Rabu, 16 April 2014

Q 10 : PETA BARU DUNIA ARAB DAN FITNAH AKHIR ZAMAN

 Pada tahun 2003 Bush mengumumkan sebuah projek besar yang akan mengubah peta baru dunia Timur Tengah.

Tahun 2004, Bush mengkampanyekan Projek Besar Great Middle East dan Mengeluarkan dana 80 Juta Dolar yang dilokasikan untuk LSM Pro Demokrasi dan Jaringan Media di Sejumlah Negara Arab.

Pada tahun 2006, di Tel Aviv, Condolezza Rice — Sekretaris Negara Amerika saat itu, mengumumkan sebuah langkah awal untuk memulai peta baru dunia Timur Tengah dengan jalan “Chaos”.

Agenda Jangka Panjang

Sejak tahun 2006, seperti dilansir The Armed Forces Journal, dalam sebuah laporan berjudul The New maps of muslim world and middle east. Laporan ini berisi tentang rencana perubahan peta dunia Islam disertai dengan gambar-gambar perubahan lokasi sejumlah negara-negara Islam. Termasuk Arab Saudi.

Mei 2008 dalam lawatannya ke Mesir, Bush meminta dunia Arab mulai menerapkan demokrasi. “Kerap kali di Timur Tengah politik dibuat oleh satu kepimpinan,” kata Bush di hadapan 1500 para pembuat kebijakan dunia dan para pemimpin bisnes di pantai Laut Merah. “Amerika secara serius memiliki andil seputar para tahanan politik di kawasan ini, seperti para aktivis demokrasi yang diintimidasi atau ditekan, koran. Organisasi-organisasi masyarakat sipil tidak sepakat dalam bersuara pun dibasmi,” kata Bush.

Freedom House

Berpusat di Washington, D.C. dengan daftar kantor cabang membentang dari Eropah, Afrika, hingga Asia. Sejarah Freedom House berawal ketika Wendell Willkie, Eleanor Roosevelt, George Field, Dorothy Thompson, Herbert Bayard Swope bersatu untuk menentang fahaman Nazi. Pada tahun 1940an, Freedom House kemudian mendukung Marshall Plan dan pendirian NATO yang kini tercatat sebagai salah satu keuatan kuat zionis dalam mencengkaram dunia. Sejarah kemudian terus bergulir hingga pada durasi 1950-1960an mereka terlibat akfif dalam mendukung gerakan hak asasi manusia di AS.

TARGET FREEDOM HOUSE

National Endowment for Democracy adalah yayasan swasta nirlaba yang berbasis di Amerika Syarikat. NED berfungsi untuk memberikan hibah dalam rangka mendukung projek LSM di seluruh dunia untuk pertumbuhan dan penguatan lembaga-lembaga demokratis. Yayasan ini didirikan pada tahun 1983 dan menyediakan lebih dari 1000 dana bantuan per tahun untuk LSM dalam rangka mempromosikan demokrasi di lebih dari 90 negara. Tidak hanya itu, NED juga tercatat aktif dalam menawarkan beasiswa dan melakukan penelitian dan pertukaran internasional bagi para aktivis demokrasi, hak asasi manusia advokat, jurnalis, dosen dan peneliti.
NED menyedikan dana sejumlah USD$19,000 untuk bagi 150 mahasiswa dari Gharbeya, Suez, Minya dan Assiut. Uang ini dipakai dalam pelatihan tentang kesadaran politik dan opini media

Sebuah laman di jejaring sosial Facebook yang diberi nama ‘We are all Khaled Said’ kemudian digunakan untuk menyerukan aksi demonstrasi yang menggulingkan Mubarak pada 11 Februari.

 Ayman Nour, Pemimpin Partai Ghad. Orang yang pertama kali mengunggah gambar Khalid di website partainya. Kawan Dekat Obama dan berulang kali mencoba menerapkan demokrasi AS di Mesir.

Wel Ghonim, Direktur Pemasaran Google, yang membuat Laman Facebook untuk solidaritas Khalid.
Harian Daily Telegraph terbitan Inggris menyebutkan, AS diam-diam mendukung para pemimpin gerakan revolusi Mesir. Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) di Kairo pernah membantu seorang anak muda anti-pemerintah untuk menghadiri konferensi para aktivis AS.
Nama pemuda itu dirahasiakan agar tidak diketahui polisi Mesir. Kemudian, saat datang ke Kairo pada Desember 2008, aktivis itu menuturkan bahawa para diplomat AS menggaet kelompok oposisi untuk merencanakan skenario menggulingkan Presiden Mubarak dan membentuk pemerintahan demokratik pada 2011.

Dalam data diplomatik disebutkan, pada 30 Desember 2008 Duta Besar AS untuk Mesir Margaret Scobey melaporkan bahawa kelompok oposisi sedang menyusun agenda rahasia “perubahan rezim” yang akan dilaksanakan sebelum pemilu, dan dijadualkan pada September 2011.
Memo yang dikirim Scobey dikirim ke Kementerian Luar Negeri AS di Washington itu bertanda “rahasia” dan berjudul “(Gerakan) 6 April, kunjungan aktivis ke AS dan perubahan rezim di Mesir”.
Data kawat diplomatik juga menyebut bahawa para aktivis mengklaim mendapatkan dukungan dari kekuatan oposisi yang menyepakati rencana tidak tertulis untuk transisi menuju demokrasi parlementer.
Mereka ingin mengubah konsep tataran pemerintahan Mesir dengan memperlemah kekuasaan presiden dan memperkuat perdana menteri dan parlemen. Rencananya, aksi itu akan dilaksanakan sebelum pemilu presiden 2011. Sumber kedutaan menyebutkan, rencana tersebut sangat sensitif dan tidak boleh ditulis.
Bagaimanapun, dari dokumen tersebut menunjukkan para aktivis telah didekati para diplomat AS.Para aktivis juga mendapatkan dukungan besar atas kampanye pro-demokrasi dari para pejabat di Washington.
Ya, aksi demonstrasi Mesir kali ini dikendalikan Gerakan Pemuda 6 April, sebuah kelompok di Facebook yang menarik generasi muda dan kelompok terdidik untuk menentang Mubarak. Kelompok ini beranggotakan 70.000 anggota dan menggunakan situs jejaring sosial untuk mengendalikan demonstrasi.
Meski akhirnya Mubarak memutus semua jaringan komunikasi di negaranya. Mubarak kini menghadapi tantangan paling berat dalam pemerintahannya selama 31 tahun berkuasa.
¨  The Teleghraph, 1 Feb 2011 juga telah mengungkapkan adanya dokumen yang dikirim ke Washington terkait dukungan AS untuk melakukan pergantian rezim di Mesir. Rencana ini juga melibatkan nama George Soros (Pemimpin ICG) di dalamnya

Amerika mulai meminta El Baradei pulang ke Mesir. Pada tahun 2010, El Baradei tiba di Mesir dan melakukan persiapan untuk Revolusi.

Amerika mulai meminta El Baradei pulang ke Mesir. Pada tahun 2010, El Baradei tiba di Mesir dan melakukan persiapan untuk Revolusi.

Time.com pada 20 Februari 2010 menulis warga Mesir tidak peduli dengan El Baradei. Mohamed Abbas (25), seorang sopir taksi di Mesir mengaku tidak kenal El Baradei. Bagi Abbas, El Baradei hanyalah seorang calon presiden seperti halnya Muhamad Gamal Mubarak, anak Hosni Mubarak dan Ketua Liga Arab Amr Musa. “Kebanyakan dari mereka, bagaimana pun, adalah penjahat,” kata Mohamed Abbas

“Apakah kita harus membayar antek Amerika ElBaradei untuk memerintah melalui pemilihan umum, seperti yang terjadi di Pakistan, atau mempertahankan pemimpin seperti Gamal Mubarak, sehingga keduanya berlomba-lomba memberikan layanan dan kesetiaan kepada kaisar dan Washington,” kata Ayman Zawahiri  [pizaro/islampos]

Kenapa AS Ingin Menjatuhkan Sekutunya Sendiri?

Pertama, kepentingan ekonomi dan deideologi faksi-faksi Islam. Saat ditanya Associated Press apakah langkah-langkah yang diambil Presiden Hosni Mubarak sudah benar, Menlu AS Hillary Clinton menyatakan bahawa tidak penting saat ini siapa yang berkuasa di Mesir. Menurut istri Bill Clinton ini, yang lebih penting diperlukan saat ini adalah bagaimana tuntutan dan keperluan rakyat Mesir boleh dipenuhi dan menuju satu tahapan lebih baik. “Jelas, tahapan yang diikuti saat ini belum menciptakan masa depan yang demokratis, kesempatan ekonomi yang dituntut para pemrotes,” ujarnya.

Kedua, Amerika memang benci dengan kekuasaan yang terlalu gemuk walau ia tidak mampu memungkiri bahawa diktatorisme memang tujuan dari segalanya. mengapa Amerika sangat membenci pemerintahan yang korup? Tentu saja berbeza motif dengan apa yang kita fahami. Amerika beranggapan Korupsi akan memperkuat kekuatan Islam di akar rumput kerana efek kesenjangan sosial, dan ini menurut Robert Heffner, peneliti Islam Amerika, akan membangkitkan semangat persaudaraan Islam yang akan berorientasi pada jihad global. Kerana itu pemerintah yang korup harus dijatuhkan khususnya di daerah strategis Timur Tengah kerana rencana demokratisasi Timur Tengah adalah salah satu program yang dijanjikan pemerintahan Obama saat berkampanye.
Tunisia Menuju Negara Sekular?

“Kami Akan Bekerja Untuk Membangun Masyarakat Sekular Pluralistik,” kata Abdul Hamid Jalashi, Biro Eksekutif An Nahdhah

Pemimpin an Nahdhah, Ghannouchi  juga menyatakan jika an-Nahdhah berhasil memerintah (berkuasa) di Tunisia, maka ia akan tetap mempertahankan Tunisia sebagai tujuan wisata, tidak akan melarang alkohol  atau wanita mengenakan bikini di pantai.  An Nahda juga berjanji berjanji untuk tidak menyentuh kode hukum Tunisia yang  menjadikan negara itu satu-satunya negara di dunia  Arab yang melarang poligami. Rasyid Ghannouchi, pada hari Jum’at (27/10) juga mengatakan: “Gerakannya yang telah memenangkan pemilu tidak akan memaksakan jilbab pada perempuan Tunisia. Sebab semua upaya-upaya negara Arab untuk melakukannya terbukti gagal.”

“Model bangsa Tunisia telah bekerja melalui gerakan reformasi sejak abad ke-19, dan itu adalah model yang menyatukan Islam, moderniti dan demokrasi,” kata Rasyid Gannouchi.

Delegasi tingkat tinggi dari Jamaah Ikhwan tiba di Katedral yang dipimpin oleh Wakil Mursyid ‘Aam Jamaah Ikhwanul Muslimin, Dr Mahmoud Ezzat, yang mewakili Mursyid ‘Aam Mohammad Badie, yang berhalangan hadir, dan sedang menikahkan puterinya pada hari yang sama. Selain, Dr. Mahmoud Ezzat, ikut hadir termasuk Sekretaris Jenderal Jamaah Ikhwanul Muslimin, Dr Mahmoud Hussein.




Tiada ulasan:

Catat Ulasan