Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

V 167 : ASMAUL HUSNA ( 74. AL ZOHIR )

AL ZOHIR   ( الظاهر )   ALLAH Yaa Zohir Yang Maha Nyata menegaskan kepada kita DIA nyata, dapat dilihat dan sesungguhnya hadir. Kehadira...

Khamis, 13 Februari 2014

O 148 : JADILAH LEBIH MULIA TANPA BERSIFAT TAMAK

Hidayatullah.com – Diriwayatkan oleh Imam al-Ghazali, suatu ketika kaum Bani Israil bertanya kepada Nabi Musa as : “Tanyakan kepada Tuhanmu kami memperoleh apa, bila mengerjakan sesuatu. Sebab kami telah amalkan apa yang Dia (ALLAH) inginkan.”
Nabi Musa as  berkata: “Ya Tuhanku, Engkau benar-benar sudah mendengar apa yang mereka katakan padaku.” ALLAH SUBHANAHU WA TAALA berfirman kepada nabi Musa as: “Hai Musa, katakanlah pada mereka, ‘Mereka harus reda kepadaKu. Akupun akan reda terhadap mereka.” 
(Imam al-Ghazali, Mukasyafat al-Qulub).

Kisah tersebut memberi erti, bahawa setelah kita melakukan amal soleh, janganlah berharap-harap balasan berupa harta duniawi. Selesai beramal, serahkanlah kepadaNya. Hanya satu yang harus diharap; redaNya, tidak lainnya. Cukup dengan redaNya, amal kita pasti dibalas dengan setimpal kelak.
Menerima redaNya itu bererti kita harus qana’ah. Menurut Abu Abdilllah bin Khafifi, qana’ah adalah meninggalkan angan-angan terhadap sesuatu yang tidak ada dan menganggap cukup dengan sesuatu yang ada.
Qana’ah adalah pintu menjadi hamba ALLAH yang cerdas, sedangkan tamak (rakus) dan pendengki adalah jendela pembuka kerosakan.
Imam Abu Bakar al-Maraghi pernah bertutur kepada murid-muridnya: “Orang yang berakal sihat adalah orang yang mengatur urusan dunia dengan sikap qana’ah dan mengatur urusan agama dengan ilmu dan ijtihad.”
(Abdul Karim al-Qursyairi, Risalah al-Qusyairiyah).

Menurut Imam Termizi, qana’ah itu adalah jiwa yang rela terhadap pemberian rezeki yang telah ditentukan, dan tidak berkeinginan terhadap sesuatu yang tidak ada hasilnya. Pada dasarnya berangan-angan terhadap sesuatu yang tidak hasilnya adalah angan-angan orang yang bodoh.
Tentunya, orang yang berakal dan cerdas seperti itu adalah orang memahami siapa diri dan harus bagaimana diri ini. Orang yang qana’ah, adalah orang yang hidupnya terbebas dari segala macam belenggu nafsu dan ambisi. Hal ini adalah disebabkan kerana mereka merasa yakin dan percaya sepenuhnya akan kebijakan adil ALLAH SUBHANAHU WA TAALA.

Menurut Imam al-Ghazali, kemuliaan seorang hamba itu bermula dari qana’ah dan kehinaannya berawal dari sifat tamak. Makanya, qana’ah adalah karakter utama mukmin sejati. “Qana’ah itu ibarat raja yang tidak mahu bertempat tinggal kecuali di hati mukmin.” kata Imam al-Qusyairi. Sedangkan orang yang tamak selalu dikejar-kejar nafsu untuk menumpuk harta sebanyak-banyaknya, tanpa memperdulikan apakah harta tersebut diperoleh dengan cara yang halal ataukah haram.
Untuk menjadi orang yang qan’ah, maka kita perlu memperbanyak syukur, bersikap warak dan menghindari gaya hidup yang berlebihan.

RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASSALLAM bersabda:

“Jadilah orang yang warak, maka engkau akan menjadi orang yang paling ahli beribadah. Jadilah orang yang qana’ah, maka engkau akan menjadi orang yang paling ahli bersyukur. Cintailah orang lain sebagaimana engkau mencintai diri sendiri, maka engkau akan menjadi mukmin yang baik. Berbuatlah baik kepada tetanggamu, maka engkau akan menjadi orang Islam yang baik. Sedikitkanlah tertawa, kerana banyak tertawa akan mematikan hati.” 
(HR. Al-Baihaqi).

Seseorang yang apabila di dalam hatinya terdapat sifat warak, maka hidupnya akan tenang dan tenteram tanpa terusik oleh nafsu untuk menguasai dunia (harta). Dalam usahanya untuk mencukupi keperluan hidupnya, ia akan selalu memperhatikan ketentuan-ketentuan ALLAH SUBHANAHU WA TAALA (pantang baginya mendapat barang atau harta yang meragukan hatinya, apalagi yang haram).
Hidari Tamak!
Orang tamak pada hakikatnya menurut al-Ghazali adalah orang fakir, mengutip pendapat Umar bin Khattab r.a ia  mengatakan; “Sesungguhnya tamak adalah kefakiran, sementara membuang iri hati terhadap rezeki orang lain justeru adalah kekayaan.”
Sifat tamak dan dengki biasa berjalan bersamaan. Keduanya sama-sama perosak kehidupan seorang mukmin. Diriwayatkan dari Abu Ayub al-Anshari RASULULLAH SHALLALLAHU ‘ALAIHI WASSALLAM pernah menasihatinya: “Jika engkau solat, lakukanlah solatmu itu seakan-akan terakhir kalinya (berpamitan untuk mati), janganlah berbicara dengan pembicaraan yang membuatmu kelak tak dapat memberikan alasannya dan jangan berharap terhadap sesuatu yang sudah dipegang orang lain.”

Nafsu manusia jika tidak dikawal iman sangat mudah jatuh pada sifat ketamakan. Jika manusia memiliki  satu lembah emas, tentu dia menginginkan yang keduanya. Dan apabila ia telah memiliki dua lembah emas, tentu ia menginginkan yang ketiga. Kata para ulama, tidak ada yang dapat memenuhi perut mereka kecuali mati. Selama manusia bernafas, ia selalu saja digoda syaitan dengan ketamakan dan dengki.
Janganlah dibiarkan kerakusan berkongkol di dalam hati kita. Ada kecenderungan orang yang rakus itu menjadi jahat, merasa ringan berbuat maksiat bahkan rela mengorbankan kemuliaan, sekedar untuk memuaskan ambisi nafsunya.

Hati-hatilah dengan sifat rakus. Rakus itu merosakkan tatanan kehidupan. Hatinya selalu bergejolak bagaimana memenuhi keinginan nafsunya saja. Kerakusan harus kita lemahkan. Sifat ini biasanya mencengkeram jiwa di saat kita mulai memiliki sifat iri dengki. Dan kadang dimulai dari angan-angan/imajinasi kosong kita tentang harta. Kerakusan dapat kita lemahkan dengan belajar hidup sederhana, warak dan qana’ah.
Tamak dan rakus kepada dunia, dapat menyebabkan hati seseorang terombang-ambing dan selalu dikejar-kejar nafsu untuk menumpuk harta sebanyak-banyaknya. angkuh, cinta akan dunia, tidak amanah dan iri hati. Jadi tamak tidak saja merosak kadar iman, tapi juga membuka pintu kegagalan hidup. Wallahu a’lam bisshawab.

*/Kholili Hasib
Sumber :
Rep: Kholili Hasib
Red: Panji Islam


http://www.hidayatullah.com




Tiada ulasan:

Catat Ulasan