Sabtu, 10 Januari 2015

R 95 : RASULULLAH SAW MENANGIS APABILA BERCERITA TENTANG NERAKA

Abul-Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari Abu Hurairah r.a. berkata :   RASULULLAH SAW bersabda:

Ertinya : “Api neraka telah dinyalakan selama seribu tahun sehingga merah, kemudian dilanjutkan seribu tahun sehingga putih, kemudian dilanjutkan seribu tahun sehingga gelap bagaikan malam yang kelam.”

Diriwayatkan bahawa Yazid bin Martsad selalu menangis sehingga tidak pernah kering air matanya dan ketika ditanya, maka dijawabnya:

“Andaikata ALLAH SWT mengancam akan memenjarakan aku di dalam bilik mandi selama seribu tahun. nescaya sudah selayaknya air mataku tidak berhenti maka bagaimana sedang kini telah mengancam akan memasukkan aku dalam api neraka yang telah dinyalakan selama tiga ribu tahun.”
(satu hari di akhirat bersamaan 1000 tahun di dunia)

Abul-Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari mujahid berkata:

“Sesungguhnya di jahanam ada beberapa perigi berisi ular-ular sebesar leher unta dan kala sebesar keldai, maka larilah orang-orang ahli neraka keluar itu, maka bila tersentuh oleh bibirnya langsung terkelupas rambut, kulit dan kuku dan mereka tidak dapat selamat dari gigitan itu kecuali jika lari ke dalam neraka.”

Abdullah bin Jubair meriwayatkan bahawa RASULULLAH SAW bersabda :

Ertinya : “Bahawa di dalam neraka ada ular-ular sebesar leher unta, jika menggigit maka rasa pedih bisanya tetap terasa hingga empat puluh tahun. Juga di dalam neraka ada kala sebesar keldai, jika menggigit maka akan terasa pedih bisanya selama empat puluh tahun.”

Al-a’masy dari Yasid bin Wahab dari Ibn Mas’ud berkata:

“Sesungguhnya apimu ini sebahagian dari tujuh puluh bahagian dari api neraka, dan andaikan tidak didinginkan dalam laut dua kali nescaya kamu tidak dapat mempergunakannya.”

Mujahid berkata:

“Sesungguhnya apimu ini berlindung kepada ALLAH SWT dari neraka jahanam.” 

RASULULLAH SAW bersabda:

Ertinya : “Sesungguhnya seringan-ringan siksa ahli neraka iaitu seorang yang berkasutkan dari api neraka dan dapat mendidihkan otaknya, seolah-olah di telinganya ada api dan giginya berapi dan di bibirnya ada wap api dan keluar ususnya dari bawah kakinya, bahkan ia merasa bahawa dialah yang terberat siksanya dari semua ahli neraka, padahal ia sangat ringan siksanya dari semua ahli neraka.”

Abul-Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari Abdullah bin Amr r.a. berkata:

“Orang-orang neraka memanggil Malaikat Malik tetapi tidak dijawab selama empat puluh tahun, kemudian dijawabnya: “Bahawa kamu tetap tinggal dalam neraka.” Kemudian mereka berdoa (memanggil) Tuhan: “Ya Tuhan, keluarkanlah kami dari neraka ini, maka bila kami mengulangi perbuatan-perbuatan kami yang lalu itu bererti kami zalim.”

Maka tidak dijawab selama umur dunia ini dua kali, kemudian dijawab:

Hina dinalah kamu di dalam neraka dan jangan berkata-kata.”

Demi ALLAH setelah itu tidak ada yang dapat berkata-kata walau satu kalimah, sedang yang terdengar hanya nafas keluhan dan tangis rintihan yang suara mereka hampir menyamai suara himar (keldai).

Qatadah berkata: “Wahai kaumku, apakah kamu merasa bahawa itu pasti akan terkena pada dirimu, atau kamu merasa akan kuat menghadapinya. Wahai kaumku, taatlah kepada ALLAH SWT itu jauh lebih ringan bagi kamu kerana itu, taatilah sebab ahli neraka itu kelak akan mengeluh selama seribu tahun tetapi tidak berguna bagi mereka, lalu mereka berkata: “Dahulu ketika kami di dunia, bila kami sabar lambat laun mendapat keringanan dan kelapangan, maka mereka lalu bersabar seribu tahun, dan tetap siksa mereka tidak diringankan sehingga mereka berkata: 

Ajazi’na am sobarna malana min mahish (Yang bermaksud) Apakah kami mengeluh atau sabar, tidak dapat mengelakkan siksa ini. Lalu minta hujan selama seribu tahun sangat haus dan panas neraka maka mereka berdoa selama seribu tahun, maka ALLAH SWT  berkata kepada Jibril: “Apakah yang mereka minta?” Jawab Jibril: “Engkau lebih mengetahui, ya ALLAH, mereka minta hujan.” Maka nampak pada mereka awan merah sehingga mereka mengira akan turun hujan, maka dikirim kepada mereka jengking sebesar keldai, yang menggigit mereka dan terasa pedih gigitan itu selama seribu tahun. Kemudian mereka minta kepada ALLAH SWT  selama seribu tahun untuk diturunkan hujan, maka nampak mereka awan yang hitam, mereka mengira bahawa itu akan hujan, tiba-tiba turun kepada mereka ular-ular sebesar leher unta, yang menggigit mereka dan gigitan itu terasa pedihnya hingga seribu tahun, dan inilah ertinya: Zidnahum adzaba fauqal adzabi. (Yang bermaksud) Kami tambahkan kepada mereka siksa di atas siksa.

Kerana mereka dahulu telah kafir, tidak percaya dan melanggar tuntutan ALLAH SWT, kerana itulah maka siapa yang ingin selamat dari siksaan ALLAH SWT  harus sabar sementara atas segala penderitaan dunia di dalam mentaati perintah dan menjauhi larangan ALLAH SWT  dan menahan syahwat hawa nafsu sebab syurga neraka diliputi syahwat-syahwat.

Seorang pujangga berkata: “Dalam usia tua itu cukup pengalaman untuk mencegah orang yang tenang dari sifat kekanak-kanakan, apabila telah menyala api dirambutnya (beruban). Saya melihat seorang itu ingin hidup tenang bila dahan pohon telah menguning sesudah hijaunya. Jauhilah kawan yang busuk dan berhati-hatilah, jangan menghubunginya tetapi bila tidak dapat, maka ambil hati-hatinya, dan berkawanlah pada orang yang jujur tetapi jangan suka membantah padanya, engkau pasti akan disukai selama kau tidak membantah kepadanya. Berkawanlah dengan orang bangsawan dan yang berakhlak baik budinya.”

Maka sesiapa yang berbuat baik pada orang yang tidak berbudi bererti ia telah membuang budi itu ke dalam laut. Dan ALLAH SWT  mempunyai syurga yang selebar langit tetapi diliputi dengan kesukaran-kesukaran.

Abul-Laits meriwayatkan dengan sanadnya daripada Abu Hurairah r.a. berkata: “NABI MUHAMMAD SAW bersabda:

Ertinya : “ALLAH memanggil Malaikat Jibril dan menyuruhnya melihat syurga dengan segala persiapannya untuk ahlinya, maka ketika kembali berkata Jibril: Demi kemuliaanMu, tiada seorang yang mendengarnya melainkan ia akan masuk ke dalamnya, maka diliputi dengan serba kesukaran, dan menyuruh Jibril kembali melihatnya, maka kembali melihatnya, kemudian ia berkata: Demi kemuliaanMu saya khuatir kalau-kalau tiada seorangpun yang masuk ke dalamnya. Kemudian disuruh melihat neraka dan semua yang disediakan untuk ahlinya, maka kembali Jibril dan berkata: Demi kemuliaanMu tidak akan masuk ke dalamnya orang yang telah mendengarnya, kemudian diliputi dengan kepuasan syahwatnya, dan diperintah supaya kembali melihatnya kemudian setelah dilihatnya kembali, berkatanya: Saya khuatir kalau tiada seorangpun melainkan akan masuk ke dalamnya.”

Juga NABI MUHAMMAD SAW bersabda:

Ertinya : “Kamu boleh menyebut tentang neraka sesukamu, maka tiada kamu menyebut sesuatu melainkan api neraka itu jauh lebih ngeri dan lebih keras daripadanya.”

Abul-Laits meriwayatkan dengan sanadnya dari Maimun bin Nahran berkata: “Ketika turun ayat (yang berbunyi) Wa inna jahannam lamau’iduhum ajma’in (yang bermaksud) Sesungguhnya neraka jahannam itu sebagai ancaman bagi semua mereka. Salman meletakkan tangan di atas kepalanya dan lari keluar selama tiga hari baru ditemuikannya.

Yazid Arraqqasyi daripada Anas bin Malik r.a. berkata: “Jibril datang kepada NABI MUHAMMAD SAW pada saat yang tiada biasa datang, dalam keadaan yang berubah mukanya, maka ditanya oleh NABI MUHAMMAD SAW :

“Mengapa aku melihat kau berubah muka?”
Jawab Jibril: “Ya MUHAMMAD, aku datang kepadamu pada saat di mana ALLAH menyuruh supaya dikobarkan api neraka, maka tidak layak bagi orang yang mengetahui  bahawa neraka jahannam itu benar, siksa kubur itu benar, siksa ALLAH itu terbesar untuk bersuka-suka sebelum ia merasa aman daripadanya.”
Lalu NABI MUHAMMAD SAW bersabda: “Ya Jibril, jelaskan kepadaku sifat jahanam.”
Jawabnya: “Ya, ketika ALLAH menjadikan jahanam maka dinyalakan selama seribu tahun sehingga merah, kemudian dilanjutkan seribu tahun hingga putih, kemudian seribu tahun sehingga hitam, maka ia hitam gelap, tidak pernah padam nyala dan baranya. Demi ALLAH yang mengutuskan engkau dengan hak, andaikan terbuka sebesar lubang jarum nescaya akan dapat membakar penduduk dunia semuanya kerana panasnya. Demi ALLAH yang mengutuskan engkau dengan hak, andaikan satu baju ahli neraka itu digantung di antara langit dan bumi nescaya akan mati penduduk bumi kerana panas dan baranya. Demi ALLAH yang mengutus engkau dengan hak, andaikan satu pergelangan dari rantai yang disebut ALLAH dalam al Quran itu diletakkan di atas bukit nescaya akan cair sampai ke bawah bumi yang ketujuh. Demi ALLAH yang mengutusmu dengan hak, andaikan seorang di hujung barat tersiksa nescaya akan terbakar orang-orang yang di hujung timur kerana sangat panasnya, jahanam itu sangat dalam dan perhiasannya besi dan minumannya air panas campur nanah dan pakaiannya potongan api. Api neraka itu ada mempunyai tujuh pintu, tiap-tiap pintu ada bahagian yang tertentu dari orang lelaki dan perempuan.”

NABI MUHAMMAD SAW bertanya: “Apakah pintu-pintunya bagaikan pintu-pintu rumah-rumah kami?”

Jawabnya: “Tidak, tetapi selalu terbuka, setengahnya di bawah dari lainnya, dari pintu ke pintu jarak perjalanan tujuh puluh ribu tahun, tiap pintu lebih panas dari yang lain tujuh puluh ribu tahun, tiap pintu lebih panas dari yang lain tujuh puluh kali ganda, maka digiring ke sana musuh-musuh ALLAH SWT  sehingga bila telah sampai ke pintunya disambut oleh malaikat-malaikat Zabaniyah dengan rantai dan belenggu, maka rantai itu dimasukkan ke dalam mulut mereka hingga tembus ke pantat, dan diikat tangan kirinya ke lehernya, sedang tangan kanannya dimasukkan dalam dada dan tembus ke bahunya, dan tiap-tiap manusia itu digandeng dengan syaitannya lalu diseret tersungkur mukanya sambil dipukul oleh para malaikat dengan pukul besi, tiap mereka ingin keluar kerana sangat risau, maka ditanamkan ke dalamnya.”

NABI MUHAMMAD SAW bertanya lagi: “Siapakah penduduk masing-masing pintu itu?”

Jawabnya: “Pintu yang terbawah untuk orang-orang munafik, orang-orang yang kafir setelah diturunkan hidangan mujizat Nabi Isa as serta keluarga Firaun sedang namanya Alhawiyah. Pintu kedua tempat orang-orang musyrikin bernama Jahim, pintu ketiga tempat orang-orang shobi’in bernama Saqar. Pintu keempat tempat iblis laknatullah dan pengikutnya dari kaum Majusi bernama Ladha, pintu kelima orang yahudi bernama Huthomah. Pintu keenam tempat orang-orang kristian (Nasara) bernama Sa’ie.”

Kemudian Jibril diam segan pada NABI MUHAMMAD SAW sehingga NABI MUHAMMAD SAW bertanya: “Mengapa tidak kau terangkan penduduk pintu ketujuh?”

Jawab Jibril: “Di dalamnya orang-orang yang berdosa besar dari umatmu yang sampai mati belum sempat bertaubat.”

Maka NABI MUHAMMAD SAW jatuh pengsan ketika mendengar keterangan Jibril itu, sehingga Jibril meletakkan kepala NABI MUHAMMAD SAW dipangkuan Jibril sehingga sedar kembali, dan ketika sudah sedar NABI MUHAMMAD SAW bersabda:

“Ya Jibril, sungguh besar kerisauanku dan sangat sedihku, apakah ada seorang dari umatku yang akan masuk neraka?”

Jawab Jibril: “Ya, iaitu orang yang berdosa besar dari umatmu.”

Kemudian NABI MUHAMMAD SAW menangis, Jibril juga menangis, kemudian NABI MUHAMMAD SAW masuk ke dalam rumahnya dan tidak keluar kecuali untuk solat kemudian masuk kembali dan tidak berbicara dengan orang dan bila solat selalu menangis dan minta kepada ALLAH SWT , dan pada hari ketiga datang Abu Bakar r.a. ke rumah NABI MUHAMMAD SAW mengucapkan:

“Assalamu’alaikum ya ahla baiti rahmah. apakah dapat bertemu kepada NABI MUHAMMAD SAW?”  Maka tidak ada yang menjawabnya, sehingga ia menepi untuk menangis, kemudian Umar datang dan berkata:

“Assalamu’alaikum ya ahla baiti rahmah, apakah dapat bertemu dengan RASULULLAH SAW?”  Dan ketika tidak mendapat jawapan diapun menepi dan menangis, kemudian datang Salman Alfarisi dan berdiri di muka pintu sambil mengucapkan:

“Assalamu’alaikum ya ahla baiti rahmah, apakah dapat bertemu dengan Junjunganku RASULULLAH SAW?” Dan ketika tidak mendapat jawapan, dia menangis sehingga jatuh dan bangun, sehingga sampai ke rumah Fatimah r.a. dan di muka pintunya ia mengucapkan:

“Assalamu’alaikum hai puteri RASULULLAH SAW.“ Kebetulan pada masa itu Ali r.a. tiada di rumah, lalu bertanya:

“Hai puteri RASULULLAH, sesungguhnya RASULULLAH SAW telah beberapa hari tidak keluar kecuali untuk solat dan tidak berkata apa-apa kepada orang dan juga tidak mengizinkan orang-orang bertemu dengannya.” Maka segeralah Fatimah memakai baju yang panjang dan pergi sehingga apabila beliau sampai ke depan muka pintu rumah RASULULLAH SAW dan memberi salam sambil berkata:

“Saya Fatimah, ya RASULULLAH.” Sedang RASULULLAH SAW bersujud sambil menangis, lalu RASULULLAH SAW mengangkat kepalanya dan bertanya:

“Mengapakah kesayanganku?” Apabila pintu dibuka maka masuklah Fatimah ke dalam rumah RASULULLAH SAW dan ketika melihat RASULULLAH SAW menangislah ia kerana melihat RASULULLAH SAW pucat dan sembam muka kerana banyak menangis dan sangat sedih, lalu ia bertanya:

“Ya RASULULLAH, apakah yang menimpamu?” Jawab RASULULLAH SAW:

“Jibril datang kepadaku dan menerangkan sifat-sifat neraka jahanam dan menerangkan bahawa bahagian yang paling atas dari semua tingkat neraka jahanam itu adalah untuk umatku yang berbuat dosa-dosa besar, maka itulah yang menyebabkan aku menangis dan berduka cita.” Fatimah bertanya lagi:

“Ya RASULULLAH, bagaimana caranya masuk?” Jawab RASULULLAH SAW :

“Diiring oleh Malaikat ke neraka, tanpa dihitamkan muka juga tidak biru mata mereka dan tidak ditutup mulut mereka dan tidak digandingkan dengan syaitan, bahkan tidak dibelenggu atau dirantai.” Ditanya Fatimah lagi:

“Lalu bagaimana cara Malaikat menuntun mereka?” Jawab RASULULLAH SAW:

“Adapun kaum lelaki ditarik janggutnya sedangkan yang perempuan ditarik rambutnya, maka beberapa banyak dari orang-orang tua dari umatku yang mengeluh ketika diseret ke neraka: Alangkah tua dan lemahku, demikian juga yang muda mengeluh: Wahai kemudaanku dan bagus rupaku, sedang wanita mengeluh: Wahai alangkah maluku sehingga dibawa Malaikat Malik dan ketika telah dilihat oleh Malaikat Malik lalu bertanya:

“Siapakah mereka itu, maka tidak pernah saya dapatkan orang yang akan tersiksa seperti orang-orang ini, muka mereka tidak hitam, matanya tidak biru, mulut mereka juga tidak tertutup dan tidak juga diikat bersama syaitannya, dan tidak dibelenggu atau dirantai leher mereka? Jawab Malaikat:

“Demikianlah kami diperintahkan membawa orang-orang ini kepadamu sedemikian rupa.” Lalu ditanya oleh Malaikat Malik:

“Siapakah wahai orang-orang yang celaka?”

Dalam lain riwayat dikatakan ketika mereka diiring oleh Malaikat Malik selalu memanggil:

“Wa MUHAMMAD.” tetapi setelah melihat muka Malaikat Malik lupa akan nama Rasulullah saw. kerana hebatnya Malaikat Malik, lalu ditanya:

“Siapakah kamu?” Jawab mereka:

“Kami umat yang dituruni al Quran dan kami telah puasa bulan Ramadan.” Lalu Malaikat Malik berkata:

“Al Quran tidak diturunkan kecuali kepada umat RASULULLAH SAW.” Maka ketika itu mereka menjerit:

“Kami umat NABI MUHAMMAD SAW.” Maka Malaikat Malik bertanya:

“Tidakkah telah ada larangan dalam al Quran dari maksiat terhadap ALLAH SUBHA NAHU TAALA.” Dan ketika berada di tepi neraka jahanam dan diserahkan kepada Malaikat Zabaniyah, mereka berkata:

“Ya Malik, diizinkan saya akan menangis.” Maka diizinkan, lalu mereka menangis sampai habis airmata, kemudian menangis lagi dengan darah, sehingga Malaikat Malik berkata:

“Alangkah baiknya menangis ini andaikata terjadi di dunia kerana takut kepada ALLAH SWT, nescaya kamu tidak akan disentuh oleh api neraka pada hari ini, lalu Malaikat Malik berkata kepada Malaikat Zabaniyah:

“Lemparkan mereka ke dalam neraka.” dan bila telah dilempar mereka serentak menjerit:

“La illaha illallah.” maka surutlah api neraka, Malaikat Malik berkata:

“Hai api, sambarlah mereka.” Jawab api:

“Bagaimana aku menyambar mereka, padahal mereka menyebut  La illaha illallah.” Malaikat Malik berkata: “Demikianlah perintah Tuhan Rabbul arsy.” maka ditangkaplah mereka oleh api, ada yang hanya sampai tapak kaki, ada yang sampai ke lutut, ada yang sampai ke muka. Malaikat Malik berkata:

“Jangan membakar muka mereka kerana kerana mereka telah lama sujud kepada Allah s.w.t., juga jangan membakar hati mereka kerana mereka telah haus pada bulan Ramadan.” Maka tinggal dalam neraka beberapa lama sambil menyebut:

“Ya Arhamar Rahimin, Ya Hannan, Ya Mannan.” Kemudian bila telah selesai hukuman mereka, maka ALLAH SWT memanggil Jibril dan bertanya:

“Ya Jibril, bagaimanakah keadaan orang-orang yang maksiat dari umat NABI MUHAMMAD SAW?” Jawab Jibril:

“Ya Tuhan, Engkau lebih mengetahui.” Lalu diperintahkan:

“Pergilah kau lihatkan keadaan mereka.” Maka pergilah Jibril as. kepada Malaikat Malik yang sedang duduk di atas mimbar di tengah-tengah jahanam. Ketika Malaikat Malik melihat Jibril segera ia bangun hormat dan berkata:

“Ya Jibril, mengapakah kau datang ke sini?” Jawab Jibril:

“Bagaimanakah keadaan rombongan yang maksiat dari umat RASULULLAH SAW?” Jawab Malaikat Malik:

“Sungguh ngeri keadaan mereka dan sempit tempat mereka, mereka telah terbakar badan dan daging mereka kecuali muka dan hati mereka masih berkilauan iman.” Jibril berkata:

“Bukalah tutup mereka supaya saya dapat melihat mereka.” Maka Malaikat Malik menyuruh Malaikat Zabaniah membuka tutup mereka dan ketika mereka melihat Jibril mereka mengerti bahawa ini bukan Malaikat yang menyiksa manusia, lalu mereka bertanya:

“Siapakah hamba yang sangat bagus rupanya itu?” Jawab Malaikat Malik:

“Itu Jibril yang biasa membawa wahyu kepada NABI MUHAMMAD SAW.” Ketika mereka mendengar nama NABI MUHAMMAD SAW maka serentaklah mereka menjerit:

“Ya Jibril, sampaikan salam kami kepada NABI MUHAMMAD SAW dan beritakan bahawa maksiat kamilah yang memisahkan kami dengannya serta sampaikan keadaan kami kepadanya.” Maka kembalilah Jibril menghadap kepada ALLAH SWT lalu ditanya:

“Bagaimana kamu melihat umat MUHAMMAD?” Jawab Jibril:

“Ya Tuhan, alangkah buruknya keadaan mereka dan sempit tempat mereka.” Lalu ALLAH SWT  bertanya lagi:

“Apakah mereka minta apa-apa kepadamu?” Jawab Jibril:

“Ya, mereka minta disampaikan salam mereka kepada NABI MUHAMMAD SAW dan diberitakan kepadanya keadaan mereka.” Maka ALLAH SWT  menyuruh Jibril menyampaikan semua pesanan itu kepada NABI MUHAMMAD SAW  yang tinggal dalam khemah dari permata yang putih, mempunyai empat ribu buah pintu dan tiap-tiap pintu terdapat dua daun pintu dari emas, maka berkata Jibril:

Ya MUHAMMAD, saya datang kepadamu dari rombongan orang-orang yang derhaka dari umatmu yang masih tersiksa dalam neraka, mereka menyampaikan salam kepadamu dan mengeluh bahawa keadaan mereka sangat buruk dan sangat sempit tempat mereka.” Maka pergilah NABI MUHAMMAD SAW  ke bawah arsy dan bersujud dan memuji ALLAH SWT   dengan ucapan yang tidak pernah diucapkan oleh seorang makhlukpun sehingga ALLAH SWT  menyuruh NABI MUHAMMAD SAW :

“Angkatlah kepalamu dan mintalah nescaya akan diberikan, dan ajukan syafaatmu pasti akan diterima.” Maka NABI MUHAMMAD SAW  berkata:

“Ya Tuhan, orang-orang yang durhaka dari umatku telah terlaksana pada mereka hukumMu dan balasanMu, maka terimalah syafaatku.” ALLAH SWT  berfirman:

“Aku terima syafaatmu terhadap mereka, maka pergilah ke neraka dan keluarkan daripadanya orang yang pernah mengucap Laa ilaha illallah.” Maka pergilah NABI MUHAMMAD SAW   ke neraka dan ketika dilihat oleh Malaikat Malik, maka segera ia bangkit hormat lalu ditanya:

“Hai Malik, bagaimanakah keadaan umatku yang durhaka?” Jawab Malaikat Malik:

“Alangkah buruknya keadaan mereka dan sempit tempat mereka.” Maka diperintahkan membuka pintu dan angkat tutupnya, maka apabila orang-orang di dalam neraka itu melihat NABI MUHAMMAD SAW   maka mereka menjerit serentak:

“Ya NABI MUHAMMAD SAW, api neraka telah membakar kulit kami.” Maka dikeluarkan semuanya berupa arang, lalu dibawa mereka ke sungai di muka pintu syurga yang bernama Nahrulhayawan, dan di sana mereka mandi kemudian keluar sebagai orang muda yang gagah, elok, cerah matanya sedangkan wajah mereka bagaikan bulan dan tertulis di dahi mereka Aljahanamiyun atau orang-orang jahannam yang telah dibebaskan oleh ALLAH SWT. Dari neraka kemudiannya mereka masuk ke syurga, maka apabila orang-orang neraka itu melihat kaum muslimin telah dilepaskan dari neraka, mereka berkata:

“Aduh, sekiranya kami dahulu Islam tentu kami dapat keluar dari neraka.” ALLAH SWT   berfirman:

“Rubama yawaddul ladzina kafaruu lau kanu muslimin.” (Yang bermaksud) “Pada suatu saat kelak orang-orang kafir ingin andaikan mereka menjadi orang Muslim.”

NABI MUHAMMAD SAW  bersabda:

Ertinya : “Pada hari kiamat kelak akan didatangkan maut itu berupa kambing kibas putih hitam, lalu dipanggil orang-orang syurga dan ditanya: “Apakah kenal maut?” Maka mereka melihat dan mengenalnya, demikian pula ahli neraka ditanya: “Apakah kenal maut?” Mereka melihat dan mengenalnya, kemudian kambing itu disembelih di antara syurga dan neraka, lalu diberitahu: “Hai ahli syurga kini kekal tanpa mati, hai ahli neraka kini kekal tanpa mati.”

Demikianlah ayat: Wa andzirhum yaumal hasrati idz qudhiyal amru (Yang bermaksud) Peringatkanlah mereka akan hari kemenyesalan ketika maut telah dihapuskan.”
Abu Hurairah r.a. berkata: “Janganlah gembira seorang yang lacur dengan suatu nikmat kerana di belakangnya ada yang mengejarnya iaitu jahanam, tiap-tiap berkurang ditambah pula nyalanya.”

( Sedutan daripada Kitab Tanbihul Ghafilin )


Tiada ulasan:

Catat Ulasan