Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

V 167 : ASMAUL HUSNA ( 74. AL ZOHIR )

AL ZOHIR   ( الظاهر )   ALLAH Yaa Zohir Yang Maha Nyata menegaskan kepada kita DIA nyata, dapat dilihat dan sesungguhnya hadir. Kehadira...

Sabtu, 1 September 2012

H 80 Mencari Pertemuan Dengan Rasulullah Yang Mulia 41

Majlis ke Empat Puluh Satu

Kasih Sayang Nabi (4)
Kasih sayang Nabi saw kepada pelayan dan budak:

Sungguh  pembantu dan budak sebelum masa Islam tidak mempunyai hak dan kemuliaan. Maka tatkala Allah swt memuliakan dunia dengan risalah Islam, Nabi saw mengangkat kezaliman dari mereka, dan menentapkan hak-hak bagi mereka dan mengancam orang yang menganiaya mereka, atau merendahkan mereka, atau mengutuk mereka dengan ancaman siksa yang pedih.

Dari Ma’rur bin Suwaid, ia berkata,
‘Aku melihat Abu Dzarr ra dan atasnya adalah pakaian dan atas budaknya pakaian yang serupa, maksudnya ia memakai seperti yang dipakai budaknya. Ia berkata,
‘Aku bertanya kepadanya tentang hal itu, maka ia menyebutkan bahawa ia pernah mencela seorang lelaki di masa Rasulullah saw, maka mencelanya dengan ibunya. Lelaki itu ember kepada Nabi saw, lalu menyebutkan hal itu kepadanya. Maka Nabi saw bersabda:

إِنَّكَ امْرُؤٌ فِيكَ جَاهِلِيَّةٌ؛ إخْوَانُكُمْ خَوَلُكُمْ, جَعَلَهُمُ اللهُ تَحْتَ أَيْدِيكُمْ, فَمَنْ كَانَ أَخُوهُ تَحْتَ يَدَيْهِ، فَلْيُطْعِمْهُ مِمَّا يَأْكُل, وَلْيُلْبِسْه مِمَّا يَلْبَس, وَلَا تُكلِّفُوهمْ مَا يَغْلِبُهُمْ, فَإِنْ كَلَّفْتُمُوهُمْ، فَأَعِينُوهُمْ عَلَيْهِ” [متفقٌ عليهِ]

“Sesungguhnya padamu ada sifat jahiliyah, saudara-saudaramu adalah budak-budakmu. Allah menjadikan mereka di bawah kakimu. Maka barangsiapa yang saudaranya berada di bawah kedua kakinya, maka hendaklah ia ember makan kepadanya apa yang dia makan, ember pakaian dari apa yang dia pakai, dan janganlah ember tugas di luar kemampuannya, maka jika kamu menugaskan mereka maka tolonglah mereka atasnya.”
(Muttafaqun ‘alaih).

Perhatikanlah, bagaimana Nabi saw menempatkan pembantu seperti saudara, supaya menetap di hati seorang muslim bahawa apabila ia menganiaya pembantu ini atau berbuat jahat kepadanya, atau memakan hartanya, sesungguhnya ia seperti orang yang melakukan hal itu terhadap saudaranya. Kemudian Nabi saw menyuruh bersungguh-sungguh berbuat baik dan kasih ember kepada mereka, memuliakan, ember makan dan pakaian kepada mereka dari jenis yang dia pakai dan dia makan. Kerana ember itulah Abu Dzarr ra ember pakaian kepada pembantunya dari jenis yang dia pakai. Dalam hadits ini pula Nabi saw melarang menugaskan pembantu dengan tugas yang dia tidak mampu melakukannya. Ini meliputi memberikan keringanan terhadap mereka dan memberikan kepada mereka waktu istirehat yang cukup untuk mereka.

Dari Abu Mas’ud an-Anshar ra, ia berkata,
‘Aku pernah memukul budakku dengan cambuk, lalu aku mendengar suara dari belakangku,
‘Ketahuilah, wahai Abu Mas’ud.’ Maka aku tidak memahami suara itu kerana marah. Ia berkata,
‘Maka tatkala dia sudah dekat dariku, ternyata dia adalah Rasulullah saw. Ternyata beliau saw bersabda,
‘Ketahuilah, wahai Abu Mas’ud.’ Ia berkata,
‘Maka aku melemparkan cambuk dari tanganku.’ Beliau saw bersabda,
“Ketahuilah, wahai Abu Mas’ud,  sesungguhnya Allah lebih mampu terhadapmu darimu atas budak ini.‘ Aku berkata,
‘Aku tidak pernah memukul budak lagi untuk selamanya.”
Dan dalam satu riwayat: aku berkata,
‘Wahai Rasulullah, Dia merdeka kerana Allah. Rasulullah saw bersabda: 
‘Adapun jika engkau tidak melakukannya, nescaya api neraka akan menyentuhmu.‘
(HR. Muslim).

Nabi saw bersabda:
مَنْ لَطَمَ مَمْلُوكًا لَهُ أَوْ ضَرَبَهُ، فَكَفَّارَتُهُ أَنْ يَعْتِقَهُ” [رواه أبو داود وصححه الألبانيُّ].

“Barangsiapa yang menempeleng atau memukul budaknya, maka penebusnya adalah memerdekakannya.’
(HR. Abu Daud dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani).

Nabi saw adalah orang yang membebaskan orang-orang yang lemah, memerdekakan budak, bersifat adil terhadap pembantu, berdiri di barisan orang yang terluka hatinya, maka tertambal luka mereka, dan menyegarkan hati dan sanubari mereka.
Dari Mu’awiyah bin Suwaid bin Muqrib, ia berkata,
‘Aku pernah menempeleng budak kami, maka bapakku memanggil dia dan aku seraya berkata,
‘Lakukan qishash darinya, maka sesungguhnya kami –wahai sekalian bani Muqrin- kami berjumlah tujuh orang di masa Nabi saw, dan kami hanya mempunyai seorang pembantu. Maka seseorang dari kami menempelengnya. Maka Rasulullah saw bersabda,
‘Merdekakanlah dia.’ Mereka berkata,
‘Kami tidak mempunyai pembantu selain dia.’ Nabi saw bersabda,
‘Maka hendaklah ia melayani mereka sampai mereka merasa cukup, apabila mereka sudah merasa cukup, maka hendaklah mereka memerdekakannya.”
(HR. Muslim).

Inilah dia Muhammad saw, dan inilah pendiriannya bersama pelayan dan budak. Di manakah orang-orang yang menyerukan kebebasan manusia dari pendirian ini?
Perhatikanlah contoh sikap dalam perilaku Nabi saw terhadap pembantu. Sungguh Anas bin Malik ra berkata,
‘Aku melayani Rasulullah saw selama sepuluh tahun, demi Allah, dia tidak pernah mengatakan cih, tidak pernah mengatakan sesuatu yang kulakukan: kenapa engkau melakukannya? dan tidak pernah mengatakan sesuatu yang tidak kulakukan: kenapa engkau tidak melakukan seperti ini?
(muttafaqun alaih).

Dan dalam riwayat Muslim: ‘Dan dia tidak mencela sesuatu atasku.’
(HR. Muslim).

Dan Rasulullah saw berkata kepada pembantu:
‘Apakah engkau memerlukan sesuatu?’
(HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani).

Dari Anas bin Malik ra, ia berkata, ‘Sesungguhnya seorang budak perempuan mengambil tangan Rasulullah saw, maka dia tidak menarik tangannya  dari tangannya ia sehingga ia pergi dengannya di tempat yang dia kehendaki dari kota Madinah untuk menunaikan hajatnya.

(HR. Ahmad dan dishahihkan oleh Syaikh al-Albani).



H 79 Mencari Pertemuan Dengan Rasulullah Yang Mulia 40

Majlis ke Empat Puluh

Kasih Sayang Nabi saw (3)

Kasih sayang Nabi saw terhadap anak-anak:

Nabi saw adalah manusia yang paling menyayangi anak kecil. Dari Abu Hurairah ra, ia berkata, ‘Rasulullah saw mengecup Hasan bin Ali ra, sedangkan di sisinya ada Aqra’ bin Habis at-Tamimi ra sedang duduk. Aqra’ berkata,
‘Sesungguhnya aku mempunyai sepuluh orang anak, aku tidak pernah mengecup seorangpun dari mereka.’ Rasulullah saw memandang kepadanya, kemudian bersabda:
“مَنْ لَا يَرْحَمُ لَا يُرْحَمُ” [متفق عليه].

“Barangsiapa yang tidak menyayangi nescaya tidak disayangi.”
(Muttafaqun ‘alaih).

Dari ‘Aisyah rha, ia berkata, ‘Datang orang-orang dari Arab Badawi kepada Rasulullah saw, mereka berkata,
‘Apakah kamu mengecup anak-anakmu? Mereka menjawab,
‘Ya. Mereka berkata,
‘Sungguh kami –demi Allah- tidak mengecup.’ Rasulullah saw bersabda:

أَوَ أَمْلِكُ إِنْ كَانَ اللهُ نَزَعَ مِنْكُمُ الرَّحْمَةَ” [متَّفَقٌ عليه].

“Apakah aku memiliki jika Allah mengambil sifat kasih sayang dari hatimu?‘ (Muttafaqun ‘alaih).

Di dalam dua hadits ini merupakan penjelasan keagungan kasih sayang nabi saw kepada anak-anak, dan sesungguhnya mengecup anak kecil merupakan cerminan kasih sayang. Dan dalam sabdanya:
“مَنْ لَا يَرْحَمُ لَا يُرْحَمُ” [متفق عليه].

“Barangsiapa yang tidak menyayangi nescaya tidak disayangi.”

Merupakan dalil bahawa balasan itu sesuai amal perbuatan. Barangsiapa yang menghalangi anak-anak dari sifat kasih sayang, nescaya Allah swt menghalanginya dari kasih sayang di hari kiamat.
Dan di antara gambaran kasih sayang Nabi saw kepada anak-anak, sesungguhnya ia menemui puteranya Ibrahim, saat ia sakaratul maut, maka Rasulullah saw menitiskan air matanya dan bersabda:

“إِنَّ الْعَيْنَ تَدْمَعُ، وَإِنَّ القَلْبَ يَحْزَنُ، وَلَا نَقُولُ إِلَّا مَا يُرْضِي رَبَّنَا وَإِنَّا بِفِرَاقِكَ يَا إِبْرَاهِيمُ لمحْزُونُونَ” [رواه البخاري].

“Sesungguhnya air mata menitis, hati berduka, kami tidak mengucapkan kecuali apa yang menyenangkan Rabb kami, dan sesungguhnya kami berduka cita kerana berpisah denganmu, wahai Ibrahim.‘
(HR. al-Bukhari).
Maka Nabi saw memberikan kepada Rabb-Nya haq pengabdian dalam sabar, redha, berserah diri perkara Allah swt. Dan nabi saw memberikan kepada puteranya haq kasih sayang, menitiskan air mata, dan duka cita kerana berpisah, dan ini merupakan kesempurnaan gambaran penghambaan.

Dan ketika cucunya (putra dari puterinya) wafat, kedua matanya menangis, maka Sa’ad bin ‘Ubadah ra bertanya,
‘Apakah ini wahai Rasulullah? Beliau bersabda,

إِنَّهَا رَحْمَةٌ, جَعَلَهَا اللهُ فِي قُلُوبِ عِبَادِهِ، وَإِنَّمَا يَرْحَمُ اللهُ مِنْ عِبَادِهِ الرُّحَمَاء” [متفق عليه].

“Sesungguhnya ini adalah kasih sayang yang diberikan Allah di hati hamba-hamba-Nya, dan sungguh Allah memberi rahmat kepada hamba-hamba-Nya yang penyayang.’
(Muttafaqun ‘alaih).

Di antara gambaran kasih sayang Nabi saw kepada anak-anak, sesungguhnya beliau berkunjung kepada anak kecil Yahudi yang sakit, yang melayani beliau saw. Nabi saw bersabda kepadanya,
‘Ucapkanlah Laailaahaillah.’ Anak kecil itu memandang kepada bapaknya, bapaknya berkata,
‘Taatilah Abul Qasim (Rasulullah saw). Maka anak kecil itu mengucapkannya. Nabi saw bersabda:
“الحمْدُ للهِ الَّذِي أَنْقَذَهُ مِنَ النَّارِ” [رواه البخاري].

‘Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkannya dari api neraka.’
(HR. al-Bukhari).

Di antaranya, sesungguhnya anak kecil Anas bin Malik ra yang bernama ‘Umair mempunyai burung kecil, yang dia bermain dengannya. Lalu burung itu mati, maka anak kecil itu bersedih. Maka Nabi saw yang penuh kasih sayang pergi kepadanya, mengunjungi untuk menghibur dan bercanda kepadanya, beliau saw bersabda,

يَا أَبَا عُمَيْرٍ! مَا فَعَلَ النُّغَيْرُ” [متفق عليه].

“Wahai Abu Umair, apakah yang dilakukan oleh Nughair.’
(Muttafaqun ‘alaih).

Dari Abdullah bin Syaddad, dari bapanya, ia berkata, ‘Rasulullah saw keluar kepada kami di salah satu solatku di waktu isyak, dan beliau saw mengangkat Hasan atau Husain. Rasulullah saw maju, lalu meletakkannya, kemudian membaca takbir untuk solat. Maka nabi saw sujud dalam solatnya satu sujud yang sangat lama. Syaddad ra mengangkat kepalanya, ternyata anak kecil itu berada di atas punggung Rasulullah saw. Maka ketika Rasulullah saw menyelesaikan solatnya, orang-orang bertanya, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau melaksanakan sujud di dalam solatmu satu sujud yang sangat lama, sehingga kami mengira bahawa telah terjadi satu peristiwa atau diturunkan wahyu kepadamu. Beliau bersabda:

كُلُّ ذلكَ لَمْ يكُنْ, ولكِنَّ ابْنِي ارْتَحَلَنِي, فَكَرِهْتُ أَنْ أُعَجِّلَهُ حَتَّى يَقْضِيَ حَاجَتَه” [رواه النسائي وصححه الألباني].

“Semua itu tidak pernah terjadi, akan tetapi anakku (cucuku) telah menunggangku, maka aku tidak suka menyegerakannya sebelum dia selesai menunaikan hajatnya.”
(HR. an-Nasai dan dishahihkan oleh al-Albani).

Di antara kasih sayang Nabi saw kepada anak kecil,  beliau berkunjung kepada kaum anshar, memberi salam kepada anak kecil dari mereka dan mengusap kepala mereka. (HR. an-Nasa`i dan dishahihkan oleh syaikh Albani).

Di antara kasih sayangnya kepada anak kecil, sesungguhnya anak kecil dibawa kepadanya, lalu nabi saw memberikan berkah kepada mereka dan mentahnik mereka. (HR. Muslim).

Dan pengertian memberi berkah: mengusap mereka dengan tangannya yang mulia dan mendoakan mereka.
Nabi saw pernah solat sambil membawa Umamah binti Zainab, apabila nabi saw sujud ia meletakkannya dan apabila berdiri ia mengangkatnya.

Maka semoga rahmat Rabb-ku dan kesejahteraannya tetap tercurah kepada Nabi yang mulia lagi penyayang ini.



H 78 Mencari Pertemuan Dengan Rasulullah Yang Mulia 39

Majlis ke Tiga Puluh Sembilan

Ampunan Nabi saw

Allah swt menyuruh kepada Nabi-Nya agar memberi maaf kepada manusia, firman Allah swt:

“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Kerana itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu”.
(QS. Ali Imran :159)

Dan firman-Nya I:

“maka maafkanlah mereka dan biarkanlah mereka, sesungguhya Allah menyukai orang-orang berbuat baik”.
(QS. al-Maidah:13)

Maka Nabi saw menyukai maaf dan cenderung kepada pengampunan, dan tidak memberikan hukuman kecuali sudah menjadi kemestian. Dan cerita pemberian ampunan dalam sejarah Nabi saw sangat banyak. Di antaranya, pemberian ampunan terhadap penduduk Mekah setelah penaklukan yang agung.

Di antaranya yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra, ia berkata,
‘Rasulullah saw mengutus satu pasukan berkuda ke arah wilayah Najd, lalu datang dengan seorang lelaki dari bani Hanifah yang bernama Tsumamah bin Utsal, pemimpin penduduk Yamamah. Maka mereka mengingatnya di salah satu tiang masjid. Rasulullah saw keluar kepadanya seraya berkata kepadanya, 

‘Apa yang ada di sisimu, wahai Tsumamah? Ia menjawab,

‘Aku mempunyai kebaikan, wahai Muhammad. Jika engkau membunuh, engkau membunuh orang yang mempunyai darah, jika engkau memberikan nikmat, bererti engkau memberikan kepada orang yang bersyukur, jika engkau menghendaki harta, maka mintalah nescaya diberikan darinya apa yang engkau kehendaki.’ lalu Rasulullah saw meninggalkannya hingga keesokan harinya, ia bertanya kepadanya, 

‘Apa yang ada di sisimu wahai Tsumamah? Ia menjawab,

‘Seperti yang kukakatan kepadamu. Jika engkau membunuh, engkau membunuh orang yang mempunyai darah, jika engkau memberikan nikmat, bererti engkau memberikan kepada orang yang bersyukur, jika engkau menghendaki harta, maka mintalah nescaya diberikan darinya apa yang engkau kehendaki.’ Lalu Rasulullah saw meninggalkannya hingga keesokan harinya, ia bertanya,
‘‘Apa yang ada di sisimu wahai Tsumamah? Ia menjawab,

‘Seperti yang kukakatan kepadamu. Jika engkau memberikan nikmat, bererti engkau memberikan kepada orang yang bersyukur, jika engkau membunuh, engkau membunuh orang yang mempunyai darah, jika engkau menghendaki harta, maka mintalah nescaya diberikan darinya apa yang engkau kehendaki.’ Maka Rasulullah saw bersabda, 

‘Lepaskanlah Tsumamah.’ Lalu ia pergi ke tempat di dekat masjid, lalu mandi, kemudian masuk masjid seraya berkata,

‘Aku bersaksi bahawa tidak ada Ilah yang berhak disembah dengan sebenarnya selain Allah saw, dan aku bersaksi bahawa Muhammad adalah hamba dan rasul-Nya. Wahai Muhammad, demi Allah, tidak ada di muka bumi satu wajah yang lebih kubenci selain wajahmu. Sungguh, kini wajahmu menjadi wajah yang paling kucintai dari semua wajah. Demi Allah, tidak ada satu agama yang paling kubenci selain agamamu, maka kini agamamu menjadi agama yang paling kucintai. Demi Allah, tidak ada negara yang paling kubenci selain negaramu, maka kini negaramu menjadi negara yang paling kucintai. Dan sesungguhnya pasukanmu telah menangkapku dan aku ingin melaksanakan umrah, bagaimana pendapatmu? Maka Rasulullah saw memberikan kabar gembira kepadanya dan menyuruhnya melaksanakan umrah.

Maka tatkala ia datang ke Kota Mekah, ada yang bertanya,

‘Apakah engkau telah menjadi shaba (pengikut Muhammad)? Ia menjawab,
‘Tidak, akan tetapi aku telah masuk Islam bersama Rasulullah saw, dan demi Allah, tidak akan datang kepadamu satu biji gandum dari Yamamah kecuali setelah mendapat izin dari Rasulullah saw.’
(Muttafaqun ‘alaih).

Perhatikanlah, bagaimana pemberian maaf boleh merubah hati, memutar balikkan keadaan, menerangkan dada, menghapuskan kegelapan kufur dan kesesatan syirik.
Di antara contoh ampunan Nabi saw, pemberian ampunan kepada wanita Yahudi yang meletakkan racun di daging kambing, ia memakannya namun tidak menelannya. Kemudian Nabi saw membunuhnya setelah itu disebabkan terbunuhnya Bisyr bin Bara bin Ma’rur ra yang memakannya lalu menelannya. Iapun wafat kerana pengaruh racun, maka wanita itu dibunuh kerana terbunuhnya Bisyr ra sebagai hukum qishash.

Di antara contoh pemberian ampunan Nabi saw, terdapat dalam hadits yang diriwayatkan oleh Jabir ra, sesungguhnya ia berperang bersama Nabi saw di arah Najd. Maka tatkala Rasulullah saw pulang, ia pulang bersamanya. Kemudian mereka ingin melakukan tidur siang di lembah yang terdapat banyak pohon berduri besar. Rasulullah saw singgah dan mereka berpisah-pisah di pohon yang berduri besar dan berteduh dengan di bawahnya. Dan Rasulullah saw istirehat di bawah pohon, lalu menggantungkan pedangnya.
Jabir ra berkata, ‘Kami tertidur, tiba-tiba Rasulullah saw memanggil kami, kamipun datang. Ternyata di sisinya ada seorang arab badawi sedang duduk. Rasulullah saw bersabda, 

‘Sesungguhnya orang ini telah mengambil pedangku, sedangkan aku tertidur, saat aku terbangun, pedang terhunus itu ada di tangannya, ia berkata kepadaku, ‘Siapakah yang menghalangi engkau dariku? Aku menjawab, ‘Allah.’ Maka ia terduduk. Kemudian Rasulullah saw tidak menghukumnya.‘

(HR. al-Bukhari).

Jumaat, 31 Ogos 2012

H 77 Mencari Pertemuan Dengan Rasulullah Yang Mulia 38

Majlis ke Tiga Puluh Lapan

Penaklukkan Kota Mekah

Dalam kesepakatan perdamaian Hudaibiyah tersebut disebutkan bahawa Khuza’ah masuk dalam perjanjian Rasulullah saw dan Bani Bakar dalam perjanjian kaum Quraisy. Kemudian, ada seorang lelaki dari bani Khuza’ah mendengar seorang lelaki  dari bani Bakar membaca syair yang isinya mengolok-olok Rasulullah saw, maka ia memukul dan melukainya. Lalu timbullah  pertikaian di antara mereka dan bani Bakar berniat memerangi bani Khuza’ah dan mereka meminta bantuan kepada kaum Quraisy, lalu mereka (Quraisy) memberikan bantuan kepada mereka dengan bantuan senjata dan tunggangan. Dan sekelompok dari kaum Quraisy ikut berperang bersama mereka sembunyi-sembunyi, di antaranya Shafwan bin Umayyah, Ikrimah bin Abu Jahal, dan Suhail bin Amr. Maka bani Khuza’ah menjauhkan diri ke Daerah Haram untuk berlindung dengannya, namun Bani Bakar tidak menghormati Wilayah Haram dan tetap memerangi Bani Khuza’ah di Daerah Haram dan membunuh lebih dari dua puluh orang.
Dengan ini, kaum Quraisy sudah melanggar perjanjian Hudaibiyah di antara mereka dan Rasulullah saw, kerana telah membantu bani Bakar untuk memerangi bani Khuza’ah, sekutu Nabi saw. Maka tatkala Khuza’ah menginformasikan kepada Nabi saw dengan perbuatan mereka, ia berkata,
‘Sungguh aku akan membelamu seperti aku mempertahankan diriku darinya.’
Kemudian, sesungguhnya kaum Quraisy menyesali perbuatan mereka saat penyesalan sudah tidak berguna lagi. Mereka mengutus Abu Sufyan ra kepada Nabi saw untuk memperbaharui perjanjian Hudaibiyah dan menambah masanya, namun Nabi saw berpaling darinya dan tidak mengabulkannya. Maka ia meminta bantuan lewat para pembesar sahabat untuk menjadi perantara di antaranya dan Rasulullah saw, tetapi semuanya enggan. Lalu Abu Sufyan pulang ke Kota Mekah tanpa mendapat kesepakatan atau perjanjian.

Setelah Kaum Quraisy melanggar perjanjian bersama Kaum Muslimin, Rasulullah saw berniat menaklukkan Kota Mekah dan memberi pelajaran kepada penduduknya yang kafir.
Dan setelah Rasulullah saw bersiap untuk menaklukkan Kota Mekah, nabi saw menyamarkan perintahnya, kerana ia ingin mendatangi dengan tiba-tiba di dalam rumah mereka.

Rasulullah saw mengutus kepada bangsa arab yang ada di sekitarnya, iaitu Aslam, Ghifar, Muzainah, Juhaimah, Asyja’ dan Sulain, sehingga jumlah kaum muslimin mencapai sepuluh ribu pasukan. Nabi saw menunjuk Abu Ruhm al-Ghifari ra sebagai pemimpin Kota Madinah selama ditinggalkannya. Beliau saw keluar pada sepuluh haribulan Ramadan dan memasang bendera di Qadid.

Perjalanannya tidak sampai kepada kaum Quraisy, maka mereka mengutus Abu Sufyan, Hakim bin Hizam, dan Budail bin Warqa`, maka tatkala mereka melihat pasukan, mereka ketakutan. Abbas ra mendengar suara Abu Sufyan, ia berkata,
‘Wahai Abu Hanzhalah.’ Ia menjawab,
‘Ya.’ Ia berkata,
‘Rasulullah saw datang bersama sepuluh ribu (10.000) pasukan. Maka Abu Sufyan ra masuk Islam, Abbas ra memberikan perlindungan kepadanya, dan ia bersama dua temannya masuk dengannya kepada Rasulullah saw, maka keduanya (Hakim dan Budail) masuk Islam.
Nabi saw menyuruh Abbas ra agar pergi dengan Abu Sufyan ra, lalu berhenti di jalan yang dilewati tentara Islam, agar ia melihat dengan kedua belah matanya kekuatan Islam dan kaum muslimin. Abbas ra menyarankan kepada Nabi saw agar menjadikan sesuatu untuk Abu sufyan ra yang membuat dia bangga, kerana dia adalah seorang lelaki yang menyukai kebanggaan, maka Nabi saw bersabda:

مَنْ دَخَلَ دَارَ أَبِي سُفْيَانَ فَهُو آمِنٌ، وَمَنْ دَخَلَ المسْجِدَ فَهُوَ آمِنٌ, وَمَنْ أَغْلَقَ عَلَيْهِ بَابَه فَهُوَ آمِنٌ”.

“Barangsiapa yang memasuki rumah Abu Sufyan, maka ia aman. Barangsiapa yang memasuki masjid, ia aman, dan barangsiapa yang menutup pintunya, ia aman.”

Rasulullah saw melarang terjadinya perang dan berpesan kepada para amirnya agar tidak membunuh kecuali orang yang memerangi mereka. Maka kaum muslimin tidak menemukan perlawanan selain Khalid bin Walid ra, ia dihadang oleh Shafwan bin Umayyah, Suhail bin Amr, dan Ikrimah bin Abu Jahal bersama sekelompok kaum Quraisy di Khandamah. Mereka menghalanginya masuk, mengangkat senjata dan melempar anak panah. Maka Khalid ra berteriak pada pasukannya dan memerangi mereka. maka ia membunuh sekitar tiga belas orang kaum musyrikin, kemudian mereka lari, dan terbunuh dari kaum muslimin dua orang, iaitu Karz bin Jabir ra dan Hubaisy bin Khalid bin Rabi’ah ra.

Dibuatkan untuk Nabi saw kubah di Hujun dan nabi saw memasuki Mekah secara damai, maka mereka masuk Islam secara suka rela dan terpaksa. Maka nabi saw tawaf di Baitullah di atas tunggangannya, sedangkan di sekitar Kaabah ada tiga ratus enam puluh berhala. Setiap kali beliau melewati berhala, nabi saw menunjuk kepadanya dengan tongkat yang ada di tangannya seraya membaca:

“Kebenaran telah datang dan kebatilan telah sirna”.

Maka berhala itu tersungkur jatuh atas mukanya, dan yang paling besar adalah berhala Hubal yang menghadap Kaabah. Kemudian Nabi saw datang ke Maqam Ibrahim as, dan solat dua rakaat di belakangnya. Kemudian keluar kepada manusia seraya bersabda,

“Wahai kaum Quraisy, apakah yang akan kulakukan terhadapmu menurut pendapatmu? Mereka menjawab,
‘(engkau akan melakukan) kebaikan, saudara yang mulia dan putera saudara yang mulia.’ Beliau saw bersabda,

“Pergilah, maka kamu semua bebas.” Maka nabi saw memberikan maaf terhadap mereka setelah Allah swt meneguhkannya dari mereka. Hal itu menjadi perumpamaan  dalam memberikan maaf terhadap para pelakukan kejahatan setelah menguasai mereka. Kemudian Rasulullah saw duduk di atas Shafa, membai’at manusia di atas Agama Islam, mendengar dan taat pada sesuatu yang mereka mampu, kemudian manusia melakukan bai’at.


Penaklukan Kota Mekah itu terjadi pada dua puluh Ramadan dan Nabi saw tinggal di Mekah selama lima belas hari, kemudian beliau saw keluar ke Hunain dan mengangkat ‘Uttab bin Usaid ra sebagai pemimpin Kota Mekah dan dia menjadi imam solat kaum muslimin Mekah, dan Mu’azd bin Jabal ra yang mengajarkan sunnah-sunnah dan fikih kepada mereka.’