Rabu, 16 April 2014

Q 11 : PARTI ISLAM MAROKO

Dalam sebuah wawancara Al-Arabiya dengan pimpinan Parti Keadilan dan Pembangunan Maroko, Abdullah bin Kiran, menegaskan bahawa akan  memerintah sebagai parti politik dan bukan sebagai parti religius. “Agama milik masjid dan kami tidak akan ikut campur dalam kehidupan peribadi warga.” Ujarnya. Bin Kiran membantah bahawa partinya akan memaksakan jilbab pada perempuan Maroko. (Eramuslim, 28/11/2011)

Hubungan Israel-Libya Pasca Gaddafi

Media Israel Tel Aviv mengklaim telah melakukan pembicaraan dengan Dewan Transisi Libya dalam upaya membangun hubungan dengan negara Muslim dan membuka kedutaan besar Israel di Tripoli.

Harian Israel Haaretz mengatakan, bahawa pembukaan Kedutaan Besar Israel di Libya akan bekerjasama dengan Qatar,” yang merupakan sekutu Tel Aviv percaya untuk memfasilitasi pembukaan kedutaan besar Israel di sejumlah negara Arab. (Eramuslim, 12/12/2011)

Tauhid Seruan Para Rasul

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan):
“Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut itu…”  
(QS AN-Nahl 36)

Bagaiamana Tanggapan Hasan Al Banna?

 “Al-Ikhwan Al-Muslimun memiliki sikap bahawa Islam mempunyai implikasi yang signifikan dan menyeluruh. Islam mengawal semua tingkahlaku individu dan masyarakat. Segala sesuatu mesti tunduk di bawah undang-undangNya dan mengikuti ajaranNya. Siapa yang tunduk kepada Islam dari segi peribadatan saja tetapi meniru orang kafir dalam segala hal lain dapat dianggap sama darjatnya dengan orang kafir.”
Al Banna dan Demokrasi

Dahulu, Imam Hasan al Banna Rahimahullah, ditawari berceramah tentang demokrasi di radio dengan imbalan 5000 Pound (nilai yang sangat besar saat itu) dari penjajah Inggris, dengan syarat ia harus berceramah tentang Demokrasi menurut pemahaman Inggris. Imam al Banna menolak dan berkata :

“Nyahlah kalian! Kalian telah tersesat dari jalan yang benar dan menyimpang dari kebenaran!”
(sumber: Badr Abdurrazzaq Al Mash, Manhaj Da’wah Hasan Al Banna, Hal. 79)

Akankah Demokrasi Ikhwan Berhasil?

Negara Islam tidak akan pernah berdiri di negara manapun dengan demokrasi. Negara Islam tidak akan pernah terwujud kecuali dengan manhaj yang panjang dan perlahan. Manhaj yang menjadikan pondasi sebagai wilayah kerjanya, bukan atap. Dimulai dari penanaman kembali aqidah dan pendidikan moral (akhlak) secara Islami. Ketahuilah, jalan ini memang panjang dan perlahan, namun ia merupakan jalan tercepat sekaligus tersingkat.

(Sayyid Quthb – Mengapa Aku Dihukum Mati, hlm. 95).  [pizaro/islampos]






Tiada ulasan:

Catat Ulasan