Rabu, 28 Mei 2014

R 32 : RIBA, JENIS, DAN HUKUMNYA DALAM ISLAM

1. Pengertian Riba

Riba berasal dari bahasa Arab yang bererti tambahan (al-ziyadah), berkembang (an-numuw), meningkat (al-irtifa’), dan membesar (al-‘uluw). Dengan demikian, riba dapat diertikan sebagai pengambilan tambahan dalam transaksi pinjam meminjam, bahkan tambahan dalam transaksi jual beli yang dilakukan secara batil juga dapat dikatakan sebagai riba.

Beberapa ulama memberikan definisi riba seperti berikut ini.

a). Muhammad ibnu Abdullah ibnu al-Arabi al-Maliki, dalam kitab Ahkam al Quran, (IBI,39), memberikan pengertian riba, iaitu secara bahasa adalah tambahan, namun yang dimaksud riba dalam al Quran iaitu setiap penambahan yang diambil tanpa adanya suatu ‘iwad (penyeimbang/pengganti) yang dibenarkan syariah.
b). Kemudian, Badr ad-Dien al-Ayni, dalam kitab Umdatul Qari, (IBI, 39), menjelaskan bahwa prinsip utama riba adalah penambahan. Menurut syariah riba bererti penambahan atas harta pokok tanpa adanya transaksi bisnis riil.
c). Imam Sarakhsi, dalam kitab al-Mabsul, (IBI, 39), memberikan pengertian riba adalah tambahan yang disyaratkan dalam transaksi bisnis tanpa adanya ‘iwadh(padanan) yang dibenarkan syariah atas penambahan tersebut.

2. Jenis Riba

Secara garis besar, riba diklasifikasikan menjadi dua kelompok, iaitu riba yang terjadi akibat hutang-piutang dan riba yang terjadi akibat jual-beli. Berikut ini jenis riba dari dua kelompok riba tersebut, iaitu, riba nasi’ah dan riba fadhal.(Sabiq, 2007)

a. Riba Nasi’ah

Riba nasi’ah adalah pertambahan bersyarat yang diterima oleh pemberi hutang dari orang yang berhutang kerana penangguhan pembayaran. Jenis riba ini diharamkan oleh al Quran, Sunnah, dan Ijma ‘ulama.

b. Riba Fadhal
Riba fadhal adalah jual beli wang dengan wang atau barang pangan dengan barang pangan yang disertai tambahan (juga emas dengan emas, perak dengan perak).
Daripada Abu Said, Rasulullah SAW bersabda,

“Emas dengan emas, perak dengan perak, gandum dengan gandum sama banyak dan sama-sama diserahkan dari tangan ke tangan. Barangsiapa yang menambahkan atau minta tambahan sungguh ia telah berbuat riba. Pengambil dan pemberi sama.”
(HR Bukhari dan Ahmad)

3. Hukum Riba

Islam secara tegas melarang praktik riba dalam perekonomian umat manusia. Allah SWT melarang riba melalui al Quran dengan empat tahap pelarangan, yakni sebagai berikut.

1) Allah memberikan pengertian bahawa riba tidak akan menambah kebaikan di sisi Allah. Allah berfirman:

“Dan sesuatu riba (tambahan) yang kamu berikan agar dia bertambah pada harta manusia, maka riba itu tidak menambah di sisi Allah. Dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, maka (yang berbuat demikian) itulah orang-orang yang melipatgandakan (pahalanya).” 
(Surah 30,  Ar Ruum : ayat 39).

2) Allah memberikan gambaran siksa bagi Yahudi dengan salah satu karakternya yang suka memakan riba. Allah SWT berfirman, 

“Maka disebabkan kezaliman orang-orang Yahudi, Kami haramkan atas mereka (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka, dan kerana mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah, dan disebabkan mereka memakan riba, padahal mereka sesungguhnya telah dilarang dari padanya, dan kerana mereka memakan harta orang dengan jalan yang bathil. Kami telah menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih.”
(Surah 4, An Nisaa’ : ayat 160-161).

3) Allah SWT melarang memakan riba yang berlipat ganda, seperti firmanNya:

Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.”
(Surah 3,  Ali Imran : ayat 130).

4) Allah SWT melarang dengan keras dan tegas semua jenis riba, seperti dalam firmanNya:

“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan lepaskan sisa-sisa riba(yang belum dipungut) jika kamu orang yang beriman, Jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba) maka ketahuilah Allah dan Rasullnya akan memerangimu. Jika kamu bertaubat (dari pengambilan Riba), maka bagimu modalmu (pokok hartamu), Kamu tidak menganiaya dan tidak pula dianiaya.”
(Surah 2, Al Baqarah : ayat 278-279).

Sementara bagi kita jelas apa yang dilarang (riba) dan yang dihalalkan (jual-beli). Allah berfirman, 

“Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.”
(Surah 2,  Al Baqarah   ayat 275).

Dengan adanya ayat-ayat yang melarang praktik riba dalam perekonomian umat manusia maka seluruh manusia hendaknya meninggalkan riba dalam kegiatan ekonominya agar tergolong orang-orang yang beriman. Hanya orang yang beriman dan beramal sholehlah yang akan diberikan balasan syurga oleh Allah SWT. Dengan pelarangan riba ini, Allah telah memberikan keleluasaan praktik ekonomi yang halal, iaitu jual beli seperti dijelaskan pada Al Baqarah 275 tersebut di atas.
Bagaimana besarnya dosa riba, nabi besar Muhammad SAW telah menjelaskan dalam haditsnya dengan periwayat yang berbeza. Di antara hadits tersebut adalah,

“Allah melaknat pemakan riba, orang yang memberi makan dengan riba, dua orang saksinya, dan penulisnya (sekretarisnya / pengadministrasinya).” 
(diriwayatkan semua penulis Sunan. At – Tirmidzi mensahihkan hadist ini).

“Satu dirham riba yang dimakan seseorang dengan sepengetahuannya itu lebih berat dosanya dari pada tiga puluh enam berbuat zina.”
(diriwayatkan Ahmad dengan sanad shahih).

Riba mempunyai tiga puluh tujuh pintu. Pintu yang paling ringan ialah seseorang menikahi ibu kandungnya.”
(diriwayatkan Al-Hakim dan ia menshahihkannya) [ Al-Jazairi, 2001].

Dengan memperhatikan hadist nabi Muhammad SAW tersebut, sebagai orang yang beriman kepada Allah dan RasulNya, maka pastilah takut luar biasa akan mendapatkan dosa kerana memakan riba, naudzubillahi mindzalik, semoga kita segera bertaubat untuk kembali ke al Quran dan al Hadist untuk meninggalkan sistem riba dalam perekonomian dan kehidupan kita. Dengan niat yang ikhlas kerana Allah, in sya Allah kita dapat keluar dari himpitan sistem riba dan membangun sistem ekonomi tanpa riba yang diredhai oleh Allah SWT.

(Sumber: Wiyono, Slamet (2009), Ebook Membumikan Akuntansi Syariah di Indonesisia, Shambie Publisher, Tangerang)


Tiada ulasan:

Catat Ulasan