Rabu, 23 April 2014

Q 81 : HAKIKAT KEHIDUPAN MANUSIA

Hakikat kehidupan adalah untuk meraih cintaNya

Fahaman sekulerisme adalah fahaman yang ditengarai diusung oleh kaum Zionis Yahudi.Fahaman yang awalnya dicitrakan sebagai pemisahan agama dari sistem pemerintahan atau negara seperti contoh kejatuhan kekhalifahan Turki Ustmani.

Diriwayatkan oleh Umamah al Bahiliy daripada Rasulullah saw bersabda,

”Ikatan-ikatan Islam akan lepas satu demi satu. Apabila lepas satu ikatan, akan diikuti oleh lepasnya ikatan berikutnya. Ikatan Islam yang pertama kali lepas adalah pemerintahan dan yang terakhir adalah solat.” 
(HR. Ahmad)

Namun pada hakikatnya fahaman sekulerisme sebagaimana disampaikan oleh Ahmad Al Qashash dalam kitabnya Usus Al-Nahdha Al -Rasyidah adalah pemisahan agama dari kehidupan manusia atau pemisahan Tuhan dari kehidupan manusia.
Seluruh aktiviti manusia yakni sikap dan perbuatan manusia harus dikaitkan dengan Allah Azza wa Jalla atau harus merujuk kepada hukum Allah sebagaimana yang termuat dalam al Quran dan As Sunnah.
Sangat keliru mereka yang mengatakan bahawa “baik itu relatif tergantung sudut pandang manusia atau kesepakatan antara manusia.
Sikap dan perbuatan manusia yang buruk (sayyiah) adalah segala sikap dan perbuatan yang bertentangan dengan al Quran dan As Sunnah.
Sikap dan perbuatan manusia yang baik (hasanah) adalah segala sikap dan perbuatan yang sesuai atau tidak bertentangan dengan al Quran dan As Sunnah.
Begitupula dengan segala hal yang baru (bidaah) atau segala perbuatan manusia yang tidak pernah dilakukan atau dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam harus merujuk kepada al Quran dan As Sunnah.
Landasan kita memutuskan akan melakukan perbuatan yang tidak pernah dilakukan atau dicontohkan oleh Rasulullah shallallahu alaihi wasallam adalah :

“Segala hal yang baru (bidaah) yang bertentangan dengan al Quran dan As Sunnah adalah bidaah dholalah.
Segala hal yang baru (bidaah) yang tidak bertentangan dengan al Quran dan As Sunnah adalah bidaah hasanah atau bidaah mahmudah.”

Landasan ini disampaikan oleh Imam Mazhab yang empat yang bertalaqqi (mengaji) dengan Salaf Sholeh, contohnya oleh Imam Syafi’i ~rahimahullah,

قاَلَ الشّاَفِعِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ -ماَ أَحْدَثَ وَخاَلَفَ كِتاَباً أَوْ سُنَّةً أَوْ إِجْمَاعاً أَوْ أَثَرًا فَهُوَ البِدْعَةُ الضاَلَةُ ، وَماَ أَحْدَثَ مِنَ الخَيْرِ وَلَمْ يُخاَلِفُ شَيْئاً مِنْ ذَلِكَ فَهُوَ البِدْعَةُ المَحْمُوْدَةُ -(حاشية إعانة 313 ص 1الطالبين -ج )

Ertinya ;
Imam Syafi’i ra berkata –Segala hal yang baru (tidak terdapat di masa Rasulullah) dan menyalahi pedoman alQuran, Al-Hadits, Ijma’ (sepakat Ulama) dan Atsar (Pernyataan sahabat) adalah bidaah yang sesat (bidaah dholalah). Dan segala kebaikan yang baru (tidak terdapat di masa Rasulullah) dan tidak menyalahi pedoman tersebut maka ia adalah bidaah yang terpuji  (bidaah mahmudah atau bidaah hasanah), bernilai pahala. (Hasyiah Ianathuth-Thalibin –Juz 1 hal. 313).
Keliru pula mereka yang mengatakan bahawa ada perbuatan manusia yang ibadah dan non ibadah.
Sebagai hamba Allah maka seluruh sikap dan perbuatan kita adalah untuk beribadah kepada Allah Azza wa Jalla kerana memang kita diciptakan untuk itu.

Firman Allah Taala yang ertinya :

Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepadaKu.
 (QS Adz Dzaariyaat 51 : 56)

Beribadahlah kepada Tuhanmu sampai kematian menjemputmu.
(QS al Hijr [15] : 99)

Ibadah terbagi dua yakni ibadah yang diwajibkanNya atau amal ketaatan dan ibadah yang tidak diwajibkanNya atau amal kebaikan.
Dalam beberapa firman Allah Taala dapat kita temukan padanannya adalah orang beriman (mukmin) dan mengerjakan amal soleh (amal kebaikan) seperti contohnya yang ertinya :

….Dan barangsiapa mengerjakan amal yang soleh baik lelaki mahupun perempuan sedang ia dalam keadaan beriman, maka mereka akan masuk syurga, mereka diberi rezeki di dalamnya tanpa hisab.
(QS Al Mu’min [40]:40)

Dikatakan orang beriman (mukmin) jika mengerjakan amal ketaatan

Firman Allah Taala yang ertinya :

Dan taatlah kepada Allah dan RasulNya jika kamu adalah orang-orang yang beriman (mukmin).
(QS Al Anfaal [8]:1 )

Amal ketaatan adalah ibadah yang telah diwajibkanNya, wajib dijalankan dan wajib dijauhi meliputi menjalankan kewajipan jika ditinggalkan berdosa, menjauhi larangan dan pengharaman jika dilanggar / dikerjakan berdosa

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda :

Sesungguhnya Allah telah mewajibkan beberapa kewajipan (ditinggalkan berdosa), maka jangan kamu sia-siakan dia; dan Allah telah memberikan beberapa larangan (dikerjakan berdosa)), maka jangan kamu langgar dia; dan Allah telah mengharamkan sesuatu (dikerjakan berdosa), maka jangan kamu pertengkarkan dia; dan Allah telah mendiamkan beberapa hal sebagai tanda kasihnya kepada kamu, Dia tidak lupa, maka jangan kamu perbincangkan dia.
(Riwayat Daraquthni, dihasankan oleh an-Nawawi).

Fungsi amal ketaatan adalah mendekatkan kepada Syurga dan menjauhkan dari Neraka.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda :

Tidak tertinggal sedikitpun yang mendekatkan kamu dari syurga dan menjauhkanmu dari neraka melainkan telah dijelaskan bagimu.
(HR Ath Thabraani dalam Al Mu’jamul Kabiir no. 1647)

mendekatkan dari syurga” = perkara kewajipan (ditinggalkan berdosa)
menjauhkan dari neraka” = perkara larangan dan perkara pengharaman (dikerjakan berdosa)
Fungsi amal kebaikan adalah untuk mendekatkan diri kepada Allah Taala untuk meraih cintaNya atau redhaNya.

Dalam sebuah hadits Qudsi, Allah Azza wa Jalla berfirman yang ertinya :

HambaKu tidak boleh mendekatkan diri kepadaKu dengan sesuatu yang lebih Aku cintai daripada yang telah Aku wajibkan (amal ketaatan), jika hambaKu terus menerus mendekatkan diri kepadaKu dengan amalan sunnah (amal kebaikan), maka Aku mencintai dia.”
(HR Bukhari 6021)

Kesimpulannya amal ketaatan suatu keharusan atau syarat sebagai hamba Allah  atau disebut perkara syariat untuk mendekatkan kepada Syurga dan menjauhkan dari Neraka sedangkan amal kebaikan untuk mendekatkan diri kepada Allah Taala untuk meraih cintaNya atau redhaNya.
Muslim yang menjalankan amal ketaatan atau muslim yang beriman (mukmin) dan menjalankan amal kebaikan adalah disebut muhsin / muhsinin, muslim yang ihsan atau muslim yang baik atau sholehin.

Firman Allah Taala yang ertinya :

Inilah ayat-ayat al Quran yang mengandung hikmah, menjadi petunjuk dan rahmat bagi muhsinin (orang-orang yang berbuat kebaikan), (iaitu) orang-orang yang mendirikan solat, menunaikan zakat dan mereka yakin akan adanya negeri akhirat.Mereka itulah orang-orang yang tetap mendapat petunjuk dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.
(QS Lukman [31]:2-5)

Muslim yang meraih maqam disisiNya adalah orang-orang yang telah dikurniai nikmat oleh Allah dan mereka sebenar-benarnya berada di jalan yang lurus. Mereka minimal muslim yang soleh, berkumpul dengan 4 golongan manusia yang meraih maqam disisiNya yakni para Nabi, Shiddiqin, Syuhada dan muslim yang soleh.

Firman Allah Taala yang ertinya :

Tunjukilah kami jalan yang lurus,  (iaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepada mereka….
(QS Al Fatihah [1]:6-7 )

Dan barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul(Nya), mereka itu akan bersama-sama dengan orang-orang yang dianugerahi nikmat oleh Allah, iaitu : Nabi-nabi, para shiddiiqiin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang soleh. Dan mereka itulah teman yang sebaik-baiknya.
(QS An Nisaa [4]: 69 )

Muslim yang terbaik untuk bukan Nabi dan meraih maqam disisiNya sehingga  menjadi kekasih Allah (wali Allah) dengan mencapai shiddiqin.  Bermacam-macam  tingkatan shiddiqin sebagaimana yang diuraikan dalam tulisan pada 
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/01/14/2011/09/28/maqom-wali-allah/

Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda :

Sesungguhnya ada di antara hamba Allah (manusia) yang mereka itu bukanlah para Nabi dan bukan pula para Syuhada.’ Mereka dirindukan oleh para Nabi dan Syuhada’ pada hari kiamat kerana kedudukan (pangkat) mereka di sisi Allah Subhanau waTaala.
Seorang daripada sahabatnya berkata, siapa gerangan mereka itu wahai Rasulullah? Semoga kita dapat mencintai mereka.
Nabi shallallahu alaihi wasallam menjawab dengan sabdanya: “Mereka adalah suatu kaum yang saling berkasih sayang dengan anugerah Allah bukan kerana ada hubungan kekeluargaan dan bukan kerana harta benda, wajah-wajah mereka memancarkan cahaya dan mereka berdiri di atas mimbar-mimbar dari cahaya. Tiada mereka merasa takut seperti manusia merasakannya dan tiada mereka berduka cita apabila para manusia berduka cita.
(HR. an Nasai dan Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya)

Hadits senada, daripada ‘Umar bin Khathab ra bahawa Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda,

Sesungguhnya diantara hamba-hambaku itu ada manusia manusia yang bukan termasuk golongan para Nabi, bukan pula syuhada tetapi pada hari kiamat Allah ‘Azza wa Jalla menempatkan maqam mereka itu adalah maqam para Nabi dan syuhada.”
Seorang lelaki bertanya : “Siapa mereka itu dan apa amalan mereka, mudah-mudahan kami menyukainya.
Nabi bersabda: “Iaitu Kaum yang saling menyayangi kerqna Allah ‘Azza wa Jalla walaupun mereka tidak bertalian darah, dan mereka itu saling menyayangi bukan kerana hartanya, dan demi Allah sungguh wajah mereka itu bercahaya, dan sungguh tempat mereka itu dari cahaya, dan mereka itu tidak takut seperti yang ditakuti manusia, dan tidak susah seperti yang disusahkan manusia,” kemudian beliau membaca ayat : “Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekuatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati.
(QS Yunus [10]:62 )

Wali Allah adalah mereka yang meminta pasti Allah Azza wa Jalla akan mengabulkannya.

Dalam sebuah hadits qudsi Allah Taala berfirman :

Jika Aku sudah mencintainya, maka Akulah pendengarannya yang ia jadikan untuk mendengar, dan pandangannya yang ia jadikan untuk memandang, dan tangannya yang ia jadikan untuk memukul, dan kakinya yang dijadikannya untuk berjalan, jikalau ia memintaKu, pasti Kuberi, dan jika meminta perlindungan kepadaKU, pasti Kulindungi. Dan aku tidak ragu untuk melakukan sesuatu yang Aku menjadi pelakunya sendiri sebagaimana keragu-raguanKu untuk mencabut nyawa seorang mukmin yang ia (kuatir) terhadap kematian itu, dan Aku sendiri kuatir ia merasakan kepedihan sakitnya.
(HR Bukhari 6021)

Contoh Wali Allah di kalangan Tabi’in adalah Uwais ra

Suatu hari Umar r.a. kedatangan rombongan dari Yaman, lalu ia bertanya :
Adakah di antara kalian yang datang dari suku Qarn?
Lalu seorang maju ke dapan menghadap Umar.Orang tersebut saling bertatap pandang sejenak dengan Umar. Umar pun memperhatikannya dengan penuh selidik.
Siapa namamu?” tanya Umar.
Aku Uwais”, jawabnya datar.
Apakah engkau hanya mempunyai seorang Ibu yang masih hidup?tanya Umar lagi.
Benar, Amirul Mukminin,” jawab Uwais tegas.
Umar masih penasaran lalu bertanya kembali “Apakah engkau mempunyai bercak putih sebesar wang dirham?” (maksudnya penyakit kulit berwarna putih seperti panau tapi tidak hilang).
Benar, Amirul Mukminin, dulu aku terkena penyakit kulit “belang,” lalu aku berdoa kepada Allah agar disembuhkan. Alhamdulillah, Allah memberiku kesembuhan kecuali sebesar wang dirham di dekat pusarku yang masih tersisa, itu untuk mengingatkanku kepada Tuhanku.
Mintakan aku ampunan kepada Allah.
Uwais terperanjat mendengar permintaan Umar tersebut, sambil berkata dengan penuh kehairanan. “Wahai Amirul Mukminin, engkau justeru yang lebih berhak memintakan kami ampunan kepada Allah, bukankah engkau sahabat Nabi?
Lalu Umar berkata “Aku pernah mendengar Rasulullah shallallahu alaihi wasallam berkata “Sesungguhnya sebaik-baik Tabiin adalah seorang bernama Uwais, mempunyai seorang ibu yang selalu dipatuhinya, pernah sakit belang dan disembuhkan Allah kecuali sebesar wang dinar di dekat pusarnya, apabila ia bersumpah pasti dikabulkan Allah. Bila kalian menemuinya mintalah kepadanya agar ia memintakan ampunan kepada Allah.
Uwais lalu mendoakan Umar agar diberi ampunan Allah. Lalu Uwais pun menghilang dalam kerumunan rombongan dari Yaman yang akan melanjutkan perjalanan ke Kufah. (HR Ahmad)

Wali Allah adalah mereka yang bermakrifat atau mereka yang menyaksikan Allah dengan hati  (ain bashirah) sehingga shiddiqin, membenarkan bahawa tiada selain Allah.  Selain Allah Taala adalah tiada, fana, adam atau dikatakan oleh Buya Hamka, ulama pakar syariat yang pada akhirnya menjalankan tasauf dengan ungkapan bahawa dirinya bukanlah Hamka, tetapi “hampa” sebagaimana yang dapat diketahui dalam tulisan pada http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/08/28/hampa/

Begitu pula dalam pencairan Bung Karno bagaimana mati dengan keadaan tersenyum, mati dalam keadaan menyaksikan hanyalah Allah Taala sebagaimana yang dapat diketahui dalam tulisan pada
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2011/10/09/sukarno-dan-mati-senyum/

Jika belum dapat bermakrifat atau menyaksikan Allah Taala dengan hati (ain bashiroh) maka setiap akan bersikap atau berbuat, ingatlah selalu sabda Rasulullah shallallahu alaihi wasallam yakni,

Jika kamu tidak melihatNya maka sesungguhnya Dia melihatmu.
(HR Muslim)

Muslim yang meyakini diawasi/dilihat oleh Allah Maha Agung sifatNya atau muslim yang ihsan atau muslim yang dapat melihat Rabb dengan hati (ain bashiroh) atau muslim yang bermakrifat maka ia mencegah dirinya dari melakukan sesuatu yang dibenciNya, mencegah dirinya dari perbuatan maksiat, mencegah dirinya dari melakukan perbuatan keji dan mungkar. Sehingga terwujud dalam berakhlakul karimah. Inilah tujuan Rasulullah shallallahu alaihi wasallam diutus oleh Allah Subhanahu waTaala.
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda :

Sesungguhnya aku diutus (Allah) untuk menyempurnakan Akhlak.”
(HR Ahmad).

Hakikat beragama atau hakikat kehidupan adalah untuk meraih cintaNya. Jalannya adalah berupaya mencintai Allah dan RasulNya dengan menjadi muslim yang berakhlakul karimah, muslim yang ihsan, muslim yang bermakrifat yakni muslim yang menyaksikan Allah dengan hati  (ain bashiroh).
Wassalam
Zon di Jonggol, Kab Bogor 16830
Rujukan:
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2012/03/04/hakikat-kehidupan-manusia/




Tiada ulasan:

Catat Ulasan