Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

V 167 : ASMAUL HUSNA ( 74. AL ZOHIR )

AL ZOHIR   ( الظاهر )   ALLAH Yaa Zohir Yang Maha Nyata menegaskan kepada kita DIA nyata, dapat dilihat dan sesungguhnya hadir. Kehadira...

Memaparkan catatan dengan label MAZHAB AHLI SUNNAH WAL JAMAAH. Papar semua catatan
Memaparkan catatan dengan label MAZHAB AHLI SUNNAH WAL JAMAAH. Papar semua catatan

Sabtu, 29 Disember 2012

K 130 DUA PULUH LAPAN Kitab Karangan Imam Al-Ghazali.




Al Ghazali, sang Hujjatul Islam.

Puluhan karya yang ditulisnya merupakan bukti kecerdasan dan keluasan ilmu yang dimiliki Al-Ghazali. Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali ath-Thusi asy-Syafii atau lebih dikenal dengan nama Imam Al-Ghazali adalah salah seorang tokoh Muslim terkemuka sepanjang zaman. Ia dikenal sebagai seorang ulama, filsuf, doktor, psikolog, ahli hukum, dan sufi yang sangat berpengaruh di dunia Islam. Selain itu, berbagai pemikiran Algazel–demikian dunia Barat menjulukinya–juga banyak mempengaruhi para pemikir dan filsuf Barat pada abad pertengahan.

Pemikiran-pemikiran Al-Ghazali sungguh fenomenal. ”Tak diragukan lagi bahawa buah fikiran Al-Ghazali begitu menarik perhatian para sarjana di Eropah”, tutur Margaret Smith dalam bukunya yang berjudul Al-Ghazali: The Mystic yang diterbitkan di London, Inggris, tahun 1944. Salah seorang pemikir Kristian terkemuka yang sangat terpengaruh dengan buah pemikiran Al-Ghazali, kata Smith, adalah ST Thomas Aquinas (1225 M-1274 M). Aquinas merupakan filsuf yang kerap dibangga-banggakan peradaban Barat. Ia telah mengakui kehebatan Al-Ghazali dan merasa telah berutang budi kepada tokoh Muslim legendaris itu. Pemikiran-pemikiran Al-Ghazali sangat mempengaruhi cara berpikir Aquinas yang menimba ilmu di Universitas Naples. Saat itu, kebudayaan dan literatur-literatur Islam begitu mendominasi dunia pendidikan Barat.
Perbezaan terbesar pemikiran Al-Ghazali dengan karya-karya Aquinas dalam teologi Kristian, terletak pada metod dan keyakinan. Secara tegas, Al-Ghazali menolak segala bentuk pemikiran filsuf metafisik non-Islam, seperti Aristoteles yang tidak dilandasi dengan keyakinan akan Tuhan. Sedangkan, Aquinas mengakomodasi buah fikir filsuf Yunani, Latin, dan Islam dalam karya-karya filsafatnya.

Al-Ghazali dikenal sebagai seorang filsuf Muslim yang secara tegas menolak segala bentuk pemikiran filsafat metafisik yang berbau Yunani. Dalam bukunya berjudul The Incoherence of Philosophers, Al-Ghazali mencuba meluruskan filsafat Islam dari pengaruh Yunani menjadi filsafat Islam, yang didasarkan pada sebab-akibat yang ditentukan Tuhan atau perantaraan malaikat. Upaya membersihkan filasat Islam dari pengaruh para pemikir Yunani yang dilakukan Al-Ghazali itu dikenal sebagai teori occasionalism.

Sosok Al-Ghazali sangat sulit untuk dipisahkan dari filsafat. Baginya, filsafat yang dilontarkan pendahulunya, Al-Farabi dan Ibnu Sina, bukanlah sebuah objek kritik yang mudah, melainkan komponen penting buat pembelajaran dirinya. Filsafat dipelajar Al-Ghazali secara serius saat dia tinggal di Baghdad. Sederet buku filsafatpun telah ditulisnya. Salah satu buku filsafat yang disusunnya, antara lain, Maqasid al-Falasifa (The Intentions of the Philosophers). Lalu, ia juga menulis buku filsafat yang sangat termasyhur, yakni Tahafut al-Falasifa (The Incoherence of the Philosophers).
Al-Ghazali merupakan tokoh yang memainkan peranan penting dalam memadukan sufisme dengan syariah. Konsep-konsep sufisme begitu baik dikahwinkan sang pemikir legenda ini dengan hukum-hukum syariah. Ia juga tercatat sebagai sufi pertama yang menyajikan deskripsi sufisme formal dalam karya-karyanya. Al-Ghazali juga dikenal sebagai ulama Suni yang kerap mengkritik aliran lainnya. Ia tertarik dengan sufisme sejak berusia masih belia.

Kehidupan Al-Ghazali

Dilahirkan di Kota Thus, Provinsi Khurasan, Persia (Iran), pada tahun 450 Hijrah atau bertepatan dengan tahun 1058 Masehi. Al-Ghazali berasal dari keluarga ahli tenun (pemintal). Ayahnya adalah seorang pengrajin sekaligus penjual kain shuf (yang terbuat dari kulit domba) di Kota Thus.

Namun, sang ayah menginginkan Al-Ghazali kelak menjadi orang alim dan soleh. Kerana itu, menjelang wafat, ayahnya mewasiatkan pemeliharaan kedua anaknya kepada temannya dari kalangan orang yang baik. Dia berpesan, ”Sungguh, saya menyesal tidak belajar khath (tulis menulis Arab) dan saya ingin memperbaiki apa yang telah saya alami pada kedua anak saya ini. Maka, saya mohon engkau mengajarinya, dan harta yang saya tinggalkan boleh dihabiskan untuk keduanya”, ungkapnya pada pengasuh Al-Ghazali dan saudaranya.

Imam Al-Ghazali memulai belajar di kala masih kecil dengan mempelajari Bahasa Arab dan Parsi hingga fasih. Kerana minatnya yang mendalam terhadap ilmu, Al-Ghazali mulai mempelajari ilmu ushuluddin, ilmu mantiq, usul fikih, dan filsafat. Selepas itu, ia berguru kepada Syekh Ahmad bin Muhammad Ar-Radzakani di Kota Thus untuk mempelajari ilmu fikih. Kemudian, ia berangkat ke Jurjan untuk menuntut ilmu dengan Imam Abu Nashr Al-Isma’ili.

Selepas menuntut ilmu di Jurjan, Al-Ghazali pergi mengunjungi Kota Naisabur untuk berguru kepada Imam Haramain Al Juwaini. Selama di Naisabur, ia berhasil menguasai dengan sangat baik fikih mazhab Syafii, ilmu perdebatan, ushuluddin, mantiq, hikmah, dan filsafat. Selain itu, ia berhasil menyusun sebuah tulisan yang membuat kagum gurunya, Al-Juwaini.

Setelah sang guru wafat, Imam Al-Ghazali pergi meninggalkan Naisabur menuju ke majelis Wazir Nidzamul Malik. Majlis tersebut merupakan tempat berkumpulnya para ahli ilmu. Di sana, Al-Ghazali menantang debat para ulama dan berhasil mengalahkan mereka.

Lalu, kerana ketinggian ilmu yang dimiliki Imam Al-Ghazali, Nidzamul Malik mengangkatnya menjadi guru besar di Madrasah Nizhamiyah (sebuah perguruan tinggi yang didirikan oleh Nidzamul Malik) di Baghdad pada tahun 484 H. Saat itu, usia Al-Ghazali baru menginjak 30 tahun. Di sinilah, keilmuan Al-Ghazali makin berkembang dan menjadi terkenal serta mencapai kedudukan yang sangat tinggi.
Sebagai pimpinan komuniti intelektual Islam, Al-Ghazali begitu sibuk mengajarkan ilmu hukum Islam di madrasah yang dipimpinnya. Empat tahun memimpin Madrasah Nizamiyyah, Al-Ghazali merasa ada sesuatu yang kurang dalam dirinya. Batinnya dilanda kegalauan. Ia merasa telah jatuh dalam krisis spiritual yang begitu serius. Al-Ghazali pun memutuskan untuk meninggalkan Baghdad.

Kariernya yang begitu cemerlang ditinggalkannya. Setelah menetap di Suriah dan Palestin selama dua tahun, ia sempat menunaikan ibadah Haji ke Tanah Suci, Mekah. Setelah itu, Al-Ghazali kembali ke tanah kelahirannya. Sang ulamapun memutuskan untuk menulis karya-karya serta mempraktikkan sufi dan mengajarkannya.

Apa yang membuat Al-Ghazali meninggalkan kariernya yang cemerlang dan memilih jalur sufisme? Dalam autobiografinya, Al-Ghazali menyedari bahawa tak ada jalan menuju ilmu pengetahuan yang pasti atau pembuka kebenaran wahyu kecuali melalui sufisme. Itu menandakan bahawa bentuk keyakinan Islam tradisional mengalami kondisi kritis pada saat itu.

Keputusan Al-Ghazali untuk meninggalkan kariernya yang cemerlang itu, sekaligus merupakan bentuk protesnya terhadap filsafat Islam. Al-Ghazali wafat di usianya yang ke-70 pada tahun 1128 M di kota kelahirannya, Thus. Meski begitu, pemikiran Al-Ghazali tetap hidup sepanjang zaman.

Karya-karya Sang Sufi

Selama masa hidupnya (70 tahun), Imam Al-Ghazali banyak menulis berbagai karya dalam sejumlah bidang yang dikuasainya. Mulai dari fikih, tasauf (sufisme), filsafat, akidah, dan lainnya. Dalam kitab Mauqif Ibn Taimiyyah min al-Asya’irah dan Thabawat Asy-Syafi’iyyah karya Abdurrahman bin Shaleh Ali Mahmud, Imam Al-Ghazali dikenal sebagai penulis produktif. Sejumlah karyanya kini tersebar ke seluruh penjuru dunia.

Bidang Ushuluddin dan Akidah

1. Arba’in Fi Ushuliddin merupakan juz kedua dari kitabnya, Jawahir Alquran.

2. Qawa’id al-’Aqa`id yang disatukan dengan Ihya` Ulumuddin pada jilid pertama.

3. Al Iqtishad Fil I’tiqad.

4. Tahafut Al Falasifah berisi bantahan Al-Ghazali terhadap pendapat dan pemikiran para filsuf, dengan menggunakan kaidah mazhab Asy’ariyah.

5. Faishal At-Tafriqah Bayn al-Islam Wa Zanadiqah.

Bidang Usul Fikih, Fikih, Filsafat, dan Tasawuf

1. Al-Mustashfa Min Ilmi al-Ushul

2. Mahakun Nadzar

3. Mi’yar al’Ilmi

4. Ma’arif al-`Aqliyah

5. Misykat al-Anwar

6. Al-Maqshad Al-Asna Fi Syarhi Asma Allah Al-Husna

7. Mizan al-Amal

8. Al-Madhmun Bihi Ala Ghairi Ahlihi

9. Al-Ajwibah Al-Ghazaliyah Fi al-Masa1il Ukhrawiyah

10. Ma’arij al-Qudsi fi Madariji Ma’rifati An-Nafsi

11. Qanun At-Ta’wil

12. Fadhaih Al-Bathiniyah

13. Al-Qisthas Al-Mustaqim

14. Iljam al-Awam ‘An ‘Ilmi al-Kalam

15. Raudhah ath-Thalibin Wa Umdah al-Salikin

16. Ar-Risalah Al-Laduniyah

17. Ihya` Ulum al-din

18. Al-Munqidzu Min adl-Dlalal

19.Al-Wasith

20. Al-Basith

21. Al-Wajiz

22. Al-Khulashah

23. Minhaj al-’Abidin

Masih banyak lagi karya Imam Al-Ghazali. Begitu banyak karya yang dihasilkan, menunjukkan keluasan ilmu yang dimiliki oleh Al-Ghazali. Ia merupakan pakar dan ahli dalam bidang fikih, namun menguasai juga tasauf, filsafat, dan ilmu kalam. Sejumlah pihak memberikan gelar padanya sebagai seorang Hujjah al-Islam.
Ihya ‘Ulum al-Din; Magnum Opus Al-Ghazali

Salah satu karya Imam Al-Ghazali yang sangat terkenal di dunia adalah kitab Ihya` Ulum al-din. Kitab ini merupakan magnum opus atau masterpiece Al-Ghazali. Bahkan, kitab ini telah menjadi rujukan umat Islam di seluruh dunia, termasuk Indonesia dalam mempelajari ilmu tasauf. Di dalamnya, dijelaskan tentang jalan seorang hamba untuk menuju ke hadirat Allah.

Saking luas dan dalamnya pembahasan ilmu tasauf (jalan sufi) dalam karyanya ini, sejumlah ulama pun banyak memberikan syarah (komentar), baik pujian maupun komentar negatif atas kitab ini.

Syekh Abdullah al-Idrus

”Pasal demi pasal, huruf demi huruf, aku terus membaca dan merenunginya. Setiap hari kutemukan ilmu dan rahsia, serta pemahaman yang agung dan berbeza dengan yang kutemukan sebelumnya. Kitab ini adalah lokus pandangan Allah dan lokus redhaNya. Orang yang mengkaji dan mengamalkannya, pasti mendapatkan mahabbah (kecintaan) Allah, rasul-Nya, malaikatNya, dan wali-waliNya.”

Imam an-Nawawi

”Jika semua kitab Islam hilang, dan yang tersisa hanya kitab al-Ihya`, ia dapat mencukupi semua kitab yang hilang tersebut”.

Imam ar-Razi

”Seolah-olah Allah SWT menghimpun semua ilmu dalam suatu rapalan, lalu Dia membisikkannya kepada Al-Ghazali, dan beliau menuliskannya dalam kitab ini.”

Abu Bakar Al-Thurthusi

”Abu Hamid telah memenuhi kitab Ihya` dengan kedustaan terhadap Rasulullah SAW. Saya tidak tahu ada kitab di muka bumi ini yang lebih banyak kedustaan darinya, kemudian beliau campur dengan pemikiran-pemikiran filsafat dan kandungan isi Rasa`il Ikhwan ash-Shafa. Mereka adalah kaum yang memandang kenabian merupakan sesuatu yang dapat diusahakan.”

(Dinukil Adz-Dzahabi dalam Siyar A’lam Nubala, 19/334).
Sebahagian ulama ada pula yang mengkritik karya Imam Al-Ghazali ini kerana memuat sejumlah hadis, yang diduga beberapa sanadnya terputus. Wa Allahu A’lam. sya/taq

Isnin, 17 Disember 2012

K 82 SEPULUH Pesanan Imam Shafie.


Sebelum Imam Shafie wafat, beliau sempat berpesan kepada muridnya serta umat Islam umumnya. berikut adalah kandungan wasiat tersebut:  

“Barangsiapa yang ingin meninggalkan dunia dalam keadaan selamat maka hendaklah ia mengamalkan 10 perkara:

1. Hak kepada diri: mengurangkan tidur, mengurangkan makan, percakapan dan berpada-pada dengan rezeki yang ada.

2. Hak kepada malaikat maut: mengqadakan kewajipan-kewajipan yang tertinggal, mendapatkan kemaafan dari orang yang dizalimi, membuat persediaan untuk mati dan merasa cinta kepada ALLAH SUBHANAHU WA TAALA.

1.  Hak kepada kubur: membuang tabiat suka menabur fitnah, tabiat kencing merata-rata, memperbanyakkan solat tahajud dan membantu orang yang dizalimi.

2.  Hak kepada Munkar dan Nakir : tidak berdusta, berkata benar, meninggalkan maksiat dan nasihat-menasihati.

3.  Hak kepada mizan (neraca timbangan amalan pada hari kiamat): menahan kemarahan, banyak berzikir, mengikhlaskan amalan dan sanggup menahan kesulitan.

4.  Hak kepada sirat (titian yang merintangi neraka pada hari kiamat): membuang tabiat suka mengumpat, warak, suka membantu orang beriman dan suka berjamaah.

5.  Hak kepada Malik (malaikat penjaga neraka): menangis lantaran takutkan ALLAH SUBHANAHU WA TAALA, berbuat baik kepada ibubapa, bersedekah ketika terang-terangan serta sembunyi dan memperelokkan akhlak.

6.  Hak kepada Ridhzuan (malaiakt penjaga syurga): merasa reda kepada qadha’ ALLAH SUBHANAHU WA TAALA, bersabar menerima bala, bersyukur ke atas nikmat ALLAH SUBHANAHU WA TAALA dan bertaubat dari melakukan maksiat.

7.  Hak kepada NABI MUHAMMAD  SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASSALLAM: berselawat ke atasnya, berpegang dgn syariat, bergantung kepada Al Sunnah (hadith), menyayangi para sahabat dan bersaing dalam mencari kelebihan dari ALLAH SUBHANAHU WA TAALA.

8.  Hak kepada ALLAH SUBHANAHU WA TAALA: mengajak manusia ke arah kebaikan, mencegah dari kemungkaran, menyukai ketaatan dan membenci kemaksiatan.


Rujukan:
http://tazkirah.wordpress.com/2007/06/30/10-pesanan-imam-shafie-yang-perlu-diikuti/



Ahad, 12 Ogos 2012

G 12 TIGA BELAS Sifat Kemuliaan Salafus Soleh

Ahlus Sunnah wal Jamaah atau Salafush Sholih(generasi terbaik dari umat Islam) bukan hanya mengajarkan prinsip dalam berakidah saja, namun Ahlus Sunnah wal Jamaah juga bagaimanakah berakhlak yang mulia.

Itulah yang diajarkan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam haditsnya,

إِنَّمَا بُعِثْتُ لأُتَمِّمَ صَالِحَ الأَخْلاَقِ

Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan baiknya akhlak.
(HR. Ahmad 2/381, shahih)

Dalam suatu hadits shahih, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memanjatkan doa,

اللّهُمَّ اهْدِنِى لأَحْسَنِ الأَخْلاَقِ لاَ يَهْدِى لأَحْسَنِهَا إِلاَّ أَنْتَ

Allahummah-diinii li-ahsanil akhlaaqi, laa yahdi li-ahsaniha illa anta (Ya Allah, tunjukilah padaku akhlak yang baik. Tidak ada yang dapat menunjuki pada baiknya akhlak tersebut kecuali Engkau)
(HR. Muslim no. 771).

Maka sungguh sangat aneh jika ada yang mengklaim dirinya sebagai Ahlus Sunnah, namun jauh dari akhlak yang mulia. Jika ia menyatakan dirinya mengikuti para salaf (generasi terbaik umat ini), tentu saja ia tidak boleh mengambil sebahagian ajaran mereka saja. Akhlaknya harus bersesuaian dengan para salaf. Namun sayang seribu sayang, prinsip yang satu inilah yang jarang diperhatikan. Kadang yang menyatakan dirinya Ahlus Sunnah malah dikenal bengis, dikenal kasar, dikenal selalu bersikap keras. Sungguh klaim hanyalah sekadar klaim. Apa manfaatnya klaim jika tanpa bukti?

Di antara bukti pentingnya akhlak di sisi para salaf –Ahlus Sunnah wal Jamaah-, mereka menjadikan masalah akhlak sebagai ushul (pokok) akidah dan mereka memasukkannya dalam permasalahan akidah. Di antara ajaran akhlak tersebut adalah:

[Pertama: Selalu mengajak pada yang makruf dan melarang dari yang mungkar]

Ahlus Sunnah mengajak pada yang makruf (kebaikan) dan melarang dari kemungkaran. Mereka meyakini bahawa baiknya umat Islam adalah dengan tetap adanya ajaran amar makruf yang barokah ini. Perlu diketahui bahawa amar makruf merupakan bagian dari syariat Islam yang paling mulia. Amar makruf inilah yang merupakan sebab terjaganya jamaah kaum muslimin. Amar makruf adalah suatu yang wajib sesuai kemampuan dan dilihat dari maslahat dalam beramar makruf. Mengenai keutamaan amar makruf nahi mungkar, Allah Taala berfirman,

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah.
(QS. Ali Imran: 110)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيمَانِ

Barangsiapa di antara kamu melihat kemungkaran hendaklah ia mencegah kemungkaran itu dengan tangannya. Jika tidak mampu, hendaklah mencegahnya dengan lisan. Jika tidak mampu juga, hendaklah ia mencegahnya dengan hatinya. Itulah selemah-lemah iman.
(HR. Muslim no. 49)

[Kedua: Mendahulukan sikap lemah lembut dalam berdakwah dan amar makruf nahi mungkar]

Ahlus Sunnah wal Jamaah berprinsip bahawa hendaknya lebih mendahulukan sikap lemah lembut ketika amar makruf nahi mungkar, hendaklah pula berdakwah dengan sikap hikmah dan memberi nasihat dengan cara yang baik. Allah Taala berfirman,

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah  dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik.”
(QS. An Nahl: 125)

[Ketiga: Sabar ketika berdakwah]

Ahlus Sunnah meyakini wajibnya bersabar dari kelakukan jahat manusia ketika beramar makruf nahi mungkar. Hal ini kerana mengamalkan firman Allah Taala,

وَأْمُرْ بِالْمَعْرُوفِ وَانْهَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَاصْبِرْ عَلَى مَا أَصَابَكَ إِنَّ ذَلِكَ مِنْ عَزْمِ الْأُمُورِ

Dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).
(QS. Luqman: 17)

[Keempat: Tidak ingin kaum muslimin berselisih]

Ahlus Sunnah ketika menegakkan amar makruf nahi mungkar, mereka punya satu prinsip yang selalu dipegang iaitu menjaga keutuhan jamaah kaum muslimin, menarik hati setiap orang, menyatukan kalimat (di atas kebenaran), juga menghilangkan perpecahan dan perselisihan.

[Kelima: Memberi nasihat kepada setiap muslim kerana agama adalah nasihat]

Ahlus Sunnah wal Jamaahpun punya prinsip untuk memberi nasihat kepada setiap muslim serta saling tolong menolong terhadap sesama dalam kebaikan dan takwa. Hal ini kerana Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

« الدِّينُ النَّصِيحَةُ » قُلْنَا لِمَنْ قَالَ « لِلَّهِ وَلِكِتَابِهِ وَلِرَسُولِهِ وَلأَئِمَّةِ الْمُسْلِمِينَ وَعَامَّتِهِمْ ».

Agama adalah nasihat. Kami berkata, “Kepada siapa?” Beliau menjawab, “Kepada Allah, kepada kitab-Nya, kepada Rasul-Nya dan kepada pemimpin kaum muslimin serta kaum muslimin secara umum.
(HR. Muslim no. 55)

[Keenam: Bersama pemerintah kaum muslimin dalam beragama]

Ahlus Sunnah wal Jamaah juga menjaga tegaknya syariat Islam dengan menegakkan solat Jumaat, solat Jamaah, menunaikan haji, berjihad dan berhari raya bersama pemimpin kaum muslimin baik yang taat pada Allah sawt dan yang fasik. Prinsip ini jauh berbeda dengan prinsip ahlu bidaah.

[Ketujuh: Bersegera melaksanakan shalat wajib dan khusyu di dalamnya]

Ahlus Sunnah punya prinsip untuk bersegera menunaikan solat wajib, mereka semangat menegakkan solat wajib tersebut di awal waktu bersama jamaah. Solat di awal waktu itu lebih utama daripada solat di akhir waktu kecuali untuk solat Isyak. Ahlus Sunnah pun memerintahkan untuk khusyuk dan thuma’ninah (bersikap tenang) dalam solat. Mereka mengamalkan firman Allah Taala,

قَدْ أَفْلَحَ الْمُؤْمِنُونَ (1) الَّذِينَ هُمْ فِي صَلَاتِهِمْ خَاشِعُونَ (2)

Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (iaitu) orang-orang yang khusyuk dalam solatnya.
(QS. Al Mu’minun: 1-2)

[Kelapan: Semangat melaksanakan qiyamul lail]

Ahlus Sunnah wal Jamaah saling menyemangati (menasihati) untuk menegakkan qiyamul lail (solat malam) kerana amalan ini adalah di antara petunjuk Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam. Solat inipun yang diperintahkan oleh Allah kepada Nabinya shallallahu ‘alaihi wa sallam dan beliau pun bersemangat untuk taat kepada Allah Taala. Dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha, ia menceritakan bahawa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa menunaikan solat malam. Sampai kakinyapun terlihat memerah (pecah-pecah). ‘Aisyah mengatakan, “Kenapa engkau melakukan seperti ini wahai Rasulullah, padahal Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang lalu dan akan datang?”. Beliau lantas mengatakan,

أَفَلاَ أَكُونُ عَبْدًا شَكُورًا

“(Pantaskah aku meninggalkan tahajjudku?) Jika aku meninggalkannya, maka aku bukanlah hamba yang bersyukur.
(HR. Bukhari no. 4837)

[Kesembilan: Tegar menghadapi ujian]

Ahlus Sunnah wal Jamaah tetap teguh ketika mereka mendapatkan ujian, iaitu bersabar dalam menghadapi musibah. Merekapun bersyukur ketika mendapatkan kelapangan. Mereka redha dengan takdir yang terasa pahit. Mereka sentiasa mengingat firman Allah Taala,

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.”
(QS. Az Zumar: 10).

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِنَّ عِظَمَ الْجَزَاءِ مَعَ عِظَمِ الْبَلاَءِ وَإِنَّ اللَّهَ إِذَا أَحَبَّ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ فَمَنْ رَضِىَ فَلَهُ الرِّضَا وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ

Sesungguhnya ujian yang berat akan mendapatkan pahala (balasan) yang besar pula. Sesungguhnya Allah jika ia mencintai suatu kaum, pasti Allah akan menguji mereka. Barangsiapa yang redha, maka Allahpun redha padanya. Barangsiapa yang murka, maka Allahpun murka padanya.
(HR. Tirmidzi no. 2396, hasan shahih)

[Kesepuluh: Tidak mengharap-harap datangnya musibah]

Ahlus Sunnah tidaklah mengharap-harap datangnya musibah. Mereka pun tidak meminta pada Allah agar didatangkan musibah. Kerana mereka tidak tahu, apakah nantinya mereka termasuk orang-orang yang bersabar ataukah tidak. Akan tetapi, jika musibah tersebut datang, mereka akan bersabar. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,
لاَ تَتَمَنَّوْا لِقَاءَ الْعَدُوِّ ، وَسَلُوا اللَّهَ الْعَافِيَةَ ، فَإِذَا لَقِيتُمُوهُمْ فَاصْبِرُوا

Janganlah kalian mengharapkan bertemu dengan musuh tapi mintalah kepada Allah keselamatan. Dan bila kalian telah berjumpa dengan musuh bersabarlah. (HR. Bukhari no. 2966 dan Muslim no. 1742)

[Kesebelas: Tidak berputus asa dari pertolongan Allah swt ketika menghadapi cubaan]

Ahlus Sunnah wal Jamaah tidak berputus asa dari rahmat Allah swt ketika mereka mendapati cubaan. Kerana Allah Taala melarang seseorang untuk berputus asa. Akan tetapi pada saat tertimpa musibah, mereka terus berusaha untuk mencari jalan keluar dan pertolongan Allah swt yang pasti datang. Mereka tahu bahawa di sebalik kesulitan ada kemudahan yang begitu dekat. Mereka pun sentiasa introspeksi diri, merenungkan mengapa musibah tersebut boleh terjadi. Mereka senantiasa yakin bahawa berbagai musibah itu datang hanyalah kerana sebab kelakuan buruk dari tangan-tangan mereka (iaitu kerana maksiat yang mereka perbuat). Mereka tahu bahawa pertolongan boleh jadi tertunda (diakhirkan) kerana sebab maksiat yang dilakukan atau mungkin kerana ada kekurangan dalam mengikuti petunjuk Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kerana Allah Taala berfirman,

وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri.” 
(QS. Asy Syura: 30).

Ahlus Sunnah tidak bersandar pada sebab-sebab yang baru muncul, kejadian duniawi atau bersandar pada peristiwa-peristiwa alam ketika mendapat ujian dan menanti datangnya pertolongan. Mereka tidak begitu tersibukan dengan memikirkan sebab-sebab tadi. Mereka sudah memandang sebelumnya bahawa takwa kepada AllahTaala, memohon ampun (istighfar) dari segala macam dosa dan bersandar pada Allah swt serta bersyukur ketika lapang adalah sebab terpenting untuk keluar segera mendapatkan kelapangan dari kesempitan yang ada.

[Keduabelas: Tidak kufur nikmat]

Ahlus Sunnah wal Jamaah begitu khuatir dengan akibat dari kufur dan pengingkaran terhadap nikmat. Oleh kerana itu, Ahlus Sunnah adalah orang yang begitu semangat untuk bersyukur pada Allah swt. Mereka sentiasa bersyukur atas segala nikmat, yang kecil ataupun yang besar. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

انْظُرُوا إِلَى مَنْ أَسْفَلَ مِنْكُمْ وَلاَ تَنْظُرُوا إِلَى مَنْ هُوَ فَوْقَكُمْ فَهُوَ أَجْدَرُ أَنْ لاَ تَزْدَرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ

Pandanglah orang yang berada di bawahmu (dalam masalah harta dan dunia) dan janganlah engkau pandang orang yang berada di atasmu. Dengan demikian, hal itu akan membuatmu tidak meremehkan nikmat Allah padamu.”
(HR. Muslim no. 2963)

[Ketigabelas: Selalu menghiasi diri dengan akhlak yang mulia]

Ahlus Sunnah selalu menghiasi diri dengan akhlak yang mulia dan baik. Nabishallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَكْمَلُ الْمُؤْمِنِينَ إِيمَانًا أَحْسَنُهُمْ خُلُقًا

Orang mukmin yang sempurna imannya adalah yang baik akhlaknya.
(HR. Tirmidzi no. 1162, Abu Daud no. 4682 dan Ad Darimi no. 2792, hasan shahih)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga bersabda,

إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَىَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّى مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلاَقًا

Sesungguhnya di antara orang yang paling aku cintai dan yang tempat duduknya lebih dekat kepadaku pada hari kiamat ialah orang yang bagus akhlaknya.
(HR. Tirmidzi no. 2018, shahih)

إِنَّ الْمُؤْمِنَ لَيُدْرِكُ بِحُسْنِ خُلُقِهِ دَرَجَةَ الصَّائِمِ الْقَائِمِ

Sesungguhnya seorang mukmin akan mendapatkan kedudukan ahli puasa dan solat dengan ahlak baiknya.
(HR. Abu Daud no. 4798, shahih)

مَا مِنْ شَىْءٍ يُوضَعُ فِى الْمِيزَانِ أَثْقَلُ مِنْ حُسْنِ الْخُلُقِ وَإِنَّ صَاحِبَ حُسْنِ الْخُلُقِ لَيَبْلُغُ بِهِ دَرَجَةَ صَاحِبِ الصَّوْمِ وَالصَّلاَةِ

Tidak ada yang lebih berat dalam timbangan daripada akhlak yang baik, dan sesungguhnya orang yang berakhlak baik akan mencapai darjat orang yang berpuasa dan solat.
(HR. Tirmidzi no. 2003, shahih)
Semoga yang singkat ini bermanfaat.

Referensi
Min Akhlaq Salafish Sholih, ‘Abdullah bin ‘Abdul Hamid Al Atsari, Dar Ibnu Khuzaimah.
Rujukan :

http://rumaysho.com/