Selasa, 22 April 2014

Q 77 : ALLAH SWT ITU DEKAT

Muslim yang terbaik adalah yang dapat mencapai tingkatan Ihsan (muhsin).
Seorang yang sampai pada tingkatan seolah-olah melihat Allah swt atau paling tidak seorang yang yakin bahawa segala perbuatannya dilihat Allah swt maka tentu akan terdorong melakukan perintahNya dan menjauhi laranganNya.
Inilah sesungguhnya bentuk ketakwaan kepada Allah swt yang menentukan tingkat/ukuran kemuliaan seorang muslim di hadapan Allah swt.
Sesuai firman Allah,

Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa.
(QS. Al-Hujurat: 13).

Tingkatan utama yakni  “Seolah-olah melihat Allah” bersifat aktif ertinya dengan kurniaan Allah swt kita “melakukannya”/”merasakannya” sedangkan tingkatan di bawahnya adalah “Segala perbuatan  dilihat Allah” bersifat pasif.

“Seolah-olah melihat Allah” tentu tidak boleh diertikan secara harfiah atau secara fizik atau tersurat.  Namun fahami secara hakikat adalah dengan menelisik apa yang tersembunyi / tersirat, mencari makna spiritual (thariq al bathin), guna mensucikan batin (thathhir al bathin).
Sesungguhnya manusia tidak akan mampu “melihat” Allah ketika di dunia.
Peristiwa ini diabadikan dalam surat Al A’raf (7) ayat 143,

“Dan tatkala Musa tiba di miqat lalu berkata, ‘Tuhanku, tampakkanlah diriMu supaya aku boleh melihatMu.’ Maka Tuhan pun berkata, ‘Kamu tidak akan boleh melihatKu, tetapi pandang saja gunung di seberangmu, bila dia tetap di tempatnya, maka kamu akan melihatKu.’ Maka ketika Tuhannya menampakkan cahayaNya bertajalli kepada gunung, jadilah gunung itu hancur lebur. Maka Musa tersungkur pengsan. Dan setelah sedar dia berkata, ‘Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepadaMu dan aku akan menjadi orang mukmin pertama.”

Kisah ini tercantum juga dalam kitab Qishashul Anbiya’ karangan Ibnu Katsir yang mencuba menjelaskan bahawa Nabi Musa a.s. adalah Kalimullah, orang yang mampu berbicara langsung dengan Allah swt. Namun dia hanya mendengar suara Allah swt dari balik hijab. Ketika dia meminta hijab itu disingkapkan, Allah swt tidak menuruti, tetapi Ia memberikan pelajaran telak kepada hambaNya sehingga pengsan dan sedar kelemahan diri. Manusia memang tidak akan sanggup melihat Allah swt. Jangankan cahaya Allah swt, memandang matahari pun mata manusia akan terbakar.
Tetapi kelak di akhirat, melihat Allah swt merupakan puncak kenikmatan ahli syurga. Lebih mulia dari kenikmatan istana, kebun, buah-buahan, dan bidadari syurgawi.
Ketika para sahabat bertanya, “Ya Rasulullah, akankah kita kelak boleh memandang Allah?” Beliau menjawab, “Kalian akan memandangNya sebagaimana kalian memandang bulan purnama raya. Dan setelah itu para ahli syurga tidak mahu lagi memalingkan wajah mereka dari memandang Allah.”
Subhanallah.

Sebahagian umat muslim memahami ihsan itu khususnya pada ketika ibadah saja, seperti ketika solat.
Maka setiap melakukan ibadah khususnya pada waktu solat, bila tidak disertai perasaan, “seperti sungguh-sungguh” melihat Tuhan, maka ibadah itu tidak tergolong dalam kategori ibadah yang ihsan (baik). Allah SWT. berfirman :

“Sesungguhnya solat itu memang berat kecuali bagi mereka yang khusyuk iaitu mereka yang yakin akan berjumpa dengan Tuhan mereka, dan sesungguhnya mereka akan kembali kepadaNya.” 
(QS. Al-Baqarah 2 : 45).

Sebahagian umat muslim lainnya memahami ihsan ibaratnya “melihat” dengan “mata hati.”
Sebahagian umat muslim lainnya memahami ihsan ibaratnya “merasakan” “kedekatannya” dengan Allah di setiap saat kehidupan.
Sungguh Allah swt  itu dekat, sesuai dengan firman Allah swt yang ertinya

Dan Kami lebih dekat kepadanya dari pada kamu. Tetapi kamu tidak melihat.
(QS Al-Waqi’ah: 85).

Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.
(QS. Qaaf: 16)

“Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang “Aku” maka (jawablah) bahawasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila berdoa kepadaKu, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintahKu) dan hendaklah mereka itu beriman kepadaKu, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” 
( Al Baqarah: 186).

Allah swt berfirman kepada NabiNya,

Dan sujudlah dan dekatkanlah (dirimu kepada Tuhan).”
(QS Al-’Alaq [96]:19 )

Selalu berada dalam kebenaran boleh diertikan selalu merasakan “bersama” Allah swt dalam menjalani kehidupan di dunia.
Kedekatan kita dengan Allah swt terhalang/terhijab dengan dosa. Untuk itulah langkah pertama agar kita lebih dekat dengan Allah adalah bertaubat, salah satunya dengan berzikir.
Astaghfirullah.
“Ampunilah hambamu ini ya Allah.”

Firman Allah yang ertinya :

Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepadaNya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), nescaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberikan kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya. Jika kamu berpaling, maka sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa siksa hari kiamat.”
(Al Hud : 3)

Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.
(Al Hujurat : 12) .

Istighfar diikuti dengan taubat, penyesalan atas dosa dan sekuat tenaga dan sepenuh kesedaran untuk tidak mengulangi lagi.
Kemudian perbaharuilah selalu kesaksian dengan mengucapkan dua kalimat syahadat.
Asyhadu anlaailaaha illallah Wa-asyhadu anna Muhammadar-rasulullah

Syahadat bererti bersaksi dan meyakini bahawa tidak ada Tuhan selain Allah dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah.
Membaca dua kaliamat Syahadat merupakan cara untuk mengislamkan kembali atau untuk mengembalikan iman seorang muslim yang telah murtad, kerana melakukan perbuatan syirik kepada Allah atau lainnya baik disengaja ataupun tidak disengaja.
Seorang yang kafir bila beramal soleh maka tidak akan diterima dan bila berdoa maka akan terhijab(tertutup). Semua amal dan doa mereka sia-sia dan ditolak oleh Allah swt, kecuali jika mereka beriman dengan mengucapkan dua kalimat Syahadat.

Dan doa ( ibadah ) orang-orang kafir itu, hanyalah sia-sia belaka. 
( Arra’d : 14 ).

Selanjutnya biasakan Zikir Hauqolah  agar kita didekatkan dengan Allah atas pertolonganNya.

Laahaulaa walaaquw-wata il-laabillahil ‘aliy-yil ‘adziim.

Tiada daya upaya dan kekuatan selain atas izin/pertolongan Allah”

Yakinlah bahwa kita sebagai manusia adalah “lemah”  dan upaya kita mendekatkan diri kepada Allah swt semata-mata atas kurnia / izin Allah.
Tentang kurnia Allah swt. Allah telah berfiman yang ertinya,

Demikianlah kurnia Allah, diberikanNya kepada siapa yang dikehendakiNya; dan Allah mempunyai kurnia yang besar.
( Al-Jumu’ah : 4)

Berselawat kepada Nabi Muhammad saaw adalah salah satu jalan untuk mendekatkan diri kepada Allah swt.

Allahumma sholli alaa Muhammad wa alaa ali Muhammad.“

Membaca selawat atas Nabi merupakan perintah Allah dan anjuran dari Nabi Muhammad.

Firman Allah yang ertinya :

Sesungguhnya Allah dan Malaikat-malaikatNya berselawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, berselawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya. 
( Al Ahzab:56 ) 

Membaca selawat merupakan salah satu kunci diterimanya doa, kerana tanpa diawali dengan selawat maka doa tidak diterima oleh Allah swt.

”Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan carilah jalan untuk mendekatkan diri kepadaNya, dan berjihadlah pada jalanNya, supaya kamu mendapat keberuntungan. “ 
( Al Maidah:35 ).

Selanjutnya adalah upaya yang sering  dilakukan oleh muslim agar terjaga dekat dengan Allah yakni dengan berdoa sebelum melakukan perbuatan/kegiatan atau minimal dengan membaca basmalah.


“Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pengasih  Maha Penyayang.”

Dalam Hadits Rasulullah saw bersabda,

“Setiap pekerjaan yang baik, jika tidak dimulai dengan “Bismillah” (menyebut nama Allah) maka (pekerjaan tersebut) akan terputus (dari keberkahan Allah).”

Sebagaimana dalam kehidupan kita, secara naluri jika ingin keberhasilan perbuatan atau permohonan biasanya kita menyebut nama orang yang berkuasa.

Misalnya,
- Zaman orde baru, tingkat keberhasilan menjadi besar, jika kita menyebut (mengenalkan/mereferensi) nama pa Harto yang berkuasa kala itu.
-  Memberikan perintah kepada bawahan atau ajakan kepada sesama staff akan “lebih segera” dilaksanakan/diikuti jika menyebut nama yang lebih berkuasa  seperti nama Pengarah atau pengurus sebagai sumber perintah atau bentuk izin.
Begitu pula dalam mengarungi kehidupan kita di dunia, sebelum melakukan perbuatan/tindakan upayakan selalu diawali menyebut nama Allah, mengingat Allah. Sehingga Allah yang Maha Kuasa akan mengizinkan dan menolong perbuatan/tindakan tersebut akan terlaksana. Seberapa dekat dengan Allah akan memperbesar kemungkinan terkabulkannya.
Perbezaannya, kalau kita menyebut nama manusia, manusia yang kita sebutkan tidak mendengar dan bukan pula dia yang menolong. Namun kalau kita menyebut nama Allah, Allah Maha Mendengar dan berkenan menolong kita
Kita sangat ingin untuk taqarrub mendekatkan diri kepadaNya.

Daripada Abu Hurairah RA disebutkan bahawa Rasulullah SAW bersabda, 

“Allah berfirman, ‘Aku menuruti prasangka hambaKu kepadaKu. Aku bersamanya ketika ia mengingatKu. Kalau ia mengingatKu dalam hati, Aku mengingatnya dalam diriKu. Kalau ia mengingatKu di tengah kerumunan orang, Aku pun akan mengingatnya di tengah kerumunan yang lebih baik daripada mereka. Kalau ia mendekat diri kepadaKu sejengkal, Aku pun mendekatkan diri kepadanya sehasta. Kalau ia mendekatkan diri padaKu sehasta. Aku pun akan mendekatkan diri padanya sedepa. Jika ia mendatangiKu dengan berjalan, Aku akan mendatanginya dengan berlari kecil.”

Waktu-waktu di keseharian kita, perbanyaklah zikir kepada Allah.

Rasulullah SAW bersabda,

Siapa yang duduk dalam suatu tempat, lalu di situ ia tak berzikir kepada Allah, maka kelak ia akan mendapat kerugian dan penyesalan.
(HR Abu Daud).

Nabi Muhammad SAW bersabda:

Berlaku zuhudlah di dunia, pasti dicintai Allah SWT dan berlaku zuhudlah terhadap milik orang lain, pasti dicintai oleh sesama manusia.

Manakala sifat zuhud di kalangan muqarrabin (orang yang sentiasa berusaha mendekatkan diri kepada Allah SWT) pula adalah dengan terus meninggalkan kenikmatan dunia; segala-galanya adalah tidak penting bagi mereka melainkan mendekati Allah SWT semata-mata.
Suatu saat terjadi dialog antara Rasulullah SAW dengan Hudzaifah Ra. Rasulullah bertanya kepada Hudzaifah, ” Ya Hudzaifah, bagaimana keadaanmu saat ini?”
Jawab Hudzaifah, ”Saat ini saya benar-benar beriman ya Rasulullah.” Rasulullah kemudian mengatakan, “Setiap kebenaran itu ada hakikatnya, maka apa hakikat keimananmu wahai Hudzaifah?”
Jawab Hudzaifah, ”Ada dua, Ya Rasulullah.
Pertama saya sudah hilangkan unsur dunia dari kehidupan saya, sehingga bagi saya debu dan emas itu sama saja. Dalam pengertian, saya akan cari kenikmatan dunia, lantas andaikata saya dapatkan maka saya akan menikmatinya dan bersyukur pada Allah SWT.
Tapi kalau suatu saat kenikmatan dunia itu hilang dari tangan saya, maka saya tinggal bersabar sebab dunia bukanlah tujuan. Bila ia datang maka Alhamdulillah dan bila ia pergi maka Inna lillahi wa inna ilaihi roji’un.
Yang kedua Hudzaifah mengatakan, ”Setiap saya ingin melakukan sesuatu, saya bayangkan seakan-akan syurga dan neraka itu ada di depan saya. Lantas saya bayangkan bagaimana ahli syurga itu menikmati kenikmatan syurga, dan sebaliknya bagaimana pula ahli neraka itu merasakan azab neraka jahanam. Sehingga terdoronglah bagi saya untuk melakukan yang diperintahkan dan meninggalkan yang dilarangNya.

Kesimpulan,
Atas kurnia Allah swt kita berupaya mendekatkan diri kepada Allah swt, Dengan kedekatan itulah kita terdorong untuk melakukan yang diperintah dan meninggalkan yang dilarangNya. Dengan ketakwaan inilah membuat kita menjadi lebih mulia di sisi Allah swt.
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/03/24/allah-itu-dekat/





Tiada ulasan:

Catat Ulasan