Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

V 167 : ASMAUL HUSNA ( 74. AL ZOHIR )

AL ZOHIR   ( الظاهر )   ALLAH Yaa Zohir Yang Maha Nyata menegaskan kepada kita DIA nyata, dapat dilihat dan sesungguhnya hadir. Kehadira...

Sabtu, 4 Januari 2020

U 83 : BELAJAR RENDAH HATI DARI IMAM IBNU JAUZI

DOSA pertama yang dilakukan oleh makhluk Allah SWT adalah kesombongan iblis.
(QS. Shad [38]: 75-76).

Ketika disuruh sujud (penghormatan) oleh Allah SWT kepada Adam, dirinya merasa lebih baik dari manusia dengan alasan; tercipta dari api, sedangkan Adam dari tanah. Sejak saat itu iblis disebut pembangkang dan terusir dari syurga.

Lain halnya dengan Adam, tidak pernah sekali-kali terlihat sifat sombong pada dirinya. Padahal, dirinya memiliki keunggulan dibandingkan dengan makhluk-makhluk lainnya, iaitu: dikurniai ilmu oleh Allah SWT. Bahkan ketika akhirnya tergoda oleh bujuk rayu iblis, ia tidak melakukan apologi, namun mengakui kesalahannya dengan doa yang menggambarkan kerendahhatian.

ﻗَﺎﻻَ ﺭَﺑَّﻨَﺎ ﻇَﻠَﻤْﻨَﺎ ﺃَﻧﻔُﺴَﻨَﺎ ﻭَﺇِﻥ ﻟَّﻢْ ﺗَﻐْﻔِﺮْ ﻟَﻨَﺎ ﻭَﺗَﺮْﺣَﻤْﻨَﺎ ﻟَﻨَﻜُﻮﻧَﻦَّ ﻣِﻦَ ﺍﻟْﺨَﺎﺳِﺮِﻳﻦَ

“Yaa Tuhan kami! Kami telah menzalimi diri kami sendiri. Dan jika Engkau tidak mengampuni dan merahmati kami, nescaya kami menjadi bahagian dari orang-orang yang merugi.”
(QS. Al-A’raf [7]: 23)

Demikianlah sejatinya akhlak orang yang berilmu, semakin tinggi ilmunya, maka bertambah rendah hati.

Peribahasa: Seperti padi, kian berisi kian tunduk. Seperti ilmu padi, kian berisi kian merunduk. Maknanya, semakin tinggi ilmu seseorang maka dia semakin rendah hati.

Dalam al-Quran juga ada ungkapan:

ﻭَﻓَﻮۡﻕَ ﻛُﻞِّ ﺫِﻱ ﻋِﻠۡﻢٍ ﻋَﻠِﻴﻢٞ ٧٦

“dan di atas tiap-tiap orang yang berpengetahuan itu ada lagi Yang Maha Mengetahui.”
(QS. Yusuf [12]: 76)

Kerana itulah, ulama sejati akan selalu tawaduk. Dia tidak akan merasa paling berilmu serta meremehkan orang lain. Semakin bertambah ilmu, dirinya merasa semakin bodoh, kerana sejatinya yang diberikan oleh Allah SWT kepada dirinya hanyalah sangat sedikit dibanding keluasan ilmu Allah SWT.

Dari Imam Jauzi (510-597 H) pembaca boleh menemukan sosok ulama teladan yang begitu rendah hati. Bayangkan! Dalam kitab “Dzailu Thabaqāt al-Hanābilah” (I/167) dikisahkan diakhir hidupnya dia pernah bercerita telah menulis dua ribu jilid buku, menobatkan 100 ribu orang dan membuat 20 ribu orang Yahudi dan Nasharani masuk Islam.

Lebih dari itu, jumlah minima hadirin yang mengaji pada beliau adalah 10 ribu orang. Meski demikian, tidak ada kesombongan yang ditonjolkan oleh beliau. Yang ada justeru semakin merasa rendah hati.

Dalam kisah masyhur disebutkan, menjelang wafat beliau kerendahhatian itu masih sangat nampak. Menjelang ajal tiba, beliau sempat berujar kepada murid-muridnya, “Jika kelak di syurga kalian tidak menjumpaiku, maka tanyakanlah kepada Allah perihalku: ‘Yaa Allah yaa Tuhan kami, sesungguhnya hambamu Si Fulan (Ibnu Jauzi) dulu di dunia telah mengingatkan kami tentang diriMu.” Lantas kemudian Ibnu Jauzi menangis.

Ulama yang sedemikian dalam dan luasnya itu tidak pernah merasa tinggi hati. Betapapun jasa-jasanya begitu besar dalam Islam, namun dia menafikan eksistensi dirinya. Dirinya adalah fakir ilmu di hadapan Allah SWT. Ilmu yang luas tidak digunakan untuk merendahkan dan meremehkan orang lain.

Lain halnya dengan fenomena dewasa ini. Banyak yang mengetahui satu ayat dua ayat, atau satu hadits dua hadits dan seterusnya, namun dengan sangat mudah merasa sudah menjadi ulama. Tanpa melalui kajian ilmiah mumpuni, sudah berani menyalahkan orang yang tak sepaham dengannya, gampang menyesatkan, mengkafirkan dan merasa dirinya paling benar. Akibatnya, yang ditimbulkan adalah perpecahan saudara.

Tak menghairankan jika Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan doa:

ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺍﻧْﻔَﻌْﻨِﻲ ﺑِﻤَﺎ ﻋَﻠَّﻤْﺘَﻨِﻲ، ﻭَﻋَﻠِّﻤْﻨِﻲ ﻣَﺎ ﻳَﻨْﻔَﻌُﻨِﻲ، ﻭَﺯِﺩْﻧِﻲ ﻋِﻠْﻤًﺎ

“Yaa Allah! Jadikanlah ilmu yang dianugerahkan olehMu kepadaku bermanfaat; ajarilah padaku ilmu yang bermanfaat; serta tambahkanlah ilmu kepadaku.”
(HR. Tirmidzi, Ibnu Majah)

Ciri ilmu itu bermanfaat –sebagaimana kisah Nabi Adam—adalah di antaranya ketika tidak membuat orang yang berilmu menjadi sombong atau tinggi hati.
Suatu saat, Ibnu Mas’ud Radhiyallahu ‘anhu memberi nasihat, “Barangsiapa yang tawaduk (rendah hati) secara khusyuk kepada Allah, maka kelak di hari kiamat angkat diangkat darjatnya oleh Allah. Sedangkan orang yang tinggi hati (sombong), maka akan direndahkan oleh Allah pada hari kiamat.”
(al-Khara`ithi, Masāwi al-Akhlāq , 258)

Dengan demikian, jika dengan ilmu Allah SWT akan mengangkat darjat seseorang (QS. Al-Mujadilah [58]: 11), maka dengan tawaduk pula atau kerendahan hati Allah SWT juga akan mengangkat darjat seseorang. Kerana itu, antara ilmu dan kerendah hatian tidak terpisahkan. Dan itu semua boleh kita teladani dari sosok Imam Ibnu Jauzi.*/ Mahmud Budi Setiawan


U 82 : DITIMPA BANYAK MASALAH, BOLEHKAH BERDOA AGAR CEPAT MATI?

Kematian adalah sebuah kepastian bagi semua makhluk Tuhan, termasuk manusia. Ia merupakan hal yang misterius. Di manapun dan bilapun, seseorang boleh saja mati tanpa sepengetahuan siapapun. Hanya Allah SWT yang tahu bila dan dim ana seseorang akan mati.
Akan tetapi, seseorang dilarang berdoa kepada Allah SWT agar dirinya cepat mati. Kita sesekali pernah menjumpai teman kita yang ditimpa masalah besar, baik kerana terlilit hutang, ataupun kerana terjangkit suatu penyakit, sehingga tiba-tiba ia berkata, “Lebih baik aku mati saja, hidup ini sudah tidak ada gunanya.” Kata-kata seperti itu sebagai ekspresi keputusasaan dan merupakan bentuk harapan agar dirinya cepat mati.
Padahal, Nabi SAW melarang hal demikian. Nabi SAW pernah mengatakan:

ﻟَﺎ ﻳَﺘَﻤَﻨَّﻰ ﺃَﺣَﺪُﻛُﻢْ ﺍﻟْﻤَﻮْﺕَ ﻭَﻟَﺎ ﻳَﺪْﻉُ ﺑِﻪِ ﻣِﻦْ ﻗَﺒْﻞِ ﺃَﻥْ ﻳَﺄْﺗِﻴَﻪُ ﺇِﻧَّﻪُ ﺇِﺫَﺍ ﻣَﺎﺕَ ﺃَﺣَﺪُﻛُﻢْ ﺍﻧْﻘَﻄَﻊَ ﻋَﻤَﻠُﻪُ ﻭَﺇِﻧَّﻪُ ﻟَﺎ ﻳَﺰِﻳﺪُ ﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻦَ ﻋُﻤْﺮُﻩُ ﺇِﻟَّﺎ ﺧَﻴْﺮًﺍ

“Janganlah salah seorang dari kalian mengharapkan kematian. Dan janganlah berdoa agar ia cepat mati sebelum datang waktunya. Kerana orang yang mati itu amalnya akan terputus, sedangkan umur orang Mukmin tidak akan bertambah melainkan menambah kebaikan.”
(HR. Muslim)

Pada hadis lain, Nabi juga mengatakan:

ﻻَ ﻳَﺘَﻤَﻨَّﻴَﻦَّ ﺃَﺣَﺪُﻛُﻢُ ﺍﻟْﻤَﻮْﺕَ ﻟِﻀُﺮٍّ ﻧَﺰَﻝَ ﺑِﻪِ ، ﻓَﺈِﻥْ ﻛَﺎﻥَ ﻻَ ﺑُﺪَّ ﻣُﺘَﻤَﻨِّﻴًﺎ ﻓَﻠْﻴَﻘُﻞْ : ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺃَﺣْﻴِﻨِﻲ ﻣَﺎ ﻛَﺎﻧَﺖِ ﺍﻟْﺤَﻴَﺎﺓُ ﺧَﻴْﺮًﺍ ﻟِﻲ ، ﻭَﺗَﻮَﻓَّﻨِﻲ ﺇِﺫَﺍ ﻛَﺎﻧَﺖِ ﺍﻟْﻮَﻓَﺎﺓُ ﺧَﻴْﺮًﺍ ﻟِﻲ

“Janganlah seseorang mengharapkan kematian kerana tertimpa kesengsaraan. Dan kalaupun ia terpaksa atau benar-benar mengharapkannya, maka hendaklah berdoa, Yaa Allah, berilah aku kehidupan apabila kehidupan itu memang lebih baik bagiku. Dan matikanlah aku, apabila kematian itu memang lebih baik bagiku.”
(HR. Muslim)

Demikianlah sikap yang diajarkan oleh Nabi SAW bagi seseorang yang mengharapkan kematian kerana suatu musibah atau kesengsaraan yang ia hadapi.


U 81 : MENGINGATI JANJI KEPADA ALLAH SWT

Tanpa sedar terkadang kita terlalu menyibukkan diri akan janji manusia terhadap kita, sedang janji kita kepada Allah SWT kita abaikan.

Manusia pernah berjanji kepada Allah SWT ketika manusia berada di Alam ruh. Jika ditanya, masih ingatkah engkau dengan janjimu pada Allah SWT? Maka tidak akan ada manusia yang mampu mengingatnya.

Untuk itu Allah SWT ingatkan manusia melalui firman-firmannya:

“Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka (roh manusia menjawab: “Benar! Kami telah menyaksikan.” Nanti di hari Kiamat agar kamu tidak mengatakan: bahawa, kami lalai terhadap hal ini.”
(QS. Al-A’raf 172)

Dan sesungguhnya mereka sebelum itu telah berjanji kepada Allah SWT:

"Mereka tidak akan berbalik ke belakang (mundur)." Dan adalah perjanjian dengan Allah akan diminta pertanggungan jawabkan.”
(QS. Al-Ahzab, 15)

Ketika melakukan ibadah solat. Yakni dengan 17 kali pernyataan, ketika membaca Al-fatihah “iyyaa kana’ budu waiyyaa kanasta’iin.” Hanya kepada engkau hamba menghamba dan meminta pertolongan, ditambah 9x ikrar syahadat saat bertahiyat, dan 5x berjanji saat doa iftitah “INNA SHOLAATI, WANUSUKII, WAMAHYAAYA, WAMAMAATI LILLAAHI ROBBIL ‘AALAAMIIN.”
(Sesungguhnya solatku, ibadahku, hidupku dan matiku kerana Allah, pencipta alam ini).
Alangkah banyak janji kita pada Allah, namun masih sedikit yang telah kita laksanakan. ASTAGHFIRULAAHALADZIIM.
Mari kita tunaikan janji kita kepada Rabb seluruh makhluk, dengan selalu berusaha agar tetap berada di dalam ketaatan sebagai hambanya.



U 80 : DEMI WAKTU

Allah SWT telah bersumpah dengan waktu :

1. Wassubhi (Demi waktu subuh/fajar) : 89/1
2. Waddhuha (Demi waktu Dhuha) : 93/1
3. Wannahaar (Demi Waktu siang) : 92/2
4. Wal-Ashri (Demi waktu ashar) : 103/1
5. Wal laili (Demi waktu malam) : 92/1, 93/2

1. TABIAT WAKTU

a. Waktu cepat berlalu
Waktu berjalan begitu cepat, kadang lebih cepat dari yang kita rasakan. Sepintas saat suka lebih cepat daripada saat duka. Padahal sebenarnya itu hanya perasaan orang yang mengalaminya.

b. Waktu mustahil kembali. Meski sedetik, tidak mungkin waktu itu kembali. Jadi jangan sia-siakan waktu.

c. Harta termahal
Setelah iman yang paling berharga bagi kita adalah waktu. Kita jarang sekali merasakan bahawa sesungguhnya waktu adalah sesuatu yang sangat berharga sehingga kita kadang-kadang membiarkannya sia-sia. Tanpa merasa berdosa kita mengisinya dengan bersantai-santai, berbicara sia-sia, berjalan sia-sia dll yang serba sia-sia. (Bayangkan, jika dalam satu jam sebuah perusahaan motor dapat memproduksi 10 buah motor, bererti dalam sehari perusahaan itu dapat membuat 10 X 24 jam = 240 buah motor. Bayangkan jika karyawannya mogok bekerja dalam 5 jam, bererti perusahaan itu rugi 25 buah motor). Wajar jika pepatah Barat mengatakan “Time is money”.

II. WAKTU ADALAH AMANAH.

Kerugian bagi manusia yang tidak memanfaatkan waktunya 103/1-3
Sesungguhnya setiap manusia itu tambah hari tambah merugi, tambah tua tambah merugi, Sebab manusia diberi waktu atau masa yang terbatas 30/8 dan 2/36. Maka manusia akan menjadi dua golongan :
1. Golongan orang yang merugi, iaitu kelompok manusia yang diberi waktu terbatas tetapi tidak digunakan untuk beribadah kepada Allah SWT.

2. Golongan orang yang beruntung, iaitu kelompok yang dilukiskan dalam ayat ketiga dari surat Al-Ashr tadi: illalladzina aamanu wa’amilu-shoolihaati, kecuali orang yang efektif, yang menjadikan pertambahan waktunya sebagai peningkatan mutu iman. Orang yang pasti beruntung adalah orang-orang yang telah mempercayakan dirinya kepada Allah SWT saja. Sehingga seluruh aspek kehidupannya siap untuk diatur hanya dengan aturan Allah SWT saja, dengan konsekuensi siap untuk melepaskan seluruh aspek kehidupan di luar aturan Allah SWT. Inilah wujud kehidupan orang yang telah mempercayakan dirinya hanya kepada Allah SWT, sehingga aktiviti kehidupannya akan mewujudkan suatu amal soleh/karya yang spektakuler. ”Watawaa shoubil haq watawaa shoubish shobri.” dan pada setiap waktu terus meningkatkan kemampuan dirinya, sehingga kehadiran dirinya di dunia ini menjadi jalan nasihat, baik dengan tutur kata dan perilaku kita bagi orang lain, dalam kebenaran dan kesabaran.

Berdasarkan keterangan tadi, Islam mengajarkan agar kita menggunakan 4 perkara iaitu: Iman (Amal Soleh) nasihat-menasihati dalam menaati kebenaran dan nasihat-menasihati dalam menetapi kesabaran. Maka pertama yang harus kita lakukan adalah meningkatkan mutu keimanan kita kepada Allah SWT. Makin tinggi tingkat keyakinan kita kepada Allah SWT, maka hati kita akan menjadi tenang (13/28). Sebaliknya makin merosot keimanan kita, maka selamanya kita akan selalu dirundung rasa was-was, resah, gelisah, takut, mudah stress, bingung, cemas dan kepenatan dalam hidup ini. Dan keyakinan yang baik kepada Allah SWT adalah keyakinan dalam menjaga amanah waktu. Peningkatan iman kita berbanding lurus dengan bertambahnya amal-amal kita. Oleh kerana itu kalau kita akan menghadapi waktu, mahu berbuat sesuatu, mahu berbicara, mahu berpikir, mahu bertindak; terlebih dahulu kita harus bertanya pada diri sendiri apakah yang kita lakukan ini menjadi amal kebaikan atau tidak, kalau ya, maka cepat-cepatlah lakukan. Dan sebaliknya, kalau sekiranya akan menambah kemaksiatan segera tinggalkan.

Ingatlah selalu, bahawa apa yang ada pada diri kita adalah amanah. Mulut kita adalah amanah. Jangan digunakan untuk mengata yang sia-sia. Masih banyak perkataan yang lebih bermanfaat, pastikan bahawa apa yang kita ucapkan menjadi amal. Telinga dan mata kita adalah amanah. Ketika kita menyalakan TV, radio, Tanya pada diri kita apakah yang kita dengar ini menjadi amal ? Apakah yang kita lihat ini menjadi amal? Apakah yang kita baca boleh meningkatkan mutu diri. Hati dan fikiran kita adalah amanah, kerananya jangan digunakan untuk berkhayal dan berfikir yang bukan-bukan. Semua itu akan memakan waktu. Syeikh Muhammad al-Ghozali berkata:

“Menjaga amanah ialah menunaikan dengan baik hak-hak Allah dan hak-hak manusia tanpa terpengaruh oleh perubahan keadaan, baik susah mahupun senang.”

Langkah selanjutnya, untuk meningkatkan mutu iman dan amal kita adalah jangan menunda-nunda amal. Ada kisah tentang betapa mahalnya harga sebuah kesempatan kebaikan. Seseorang berkata: “Suatu ketika aku berjalan-jalan dengan Sufyan bin Uyainah. Saat itu ada seorang peminta-minta, namun beliau terpaksa tidak dapat memberinya sehingga beliaupun menangis. Aku bertanya: “Wahai Abu Muhammad (panggilan untuk Sufian) Apa yang membuatmu menangis?” Beliau menjawab : “Adakah musibah yang lebih besar lagi, ketika seseorang memberimu kesempatan berbuat baik, sementara dirimu tidak dapat melakukannya?”

Banyak amal-amal yang kita lakukan untuk mengisi waktu. Begitu juga dengan nasihat-menasihati, lakukan apa yang mampu kita lakukan dengan lisan, dengan tingkah laku. Tingkatkan mutu nasihat kita dengan nasihat dari orang lain.


U 79 : KATA-KATA SAIDINA ALI

''Janganlah kamu letih membuat pahala dan kebaikan kerana letih akan hilang sedangkan pahala dan kebaikan akan dicatat berterusan. Ingat!!! Janganlah kamu seronok membuat dosa dan kejahatan kerana seronok akan hilang sedangkan dosa dan kejahatan akan dicatat berterusan.''



U 78 : RAHSIA CINTAKU

Aku mencintaimu kerana agama yang ada padamu. Jika kau hilangkan agama dalam dirimu. Hilanglah cintaku padamu.
(Imam Nawawi)





U 77 : 40 AMALAN NABI MUHAMMAD SAW

01. Jangan tidur antara fajar dan Ishraq (saat muncul), Asar dan Maghrib, Maghrib dan Isyak.
02. Hindarkan duduk dengan orang yang bau badan. Contoh (bawang)
03. Jangan tidur dekat orang yang bicara buruk sebelum tidur.
04. Jangan makan dan minum dengan tangan kiri.
05. Jangan makan makanan yang dikeluarkan dari gigimu.
06. Jangan membunyikan sendi-sendi jari.
07. Periksa sepatumu sebelum memakainya.
08. Jangan memandang ke langit ketika solat.
09. Jangan meludah dalam toilet.
10. Jangan bersihkan gigi dengan arang.
11. Duduk/jongkok baru kenakan celana.
12. Jangan patahkan benda keras dengan gigimu.
13. Jangan meniup makananmu ketika panas, tapi kamu boleh mengipasinya.
14. Jangan melihat kesalahan orang lain.
15. Jangan berbicara antara iqamah dan azan.
16. Jangan bicara dalam toilet.
17. Jangan membicarakan keburukan temanmu.
18. Jangan membuat temanmu marah.
19. Jangan sering melihat ke belakang ketika berjalan.
20. Jangan hentakkan kakimu saat berjalan.
21. Jangan curigaan pada temanmu.
22. Jangan pernah berdusta.
23. Jangan membaui makanan saat memakannya.
24. Bicara yang jelas agar orang lain boleh memahami.
25. Hindari bepergian sendirian.
26. Jangan memutuskan sendiri namun berkonsultasilah dengan orang yang tahu.
27. Jangan bangga diri.
28. Jangan sedih dengan makananmu.
29. Jangan besar mulut.
30. Jangan mengusir pengemis.
31. Layani tamumu dengan baik dengan sepenuh hati.
32. Sabar ketika dalam kemiskinan.
33. Bantulah perkara kebaikan.
34. Fikirkanlah kesalahanmu dan bertaubatlah.
35. Berbuat baiklah kepada orang yang berlaku jahat padamu.
36. Qana'ah (hidup apa adanya).
37. Jangan tidur terlalu sering, menyebabkan pikun.
38. Bertaubatlah minima 100 kali sehari (Istighfar).
39. Jangan makan dalam keadaan gelap.
40. Jangan makan sepenuh-penuh mulut.

Rasulullah SAW bersabda : "Barang siapa yang menyampaikan 1 (satu) ilmu saja dan ada orang mengamalkannya,maka walaupun yang menyampaikan sudah tiada (meninggal dunia), dia akan tetap memperoleh pahala."
(HR. Al-Bukhari)

Yaa Allah, Peliharalah dan Rahmatilah Kami Semua... Aamiin
Ingat Mengingat, Semoga Kita Ingat dan Beringat Selalu.
Semoga Bermanfaat.





Jumaat, 3 Januari 2020

U 76 : TERNYATA CUMA 1.5 JAM SAJA UMUR KITA HIDUP DI DUNIA INI

Mari kita lihat berdasarkan Al Quran sebagai sumber kebenaran absolute

1 hari akhirat = 1000 tahun dunia
24 jam akhirat = 1000 tahun dunia
3 jam akhirat = 125 tahun dunia
1.5 jam akhirat = 62.5 tahun dunia

Apabila umur manusia itu rata-rata 60-70 tahun, maka hidup manusia ini jika dilihat dari langit hanyalah 1.5 jam saja!

Patutlah kita selalu diingatkan tentang masalah waktu.
Allah SWT berfirman :

"Kamu tidak tinggal (di dunia) melainkan sedikit masa sahaja, kalau kamu dahulu mengetahui hal ini (tentulah kamu bersiap sedia)."

Semoga bermanfaat bagi kita semua untuk meniti perjalanan hidup kita ini.

Kuatkan fikir akhirat kerana dunia ni tempat kita nak tinggalkan. Fokus akhirat (akhirat diutamakan). Itulah tempat kita nak hidup seterusnya.


Khamis, 2 Januari 2020

U 75 : JALAN PENYELESAIAN

4 Masalah dan jalan PenyelesaianNya.

1. Jika Engkau diuji dengan Syahwat dan hawa Nafsu, maka periksalah SolatMu.
Firman Allah SWT bermaksud:

"Maka datang sesudah mereka suatu keturunan yang mereka telah melalaikan solat dan memperturutkan syahwat hawa nafsunya."
[Q.S. Maryam: 59]

2. Jika Engkau merasa keras hati, berakhlak buruk, dan sentiasa tidak berasa tenang, maka periksalah hubunganMu dengan ibumu dan baktimu kepadaNya.
Firman Allah SWT bermaksud:

"Dan (Dia jadikan aku) berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka."
[QS. Maryam: 32]

3.  Jika Engkau merasa tertekan dan hidup dalam kesempitan, maka Periksalah hubunganMu dengan Al-Quran.

Firman Allah SWT bermaksud:

"Dan barangsiapa berpaling dari peringatanKu (Al-Quran, berzikir), maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit."
[Q.S. Thaha: 124]

4. Jika Engkau merasa kurang semangat dan teguh di atas kebenaran dan sentiasa rasa terganggu dan berasa gelisah, Maka periksalah bagaimana perhatianmu terhadap nasihat yang engkau dengar dari orang-orang yang menyampaikan nasihat kepadamu.
Firman Allah SWT bermaksud:

"Sesungguhnya kalau mereka melaksanakan pengajaran yang diberikan kepada mereka, tentulah hal yang demikian itu lebih baik bagi mereka dan lebih menjadikan Iman mereka menjadi teguh.”
[Q.S. Annisa: 66]

Yaa Allah, peliharalah kami semua.



U 74 : TANDA-TANDA LALAI


Dengar di Radio IKIM. Ustaz Pahrol Mat Juoi kupas tentang lalai. Mula-mula Ustaz kongsi tanda-tanda lalai.
Tanda-tanda lalai antaranya:

1. Kurang membaca Al Quran
2. Kurang berzikir
3. Lalai dalam solat, kurang ingat pada Allah:
     - Tidak fokus,
     - Sering terlupa bilangan rakaat,
     - Melewatkan solat,
     - Kurang solat jemaah.
4. Banyak membuang masa untuk hiburan, sukan dan di meja makan serta menonton tv.
5. Kurang @ malas berdoa. Kalau berdoa, tidak ada penghayatan, pakat hafal saja.
6. Sentiasa sibuk dengan urusan dunia; mudah stress.
7. Cara hidupnya menyerupai musuh Islam.
8. Tak berhati-hati dengan perkara yang syubhah dan haram.
9. Tangguh untuk bertaubat.
10. Malu untuk belajar agama.
11. Bangun fikir nak makan apa dan apa aku nak buat hari ini.

Ada juga Ustaz sebut:
Jarak antara hati kita dengan ketenangan, ibarat jarak kita dgn Al-Quran._
Pesan Ustaz:
Beli Al Quran guna duit sendiri. Pilih ikut citarasa kita. Cakap dengan Al Quran tu, kita nak bersahabat dengan dia (nak baca).

Kemudian, Ustaz cerita tentang akibat lalai:
1. Kurang semangat nak beribadah, tidak suka baca al Quran.
2. 'Bunuh' kebaikan yang kita buat, kita tak nampak berbuat baik itu suatu yang utama.
3. Hilang fokus dalam hidup.
4. Mudah lesu & buntu, sentiasa rasa esok masih ada & suka tangguh beribadah & kerja soleh.

Sebab-Sebab lalai:
1. Mengulang-ulang dosa kecil sampai jadi kelaziman.
2. Berkawan dengan orang-orang yang lalai.
3. Berada dalam persekitaran 'rosak'. (Contoh: pergaulan bebas dengan bukan muhrim, dedah aurat & buat maksiat), berada di situ bukan untuk tujuan berdakwah.
4. Tidak berzikir.
5. Terjerat dalam perancangan-perancangan licik musuh Islam. (Contoh: berlebihan dalam mendengar lagu, tonton filem yang melalaikan dan lain-lain.

Cara-cara mengatasi lalai:
1. Cari sahabat yang baik dan soleh.
2. Hadiri majlis ilmu.
3. Bangun malam untuk solat tahajjud.
4. Banyakkan zikir dan taubat.
5. Rajin baca al Quran.
6. Bersangka baik pada orang lain.
7. Pemaaf.
8. Ingat mati.
9. Kurangkan makan.
10. Amalkan sunnah Nabi SAW.
11. Bersabar bersyukur dan bertawakkal.

Rabu, 1 Januari 2020

U 73 : SEGELAS KOPI

Pelajaran daripada segelas kopi.
Ustaz : Tolong buatkan dua gelas kopi untuk kita berdua, tapi jangan tuang gulanya dulu, bawa saja ke mari.
Murid : Baik ustaz.
Tidak berapa lama, murid tersebut membawa dua gelas kopi yang masih hangat dan gula di dalam bekasnya  bersama sudu.
Ustaz : Cuba kamu rasa kopi kamu, bagaimana rasanya?
Murid : Rasanya sangat pahit sekali ustaz!
Ustaz : Letakkan sesudu gula, aduklah, bagaimana rasanya?
Murid : Rasa pahitnya sudah mula berkurang ustaz.
Ustaz : Tambahkan sesudu gula lagi, aduklah, bagaimana rasanya?
Murid : Rasa pahitnya sudah berkurang banyak ustaz.
Ustaz : Tambahkan sesudu gula lagi, aduklah, bagaimana rasanya?
Murid : Rasa manis mula terasa tapi rasa pahit juga masih sedikit terasa ustaz.
Ustaz : Tambahan sesudu gula lagi, aduklah, bagaimana rasanya?
Murid : Rasa pahit kopi sudah tidak terasa, yang ada rasa manis ustaz.
Ustaz : Tambahkan sesudu gula lagi, aduklah, bagaimana rasanya?
Murid : Sangat manis sekali ustaz.
Ustaz : Tambahkan sesudu gula lagi, aduklah, bagaimana rasanya?
Murid : Terlalu manis. Malah tidak sedap lagi.
Ustaz : Tambahkan sesudu gula lagi, aduklah, bagaimana rasanya?
Murid : Rasa kopinya jadi tidak sedap, lebih sedap bila ada rasa pahit kopi dan manis gulanya sama-sama terasa.
Ustaz : Ketahuilah muridku, pelajaran yang dapat kita ambil dari contoh ini adalah jika rasa pahit kopi ibarat kemiskinan hidup kita, dan rasa manis gula ibarat kekayaan harta, lalu menurutmu kenikmatan hidup itu sebaiknya seperti apa nak?
Murid tersebut termenung sejenak, lalu menjawab.
Murid : Ustaz, sekarang saya mula mengerti, kenikmatan hidup dapat kita rasakan, jika kita dapat merasakan hidup seperlunya, tidak melampaui batas. Terima kasih  atas pelajaran ini ustaz.
Ustaz : Baik, kopi yang sudah kamu beri gula tadi, campurkan dengan kopi yang belum kamu beri gula, aduklah, lalu tuangkan dalam kedua gelas ini, lalu kita nikmatinya bersama.
Murid tersebut lalu mengerjakan arahan ustaznya.
Ustaz : Bagaimana rasanya?
Murid : Rasanya nikmat sekali.
Ustaz : Begitulah juga jika engkau memiliki kelebihan harta, akan terasa nikmat bila engkau berkongsi dengan yang memerlukan.
Murid : Terima kasih atas nasihat dan petuanya ustaz


U 72 : INGAT SIAPA KITA

Dalam dunia business, aku adalah simbol dari kejayaan, seakan-akan harta dan diriku tiada pemisahan kerana selain kerja, hobiku tak banyak. Saat ini, aku berbaring di hospital, merenungi jalan kehidupanku, kekayaan, nama, dan kedudukan, semuanya itu tidak ada ertinya lagi.
Malam yang hening, cahaya dan suara mesin di sekitar katilku, bagaikan nafasnya
maut kematian yang hampir pada diriku. Sekarang aku mengerti, seseorang hanya patut memiliki harta secukupnya untuk digunakan dirinya saja. Itu sudah cukup. Mengejar kekayaan tanpa batas itu bagaikan raksaksa yang mengerikan. Tuhan memberi kita organ-organ perasa, agar kita boleh merasakan cinta kasih yang terpendam dalam hati kita yang paling dalam, tetapi bukan kegembiraan yang datang dari kehidupan yang mewah. Itu hanya ilusi saja.
Harta kekayaan yang aku perolehi semasa aku hidup, tak mungkin boleh ku bawa pergi.
Yang aku boleh bawa adalah kasih yang murni yang selama ini terpendam dalam hatiku.
Hanya cinta kasih itulah yang mampu memberiku kekuatan dan ketenangan.
Katil apa yang termahal di dunia ini?
Katil orang sakit.
Orang lain boleh bukakan kereta untukmu, orang lain boleh kerja untukmu, tapi tidak ada orang boleh menggantikan sakitmu.
Barang yang hilang boleh didapatkan kembali, tapi nyawa hilang tak boleh kembali lagi.
Saat kamu masuk ke bilik bedah, baru kamu sedari betapa berharganya kesihatan itu.
Kita berjalan di jalan kehidupan ini, dengan berlalunya waktu, suatu saat akan sampai tujuan. Bagaikan panggung pentas pun, tirai panggung akan tertutup, pentas telah berakhir. Yang patut kita hargai dan sayangkan adalah hubungan kasih antara keluarga,
cinta akan suami-isteri dan juga kasih persahabatan antara teman.
Hargai setiap detik dalam kehidupan kita, Isi hidup kita dengan perkara-perkara yang tidak boleh dibeli dengan wang ringgit.
Antara perkara yang paling berharga yang tak boleh dibeli dengan duit ialah iman, amal kesihatan, ketenangan dan kasih sayang.




U 71 : TAHNIAH UNTUK AHLI MASJID


"Kalau kakimu tidak membawamu ke masjid, bagaimana ia akan membawamu ke syurga!" Begitu sentap sekali perkongsian yang diterima dalam Whatsapp tempoh hari. Beruntunglah orang yang digelar kaki masjid. Sekurang-kurangnya mereka mendapat 11 ganjaran berikut;

1- Rasulullah SAW berpesan: "Jika kamu melihat seseorang yang sentiasa ke masjid, maka persaksikanlah dia orang beriman. Allah SWT berfirman: 'Sesungguhnya orang yang memeriahkan masjid-masjid Allah hanyalah orang yang beriman dengan Allah dan hari akhirat(Al-Tawbah 9: 18).”
(Riwayat Ibn Majah)

2- Rasulullah SAW bersabda: "Sesiapa yang pergi ke masjid jemaah, maka pada satu langkah dihapuskan dosa, pada langkah lain dicatatkan pahala, baik semasa pergi atau balik."
(Riwayat Ahmad, Ibn Majah)

3- Rasulullah SAW bersabda: "Tiada seorang Muslimpun yang sentiasa menghadirkan dirinya ke masjid-masjid untuk solat dan zikir melainkan Allah gembira menyambutnya sebagaimana ahli keluarga yang bergembira menyambut saudaranya yang sudah lama menghilang."
(Riwayat Ibn Majah)

4- Rasulullah SAW bersabda: "Ada tiga golongan semuanya dijamin Allah; ketika hidup dia diberikan rezeki dan kecukupan, apabila mati dia masuk syurga:
i. Sesiapa yang masuk ke rumahnya dengan memberi salam, maka dia dijamin Allah.
ii. Sesiapa yang keluar rumah untuk ke masjid, maka dia dijamin Allah.
iii. Sesiapa yang keluar demi untuk berjuang di jalan Allah, maka dia dijamin Allah.”
(Riwayat al-Bukhari dalam Adab al-Mufrad)

5- Rasulullah SAW bersabda: "Tidak berkumpul suatu kaum di mana-mana rumah Allah, mereka membaca kitab Allah dan mengkajinya sesama mereka, melainkan diturunkan kepada mereka ketenangan, diliputi rahmat dan malaikat meneduhi mereka dan Allah menyebut-nyebut mereka di depan malaikat-malaikat."
(Riwayat Muslim)

6- Rasulullah SAW bersabda: "Ada tujuh golongan yang akan dinaungkan Allah dengan naunganNya pada hari yang tidak ada naungan selain naunganNya. Seseorang yang hatinya terpaut pada masjid-masjid."
(Riwayat al-Bukhari)

Dalam riwayat Malik:
"Seseorang yang hatinya terpaut pada masjid sehingga dia kembali ke situ semula."

7- Rasulullah SAW bersabda: "Berilah khabar gembira kepada orang yang selalu berjalan kaki dalam kegelapan malam demi menuju ke masjid bahawa untuknya cahaya sempurna pada hari kiamat."
(Riwayat al-Tirmizi)

8- Rasulullah SAW bersabda: "Sesiapa yang solat berjemaah sempat dengan takbir pertama selama 40 hari kerana Allah, dicatatkan untuknya dua pelepasan; pelepasan daripada neraka dan pelepasan daripada sifat munafik."
(Riwayat al-Tirmizi)

9- Rasulullah SAW bersabda: "Masjid rumah setiap orang bertakwa. Allah telah jamin sesiapa yang masjid menjadi ibarat rumahnya dengan keluasan, kerehatan dan kemudahan melepasi sirat menuju keredaan Tuhan."
(Riwayat al-Baihaqi)

10- Rasulullah SAW bersabda: "Sesiapa yang berpergian pada waktu awal pagi atau petang menuju ke masjid, Allah akan menyediakan baginya tempat atau hidangan di dalam syurga setiap kali dia pergi ke masjid pada awal pagi dan petang."
(Riwayat Ahmad)

11- Allah SWT berfirman: "Demikianlah, dan sesiapa yang mengagungkan syiar-syiar Allah maka kerana hal itu satu kesan ketakwaan hati."
(Al-Hajj 22: 32)

Dan Allah SWT juga berfirman:
"Sesungguhnya orang paling mulia di sisi Allah ialah yang paling bertakwa." 
(Al-Hujurat 49: 13)

“Yaa Allah semoga kami menjadi kaki masjid dunia supaya kami termasuk dalam senarai VIP-Mu di syurga. Yaa Allah, bantulah kami untuk mengingatiMu, bersyukur kepadaMu dan melakukan ibadah yang terbaik untukMu."
(Riwayat Abu Daud)



U 70 : NASIHAT BUYA HAMKA

Menurut Prof Dr Hamka:

"Jika ingin melihat orang Islam." Datanglah ke masjid pada Aidilfitri dan Aidiladha, tetapi
Jika ingin melihat orang yang beriman, datanglah ke masjid waktu subuh. Itulah nisbah antara orang Islam dengan orang beriman." Sesungguhnya, subuh itu terjemahan diri.

1.     Jika subuhnya sentiasa dipelihara. Tanda akan selamat dari neraka.
2.   Jika subuhnya tiada dia tinggal. Allah SWT melindunginya dari aral.
3.   Jika subuhnya didahului sunat. Berganda isi dunia dia mendapat.
4.   Jika subuhnya bergelapan ke musolla. Di kegelapan akhirat mendapat cahaya.
5.   Jika subuh ke cerah berwirid lagi. Mendapat pahala umrah dan haji.
Namun,
1.     Jika subuhnya tiada dijaga. Pada wajahnya tiada cahaya.
2.     Jika subuhnya sengaja terlupa. Tanda imannya tiada bernyawa.
3.   Jika subuhnya terasa berat. Tanda munafik sudah mendekat.
4.   Jika subuh tiada dipeduli. Tanda iman menghampiri mati.
5.   Jika subuhnya tiada berjama’ah. Tanda hidupnya akan hilang barakah.
6.   Jika subuhnya tiada ke masjid. Tanda imannya ada penyakit.
7.   Jika subuhnya selalu terlewat. Tanda imannya semakin cacat.
8.   Jika subuhnya di akhir waktu. Tanda iman semakin kelabu.
9.   Jika subuhnya hari kesiangan. Tanda rezekinya sudah hilang.
10. Jika di subuh masih berdengkur. Tanda syaitan memeluknya tidur.


U 69 : SYURGA UNTUK AHLI MASJID


Syurga Untuk Pengunjung Masjid

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ غَدَا إِلَى الْمَسْجِدِ أَوْ رَاحَ أَعَدَّ اللَّهُ لَهُ فِي الْجَنَّةِ نُزُلًا كُلَّمَا غَدَا أَوْ رَاحَ

Daripada Abu Hurairah daripada Nabi SAW, baginda bersabda: "Barangsiapa datang ke masjid pada pagi atau petang hari, maka Allah akan menyediakan persinggahan baginya di syurga, setiap kali dia berangkat ke masjid di pagi atau petang hari." (HR Muslim No:1073) Status: Hadis Sahih
Pengajaran:
1.  Orang yang sentiasa solat di masjid pagi dan petang akan disediakan baginya tempat tinggal yang baik di syurga.
2.  Rasulullah menjanjikan perlindungan di hari kiamat kepada tujuh golongan, satu daripada golongan itu adalah mereka yang hatinya terikat dengan masjid walau di mana dia berada:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِيْ ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ…..  وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْـمَسَاجِدِ

Daripada Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, daripada Nabi SAW, baginda bersabda, “Tujuh golongan yang dinaungi Allâh dalam naunganNya pada hari di mana tidak ada naungan kecuali naunganNya: Seorang yang hatinya terikat ke masjid.”  (HR Bukhari: 660)

3.  Bersungguhlah menjaga solat berjemaah khususnya di masjid seperti kisah Sulaiman Ibn Hamzah al-Maqdisi keturunan Ibn Qudamah seorang ketua hakim di Syam: Aku tidak pernah solat fardu secara sendirian kecuali 2 kali dan sehingga sekarang aku seakan-akan merasa masih belum mengerjakannya (padahal usianya ketika itu mencecah 90 tahun) {dalam ar-Raqaik oleh Muhammad Ahmad ar-Rasyid)
Marilah sama-sama kita berusaha menjadikan masjid sebagai rumah kedua kita untuk menunaikan solat berjemaah dan mendalami ilmu agama. Kunjungilah masjid khususnya apabila masuk waktu solat.