Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

V 167 : ASMAUL HUSNA ( 74. AL ZOHIR )

AL ZOHIR   ( الظاهر )   ALLAH Yaa Zohir Yang Maha Nyata menegaskan kepada kita DIA nyata, dapat dilihat dan sesungguhnya hadir. Kehadira...

Sabtu, 9 Mei 2020

V 71 : SEMOGA SAUDARA SAUDARI MEMAAFKAN SAYA

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Buat tatapan semua:-
Andainya tiada lagi artikel, doa dan tazkirah yang mampuku kirimkan buat keluarga, saudara mara, sahabat handai, rakan-rakan, maknanya diriku sudah tiada di muka bumi kepunyaan ALLAH SUBHANAHU WA TA‘ALA ini. Semoga artikel, doa dan tazkirah untuk kebaikan terus dikirim, dibaca bersama-sama, dihayati, diamalkan dan semoga ALLAH SUBHANAHU WA TA‘ALA, meredhai perbuatan baik kita yang sedikit ini. Semoga ALLAH SUBHANAHU WA TA‘ALA membuka dan mendorong hati kita melakukan kebaikan dan mengarah kita berbuat baik. Semoga ianya menjadikan amalan kita seharian walaupun sedikit.
Ampuni dosa-dosaku andai ada silap dan salah. Tiada dosa kelian kepadaku, kerana aku telah memaafkan segala-galanya atas kekhilafan keluarga, saudara mara, sahabat handai dan rakan-rakan terhadapku. Halalkan makan minumku dan andai ada hutang kepada kalian, tuntutlah pada waris-warisku. Ajal menjemput adalah ketentuan ALLAH SUBHANAHU WA TA‘ALA yang datangnya tiba-tiba. Kita tidak tahu bila. Sebaik-baiknya kita bersiap diri. Moga kematian kita dalam kematian yang baik (Husnul Khatimah). 

Yaa Allah, sekiranya ada pahala kebaikan atas segala perbuatan baik yang kami lakukan ini, kami  memohon untuk disedekahkan semuanya buat kedua ibubapa kami. Semoga Engkau redha ke atas kami semua.
Aamiin Yaa Allah Yaa Mujiib.

Muhasabah diri. 












Jumaat, 8 Mei 2020

V 70 : SUAMI ISTERI DI USIA SENJA

Yang membaca jangan menangis ya? Saya suka postingan ini, meski sudah berulang kali membacanya.
Di sebuah rumah sederhana yang asri, tinggal sepasang suami isteri yang sudah memasuki usia senja.
Pasangan ini dikurniakan, dua orang anak yang telah dewasa dan memiliki kehidupan sendiri yang mantap.
Sang suami merupakan seorang pesara, sedangkan isterinya seorang ibu rumah tangga.
Suami isteri ini lebih memilih untuk tetap tinggal di rumah, mereka menolak ketika putera-puteri mereka, menawarkan untuk ikut pindah bersama mereka.
Jadilah mereka, sepasang suami isteri yang hampir memasuki alam senja itu, menghabiskan waktu mereka yang tersisa, di rumah yang telah menjadi saksi berjuta peristiwa, dalam keluarga mereka.
Suatu senja sebelum memasuki waktu Isyak, di sebuah masjid tak jauh dari rumah mereka, sang isteri tidak menemukan selipar yang dikenakannya ke masjid tadi.
Saat sibuk mencari, suaminya datang menghampiri seraya bertanya mesra:
“Kenapa Bu?”
Isterinya menoleh sambil menjawab: “Selipar Ibu entah ke mana, Pak.”
“Ya sudah pakai ini saja.” kata suaminya, sambil menyodorkan selipar yang dipakainya.
Walau agak ragu, sang isteri tetap memakai selipar itu, dengan berat hati.
Menuruti perkataan suaminya adalah kebiasaannya.
Jarang sekali ia membantah, apa yang dikatakan oleh sang suami.
Mengerti kegundahan isterinya, sang suami mengeratkan genggaman pada tangan isterinya.
“Bagaimanapun usahaku untuk berterima kasih pada kaki isteriku, yang telah menupang hidupku selama puluhan tahun itu, takkan pernah setimpal terhadap apa yang telah dilakukannya."
Kaki yang selalu berlari kecil membukakan pintu untukku, saat aku pulang kerja.
Kaki yang telah menghantar anak-anakku ke sekolah tanpa kenal lelah, serta kaki yang menyusuri berbagai tempat mencari berbagai keperluanku dan anak-anakku.”
Sang isteri memandang suaminya sambil tersenyum dengan tulus, dan merekapun mengarahkan langkah menuju rumah, tempat bahagia bersama.
Usia yang telah lanjut dan penyakit diabetes yang dideritanya, sang isteri mulai mengalami gangguan penglihatan.
Saat ia kesulitan merapikan kukunya, sang suami dengan lembut, mengambil gunting kuku dari tangan isterinya.
Jari-jari yang mulai keriput itu, dalam genggamannya mulai dirapikan, dan setelah selesai sang suami mencium jari-jari itu dengan lembut, dan bergumam:
“Terima kasih ya Bu.”
“Tidak, Ibu yang seharusnya berterima kasih sama Bapak, telah membantu memotong kuku Ibu.” balas sang isteri tersipu malu. 
“Terima kasih untuk semua pekerjaan luar biasa, yang belum tentu sanggup aku lakukan.
Aku takjub, betapa luar biasanya Ibu. Aku tahu semua takkan terbalas sampai bila-bilapun.” kata suaminya tulus.
Dua titik bening menggantung di sudut mata sang isteri.
“Kenapa Bapak berkata begitu?
Ibu senang atas semuanya Pak, apa yang telah kita lalui bersama, adalah sesuatu yang luar biasa.
Ibu selalu bersyukur, atas semua yang dilimpahkan pada keluarga kita, baik ataupun buruk.
Semuanya dapat kita hadapi bersama.”
Hari Jumaat yang cerah, setelah beberapa hari hujan.
Siang itu, sang suami bersiap hendak menunaikan ibadah Solat Jumaat, Setelah bersalam dengan isteri, ia menoleh sekali lagi pada isteri, menatap tepat pada matanya, sebelum akhirnya melangkah pergi.
Tak ada tanda yang tak biasa di mata dan perasaan sang isteri, hingga saat beberapa orang mengetuk pintu, membawa kabar yang tak pernah diduganya.
Ternyata siang itu sang suami tercinta telah menyelesaikan perjalanannya di dunia.
Ia telah pulang menghadap Sang Penciptanya, ketika sedang menjalankan ibadah Solat Jumaat, tepatnya saat duduk membaca Tasyahud Akhir.
Masih dalam posisi duduk sempurna, dengan telunjuk ke arah Kiblat, ia menghadap Yang Maha Kuasa.
"Innaa Lillaahi Wainnaa ilaihi Rooji'uun."
“Subhanallah… Sungguh akhir perjalanan hidup yang indah.” Demikian gumam para jama’ah, setelah menyedari ternyata dia telah tiada, di akhir solat Jumaat.
Sang isteri terbayang, tatapan terakhir suaminya, saat mahu berangkat ke masjid.
Terselip tanya dalam hatinya, mungkinkah itu sebagai tanda perpisahan, pengganti ucapan "Selamat Tinggal."
Ataukah suaminya khuatir, meninggalkannya sendiri, di dunia ini. Ada gundah menggelayut di hati isteri, Walau masih ada anak-anak yang akan mengurusnya, tetapi kehilangan suami yang telah didampinginya selama puluhan tahun, cukup membuatnya terguncang. Namun ia tidak mengurangi sedikitpun, keikhlasan di hatinya, yang boleh menghambat perjalanan sang suami, menghadap Sang Khalik.
Dalam doa, dia selalu memohon kekuatan, agar dapat bertahan dan juga memohon agar suaminya ditempatkan, pada tempat yang layak.
Tak lama setelah kepergian suaminya, sang isteri bermimpi bertemu dengan suaminya.
Dengan wajah yang cerah, sang suami menghampiri isterinya dan menyisir rambut sang isteri, dengan lembut.
“Apa yang Bapak lakukan?" tanya isterinya senang bercampur bingung.
“Ibu harus kelihatan cantik, kita akan melakukan perjalanan panjang.
Bapak tidak boleh tanpa Ibu, bahkan setelah kehidupan di dunia ini berakhir sekalipun.
Bapak selalu perlukan ibu. Saat disuruh memilih pendamping, Bapa bingung, kemudian bilang, "Pendampingnya tertinggal, Bapakpun mohon izin untuk menjemput Ibu.”
Isterinya menangis, sebelum akhirnya berkata:
“Ibu ikhlas Bapa pergi, tapi Ibu juga tidak boleh berbohong, kalau Ibu takut sekali tinggal sendirian.
Kalau ada kesempatan mendampingi Bapak sekali lagi, dan untuk selamanya, tentu saja tidak akan Ibu sia-siakan."
Sang isteri mengakhiri tangisannya, dan menggantinya dengan senyuman.
Senyuman indah dalam tidur panjang selamanya.

هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَأَنتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ 

"Isterimu itu adalah 'Bajumu' dan Suamimu itu adalah 'Bajumu' pula."
(QS Al-Baqarah: 187)

Semoga boleh mempererat cinta kasih yang sejati pasangan suami isteri kerana Allah SWT.
Yaa Rabb... jadikan keluarga kami Sakinah Mawaddah wa Rahmah, matikanlah kami dalam keadaan Husnul Khatimah...Aamiin…..