Rabu, 23 April 2014

Q 86 : SIAPAKAH KITA DI SISI ALLAH SWT?

Firman Allah yang ertinya,

Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu.”
(QS. Al-Hujurat: 13)

Sebahagian kita memahami “di sisi” Allah adalah semata-mata kejadian kelak di akhirat nanti. Namun sesungguhnya posisi/darjat manusia di sisi Allah berlangsung ketika kehidupan di dunia.
Ada sebahagian muslim “berani” melakukan perbuatan yang dilarang Allah, sesungguhnya kerana tidak merasakan “di sisi” Allah.  Padahal Allah Maha Mengetahui, Maha Melihat dan Maha Mendengar.
Sedangkan ada sebahagian muslim kerana posisi/darjatnya lebih mulia “di sisi” Allah  maka Allah berikan jalan keluar dan Allah berikan rezeki  dari arah yang tidak disangka dan Allah mencukupkan (keperluan)nya.

Sesuai dengan firman Allah yang ertinya,

Barangsiapa bertakwa kepada Allah nescaya Dia akan memberikan jalan keluar, dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah nescaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.
(QS. Ath Thalaaq [65]: 2-3).

Benarlah, manusia di sisi Allah ketika kehidupan di dunia bahkan dimulai sejak manusia diciptakan.
Menurut para ahli Tasawuf, hakikat manusia dibagi menjadi dua bangunan utama, iaitu bangunan jasmani dan rohani. Bangunan jasmani manusia diciptakan melalui enam proses kejadian iaitu:
1.    Sari pati tanah
2.    Nuftah
3.    Segumpal darah
4.    Segumpal daging
5.    Pertumbuhan tulang-belulang
6.    Pembungkusan tulang-belulang

Sebagaimana firman Allah yang ertinya,

Sesungguhnya telah Kami ciptakan manusia daripada sari pati tanah. Kami jadikan sari pati tanah itu air mani yang ditempatkan dengan kukuh di tempat yang teguh. Kemudian air mani itu kami jadikan segumpal darah, dari segumpal darah itu, Kami jadikan segumpal daging, Kami jadikan pula tulang-belulang, kemudian tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging.” 
(QS Al Mu-minun (23): 12-14)

Setelah melalui enam tahap proses tersebut maka jasmani manusia boleh dikatakan sebagai makhluk yang sempurna apabila dipandang dari sudut jasmaniah, tetapi apabila dipandang dari sudut Rohaniah, manusia yang belum ditiupkan RohKu belumlah dapat disebut manusia sempurna. Oleh kerananya itu, pada proses kejadian yang ketujuh, Allah meniupkan sebahagian RohNya kepada jasmani manusia. Pada saat itulah manusia tersebut boleh dikatakan sebagai manusia yang sempurna baik jasmani mahupun rohani.

Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat kering (yang berasal) dari lumpur hitam yang diberi bentuk. Maka jika Aku telah menyempurnakan kejadiannya dan telah meniupkan kedalamnya RohKu, maka tunduklah kamu kepadanya dengan bersujud. Maka bersujudlah para malaikat itu semuanya bersama-sama.”
(QS Al Hijr (15):28-30)

Dimaksud dengan sujud di sini bukan menyembah, tetapi sebagai penghormatan.

“Kemudian Dia menyempurnakan penciptaannya dan Dia tiupkan padanya sebahagian dari RohNya dan Dia jadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan rasa, tapi sedikit sekali kamu bersyukur.” 
(QS As Sajadah (32):9)

Menurut tinjauan ahli Tasauf, di bahagian kepala manusia terdapat tujuh buah lubang (pintu) sebagai sumber rasa inderawi, iaitu,
1.    Dua lubang telinga sebagai sumber (alat) pendengaran.
2.    Satu lubang mulut sebagai sumber (alat) pengucapan dan pengecapan
3.    Dua lubang mata sebagai sumber (alat) penglihatan
4.    Dua lubang hidung sebagai sumber (alat) pernafasan.
Ketujuh buah lubang (pintu) yang ada di kepala manusia tersebut secara simbolis diinformasikan Allah dalam alQuran dengan istilah “tujuh buah jalan” yang ada di atas badan manusia.

“Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan di atas (badan) kamu tujuh buah jalan dan kami tidaklah lengah terhadap ciptaan Kami.” 
(QS Al-Mu’minun (23):17)

Tujuh lubang ini disebut juga sebagai “pembuka,” kerana dengan tujuh lubang inilah, manusia berhasil membuka segala rahsia pengetahuan, baik yang bersifat lahir mahupun batin.
Proses terjadinya aktifiti alat inderawi tersebut yang terwujudkan dalam bentuk pendengaran, pengucapan atau pengecapan, penglihatan dan pernafasan inilah yang disebut kiasan “tujuh buah jalan” yang dapat memberi petunjuk kerana dengan adanya empat inderawi tersebut maka manusia mendapatkan pengetahuan tentang masalah apapun yang sedang dipelajarinya.
Pada tubuh manusia, total keseluruhan terdapat sepuluh lubang inderawi, iaitu tujuh di kepala dan tiga lubang dibahagian badan iaitu lubang pusar, lubang anus dan lubang kemaluan.Khusus untuk lubang pusar sudah tidak berfungsi sejak manusia dilahirkan.Sehingga yang berfungsi secara maksimal adalah Sembilan lubang yang ada pada tubuh manusia.
Apabila dikaitkan dengan keadaan bayi dalam kandungan maka dapat terlihat bahawa Sembilan lubang yang ada pada tubuh bayi tidaklah berfungsi, hal ini disebabkan seorang bayi dalam kandungan berada di dalam air ketuban (omnium water).Sehingga seorang bayi dalam kandungan tidak melakukan aktiviti inderawi secara sempurna. Dengan kata lain seorang bayi tidak makan dan tidak minum atau berbicara dengan mulut, tidak bernafas dengan hidung, tidak melihat dengan mata, tidak mendengar dengan telinga, dan tidak buang air besar atau kecil melalui anus atau kemaluan,tetapi bayi tersebut mendapatkan semua keperluan jasmaninya melalui saluran plasenta yang menghubungkan antara pusar bayi dengan dinding rahim ibu.
Dalam kandungan, seorang bayi juga tidak berfikir disebabkan fungsi otaknya belum sempurna, tetapi kemampuan rohani bayi telah hidup sempurna.Peristiwa ini dialami oleh seorang bayi selama kurang lebih sembilan bulan.  Dalam bahasa Tasawuf, keadaan ini disebut dengan peristiwa dimana seorang bayi berada dalam Janah yang berada  di bawah telapak kaki ibu selama Sembilan bulan.
Sayangnya setelah bayi itu tumbuh dewasa, dia tidak dapat mengingat perjalanannya ketika berada dalam kandungan rahim ibunya.Oleh kerana itu Islam mengajarkan agar setiap umatnya kembali menjadi seperti bayi dalam kandungan,agar dirinya dapat kembali menemui Allah.

“Dan sesungguhnya kamu kembali menghadap Kami dengan sendirian seperti kamu Kami ciptakan pada awal mula kejadian. Dan pada saat itu kamu tinggalkan dibelakangmu apa yang telah Kami anugerahkan kepadamu ….” 
(QS Al An’am 6: 94)

“Mereka dihadapkan kepada Tuhanmu dengan berbaris, Kemudian Allah berfirman: “Sesungguhnya kamu datang kepada Kami sebagaimana Kami telah menciptakan kamu pada awal mula kejadian, bahkan kamu menyangka bahawa Kami tiada menetapkan janji bagi kamu.” 
(QS Al Kahfi 18:48).

Sejak bayi dalam kandungan yang bersih dan suci telah keadaan  “menemui” Allah.

“Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab: “Betul (Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.” 
(QS- Al A’raf 7:172)

Setelah anak manusia terlahir ke dunia,  keluarga adalah lingkungan pertama yang dikenal oleh anak. Ibu dan ayah adalah manusia-manusia dewasa kepada siapa anak belajar kata-kata yang pertama.Khususnya kepada Ibu, anak belajar kasih sayang.Kepada ayah, anak belajar tanggung jawab dan kepemimpinan.Bagaimana sikap ibu dan ayah kepada anak, sikap ayah kepada ibu dan sebaliknya ibu kepada ayah, adalah pola interaksi yang pertama dipelajari anak.
Dengan telinga dan matanya, anak belajar menyerap fakta dan informasi.Semakin banyak yang terekam, itulah yang paling mudah ditirunya. Bagaikan kertas putih bersih, orang tuanya yang akan memberinya coretan dan warna yang pertama.
Betapapun sederhananya pola pendidikan dalam sebuah keluarga, tetaplah sangat berpengaruh pada pembentukan keperibadian anak.Keluarga merupakan awal bagi pertumbuhan pola fikir dan perasaan anak.
Di dalam Islam, sistem pendidikan dalam keluarga menjadi penentu masa depan anak. Apakah anak akan menjadi soleh, baik, santun, penyayang atau kurang ajar, kasar, bengis, semuanya tergantung pada tangan-tangan pertama yang mendidiknya, yakni orang tuanya.

Dalam sebuah hadits, menurut kesaksian Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda:

“Setiap bayi dilahirkan di atas fitrah (mentauhidkan Allah), kedua orang tuanyalah yang menjadikannya seorang Yahudi, atau seorang Nasrani atau seorang Majusi.”
(HR. Muslim).

Hadits ini menunjukkan bahawa setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah.Yang dimaksud adalah anak-anak yang baru dilahirkan memiliki fitrah yang bersih dan suci, yaitu beriman kepada Allah SWT.Orang tua memiliki peranan dalam mengarahkan fitrah anak. Apakah akan tetap bersih, murni dan bersinar? Ataukah cahayanya akan memudar, bahkan hilang.
Lalu bagaimana arah tujuan pendidikan anak berdasarkan Islam.
Kalau mengacu kepada al Quran, maka al Quran memberi tuntunan bagaimana  seharusnya tujuan pendidikan anak.

Allah SWT berfirman  yangertinya, 

“Dan orang orang yang berkata: “Ya Tuhan kami, anugrahkanlah kepada kami isteri-isteri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” 
(QS al Furqaan  25: 74)

“...Sesungguhnya jika Engkau memberi kami anak yang soleh, tentulah kami terrmasuk orang-orang yang bersyukur.” 
(QS. Al A’raf  7: 189)

“...Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah…” 
(QS. Ali Imran: 110)

Ini sebenarnya inti dari kurikulum pendidikan anak:

(1) menjadikan anak-anak kita sebagai penyenang hati / penyejuk mata dan  orang-orang bertakwa.
(2) Menjadikan anak-anak kita sebagai anak-anak yang soleh.
(3) Menjadikan anak-anak kita sebagai umat terbaik yang akan mengembang dakwah Islam, dan menegakkan amar makruf nahi munkar.
Kemudian setelah anak dewasa dan mampu dengan bekal pengetahuan dan pendidikan yang diperolehi mereka akan mengharungi kehidupan dengan petunjuk alQuran dan Hadist.
Dengan kemampuan merekalah mengikuti petunjuk alQuran dan Hadist, mengupayakan posisi/darjat di sisi Allah. Sebahagian mereka yang dianugerahi Allah ilmu pengetahuan mendapatkan posisi/darjat yang lebih baik sebagaimana firman Allah yang ertinya,

“Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majlis,” maka lapangkanlah nescaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu,” maka berdirilah, nescaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa darjat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
(QS Al Mujaadilah 58: 11)

Upaya kitamendapatkan posisi/darjat yang lebih baik di sisi Allah, salah satunya  dengan mengendalikan hawa nafsu atau mengendalikan tujuh buah lubang (pintu) sebagai sumber rasa inderawi.
Hawa nafsu yang bersarang pada jasmani kita, dapat dibagi menjadi empat kelompok, iaitu:
1. Nafsu Amarah yang bentuk perwujudannya berupa sifat marah, dengki, ujub dan syirik. Nafsu ini sumbernya di telinga  yang dapat timbul melalui hantaran pendengaran. (Dua lubang telinga, disimbolkan pintu Umar bin Khatab).

2. Nafsu Lawamah yang termanifestasikan dalam bentuk sifat rakus, tamak, loba dan malas. Nafsu ini sumbernya di mulut   yang dapat timbul melalui hantaran pengucapan atau pengucapan (Satu lubang mulut disimbolkan  pintu Ali bin Thalib).

3. Nafsu Sufiyah yang termanifestasikan dalam bentuk sifat cinta, kekaguman, dan keindahan. Nafsu tersebut berada pada mata  yang akan timbul melalui hantaran penglihatan(Dua lubang mata disimbolkan pintu Usman bin Affan).

4. Nafsu Mutmainah yang termanifestasikan dalam sifat ketenangan dan kedamaian. Nafsu tersebut berada di hidung  yang dapat timbul melalui hantaran pernafasan (Dua lubang  hidung disimbolkan pintu Abu Bakar).
Keempat nafsu yang termanifestaasikan dalam bentuk pendengaran, pengucapan (pengucapan), penglihatan dan pernafasan, pada akhirnya akan menimbulkan “hawa” yang berbentuk rasa jasmani yakni :

1.    Rasa Pendengaran.
2.    Rasa Pengecapan atau pengucapan
3.    Rasa Penglihatan
4.    Rasa Pernafasan atau penciuman
Semua bentuk “rasa” tersebut bersifat ghaib atau batin yang tidak berwujud tetapi boleh dirasakan keberadaannya.Keempat rasa dari nafsu tersebut dapat dimatikan mahupun dihidupkan, tergantung dari bagaimana kita menutup atau membuka “pintu” keluar masuknya rasa dari sumber nafsu tersebut.
Cara menutup pintu hawa nafsu tersebut, dengan mempergunakan “alat” yang telah diberikan oleh Allah kepada setiap manusia, sesuai firman Allah yang ertinya:

Carilah Akhirat dengan “alat” yang telah Kami anugerahkan kepadamu dan janganlah kamu lupakan kenikmatan dunia.
(QS Al Qashash 28: 77)

Tatkala aku berada di sisi Rasulullah Saw, tiba-tiba beliau bertanya : Adakah orang asing diantara kamu?” Lantas beliau memerintahkan supaya pintu ditutup dan bersabda “Angkat tangan kamu.” 
(HR Al Hakim)

“Tutup pintumu dan ingatlah Allah.” 
(HR Bukhari).

Diriwayatkan dari Ibnu Abbas daripada Nabi saw :

Tutuplah seluruh pintu-pintu kecuali pintu Abu Bakar.”

Prosesi “menutup pintu” hawa nafsu yang ada pada kepala manusia, inilah yang dinamakan dengan “Takbiratul Ihram,”  (Takbir Larangan) yang mempunyai erti bahawa ketika kita mengangkat kedua telapak tangan kita saat mengawali solat, kita diharamkan atau dilarang untuk melakukan aktiviti inderawi seperti mendengar, melihat, dan berbicara  kecuali bernafas (simbol pintu Abu Bakar), kerana kita sedang berhadapan dengan Allah Swt (bertawajuh).  Hal ini sesuai dengan firmanNya yang ertinya,
“Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan langit dan bumi, dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.”
(QS Al An’am 6: 79)

Ayat di atas merupakan pernyataan setiap kali kita solat, bahawa kita menyedari sedang menghadapkan wajah kita kepada Allah, yang Maha Suci (bertawajuh).Kemudian dilanjutkan dengan penegasan bahawa Solatku, Ibadahku, Hidupku dan Matiku semata-mata hanya untuk Allah semata.” Jika keadaan ini terjadi, tak mungkin akal kita berkeliaran tak terkendali mengingat selain Allah. Kita juga tidak akan melakukan perbuatan yang melanggar tuntunan Allah.

Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, iaitu Al Kitab dan dirikan solat.Sesungguhya solat mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Dan sesungguhnya mengingat Allah dalam (solat) adalah lebih besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah lain).
(QS Al Ankabut 29: 45)

Allah memberikan gelar kepada orang yang solat tidak sesuai dengan ikrar/sumpahnya sebagai solatnya orang munafik.

Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk Solat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riak (dengan solat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka zikrullah (menyebut Allah)  kecuali hanya sedikit sekali.”
(QS An-Nisa 4: 142)

Ketika melakukan solat, ada kalanya mengalami rasa bosan dan tidak kusyuk, padahal dalam doa iftitah kita telah berikrar bahawa kita sedang menghadapkan wajah kita kepada Allah. Hal ini terjadi kerana tidak mengetahui bagaimana cara melakukan Takbiratul Ihram dengan baik.
Nabi Muhammad Saw bersabda, bahawa “solat itu adalah mikrajnya orang-orang mukmin.”   Iaitu naiknya jiwa meninggalkan ikatan nafsu yang terdapat dalam fizik manusia menuju ke hadirat Allah.

Apakah kita boleh “bertemu”  dengan Allah ketika Solat?

Sebahagian orang menanggapi hadits tersebut dengan sikap apriori dan berkeyakinan bahawa manusia tidak mungkin bertemu dengan Allah di dunia.Akibatnya kebanyakan orang tak mahu pusing mengenai hakikat solat atau bahkan hanya menganggap solat sebagai kewajipan yang harus dilakukan tanpa harus memikirkan fungsi dan tujuannya.
Dilain pihak ada orang yang melakukan solat, telah mengerahkan segenap daya untuk mencapai kusyuk, akan tetapi tetap saja fikiran masih menerawang tidak karuan sehingga tanpa disedari sudah keluar dari “kesedaran solat”. Allah telah mengingatkan hal ini, bahawa banyak orang solat akan tetapi kesedarannya telah terseret keluar dari keadaan solat itu sendiri, iaitu bergeser niatnya bukan lagi kerana Allah.

”…. maka celakalah orang-orang yang solat, (iaitu) orang-orang yang lalai dalam solatnya, dan orang-orang yang berbuat riak.” 
(QS Al-Ma’un 107: 4-6)
Perihal itu terjadi bagi orang yang dalam solatnya tidak menyedari bahawa ia sedang berhadapan dengan Tuhannya sehingga fikirannya melayang liar tanpa kendali. Solat yang demikian adalah solat yang shahun.Keadaan tersebut bertentangan dengan firman Allah yang menghendaki solat sebagai jalan untuk mengingat Allah.

“… maka sembahlah Aku dan dirikanlah solat untuk mengingat Aku.” 
(QS Thaha 20: 14)

“… dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai.”
(QS Al A’raaf 7: 205)

Inilah rangkaian ayat yang menunjukkan kepada masalah dalaman ibadah solat, iaitu untuk mengingat Allah, bukan sekadar membongkok, bersujud dan komat-kamit tiada sedar dengan yang dilakukan.Solat yang hanya komat-kamit inilah yang banyak dilakukan orang, sehingga sampai sekarang banyak yang tak mampu mencerminkan watak mushallin yang sebenarnya, iaitu tercegah dari perbuatan keji dan mungkar.

Jangan engkau mendekati solat sedang kamu dalam keadaan mabuk (tidak sedar)…” 
(QS An nisa 4: 43)

Nahyi (larangan) ditujukan kepada mushalilin agar tidak melakukan solat jika masih belum sedar bahawa dirinya sedang berhadapan dengan Sang Khaliq.  Larangan itu merupakan syarat mutlak dari Allah.Cuba kita renungkan, untuk mendekati saja kita dilarang, apalagi untuk melakukannya. Jika tetap dilakukan maka Allah akan murka, yang ditunjukkan dengan perkataan iaitu

maka celakalah orang yang solat,  (iaitu) orang-orang yang lalai dalam solatnya dan orang-orang yang berbuat riak.
(QS Al-ma’un 107: 4-6)”

Allah juga memberikan pujian kepada orang-orang mukmin yang khusyuk dalam solatnya :

“Sungguh beruntunglah mereka yang beriman iaitu orang-orang yang khusyuk dalam solatnya.
(QS Al Mukminun 23: 1-2)

AlQuran menyebutkan penyebab dicabutnya ilmu khusyuk, iaitu kerana memperturutkan hawa nafsu dan melalaikan solatnya. Dalam alQuran Allah juga telah menunjukkan jalan bagi yang mendapatkan kekhusyukan

Jadikanlah sabar dan solat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk, (iaitu) orang-orang yang meyakini, bahawa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahawa mereka akan kembali kepadaNya.”
(QS Al Baqarah 2: 45-46)

Semoga kita dapat merasakan menemui Allah,  kedekatan dengan Allah, mengetahui posisi/darjat kita di sisi Allah.
Semakin kita dekat dengan Allah maka kita akan semakin sibuk dengan Allah, semakin jauh kita dengan Allah maka kita akan semakin sibuk dengan diri kita sendiri.
Semakin kita dekat dengan Allah maka kita yakin bahawa segala keperluan kita didunia, Allah akan mencukupkannya, sedangkan semakin jauh kita dengan Allah maka kita akan “kepayahan” dengan upaya sendiri memenuhi segala keperluan kita di dunia.
Orang yang dekat dengan Allah dikenal sebagai orang-orang Arif.
Orang-orang Arif adalah orang yang menyibukkan dirinya dengan Allah dan hanya melakukan perbuatan jika Allah yang berkenan bukan kerana keinginan mereka sendiri.
Mereka faham bahawa Allah memberi mereka sesuatu yang lebih daripada apa yang mereka berikan untuk diri mereka sendiri.
Jalan untuk dapat selalu menyibukkan diri dengan Allah atau mengetahui apa yang Allah berkenan adalah dengan “mengenal” Allah, yakni yang kita kenal marifatullah.  Dengan mengenal Allah (marifatullah) maka kita boleh memahami apa yang Allah berkenan.
Ilmu untuk mempelajari  tentang marifatullah itulah Ilmu Tasawuf.
Untuk mencapai pemahaman orang-orang arif tidak cukup dengan kaedah pemahaman secara harfiah atau tekstual akan tetapi melalui kaedah pemahaman yang lebih dalam / maknawi atau dikenal “mengambil pelajaran” dengan hikmah.

Sesuai dengan firman Allah,

“Allah menganugerahkan al hikmah (kefahaman yang dalam tentang al Quran dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendakiNya. Dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar telah dianugerahi kurnia yang banyak. Dan hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).”
(Al-Baqarah – 269)

Wassalam.
Ditulis dari berbagai sumber, sebahagian besar diambil dari buku Abu Irsyad, Menyingkap Rahsia Solat & Puasa sebagai sarana menemui Allah, Pustaka Aladdin
http://mutiarazuhud.wordpress.com/2010/04/01/posisi-di-sisi-allah/




Tiada ulasan:

Catat Ulasan