupun kita diberi kebebasan majazi untuk memilih, ianya tidak terlepas dari kekuasaan dan kehendak ALLAH SUBHANAHU WA TAALA, kerana kita sudah tentu tidak mampu membuat sebarang pemilihan melainkan dengan izin ALLAH SUBHANAHU WA TAALA. Dari izin ALLAH SUBHANAHU WA TAALA tersebut, yang merupakan dari kehendakNyalah, kita dapat membuat pemilihan, bahkan kita sendiri dapat saksikan bahawa, bukan semua yang kita mahukan, kita akan mendapatinya.

Realiti ini menunjukkan bahawa, kita yang diberi peluang untuk memilih dengan izin ALLAH SUBHANAHU WA TAALA. ini, tidak akan memilih melainkan untuk taat kepadaNya, dengan keinginan kita sendiri. ALLAH SUBHANAHU WA TAALA boleh memaksa seluruh manusia taat dan patuh kepadaNya, dengan kehendak dan kekuasaanNya, tetapi dengan ilmu dan Lutf (kelembutan) ALLAH SUBHANAHU WA TAALA, yang menyembunyikan hikmah-hikmah di sebalik perbuatanNya, Dia membiarkan seluruh manusia dengan kebebasan memilih, yang merupakan pemberian dariNya, untuk menguji yang manakah di antara mereka yang akan mentaatiNya dengan kerelaan dan yang mana akan mengkufuri nikmat “kebebasan memilih” tersebut dengan kerelaannya juga.

Oleh yang demikian, ALLAH SUBHANAHU WA TAALA menjanjikan nikmat syurga kepada para hambaNya yang taat, untuk menzahirkan kasih-sayangNya kepada para hambaNya dan untuk menyembunyikan cintaNya kepada para hambaNya, dari musuh-musuh para kekasihNya.

Demikian juga, ALLAH SUBHANAHU WA TAALA menjanjikan siksaan neraka kepada mereka yang ingkar dalam mentaatiNya, untuk menzahirkan kebesaran dan keagunganNya serta memberi peringatan kepada manusia sebelum mereka mati, supaya kembali kepadaNya dengan ketaatan, selagi ada hayat.

Dari sinilah, jika kita memahami bahawa, hidup dan mati kitapun daripadaNya, mengapa tidak kita jadikan seluruh hidup dan mati kita untukNya dan beramal di dalam kehidupan kita semata-mata keranaNya. Pilihan untuk beramal keranaNya dan metaatiNya keranaNya semata-mata merupakan sebaik-baik pilihan, kerana dengan memilih sebaliknya (iaitu untuk menderhakai ALLAH SUBHANAHU WA TAALA), ia sebenarnya mengundang kepada kebencian ALLAH SUBHANAHU WA TAALA dan tidak membawa sebarang kebaikan bagi kita.

Apabila seseorang sudah menghayati bahawa, dirinya hidup dengan izin dan kuasa ALLAH SUBHANAHU WA TAALA, dia akan menghayati bahawa, dia juga perlu menjadikan seluruh hidupnya untuk ALLAH SUBHANAHU WA TAALA, kerana itulah tujuan ALLAH SUBHANAHU WA TAALA menciptakan dirinya.

Sheikhuna (guru kami) Sidi Yusuf Al-Hasani menegaskan makna ini dengan katanya :

“Tauhid ialah, kamu jadikan diri kamu hanya untuk Dia yang Maha Esa semata-mata.”

Dari sinilah, apabila kamu melakukan sesuatu, kerana diri kamu untuk ALLAH SUBHANAHU WA TAALA, maka kamu tidak akan melakukan sesuatu melainkan keranaNya, kerana kamu ialah, semata-mata hanya untukNya.

Apabila ia menyerap ke dalam hati seseorang, maka, di sinilah timbulnya ikhlas, di mana, apabila dia melakukan kebaikan, beribadah kepada ALLAH SUBHANAHU WA TAALA, menolong sesama manusia, dan sebagainya, dia tidak akan melakukannya melainkan kerana ALLAH SUBHANAHU WA TAALA.

Apabila nilai-nilai kehambaan ini kembang mekar di dalam diri seseorang hamba, maka keharuman “redhanya kepada ALLAH SUBHANAHU WA TAALA sebagai Tuhannya.” akan menyelubungi seluruh kehidupannya. Pada ketika itulah, keredhaannya kepada ALLAH SUBHANAHU WA TAALA sebagai Tuhannya akan berkembang sehingga dia redha dengan seluruh apa yang diredhai oleh ALLAH SUBHANAHU WA TAALA dan meredhai seluruh ketetapan hukum dan ketentuan ALLAH SUBHANAHU WA TAALA. Lahirlah dari perasaan tersebut, keredhaannya kepada Islam sebagai agamanya, dan RASULULLAH SAW sebagai rasul dan kekasih ALLAH SUBHANAHU WA TAALA.

Dari sinilah timbulnya benih-benih makrifat yang dimaksudkan di dalam hadith tersebut sebagai “kelazatan iman.” Bukankah kelazatan tidak dapat diterjemahkan ke dalam bahasa perkataan? Bukankah sesuatu kelazatan itu tidak dapat diketahui dan difahami melainkan orang yang pernah merasakannya sahaja. Anda tidak akan tahu kelazatan sesuatu makanan melainkan anda sendiri pernah merasakannya. Ketahuilah bahawasanya, kefahaman kita terhadap hakikat sesuatu merupakan makanan rohani kita, dan sebaik-baik makanan rohani ialah, kefahaman kita terhadap ALLAH SUBHANAHU WA TAALA yang seterusnya membawa kepada makrifatullah (mengenal ALLAH SUBHANAHU WA TAALA).

Begitulah seperti kata-kata Sheikhuna Sisi Yusuf Al-Hasani :

“Rezeki rohani ialah rezeki yang paling istimewa. Ketahuilah bahawasanya, rezeki rohani ialah kefahaman kita mengenai ALLAH SUBHANAHU WA TAALA.”

Oleh yang demikian, tiada suatu nikmatpun yang diberikan oleh ALLAH SUBHANAHU WA TAALA kepada seseorang hambaNya, melebihi kenikmatan takkala mengenali diriNya. Ini kerana, makrifatullah (mengenal ALLAH SUBHANAHU WA TAALA) ialah nikmat yang paling tinggi nilainya bagi seseorang hamba, kerana ia merupakan roh sesuatu kehambaan seseorang kepada ALLAH SUBHANAHU WA TAALA.

Diriwayatkan bahawasanya, Yahya bin Mu’az r.a. (m 258H) pernah berkata:

“Makrifat ialah kehampiran hati dengan yang Maha Dekat (ALLAH SUBHANAHU WA TAALA), kewaspadaan roh di sisi Kekasihnya (ALLAH SUBHANAHU WA TAALA), dan menyendirikan hatinya dari selain ALLAH SUBHANAHU WA TAALA dan menjadikan ia hanya untuk ALLAH SUBHANAHU WA TAALA yang Maha Pemerintah lagi Maha Menjawab segala permintaan.”

Dari makna inilah, kita dapati bahawa, seseorang yang sudah mengenali ALLAH SUBHANAHU WA TAALA, sudah mengenali kehinaan diri di hadapan keagunganNya, dan sudah mengenali kehinaan dunia di sisi ALLAH SUBHANAHU WA TAALA, sudah tentu tidak lagi memalingkan dirinya kepada dunia yang lebih hina dari dirinya, dan sebaliknya memalingkan seluruh tujuan kehidupannya untuk ALLAH SUBHANAHU WA TAALA.

Maka, pada ketika itu, dunia sedikitpun tidak mampu lagi untuk menggodanya, dengan perhiasan-perhiasan dan kecantikannya, kerana di matanya (hamba tersebut), hanya ada ALLAH SUBHANAHU WA TAALA, yang Maha Agung lagi Maha Cantik.

Jadi, sesiapa yang jujur dalam mengharapkan ALLAH SUBHANAHU WA TAALA, sudah pasti tidak akan memalingkan dirinya dengan mengadap dan mengemis di hadapan dunia yang fana’ ini, seperi kata Imam Ja’far bin As-Sodiq r.a. (m 148H).


Imam Al-Rifa’ie ra berkata :

Makrifah itu seperti pohon yang mempunyai tiga ranting utama.
Ranting Pertama: Tauhid
Ranting Kedua: Tajrid
Ranting Ketiga: Tafrid

Tauhid ialah pengakuan kita bahawa tiada Tuhan melainkan ALLAH SUBHANAHU WA TAALA. Ia merupakan langkah melenyapkan seteru ALLAH SUBHANAHU WA TAALA dari diri kita.
Tajrid pula ialah berkaitan dengan keikhlasan kita kepada ALLAH SUBHANAHU WA TAALA, dengan memotong segala asbab. Dalam erti kata yang lain, tidak memandang dan bergantung kepada asbab (sebab-sebab) tetapi bergantung harap kepada ALLAH SUBHANAHU WA TAALA semata-mata.
Adapun Tafrid ialah memutuskan seluruh keterpautan hati secara keseluruhannya dan hanya melihat dan berpaut kepada ALLAH SUBHANAHU WA TAALA pada setiap keadaan. Ia merupakan suatu yang amat tinggi. Tafrid juga bermakna, berhubungan dengan ALLAH SUBHANAHU WA TAALA tanpa sebuah perjalanan, tanpa sesuatupun hatta tanpa selain dariNya. Ini lebih menjurus kepada perbahasan Al-Fana’ dan Al-Baqo’ dalam istilah kaum sufi.

Imam Ar-Rifa’ie seterusnya menjelaskan bahawa :

“Jalan untuk mencapainya (makrifat) ada lima iaitu :

Pertama : Takut kepada ALLAH SUBHANAHU WA TAALA dalam keadaan sendirian ataupun di khalayak awam.

Kedua : Ketaatan mutlak dalam kehambaan (kepatuhan dengan melaksanakan syariat ALLAH SUBHANAHU WA TAALA)

Ketiga :  Memutuskan sebarang keterpautan hati melainkan hanya berpaut kepadaNya dan menghadapNya secara keseluruhan.

Keempat :  Ikhlas dalam perkataan, perbuatan dan niat.

Kelima :  Berwaspada dan berjaga dalam setiap lintasan dan setiap pergerakan.

Kesimpulan dari perbincangan berkisar tentang hadith yang mulia tersebut, sesungguhnya makrifatullah itu merupakan suatu kalazatan yang dirasai oleh hati seseorang hamba ALLAH SUBHANAHU WA TAALA. Kelazatan tersebut sebenarnya merupakan natijah dari kejujuran nilai-nilai kehambaan seseorang kepada ALLAH SUBHANAHU WA TAALA dalam menunaikan perintah ALLAH SUBHANAHU WA TAALA dan redha terhadap segala apa yang datang dari ALLAH SUBHANAHU WA TAALA.

Semoga ALLAH SUBHANAHU WA TAALA menganugerahkan kepada kita sifat redha tersebut supaya dengannya, kita terbang menuju redhaNya di laman kemurahan dan rahmatNya.

Aamiin…

Ahad, 27 Oktober 2013

M 9 : MENGAGUNGKAN SUNNAH BUAH NYATA AKIDAH YANG BENAR



(ditulis oleh: Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman)

Islam Datang Dalam Keadaan Asing

Kita telah mengetahui bahawa agama yang benar adalah Islam, yang telah disempurnakan oleh ALLAH SUBHANAHU WA TAALA sekaligus penyempurna agama-agama sebelumnya. Sebagai agama penutup, ALLAH SUBHANAHU WA TAALA telah menurunkannya melalui Nabi dan Rasul terakhir, MUHAMMAD BIN ABDULLAH, di tengah-tengah rosaknya manusia, agama dan cara beragama mereka. Itulah alam jahiliyah. Mereka menghalalkan, Islam datang mengharamkan. Begitu pula sebaliknya, mereka mengharamkan, Islam datang menghalalkan.

Islam datang kepada mereka sebagai sebuah agama asing yang jelas-jelas bertolak belakang dengan apa yang selama ini mereka anut dan peluk. Sekaligus sebagai ancaman kekuatan yang akan meruntuhkan singgasana kebatilan yang langsung dipelopori dan dipimpin oleh Iblis laknatullah ‘alaihi. Kerana keasingan itulah, mereka menolak, menentang, dan memusuhinya.

Akhirnya, mereka menghimpun kekuatan, menyusun dan merancang tipudaya dan muslihat. Berkecamuklah pertarungan antara kebenaran dan kebatilan. Ketakutan dan kengerian menyelimuti kehidupan. Para pembela kebenaran pantang mundur untuk mencari kemuliaan hidup di dunia dan di akhirat. Sebaliknya, musuh-musuh kebenaran makin tersadar akan kekalahan dan kegagalan mereka. Hal ini terbukti dengan turunnya janji-janji ALLAH SUBHANAHU WA TAALA untuk menyempurnakan kebenaran, wahyu yang diturunkan oleh ALLAH SUBHANAHU WA TAALA sebagai simbol kerugian dan kegagalan mereka. ALLAH SUBHANAHU WA TAALA juga membuktikan kegagalan mereka dengan masuk Islamnya sederetan hambaNya.

ALLAH SUBHANAHU WA TAALA mengisyaratkan hal ini di banyak tempat dalam al Quran:

“Mereka ingin memadamkan cahaya ALLAH dengan mulut (tipudaya) mereka, tetapi ALLAH (justeru) menyempurnakan cahayaNya, walaupun orang-orang kafir membencinya. Dia-lah yang mengutus RasulNya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar dia memenangkannya di atas segala agama, meskipun orang musyrik membenci.”
(Ash-Shaf: 8—9)

“Mereka berkehendak memadamkan cahaya (agama) ALLAH dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka dan ALLAH tidak menghendaki selain menyempurnakan cahayanya, walaupun orang-orang yang kafir tidak menyukai. Dialah yang telah mengutus RasulNya (dengan membawa) petunjuk (al Quran) dan agama yang benar untuk dimenangkanNya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrikin tidak menyukai.” 
(At-Taubah: 32—33)


Dan katakanlah: “Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap.” Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap. Dan Kami turunkan dari al Quran sesuatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian.” 
(Al-Isra: 81—82)


“Sebenarnya Kami melontarkan yang haq atas yang batil lalu yang haq itu menghancurkannya, maka dengan serta-merta yang batil itu lenyap, dan kecelakaanlah bagimu disebabkan kamu menyifati (ALLAH dengan sifat-sifat yang tidak layak bagiNya).” 
(Al-Anbiya: 18)


Keasingan Islam akan terus berlangsung hingga datangnya keputusan ALLAH SUBHANAHU WA TAALA dan diangkatnya agama ini dalam kondisi asing pula. Diriwayatkan dari Abu Hurairah, bahawa RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASSALLAM bersabda:

بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ



“Islam datang dalam keadaan asing dan akan kembali dalam keadaan asing pula. Maka berbahagialah bagi orang yang asing.” 
(HR. Muslim no. 208)

Dalam riwayat yang lain, RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASSALLAM menjelaskan siapa yang dimaksud dengan orang-orang yang dikatakan asing.


الَّذِينَ يَصْلُحُونَ إِذَا فَسَدَ النَّاسُ


“(Mereka adalah) orang-orang yang baik ketika manusia ini rosak.” 
(Lihat Silsilah Ash-Shahihah no. 1273)




نَاسٌ صَالِحُونَ قَلِيْلٌ فِي نَاسٍ سُوْءٍ كَثِيرٍ، مَنْ يَعْصِيهِمْ أَكْثَرُ مِمَّنْ يُطِيعُهُمْ



“(Mereka adalah) orang-orang soleh dalam jumlah yang sedikit di tengah-tengah manusia jahat yang sangat banyak. Orang yang memaksiati mereka lebih banyak daripada yang menaatinya.” (Lihat Silsilah Ash-Shahihah no. 1619)

Lebih lanjut, Ibnul Qayyim menerangkan bentuk keasingan ini, “Seorang mukmin asing dalam urusan agamanya kerana rosaknya agama manusia (saat itu). Dia asing dalam berpegang (dengan As-Sunnah) kerana umat ini berpegang dengan kebidaahan. Dia asing dalam keyakinannya kerana rosaknya bentuk-bentuk keyakinan mereka. Dia juga asing dalam tata cara solatnya kerana buruknya cara solat manusia. Dia asing pula dalam jalan yang ditempuhnya kerana sesatnya jalan manusia. Dia asing dalam mengelompokkan dirinya kerana umat ini menyelisihinya dalam hal ini. Dia asing dalam pergaulannya kerana dia bergaul dengan mereka dalam hal yang tidak diinginkan oleh hawa nafsu mereka. Kesimpulannya, dia asing dalam hal dunia dan akhiratnya.

Dia tidak menemukan seorang penolongpun dari umatnya. Dia tumbuh sebagai orang alim di tengah-tengah orang-orang jahil, pengikut As Sunnah di tengah-tengah pengikut bidaah, sebagai da’i kepada ALLAH SUBHANAHU WA TAALA dan RasulNya di tengah-tengah para penyeru kepada hawa nafsu dan kebidaahan, penyeru kepada yang makruf di tengah kaum yang (mengubah) makruf menjadi mungkar dan yang mungkar menjadi makruf.” (Lihat Madarijus Salikin 3/199)

Islam Adalah Sunnah Dan Sunnah Adalah Islam

‘Islam adalah sunnah dan sunnah adalah Islam’ merupakan ucapan ulama salaf umat ini. Ucapan ini menunjukkan bahawa Islam tidak boleh dilepaskan dari As Sunnah, begitu pula sebaliknya. Oleh kerana itu, tatkala seseorang menghinakan As Sunnah bererti dia telah menghinakan Islam, sedangkan yang memuliakannya bererti dia telah memuliakan Islam.

Al-Imam Al-Barbahari mengatakan:

اعْلَمْ أَنَّ الْإِسْلَامَ هُوَ السُّنَّةُ وَالسُّنَّةَ هِيَ الْإِسْلَامُ، وَلَا يَقُومُ أَحَدُهُمَا إِلَّا بِالْآخَرِ، فَمِنَ السُّنَّةِ لُزُوْمُ الْجَمَاعَةِ وَمَنْ رَغِبَ غَيْرَ الْجَمَاعَةِ وَفَارَقَهَا فَقَدْ خَلَعَ رِبْقَةَ الْإِسْلَامَ مِنْ عُنُقِهِ وَكَانَ ضَالًّا مُضِلًّا

“Ketahuilah bahawa Islam adalah As Sunnah dan As Sunnah adalah Islam, salah satunya tidak akan boleh tegak melainkan dengan yang lainnya. Termasuk As Sunnah adalah konsekuen dengan Al Jama’ah. Barangsiapa mencari yang selain Al Jama’ah serta memisahkan diri darinya, sungguh dia telah mencabut kalung keislamannya dari lehernya, serta sesat dan menyesatkan.”

As Sunnah yang kita maksudkan di sini bukan sunnah yang merupakan sinonim (persamaan kata) dari kata mustahab, mandub, yang merupakan lawan makruh. Bukan pula yang kita maksudkan di sini dengan kata sunnah adalah pendamping al Quran seperti ucapan mereka: “Al Quran dan As Sunnah.” Tetapi, yang kita maksudkan di sini adalah petunjuk RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASSALLAM dan jalan yang beliau saw tempuh. Oleh kerana itu, As Sunnah menurut definisi ini mencakup hal yang wajib, yang sunnah, dan segala bentuk keyakinan, ibadah, muamalah, serta akhlak.

Ulama salaf mengatakan, “Yang dimaksud dengan As Sunnah adalah beramal dengan al Quran dan As Sunnah serta mengikuti jalan salafus saleh dan mengikuti atsar.” (Al-Hujjah fi Bayanil Mahajjah 2/ 248)

Dengan demikian, benarlah jika kita mengatakan bahawa Islam adalah As Sunnah dan As Sunnah adalah Islam dengan makna As Sunnah di atas.


Mengagungkan As Sunnah Adalah Mengagungkan Islam

Kita telah meyakini bahawa al Quran dan As Sunnah merupakan wahyu daripada ALLAH SUBHANAHU WA TAALA yang menjadi landasan dalam beragama. Seseorang yang berakidah bersih akan menjunjung wahyu tersebut setinggi-tingginya. Dia akan meletakkannya pada tempat yang tinggi di dalam hatinya, kerana dia mengetahui bahawa ALLAH SUBHANAHU WA TAALA akan mengangkat derjat seseorang sesuai dengan kadar berpegang teguhnya dia dengan tuntunan tersebut. RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASSALLAM sendiri telah bersabda:

إِنَّ اللهَ يَرْفَعُ بِهَذَا الْكِتَابِ أَقْوَامًا وَيَضَعُ بِهِ آخَرِينَ


“Sesungguhnya ALLAH telah mengangkat suatu kaum dengan kitab ini dan telah merendahkan suatu kaum dengan kitab ini.” 
(HR. Muslim no. 1353 dari ‘Umar ibnul Khaththab )


Mereka mengetahui bahawa mengagungkan wahyu ALLAH SUBHANAHU WA TAALA merupakan kewajipan bagi setiap muslim sebagaimana dijelaskan dalam banyak dalil. Di antaranya:

“Dan apa yang datang dari Rasul kepadamu, maka ambillah dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada ALLAH. Sesungguhnya ALLAH amat keras hukumannya.”
(Al-Hasyr: 7)

“Maka hendaklah orang-orang yang menyalahi perintahNya takut akan ditimpa cubaan atau ditimpa azab yang pedih.” 
(An-Nur: 63)


“Barangsiapa menaati Rasul itu sesungguhnya ia telah menaati ALLAH dan barangsiapa yang berpaling (dari ketaatan itu), maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.” 
(An-Nisa: 80)

“Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan. Kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka suatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” 
(An-Nisa: 65)

Bentuk pengagungan terhadap sunnah RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASSALLAM banyak sekali. Di antaranya adalah mempelajari, mengamalkan segala perintah dan menjauhi segala larangan beliau, membela beliau dari segala celaan dan hinaan, juga menampakkan syiar beliau dan menyebarluaskannya. 
(Masa’il Furu’ fi Masa’il ‘Aqidah, 1/36)

Jika kita mencuba menggali dan membaca pengagungan terhadap sunnah yang dilakukan salaf umat ini nescaya akan tumbuh sifat kecemburuan pada diri kita sebagaimana yang ada pada diri mereka. Demikianlah setiap generasi ulama Islam. Mereka mengingkari dengan keras segala bentuk penyelisihan terhadap sunnah RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASSALLAM, sebagaimana Ibnu Wadhdhah, Ath-Thurthusyi, Abu Syamah, dan lainnya telah menuliskannya dalam karya-karya besar mereka. Al-Imam Sufyan ats-Tsauri t berkata, “Jika kamu berada di Syam, sebut-sebutlah manaqib (keutamaan) ‘Ali. Jika kamu berada di Kufah, sebut-sebutlah manaqib Abu Bakr dan ‘Umar.”

Keteladanan Ahli Tauhid dalam Mengagungkan Sunnah RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASSALLAM

Mereka adalah para mujahid agama dan telah meninggal di atas keistiqamahan dalam membela agama ini. Mereka adalah para ulama, generasi terbaik umat RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASSALLAM. Mereka menjadikan sabda RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASSALLAM :

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ


“Tidak dikatakan sempurna iman seseorang hingga aku lebih ia cintai daripada ayahnya, anaknya, dan manusia semuanya.”
(HR. Al-Bukhari no. 14 dan Muslim no. 62 dari sahabat Anas bin Malik )

sebagai pijakan mereka dalam melangkah. Mereka begitu taat dan mencintai beliau. Sunnah, ucapan, dan petunjuk beliau lebih mereka dahulukan daripada segala sesuatu. Ucapan beliau di hadapan mereka menjadi yang paling dikedepankan daripada ucapan manusia manapun. Mereka membela sunnah dan melindunginya.

Apabila mereka melihat seseorang menentang sunnah RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASSALLAM, tentu mereka akan mencela dan memperingatkan orang lain darinya. Mereka akan meninggalkannya, tidak berbicara dengannya, dan terkadang tidak mahu tinggal satu atap bersamanya. Mereka menjaga sunnah RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASSALLAM dari tipudaya orang-orang jahat dan musuh-musuh sunnah. Mereka tampil menegakkan nasihat di jalannya. Mereka adalah generasi sahabat RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASSALLAM.

Setelah mereka meninggal dunia, bukan bererti perjuangan menegakkan sunnah itu berakhir. Setelah mereka, datang generasi tabi’in yang berjalan di atas jalan mereka dalam membela sunnah RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASSALLAM. Inilah sederetan dari mereka.

Abu Bakr ash-Shiddiq

Beliau berkata:

لَسْتُ تَارِكًا شَيْئًا كَانَ رَسُولُ اللهِ n يَعْمَلُ بِهِ إِلَّا عَمِلْتُ بِهِ وَإِنِّي لَأَخْشَى إِنْ تَرَكْتُ شَيْئًا مِنْ أَمْرِهِ أَنْ أَزِيغَ



“Tidaklah saya meninggalkan sesuatupun yang telah dikerjakan oleh RASULULLAH, melainkan saya mengerjakannya juga. Jika saya tidak melakukannya, saya khuatir akan menyimpang.” 
(Al-Ibanah, Ibnu Baththah 1/246)


Abdullah bin Abbas

Beliau berkata:


يُوشِكُ أَنْ تَنْزِلَ عَلَيْكُمْ حِجِارَةٌ مِنَ السَّمَاءِ، أَقُولُ لَكُمْ: قَال النَّبِيُّ n، وَتَقُولُونَ: قاَلَ أَبُو بَكْرٍ وَعُمَرُ!؟



“Aku khuatir turun hujan batu dari langit terhadap kalian. Aku mengatakan, ‘Rasulullah bersabda demikian,’ dan kalian menyangkalnya dengan mengatakan, ‘Abu Bakar berkata demikian dan ‘Umar berkata demikian?” 
(Majmu’ Fatawa 26/50)



Abdullah bin Umar

Diriwayatkan oleh putranya, Salim, bahawa Ibnu Umar berkata, “Aku telah mendengar RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASSALLAM bersabda: “Jangan kalian larang isteri-isteri kalian ke masjid bila mereka meminta izin.”

Salim berkata, “Tiba-tiba Bilal bin Abdullah berkata, ‘Saya, demi ALLAH, akan melarang mereka.”

Salim melanjutkan, “Ibnu Umar lalu menghadap kepada Bilal dan mencercanya dengan cercaan yang sangat keras. Saya belum pernah mendengar beliau mencerca seperti itu sama sekali. Beliau berkata, ‘Saya memberitahu kamu dari RASULULLAH, lalu kamu mengatakan, Saya akan melarang mereka?” 
(HR. Muslim no. 135)

‘Ubadah bin Ash-Shamit

Diceritakan oleh Abu Makhariq, ‘Ubadah menyebutkan sebuah riwayat dari Rasulullah bahwa beliau melarang menukar dua dirham dengan satu dirham. Lalu seseorang mengatakan, “Saya berpendapat tidak mengapa, selama yadan bi yadin (secara kontan).” ‘Ubadah serta-merta berkata: “Saya mengatakan, ‘RASULULLAH bersabda demikian,’ dan engkau mengatakan, ‘Saya berpendapat tidak mengapa!’ Demi ALLAH, jangan sekali-kali aku bersamamu dalam satu atap.” 
(HR. Ibnu Majah dan Ad-Darimi, disahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albani)



Abu Darda’

Diceritakan oleh ‘Atha’ bin Yasar, seseorang menjual satu pecahan emas atau perak dengan sesuatu yang sejenis namun tidak sama timbangannya. Abu Darda’ lalu berkata kepadanya, “Aku mendengar RASULULLAH melarang cara seperti ini, kecuali bila timbangannya sama.” Orang tersebut menjawab, “Saya berpendapat hal ini tidak mengapa.” Abu Darda’ kemudian berkata lagi, “Siapa yang akan mencarikan alasan untukku bagi fulan? Aku menyampaikan kepadanya sabda RASULULLAH, lalu dia memberitahukanku tentang pendapatnya. Saya tidak akan menginjak daerah yang kamu berada padanya.” 
(Al-Ibanah, Ibnu Baththah hlm. 94)

Abu Sa’id al-Khudri

Al-A’raj menceritakan bahawa dia mendengar Abu Sa’id al-Khudri z berkata kepada seseorang, “Apakah engkau mendengarku bila aku sampaikan (hadits) daripada RASULULLAH, beliau bersabda, ‘Jangan kalian menukar dinar dengan dinar, dan dirham dengan dirham, kecuali harus sama, serta jangan kalian menjualnya dengan tidak kontan,’ lalu engkau berfatwa seperti ini? Demi Allah, jangan sampai ada yang menaungiku bersamamu kecuali masjid.” 
(Al-Ibanah, Ibnu Baththah hlm. 95)

Muhammad bin Sirin (tabi'in)

Qatadah ra menceritakan bahawa Ibnu Sirin ra menyampaikan hadits Nabi kepada seseorang. Orang tersebut lalu berkata, “Fulan berkata demikian dan demikian.” Ibnu Sirin lalu berkata, “Saya menyampaikan daripada RASULULLAH, lalu engkau mengatakan fulan berkata demikian demikian! Saya tidak akan mengajakmu berbicara selama-lamanya.” 
(Sunan Ad-Darimi no. 441)

Umar bin Abdul Aziz (tabi'in)

Beliau ra berkata:


لَا رَأْيَ لِأَحَدٍ مَعَ سُنَّةٍ سَنَّهَا رَسُولُ اللهِ n



“Tidak ada hukum akal bagi seseorang di hadapan sunnah yang datang dari RASULULLAH SAW.” 
(Al-Ibanah 1/246)



Abu Qilabah


إِذَا حَدَّثْتَ الرَّجُلَ بِالسُّنَّةِ فَقَالَ: دَعْنَا مِنْ هَذَا وَهَاتِ كِتَابَ اللهِ؛ فَاعْلَمْ أَنَّهُ ضَالٌّ



“Apabila kamu menyampaikan hadits RASULULLAH sawa kepada seseorang, lalu dia mengatakan: ‘Tinggalkan kami dari yang seperti ini. Datangkan kepadaku kitab ALLAH SWT,’ ketahuilah bahawa dia orang yang sesat.” 
(I’lamul Muwaqqi’in 2/282)

Al-Imam Asy-Syafi’i

أَجْمَعَ الْمُسْلِمُونَ عَلَى أَنَّ مَنِ اسْتَبَانَ لَهُ سُنَّةُ رَسُولِ اللهِ n لَمْ يَحِلَّ لَهُ أَنْ يَدَعَهَا لِقَوْلِ أَحَدٍ


“Kaum muslimin telah bersepakat, barangsiapa yang sudah jelas baginya sunnah RASULULLAH, tidak halal baginya untuk meninggalkannya kerana ucapan seseorang.” (I’lamul Muwaqqi’in 2/282)

Al-Imam Ahmad bin Hanbal

مَنْ رَدَّ حَدِيثَ النَّبِيِّ n فَهُوَ عَلَى شَفَا هَلَكَةٍ



“Barangsiapa menentang satu hadits RASULULLAH, dia berada di tepi kehancuran.” (Thabaqat Hanabilah 2/15, Al-Ibanah 1/ 260)


Al-Imam Al-Barbahari

وَإِذَا سَمِعْتَ الرَّجُلَ يَطْعَنُ فِي الْآثَارِ أَوْ يُرِيدُ غَيْرَ الْآثَارِ فَاتَّهِمْهُ عَلَى الْإِسْلَامِ، وَلَا تَشُكَّ أَنَّهُ صَاحِبُ هَوًى مُبْتَدِعٌ



“Apabila engkau mendengar seseorang mencela hadits, atau menginginkan yang selain hadits, curigailah keislamannya. Janganlah engkau ragu bahawa dia adalah pengikut hawa nafsu dan mubtadi.” 
(Syarhus Sunnah hlm. 51)



Abul Qasim al-Ashbahani

قَالَ أَهْلُ السُّنَّةِ مِنَ السَّلَفِ: إِذَا طَعَنَ الرَّجُلُ عَلَى الْآثَارِ يَنْبَغِي أَنْ يُتَّهَمَ عَلَى الْإِسْلاَمِ


Ahlus Sunnah dari kalangan salaf mengatakan, “Apabila seseorang mencela sunnah RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASSALLAM, pantas untuk dicurigai keislamannya.” (Al-Hujjah fi Bayanil Mahajjah, 2/428)

Dari mana sikap dan ucapan para imam tersebut kalau bukan buah dari ketauhidan yang benar kepada ALLAH SUBHANAHU WA TAALA? Oleh kerana itu, yang akan mengagungkan dan mengamalkan sunnah Rasulullah adalah orang yang memiliki akidah yang benar dan kukuh, kerana konsekuensi dari keyakinan yang benar adalah menjunjug tinggi syiar-syiar ALLAH SUBHANAHU WA TAALA, baik lahir mahupun batin. Dengan kata lain, orang yang benar akidahnya, lahiriahnya tidak akan menyelisihi batinnya. Bila hal ini terjadi, perlu diragukan kemurnian akidahnya.

Ucapan mereka menggambarkan bentuk pengagungan yang tinggi terhadap syariat RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASSALLAM. Kita wajib meneladani mereka dalam hal ini. Kemuliaan hidup, kemenangan, kebahagiaan dunia dan akhirat, ada dalam kebersamaan dengan mereka.

Wallahu a‘lam.

SUMBER : Majalah AsySyariah Edisi 061

 — bersama